Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
144. Sangat Meresahkan


__ADS_3

Happy Reading...



Ckittttt......



Dimas menginjak remnya mendadak saat dia melajukan mobilnya tetap ada yang tiba-tiba melintas di hadapannya dengan berlari.



"Astaghfirullah hal 'azim!" Dinas terkejut, kini dia terpaku melihat gadis berhijab yang ada di depan mobilnya dengan menutup kedua telinganya juga matanya yang tertutup.



"Aku hampir menabrak orang, astaghfirullah hal 'azim," Dimas cepat keluar dari mobil memastikan bahwa orang yang hampir tertabrak tadi baik-baik saja juga tidak mengalami luka.



"Maaf, apa kamu baik-baik saja? Maaf saya tidak sengaja saya sedang buru-buru." ucap Dimas.



Gadis itu perlahan-lahan menurunkan kedua tangannya juga mata mulai terbuka. Gadis cantik berhijab pink muda juga mengenakan gamis bermotif bunga-bunga itu terlihat sangat cantik, dia adalah Annisa.



"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Dimas lagi. Dimas sangat menyesal karena dia yang kehilangan fokus hampir saja melukai orang lain.



"Sa-saya tidak apa-apa. Seharusnya saya yang meminta maaf karena menyebrang dan tidak lihat-lihat lebih dulu. Maaf," Nisa juga sangat menyesal kejadian ini juga bukan sepenuhnya kesalahan Dimas tapi dia juga.



''Saya juga sangat bersalah, maafkan saya.'' Dimas juga sangat merasa bersalah.



Keduanya yang saling berebut kesalahan membuat mereka berdua akhirnya tersenyum bersama-sama dengan sangat malu-malu.



Keadaaan menjadi saling canggung, keduanya seolah seperti sudah saling kenal satu sama lain dan kini mereka begitu akrab.



''Saya Dimas. Kamu?'' Dimas bertanya dengan begitu kaku dia benar-benar kehilangan rasa percaya dirinya.



Pertemuan pertama yang sangat baik untuk mereka berdua bahkan mereka langsung dekat begitu saja.



Meskipun merasa sangat malu tetapi Nisa tetap memperkenalkan namanya kepada Dimas.

__ADS_1



''Saya, saya Annisa.'' Nisa tertunduk dia tersenyum tetapi dia sembunyikan supaya Dimas tidak bisa melihatnya.



Dimas juga Nisa berjalan di tepi duduk sejenak di bangku yang tersedia dengan gratis di sana. semua itu bukan kemauan Nisa tetapi Dimas yang mengajaknya, ya sekedar untuk menenangkan diri mereka yang sempat terkejut dengan kejadian tadi.



Keduanya saling saling berbincang-bincang bahkan Nisa juga mengatakan kedatangannya ke kota untuk mencari pekerjaan. Sebenarnya dia baru selesai melakukan wawancara di salah satu rumah sakit tapi dia di tolak padahal sebelumnya pihak rumah sakit sendiri yang memanggilnya.



''Bagaimana kalau kamu bekerja dengan saya, pekerjaannya tidak lepas dari profesi mu kok. Mama saya sedang sakit kamu bisa merawatnya. Tetapi kalau kamu mau sih.'' ucap Dimas menawarkan.



Ya, profesi yang sedang Nisa cari adalah sebagai perawat, mungkin dia harus mempertimbangkan tawaran dari Dimas.



''Tetapi saya belum begitu berpengalaman, karena saya baru kali ini ingin bekerja.''



''Tidak masalah, bukannya kamu juga lulus di keperawatan kan? aku yakin kamu pasti bisa.'' Dimas terus membesarkan hati Nisa mungkin dengan itu dia akan menerima tawarannya.



''Baik,'' Nisa mengangguk pelan dia juga tersenyum dengan begitu manis.




Arya begitu sangat khawatir dengan keadaan Arini dia mana tahan untuk berlama-lama jauh dari gadis itu meski dia sendiri juga belum sarapan tapi dia malah mengambilkan sarapan untuk Arini.


Dengan tangan membawa piring yang penuh dengan nasi juga lauknya juga tangan yang satu membawa gelas yang penuh dengan air putih dia bergegas ke kamar Arini, ralat! kamar Arya yang Arini tempati sekarang.


Arya tampak semangat memberikan perhatian kepada Arini dengan cara-cara kecil seperti saat ini dia pasti akan cepat mendapatkan hati Arini dan dia bisa secepatnya menikahinya.


Nafas Arya kembali panjang saat dia masuk dan masih ada Raisa tapi sudah tidak ada Eyang Wati di sana.


''Kenapa kau masih berada di sini? '' tanya Arya dengan begitu kesal.


Arini juga Raisa sama-sama menoleh menghentikan pembicaraan mereka entah apa yang tengah menjadi topik untuk mereka berdua semoga saja bukan Arya yang sedang mereka bicarakan.


''Saya menemani Arini, Tuan,'' jawab Raisa.


"Apa kamu sama sekali tidak ada kerjaan?" Arya terus melangkah menghampiri, tak peduli dengan tatapan mata kedua gadis yang matanya terlihat sangat berbeda. Satunya begitu menenangkan sementara yang satu terlihat sangat menjengkelkan.


"Tidak, kerja apa kalau di sini?" Raisa mengernyit, tetapi dia juga merasa kalau Arya ingin melakukan sesuatu supaya Raisa bisa keluar.


Arya mengangguk-angguk pelan, setelah sampai di sebelah Arini yang satunya Arya ikut naik ke atas ranjang, dan mendekati Arini.


"Sepertinya kamu lupa. Kamu seorang OB kan? Dan semua orang yang ikut ke sini tetap melakukan pekerjaannya. Dan kamu juga harus mengerjakan pekerjaan seperti biasanya." ucap Arya dengan santai.

__ADS_1


"Apa yang bisa Raisa kerjaan di sini?"Raisa begitu bingung.


"Bantu-bantu Mila di dapur. Juga mengerjakan pekerjaan rumah. Kalau tidak, maka gaji kamu juga akan tetap di potong. Potong bolos kerja juga potong untuk biaya transport untuk sampai kesini."


Benar-benar bikin darah mendidih nih si Arya. Niat banget ngerjain Raisa.


Sementara Arini hanya menjadi pendengar saja perdebatan mereka berdua. Untung saja Arini berada di tengah-tengah antara mereka kalau tidak mungkin mereka bisa saling cakar-cakaran kali ya.


"Tapi, Tuan?"


"Terserah kamu sih, bayangkan saja sendiri. Gaji mu berapa, terus biaya sampai sini habis berapa di tambah dengan berapa hari di sini. Kamu pasti sangat pintar berhitung kan?"


"Iya iya! Saya akan kerjakan." Raisa beranjak dia berjalan keluar dengan sangat kesal.


"Pak Tuan, Arini juga OB loh! Kalau begitu Arini juga harus membantu Mbak Mila kan? Arini juga tidak mau gaji Arini di potong. Belum juga harus di potong hutang bisa-bisa gaji Arini akan habis."


Arini menyibak selimutnya dia ingin cepat menyusul Raisa tapi pastilah Arya tidak akan mengizinkannya kan?


"Kamu mau kemana? Kamu lagi sakit, kamu harus istirahat. Kalau kamu berani keluar maka akan aku pastikan gaji mu benar-benar akan habis. Kamu


tidak akan mendapatkan gaji mu satu rupiah pun." ancam Arya.


"Tapi, Pak Tuan?"


"Jangan membantah."


Arya mulai menyendok nasi juga lauknya berniat untuk menyuapi Arini, "sekarang kamu harus makan, setelah itu kamu harus minum obat. Akk..."


"Minum obat? Obat apa?"


"Obat kuat. Akk..."


Arini membuka mulutnya tanpa berpikir panjang, menerima suapan Arya dan membuatnya senang.


"Buat apa harus minum obat kuat? Arini tidak lemah," Arini kembali menerima suapan Arya.


"Beneran kamu kuat?" Arini mengangguk, "kalau begitu setelah ini kita main gulat satu ronde."


"Mulai lagi ya? Dasar anak nakal." lagi-lagi Eyang Wati datang menjadi pengganggu saja.


"Sini biar Eyang saja yang suapin Arini, kamu sangat meresahkan. Lebih baik kamu keluar dan kerjakan sesuatu." Eyang Wati langsung merebut piring yang ada di tangan Arya.


"Eyang apa-apaan sih! Kan Arya yang ambil. Jadi Arya yang suapin Arini!" Arya protes.


"Kamu yang ambil, tapi Eyang yang akan menyuapi Arini. Eyang tidak percaya padamu lagi. Selama di sini Eyang akan di kamar ini dua puluh empat jam jadi kamu tidak akan bisa mencuri-curi kesempatan lagi. Keluar sana." Eyang Wati terkekeh.


"Eyang... Jangan kejam sama Arya dong. Arya tidak bisa jauh darinya."


"Berdoa saja semoga Allah menjodohkannya padamu. Kalau tidak ya sudah terima nasib."


"Eyang.."


"Sudah sudah! Jangan merengek kayak bocah!"


Perdebatan kedua yang Arini lihat dan dengarkan ada dua sisi yang Arini lihat dari Arya, saat berdebat dengan Raisa dia tidak mau terkalahkan tapi saat bersama Eyang Wati, dia sudah seperti kucing rumahan yang tak berani mengaung dengan keras.


"Lucu sekali." gumamnya.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2