
Happy Reading...
Raisa begitu kesal saat dia di usir dari villa dimana Arini berada saat ini. Baru saja dia bertemu, dia melihat Arini yang seperti sekarang tak sadarkan diri dan sekarang dia tidak boleh menemaninya.
Raisa terus menggerutu kesal, berkali-kali dia ngoceh merutuki Arya yang seenaknya sendiri, tapi dia juga tidak bisa melawan dan menantangnya karena dia juga takut kalau sampai kehilangan pekerjaannya.
"Dasar Tuan Arya, apa dia tidak tau apa kalau mereka berdua belum sah, mereka juga belum ada ikatan apapun tapi main-main bawa masuk Arini ke dalam kamarnya, apa itu tidak berlebihan!" gerutunya.
Kakinya dengan malas berjalan menjauh satu Villa Arya, lagian dia juga sangat lapar sih sebenernya lebih baik juga cari makan untuk mengisi perutnya yang terus saja berbunyi sedari tadi.
Di tengah-tengah perjalanan Raisa berpapasan dengan Melisa, sepertinya gadis itu baru sampai sedari tadi saat mengejar Arya.
Melisa yang terus berjalan cepat di hadang begitu saja oleh Raisa, kedua tangannya merentang tak memperbolehkan dia melewatinya.
"Stop...! Mau kemana kamu, Nenek lampir! Mau gangguin pasangan yang saling mencintai? Mau jadi orang ketiga? Mau jadi falakor! Tidak tidak..., kamu tidak boleh lewat dan mengganggu mereka berdua." Begitu sinis Raisa mengatakan, dia juga tidak akan mengizinkan Melisa lewat begitu saja.
Kalau dirinya saja di usir maka Melisa pun pasti lebih jelas lagi akan di buang dan tidak anggap kedatangannya. Boro-boro tidak dianggap berarti masih boleh masuk, tapi pasti dia akan di cegah dan tak boleh masuk.
"Kenapa loh! Mau mau gue lah mau kemana dan melakukan apapun! Mau gue menggangu mereka atau memisahkan mereka juga bukan urusanmu, kenapa jadi kamu yang sewot," Melisa pun tak mau kalah.
Sepertinya ini akan menjadi pertarungan sengit antara Raisa juga Melisa. Sama-sama cerewet banyak kata tapi berbeda sifat juga tujuannya. Melisa ingin masuk dan mengganggu Arini juga Arya sementara Raisa dia ingin mencegah dan melindungi mereka berdua yang sekarang sedang bersama dalam satu ruangannya.
"Minggir, Aku mau lewat! Jangan jadi pengganggu deh loh, OB rendahan!" Melisa begitu ngotot untuk bisa melewati Raisa tapi gadis itu juga ngotot untuk tidak mengizinkannya.
"Oh, tidak tidak... tidak akan semudah itu untukmu melewati ku. Aku akan selalu berada di sini untuk menjadi bodyguard untuk Arini. Oh, jangan bilang apa yang terjadi pada Arini itu karena kamu! Dasar cewek tak punya hati!" seru Raisa semakin sengit.
__ADS_1
"Hey...!" Jari telunjuk Melisa terangkat menunjuk ke arah wajah Raisa dan seolah ingin masuk ke lubang hidungnya.
"Saya memang jahat, tapi saya juga akan pikir-pikir dulu jika mau membunuh orang. Aku akan lihat-lihat dulu lawan ku, kalau orang sepertimu tak butuh waktu untuk berpikir untuk menghabisi mu, tapi Arini? Apa yang bisa dia lakukan, dia tidak akan mampu untuk melawan ku!" jawab Melisa tak terima.
"Penjahat mana mau ngaku? Kalau semua penjahat ngaku maka penjara penuh! Lagian orang sepertimu bahkan tidak pantas masuk penjara, lebih pantas kamu masuk ke kandang buaya milik Tuan Arya!" tadi Raisa takut gara-gara kandang buaya bisa jadi kan Melisa juga takut?
"Ka-kandang bu-buaya...?" sepertinya usaha Raisa berjalan mulus, Melisa terlihat ketakutan setelah mendengar kata kandang buaya, padahal belum tentu juga kandang itu ada karena Raisa juga belum melihatnya.
"Ya, kandang buaya! Bagaimana, kamu sudah siap masuk ke sana dan menjadi santapan siang para buaya peliharaan Tuan Arya! Maka silahkan lewat." Raisa menyingkir dia bergeser dari hadapan Melisa untuk mempersilahkan dia pergi.
Melisa tampak kebingungan, benarkah apa yang di katakan oleh Raisa barusan? Melisa belum siap bahkan tidak akan pernah untuk siap menjadi santapan buaya.
"Kenapa berhenti! Apa kamu takut?!" Raisa menyeringai dengan kedua tangan terlipat di depan dada, sungguh puas dia membuat Melisa ketakutan seperti sekarang. Ternyata tidak susah untuk membuat Nenek Lampir itu takut.
"A-aku hanya? Aku hanya mau ke toilet sebentar. Su-Sudah tidak tahan," Melisa berlari tapi bukan maju untuk ke tempat Arya juga Arini tapi dia pergi membalikkan badan, kabur dari kenyataan kalau dia akan di masukan ke kandang buaya.
Melisa terbirit-birit, dia sangat takut hanya karena mendengar bualan yang di buat oleh Raisa.
Raisa termenung sejenak memandangi kepergian Melisa. Tidak dapat terpikir olehnya kalau apa yang dia katakan itu akan berhasil membuat seorang Melisa akan takut seperti melihat setan.
Tapi setelah beberapa saat Raisa terpingkal melihat wajah Melisa yang begitu lucu. Saking tak tahannya Raisa terus memegangi perutnya yang terkocok karena tawanya sendiri.
"Hahaha.., dasar Nenek Lampir penakut! Masak iya hanya karena kata-kata kebohonganku saja dia sampai ketakutan seperti ini, hahaha..."
Tak henti-hentinya Raisa menertawakan Melisa, sungguh puas rasanya bisa mengerjai Melisa si tukang onar. Yang tidak pernah tulus akan semua yang dia lakukan.
__ADS_1
"Ekhem..." suara dekhemam menghentikan tawa Raisa yang masih terus terpingkal.
Seketika Raisa berhenti tertawa dia menoleh dan melihat ada Eyang Wati juga Toni yang datang.
"Tu-tuan Toni, Nyo-nyonya Wati," Raisa tergagap, dia sangat malu karena dia yang terus tertawa tadi pasti menjadi tontonan yang menarik untuk mereka berdua.
Raisa tertunduk tak berani mengangkat wajahnya sendiri membuat Eyang Wati tersenyum.
"Apa yang kamu lakukan di sini, Nak?" tanya Eyang Wati dengan sangat lembut sangat jauh berbeda dengan cucunya yang selalu berkata dengan dingin, sinis, angkuh, juga sangat menjengkelkan.
"Sa-saya ingin menemui Arini, Nya. Tetapi Tuan Arya tidak mengizinkannya padahal saya hanya ingin memastikan kalau Arini baik-baik saja atau tidak tapi Tuan Arya tidak mengizinkannya, padahal tadi Arini tidak sadarkan diri," ucapan Raisa terdengar sangat tak semangat.
"Apa! Arini tidak sadarkan diri? Apa yang terjadi padanya?" pekik Eyang Wati.
Raisa menggeleng dia juga tidak tau apa yang sebenarnya terjadi pada Arini.
"Saya juga tidak tau, Nya. Tadi Tuan Arya kembali dari luar dan Arini sudah tidak sadarkan diri." ucapnya.
"Aku harus menemui Arini. Aku harus lihat dan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi kepada Arini." Eyang Wati bergegas, dia cepat melangkah untuk ke tempat Arya juga Arini berada.
"Yes, aku bisa mengikuti nyonya Wati." Raisa menyeringai senang.
Bukan hanya Raisa saja yang mengikuti eyang Wati tapi Toni juga mengikutinya.
Bersambung....
__ADS_1
__