Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
113. Ingat Batasan mu, Arini


__ADS_3

◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦


_______


"Arya! " Seruan keras kembali terdengar oleh Luna. Luna cukup pusing dengan tingkah satu anaknya itu. Karena Arya tidak pernah pulang maka dari itu Luna sendiri yang datang ke apartemennya di malam hari.


"Darimana saja kamu! Apakah setiap hari kamu akan pulang hingga larut seperti ini!? " Suara Luna semakin mengintimidasi Arya yang sudah sangat lelah.


Arya termangu diam, berdiri di tempat tanpa melakukan pergerakan apapun.


"Arya, sampai kapan kamu akan seperti ini. Kamu sudah tidak muda lagi. Kamu harus mulai memikirkan masa depanmu masa depan keluarga kita! "


Luna menghampiri Arya, berdiri di depan Arya seolah menantang anaknya sendiri dengan wajah yang sangat menakutkan.


Arya masih diam, tapi dia bingung saja, sebenarnya darimana Luna bisa masuk ke apartemennya padahal dia tidak pernah membuat duplikat kuncinya, lalu?


"Mama ingin, saat ulang tahunmu besok kamu juga harus bertunangan dengan Nadia. Mama tidak mau mendengar alasan apapun lagi darimu."


"Mama akan siapkan semuanya, di puncak kamu dan Nadia akan bertunangan dan setelah itu kalian juga harus secepatnya menikah."


Langkah Luna begitu cepat, dia menyambar tasnya dan pergi dari apartemen Arya tanpa pamit padanya. Luna datang tanpa persetujuannya dan kini dia pergi pun sama. Sungguh tidak menghargai Arya sebagai tuan rumah.


Begitu tegas Luna mengatakan tak ada jeda sama sekali untuk Arya bisa menjawab dan juga berkomentar. Hidupnya seperti sebuah boneka yang di mainkan dengan sesuka hati oleh pemiliknya.


Arya kesal, hatinya sudah campur aduk dengan kekesalan juga kemarahan. Kebahagiaan yang baru saja dia dapatkan saat bersama Arini terasa hilang tertindih dengan luka yang Luna berikan.


Tangannya mengepal sempurna, matanya juga melotot tak bersahabat.


Dua langkah kaki Arya maju, tangannya menyambar vas dan membanting nya di lantai hingga hancur berkeping-keping.


Tak berhenti sampai di sana, Arya kembali menghancurkan semua yang ada di sana.


"Arghhh...! Ini hidup Arya, dan Arya yang harus menentukan sendiri bagaimana hidup Arya. Bukan kalian semua, bukan! " Teriak Arya frustasi.


/////////


Mulya Indah cantik berseri


Kulit putih bersih merah di bibirmu


Ya, Aisyah putri Abu bakar

__ADS_1


Istri Rosulullah....


Langkah ringan dengan nada irama riang keluar dari bibir Arini. Hatinya sangat gembira. Tidak bisa mengungkapkan dengan kata kata biasa. Sungguh menakjubkan! Rasa sedih akan takdirnya langsung menguap tidak lagi tersisa di hati. Di lorong menuju ruangan Arya untuk membersihkan di pagi hari.


Cuaca pagi sangat mendukung, secerah hatinya yang sama sekali tidak terdapat kabut duka dan kesedihannya. Sungguh nikmat yang sangat luar biasa yang wajib di syukuri.


Nikmat sehat, nikmat kebahagiaan, nikmat sabar itulah yang sangat Arini harapan akan selalu menemani di setiap kesehariannya. Tak butuh apapun yang melimpah ruah asal cukup juga sudah sangat berguna untuk bekal hidupnya yang sangat sederhana.


Tangan mulai sibuk dengan kemoceng bulu ayam. Memindahkan satu demi satu barang dan mengembalikan lagi ke tempat semula, itulah pekerjaannya sehari-hari.


Suaranya yang pas-pasan tidak membuat dia mengurungkan diri untuk tetap berdendang, menemani kegiatan paginya supaya lebih semangat dalam bekerja.


Tanpa Arini sadari sang pemilik ruangan juga sudah datang. Memandangnya dengan menyandarkan punggung di dinding samping pintu dengan kedua tangan yang melipat di depan dada.


"𝘋𝘶𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘬𝘶 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘴𝘪 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘶𝘬𝘢. 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘶𝘵𝘶𝘩 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘫𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘮𝘶, "batin Arya.


Senyumnya mengembang melihat Arini yang terlihat bahagia, entah mendapatkan mimpi apa semalam hingga gadis itu begitu bahagia meski Arya tau terdapat banyak duka dan luka yang tersimpan di hatinya.


"Kamu cukup bahagia hari ini, apakah kamu sudah menyiapkan hadiah untukku? " Arya menurunkan kedua tangan, memindahkannya di kedua saku celana sembari melangkah menghampiri Arini.


Kedatangan juga suara dari Arya cukup membuat Arini terkesiap dan reflek memutar badannya. Matanya memandangi Arya yang semakin dekat hingga akhirnya dia berhenti di hadapan Arini yang mematung.


Jelas saja mengejutkan Arini. Kenapa juga datang langsung nyelonong tanpa mengucapakan salam apakah Arya kembali melupakan itu?


"Bagaimana dengan hadiahku? Apakah kamu sudah menyiapkan sesuatu untukku? Aku ingin hadiah yang spesial di hari jadi ku, atau kalau tidak..., bagaimana kalau kamu memberikan apa yang selalu aku mau darimu? "


Astaga, sepertinya udah mulai kumat lagi nih pak tuan. Mengharapkan Arini akan memberikan hadiah untuk Arya yang paling dia inginkan darinya. Apalagi kalau bukan sesuatu yang sangat Arini jaga.


"A- Arini sudah menyiapkan hadiah kok untuk Pak Tuan. Arini pasti akan memberikannya saat hari jadi pak Tuan," jawab Arini dengan sangat gugup.


Arya mengangguk dia mengerti tapi dia sedikit ada rasa kecewa. Kapan dia akan mendapatkan apa yang dia inginkan dari Arini. Bahkan cap darahnya masih menempel di dinding. Cap darah yang terdapat janji bahwa Arya akan menyentuh Arini di ruangan itu, dan Arya tidak akan pernah menghapusnya jika dia tidak bisa mewujudkannya.


Jika Arya tidak bisa memenuhi janji itu berarti egonya telah kalah. Keyakinannya untuk bisa mendapatkan semua jenis wanita akan musnah.


"Baiklah, aku tunggu hadiah mu. Aku harap hadiahnya tidak akan mengecewakanku."


Arya berjalan mendekati dimana cap darah itu masih tercetak jelas. Dipandanginya tanpa berkedip, "aku pasti akan mendapatkannya. Jika aku benar-benar bisa mendapatkannya maka itu akan menjadi wanita terakhir yang akan aku sentuh, dan tidak akan ada lagi wanita-wanita yang akan menjadi pemuas ku kecuali hanya dia," gumamnya lirih.


"Pak tuan mengatakan sesuatu? " tanya Arini yang samar-samar dia mendengar tapi tidak jelas.


"Tidak! " Arya beralih ke tempat lain, dia menuju ke kursi kebesarannya. Duduk dengan tenang dan mulai membuka laptopnya.

__ADS_1


"Ya Allah, Pak tuan. Meja ini belum Arini bersihkan! Lebih baik Pak tuan minggir dulu deh daripada nanti terkena debu, nanti kena flu lagi," ucap Arini.


"Siapa di sini bosnya?"


"Pak tuan."


"Terus siapa kamu berani mengaturku? " benar-benar kumat lagi nih pak tuan, kejedot apa tuh kepalanya. Padahal tadi malam dia baik-baik saja bahkan mereka berdua tertawa bersama dan pagi ini? Kenapa kembali sedingin es batu. Dingin dan sangat keras.


"Apa Pak tuan sehat? " tanya Arini penasaran.


"Kamu pikir aku sakit? Ingat batasan mu Arini. Aku berbaik hati padamu bukan berarti kamu bisa mengaturku. Kamu hanya OB."


'𝘏𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘖𝘉... 𝘏𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘖𝘉... 𝘏𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘖𝘉...


𝘋𝘦𝘨...


Kata di akhir kalimat seolah terputar berulang-ulang di kepala Arini. Dia sadar Arini hanya OB di sana. Mungkin Arini yang salah karena terlalu lancang dan tidak bisa mengingat batasannya sendiri.


Mata Arini sembunyikan dari Arya, gejolak luka sudah siap untuk meluncur di wakili dengan air mata. Arini membalik dia tak sanggup lagi memandangi Arya. Arini cukup sadar diri dengan kedudukannya.


"Terimakasih karena sudah mengingatkan Arini yang bodoh ini mengenai kedudukan. Arini akan selalu mengingatnya bahwa Arini hanya OB yang tidak seharusnya lancang kepada pak tuan. Arini akan selalu mengingatnya. Sekali lagi terimakasih."


Nafas terasa tersengal di tengah-tengah dada Arini. Suaranya juga terdengar parau karena begitu menahan sesak.


Langkah kaki mulai pergi meninggalkan Arya yang tak sadar telah menyakiti hatinya. Dia tetap kekeuh dengan pendiriannya.


Pintu tertutup rapat dan Arini sudah menghilang dari jangkauan mata Arya. Baru sadar Arya telah menyakiti Arini, punggungnya bersandar dengan lemas dengan penuh sesal.


"Astaga, apa yang aku lakukan." ucapnya.


"Arini tidak bersalah, dia tidak tau apapun tapi kenapa aku malah melampiaskan semua amarahku padanya? Hufff..., dia pasti sangat sedih karena aku."


"Arghhh...! "


Arya beranjak dia juga bergegas keluar dari ruangan itu mungkin dia ingin mencari keberadaan Arini untuk meminta maaf.


_______


Bersambung....


______

__ADS_1


__ADS_2