Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
100. Terpesona


__ADS_3

◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦


__________


Entah masih berapa kilo meter lagi perjalanan Arya juga Arini untuk bisa sampai di tempat pemukiman. Kaki Arya sudah sangat lelah, bukan hanya menanggung berat tubuhnya sendiri tapi juga tubuh kecil Arini yang masih ada di punggungnya.


Keringat sudah membasahi sekujur tubuh, wajahnya memerah karena sinar matahari yang semakin terik. Namun dia masih semangat untuk bisa sampai ke tempat pemukiman lebih cepat.


Berkali-kali juga Arini mengusap keringat Arya menggunakan hijabnya, dan berakhir dengan basah akan keringat Arya.


"Pak tuan, turunin Arini saja. Mungkin sekarang Arini sudah bisa berjalan," ucapnya. Tangannya terus mengelap keringat Arya menggunakan hijabnya sendiri.


Arini sungguh tidak tega melihat Arya yang sudah sangat lelah, bahkan nafasnya juga terdengar tidak beraturan juga detak jantungnya yang tak seirama. Arya bergeming, dia tetap melangkah dan mengabaikan kata-kata Arini.


Pohon Akasia menjadi tempat pertama kali Arya beristirahat. Arya menurunkan Arini dengan pelan lalu dia duduk dan bersandar di pohon besar itu.


"Istirahat di sini dulu sebentar," ucapnya. Wajahnya mendongak menatap langit matanya kian menyipit karena terkena pantulan dari matahari mungkin memang terasa sakit.


Arini masih berdiri dia terus menoleh mencari sumber air yang mungkin ada. Arini juga melangkah mondar-mandir, senyumnya lebar saat netra cokelatnya melihat ada sumber air yang begitu bening.


Arini berlari ke arah air itu, mungkin dia bisa membawakan sedikit air untuk Arya sekedar untuk menghilangkan rasa dahaganya.


Arya yang memejamkan mata sembari mengatur nafasnya tak melihat Arini yang menjauh. Arya sungguh merasa lelah juga kehausan.


Baru kali ini Arya merasa kelaparan juga kehausan biasanya dia akan selalu cukup dengan semua kebutuhannya. Jangankan kelaparan dia tidak pernah merasa lapar sama sekali karena sebelum dia lapar pasti akan ada makanan yang sudah siap sedia di hadapannya.


Arini memetik daun talas dia gunakan untuk mengambil air yang akan dia berikan untuk Arya, tapi sebelum dia memberikan pada Arya dia memeriksa lebih dulu bagaimana rasanya.


"Tak ada masalah," ucapnya.


Pelan-pelan Arini membawa air dengan daun talas dia pertahanan supaya tidak goyang dan tumpah. Meski air begitu banyak tapi dia tetap tidak mau sampai air itu habis ketika sampai di tempat Arya.


"Pak tuan," Arini duduk di depan Arya, menyodorkan dengan hati-hati air itu.


Arya membuka mata dia duduk tegak. Matanya langsung menangkap daun talas yang ada air di dalamnya. "Apa ini? " tanya Arya.


"Ini air, Pak Tuan. Pak Tuan bisa meminumnya, rasanya juga enak kok malahan ada rasa manis-manisnya karena ini air dari mata air asli. Arini dapat dari sana," tangan Arini terangkat jarinya menunjuk tempat dimana dia mengambil air tadi.


"Benarkah enak? " Arya dahinya mengerut tak percaya tapi seketika Arini mengangguk.


Tangan Arya mulai terangkat, meraih daun talas itu dan mulai meneguknya perlahan. Rasanya memang enak, sama seperti air mineral yang di jual di semua tempat.


Akhirnya rasa dahaga Arya sedikit terobati dengan beberapa teguk air dari Arini. Inikah rasanya bertahan hidup? Inilah rasanya jika orang tak mempunyai apapun untuk dia banggakan? Arya bisa sedikit mengambil pelajaran dari kejadian ini, setidaknya dia bisa berfikir kalau apapun yang dia punya tidak akan selamanya berguna.


Kemewahan juga harta benda yang dia dapatkan juga dia kumpulkan dengan susah payah tidak akan bisa menolongnya saat dia berada dalam keadaan yang seperti sekarang. Yang bisa menolong hanyalah diri sendiri bukan harta benda.

__ADS_1


"Apakah masih haus?" tanya Arini.


"Apakah kakimu sudah tidak sakit lagi? Bagaimana kamu bisa pergi ke sana dengan keadaan kakimu yang terluka. Bagaimana kalau ada binatang berbisa di sana, atau ada binatang buas? " Arya begitu mengkhawatirkan keselamatan Arini yang sama sekali tidak di pikirkan oleh gadis itu sendiri.


"Tidak akan ada, Pak Tuan. Arini pasti akan baik-baik saja, juga kaki Arini sudah merasa lebih baik kok," jawab Arini tak mau mengatakan kalau sebenarnya masih sakit. Arini tidak mau Arya semakin lelah apalagi sampai dia menggendongnya lagi.


Arini kembali beranjak dia kembali mengambil daun talas yang ada di tangan Arya dia ingin mengisinya lagi dan memberikannya kepada Arya lagi, "Arini akan ambilkan lagi," ucapnya.


Tak Arini sadari kalau ternyata Arya juga ikut berdiri dan mengikutinya. Arya terus diam bahkan sampai di tempat air yang mengalir. Langkahnya terhenti tepat di belakang Arini yang sudah berjongkok untuk mengambil air.


Airnya begitu bening membuat Arya ingin sekali terjun di sana. Arya ikut berjongkok di samping Arini, membasuh wajahnya dan juga membasahi rambutnya.


"Loh, Pak Tuan kesini juga? " Arini menoleh dan langsung melihat Arya yang sudah mengangguk.


Subhanallah, sungguh sempurna ciptaan-Mu. Tuan Arya terlihat begitu tampan dengan wajah juga rambutnya yang basah. Arini terdiam, lebih tepatnya dia terpana melihat Arya saat ini wajah jutek juga dingin yang selalu dia lihat sekarang terlihat sangat berbeda dari sebelumnya.


𝘋𝘦𝘨... 𝘋𝘦𝘨...


Arini melongo, matanya membulat sempurna di iringi dengan alunan lagu yang begitu indah dari jantungnya yang juga bergesekan dengan getaran hati yang saling berpadu.


𝘗𝘺𝘶𝘬...


"Aaa..., Pak Tuan! " protes Arini saat Arya tiba-tiba melemparkan air dan mengenai wajah Arini. Yang jelas langsung menyadarkan Arini dari lamunan yang tengah mengagumi sosok Arya yang begitu mempesona.


"Kenapa, apa aku begitu mempesona?" Arya menarik senyum dengan kepedean nya sendiri. Mana mungkin dia tidak akan percaya diri melihat mata Arini yang terlihat berbunga-bunga saat menatapnya.


Arya menggeleng, dia kembali sibuk dengan air dan berkali-kali menggugurkan ke atas kepalanya. Sungguh segar dan kepalanya terasa sangat adem tak seperti tadi yang terasa sangat panas.


Arya kembali menoleh ke arah Arini, di lihat sosok gadis itu yang semakin jauh dari pandangan matanya. Mata Arini terus berkelana ke sembarangan arah entah apa yang dia cari saat ini.


Tangannya juga memegangi perutnya, mungkin dia kelaparan. Semua ini gara-gara dirinya, jika dia tidak terbawa amarah dan memaksa Arini untuk ikut pergi dengannya dia tidak akan kelaparan seperti saat ini.


Mulutnya terlihat berkecamuk mengecapi air liurnya sendiri yang tertempel pada lidahnya. Sungguh ada rasa bersalah di hati Arya, semua ini memang kesalahannya.


Arya beranjak, matanya juga ikut menerawang ke segala arah mungkin ada sesuatu yang bisa di makan. Butir-butir buah jambu terlihat menggantung di pohonnya, terlihat beberapa yang berwarna kuning karena matang ada yang masih hijau dan ada juga yang masih bayi. Tapi ada juga yang sudah tinggal setengah, mungkin karena ada hewan yang memakannya.


"Benarkah aku harus memberikan itu untuknya? " gumam Arya bingung. Bukan hanya itu saja yang membuat Arya bingung, tapi bagaimana Arya bisa mengambilnya Arya tidak bisa manjat.


Tak ada pilihan lain lagi, mungkin dengan buah jambu itu bisa menghilangkan rasa laparnya juga gadis yang terlihat sangat lapar itu.


Arya bertekad, dia mendekati pohon jambu. Tangannya terangkat bukan untuk mulai memanjat tapi untuk menggaruk tengkuknya yang gatal karena dia yang mulai bingung.


"Bagaimana cara manjatnya?" Jelas Arya sangat bingung dia belum pernah melakukan hal yang seperti ini.


Kakinya mulai mendekat tangannya juga mulai memegangi batang pohon yang tidak terlalu besar, tapi sepertinya akan sangat susah untuknya. Di samping dia yang tidak bisa manjat tapi pohon jambu juga sangat licin.

__ADS_1


Satu... Dua... Tiga...


𝘉𝘳𝘶𝘬𝘬....


Baru saja kakinya bergerak tiga gerakan untuk manjat dia kepeleset. Dia memukuli batang bambu dan mengomelinya. "Dasar jambu tak bisa di ajak berteman! " suaranya terdengar bersungut-sungut, dia sangat kesal.


Arya melepaskan sepatu mahalnya, dan memulainya lagi.


Lagi mencoba dan dia terjatuh lagi, mencoba lagi dan terjatuh lagi, hingga akhirnya dia bisa sampai di atas setelah berkali-kali mencoba. Hatinya sungguh senang, hatinya berbunga-bunga saat dia sudah berhasil duduk di salah satu dahannya.


Tangannya memetik jambu yang sudah matang, mencicipi lebih dulu. Rasanya tidak terlalu buruk sama seperti jambu-jambu yang di jual di pasaran, hanya saja ada rasa sepat-sepat sedikit.


"Arini..! " teriaknya.


Arini menoleh dia melongo melihat Pak Tuannya sudah duduk di dahan jambu, menikmati jambu seorang diri di atas sana.


Arini berlari mendekat, astaga..., sungguh tak percaya si Arini.


"Darimana Pak Tuan dapat ilmu monyet? kok tiba-tiba bisa nangkring di atas. Pak Tuan! turun, nanti jatuh! " teriak Arini. Ngeri juga Arini melihatnya, apalagi di tambah dengan angin yang menggoyangkan pohon itu.


"Nih ambil..! " dua jambu Arya lempar dan berhasil di tangkap oleh Arini. Arya sungguh senang sekali memetik dan melemparkannya, sudah seperti bocah di kampung yang begitu mengagumi pohon jambu.


"Pak Tuan, turun! "teriak Arini.


"Ya.. " jawab Arya. Arya bergegas untuk turun, tapi dia bingung mau bagaimana caranya dia turun. Lucu sekali bukan, seorang CEO perusahaan besar manjat pohon jambu tapi tidak bisa turunnya.


"Ini bagaimana? " Arya terus bingung, dia bolak-balik dari kanan kiri dan ke kanan lagi tapi belum juga bisa, "Arini, aku nggak bisa turun! " teriak Arya.


"Lah, bagaimana ceritanya. Pak Tuan bisa naik tapi nggak bisa turun! Ayo turun Pak Tuan! Semangat! " teriak Arini. Arini terkikik sendiri di bawah Arya, perutnya mulai keram karena terus terpingkal.


"Awas ya, berani sekali kamu menertawakan ku. Lihat saja apa yang bisa aku lakukan kalau berhasil turun," wajah Arya terlihat menyeramkan karena melotot ke arah Arini tapi itu tetap terlihat lucu karena auranya campur dengan ketakutan.


"Turun dulu Pak Tuan, jangan main ngancam-ngancam seperti itu. Hahaha...! " Arini semakin terpingkal.


Arya tak hilang semangat dia harus bisa turun dan memberi hukuman kepada Arini yang tidak henti-hentinya menertawakannya.


"Akkk... Arini...!! "


𝘉𝘳𝘶𝘬𝘬...


"Pak Tuan..!" Arini berlari menghampiri Tuan Arya yang berhasil turun dengan terjun bebas.


"Awwww.... "


/////

__ADS_1


Bersambung...


_____'


__ADS_2