Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
191. Undangan Pesta


__ADS_3

Happy Reading...



Rumah besar nan mewah dengan berwarna dasar putih sudah di depan mata. Terdapat berbagai tanaman indah yang berwarna-warni yang terawat meski sang majikan sudah lama tak merawatnya.



Gemericik air terdengar begitu meramaikan di antara keheningan rumah yang begitu indah itu. Kini sang majikan telah kembali.



Keadaan yang sudah membaik membuat Nilam sudah di perbolehkan untuk pulang ke rumah yang sudah lama dia tinggalkan.



Rumah yang dulu bagaikan surga tapi sekarang sepi senyap bagaikan tanpa suara juga tanpa warna. Apalagi tanpa kehadiran anak gadisnya yang kini entah kemana. Begitu juga dengan Hendra yang juga pergi dengan alasan mencarinya.



Langkah Nilam begitu pelan, dengan di rangkul oleh Dimas. Rumah yang bagaikan istana itu saat ini terlihat seperti tak ada kehidupan, apalagi karena di tinggal cukup lama oleh nyonya rumah, Nilam sendiri.



"Semuanya masih sama, tak ada satupun yang berubah," ucap Nilam.



Matanya terus mengedar sempurna ke segala arah. Melihat semua titik dari ruangan yang dapat di jangkau oleh matanya.



Nilam mendekati sebuah foto yang terpajang di almari kecil yang berisi hiasan keramik, foto di saat dirinya hamil Arini. Di sana bukan hanya dia saja yang berpose, tapi juga Dimas kecil juga Hendra. Mereka terlihat cukup bahagia.



"Kamu di mana, Nak. Apakah kamu tidak merindukan Mama?" tangannya mengelus foto itu tapi air matanya langsung mengalir begitu saja dengan sendirinya.



"Mama sangat merindukanmu, Nak. Kembalilah kepada Mama," Imbuhnya lagi dengan tersedu-sedu.



Begitu sedih hati Nilam hingga bisa menarik hati Dimas untuk bersedih juga. Dimas yang sempat membiarkan Nilam berjalan sendiri kini dia mendekat lagi. Merangkulnya dan juga mengelus bahunya untuk membuatnya lebih tenang.



"Arini pasti kembali, Ma. Dimas sudah meminta teman-teman Dimas untuk membantu mencari Arini. Bukannya Papa juga sedang mencarinya?" ucap Dimas dengan sangat hati-hati.



Nilam hanya bisa tersenyum kecut mendengar kata dari anak laki-lakinya. Memang Dimas juga terus berusaha untuk mencari Arini, Nilam juga tau itu. Tetapi usahanya sampai sekarang belum juga membuahkan hasil kan?



Tok... Tok... Tok...



"Permisi... Permisi..."



Terdengar suara seorang yang datang setelah beberapa kali dia mengetuk pintu. Dia juga masih enggan untuk masuk karena belum mendapatkan ijin dari tuan rumah.



Nilam masih diam dengan foto yang dia bawa sementara Dimas sudah langsung menoleh setelah mendengar suara orang yang menyapa dan datang kerumahnya.


__ADS_1


"Toni?" Dimas mengernyit bingung, untuk apa Toni datang kerumahnya padahal tak ada kabar apapun. Arya maupun Toni sendiri juga tidak mengatakan apapun kalau dia akan datang.



"Silahkan masuk Ton!" Pintanya.



Dimas langsung mengarahkan Toni untuk menuju sofa, sementara dua sendiri juga langsung merangkul Nilam dan mengajaknya duduk di sofa juga.



"Ayo, Ma," ajaknya seraya menuntun Nilam.



"Hem..." Nilam mengangguk juga langsung mengikuti Dimas untuk duduk di sofa bersamanya.



"Ton," ucap Nilam menyapa.



"Siang, Tan," cepat Toni mendekati Nilam untuk menyalaminya.



Dimas masih diam, membiarkan Toni bersalaman pada Nilam. Setelah Toni duduk Dimas juga baru duduk.



Dimas benar-benar sangat heran, tak biasanya Toni datang kerumahnya. Bahkan sudah sangat lama dia datang.



"Ton, apakah ada berita penting?" tanya Dimas memulai.




"Saya datang atas perintah dari Tuan Arya. Tuan Arya memohon kehadiran semua anggota keluarga dokter Dimas ke acara pesta yang dia adakan lusa," jawab Toni.



Mulutnya mengatakan itu tetapi tangannya juga bekerja dengan menyerahkan undangan khusus untuk Dimas sekeluarga.



Undangan berwarna putih berpita biru itu dapat memancing kemarahan dari Dimas. Bukan tanpa sebab, tapi keluarganya kini tengah berantakan. Hendra pergi, Arini juga belum di temukan tapi dengan tak ada empati nya sama sekali Arya malah mengadakan pesta.



"Apakah tuan mu itu benar-benar tak kasihan kepada kami! Apakah dia benar-benar tengah mentertawakan nasib kami yang sedang dalam masalah!" Dimas sudah langsung angkat bicara dengan nada yang mulai melengking.



"Bukan begitu, dokter Dimas. Tuan Arya juga sangat sedih, tapi pesta ini juga harus tetap di laksanakan. Tuan Arya juga tidak sembarangan mengadakan pesta ini, dia sudah mempertimbangkan semuanya."



Ucapan Toni terdengar sangat tegas, tapi tidak dengan nada yang tinggi.



"Katakan padanya, kami tidak akan pernah datang."



"Saya mohon pengertiannya, Dok. Dokter sekeluarga harus tetap datang. Karena... Karena pesta itu adalah acara lamarannya tuan Arya," Suara Toni melirih.

__ADS_1



"Heh, lamaran! Bahkan dia bisa mengadakan lamaran saat Arini belum di temukan! Katanya dia menyukai Arini, dia hanya cinta dengan Arini, tapi apa ini? Bahkan dia akan menikah dengan wanita lain. Katakan saja padanya, kami tidak akan pernah datang! Biarkan dia bahagia dengan pilihannya dan kami akan berjuang untuk mencari Arini!" Begitu kesal Dimas saat ini.



Suara keras dari Dimas memancing kakek Susanto juga nenek Murni keluar dari persembunyiannya. Sebenarnya mereka dari belakang rumah merawat tanaman Nilam dan mereka juga tidak tau kalau hati ini Nilam akan pulang.



"Nak Dimas, ada apa ini?" Kakek Susanto langsung bertanya padahal dia juga belum sampai di tempat mereka berada.



"Tuan, Nyonya. Tuan Arya juga secara khusus mengundang kalian untuk datang ke acaranya tuan Arya. Ini undangannya."



Bukan hanya keluarga Dimas saja yang mendapatkan undangan tapi kedua orang tua itu juga mendapatkannya.



"Undangan, undangan apa?" Kakek Susanto mengernyit.



"Pesta untuk menyambut nyonya muda Gautama, Tuan," jawab Toni.



"Nyonya muda Gautama? Apakah itu artinya tuan Arya akan menikah?" Kakek Susanto semakin mengernyit.



"Dengan restu kalian semua, tuan Arya pasti akan secepatnya untuk menikah, Tuan. Maka dari itu tuan Arya meminta kalian untuk menghadiri acara itu," Jelas Toni.



Sejenak kakek Susanto diam, seolah berpikir sesuatu.



"Saya mohon, Tuan. Tolong datanglah ke acara tuan Arya, semua itu menyangkut masa depan saya, Tuan. Kalau kalian semua tidak datang maka saya yang akan kena dampaknya, saya akan kehilangan pekerjaan saya, Tuan. Saya mohon, datanglah," Toni begitu memohon.



Bahkan Toni sudah menghampiri kakek Susanto dan hendak berlutut di hadapannya. Tapi itu tidak terjadi karena kakek Susanto langsung mencegahnya.



"Jangan seperti ini, Nak. Baik, kami akan datang. Kami akan menghadiri acara yang di buat oleh tuan mu. Kamu tidak perlu takut untuk kehilangan pekerjaanmu," jawab kakek Susanto.



Akhirnya Toni bisa bernafas lega. Dia tidak akan pernah kehilangan pekerjaannya. Meski tidak yakin dengan yang Arya katakan tapi dia sangat takut juga, bagaimana kalau semua itu benar.



"Kalau begitu saya permisi, Tuan. Saya juga harus menyediakan semuanya. Assalamu'alaikum..." Pamit Toni.



"Hem..., Wa'alaikumsalam..." jawab eyang Wati.



Setelah Toni pergi kakek Susanto harus berusaha membujuk Dimas. Kakek Susanto sangat yakin, ada sesuatu yang akan terjadi di acara pesta yang Arya buat.



\_\_\_

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2