Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
218.Tidak Menangis


__ADS_3

Happy Reading...


Begitu bosan Arini menunggu, tapi dia tetap setia di ruang tengah dengan duduk bersandar dengan membaca buku. Tak ada yang lain lagi selain dirinya sendiri karena Nilam maupun Dimas sudah pergi ke kamar mereka masing-masing untuk istirahat.



Sesekali Arini menoleh ke arah pintu menatap sejenak sekedar memastikan pintu akan segera terbuka atau tidak. Tapi ternyata tidak, pintu masih diam dan sama sekali tak bergerak.



"Kapan kamu akan pulang, Mas," gumamnya.



Perutnya juga sudah bermain keroncong dari sepuluh menit yang lalu tapi dia biarkan, dia acuhkan begitu saja karena dia sangat yakin sebentar lagi suaminya akan segera pulang.



Tangannya kembali memegangi perutnya yang terasa sangat lapar tapi dia tetap tak beranjak dan kini malah merebahkan tubuhnya dengan sangat perlahan. Rasa kantuk begitu menyerang hingga akhirnya Arini tertidur pulas di sofa dengan buku yang dia baca sudah jatuh di dadanya.



Sementara Arya juga baru saja sampai di parkiran rumah Hendra, cepat dia turun dari mobil dengan membawa semua hadiah yang dia beli juga hadiah dari eyang Wati yang sudah di di persiapkan.



Arya sedikit berlari dia tak mau lebih lama lagi dan akan membuat Arini semakin lama menunggu. Tapi Arya pikir, tidak mungkin Arini akan menangis hingga cukup lama. Tidak mungkin kan sampai semalam ini dia akan menangis.



"Aku sudah pulang, Arini. Kamu tidak boleh menangis lagi. Aku minta maaf," ucapnya dengan kaki yang terus melangkah dengan sangat cepat.



"Baru pulang, Tuan?" tanya penjaga yang ada di depan pintu. Bertanya dengan sangat hormat dengan tangan yang bergerak untuk membukakan pintu untuk Arya.



"Hem.." jawab Arya singkat. Dia juga langsung berjalan lagi setelah pintu sudah terbuka dengan sangat lebar.



Mendengar jawaban yang sangat singkat dari Arya penjaga itu hanya bisa tersenyum hambar. Dia juga sudah hafal betul dengan bagaimana sifat Arya yang sebenarnya. Cuek-cuek dingin juga sangat angkuh jika dengan semua orang, tapi hanya dengan istrinya saja dia bisa luluh dan begitu hangat juga sangat romantis.



Pintu kembali di tutup dengan sangat rapat oleh penjaga. Dia juga kembali bekerja lagi seperti sebelumnya.



Begitu terpaku dalam diam Arya setelah melihat Arini sekarang. Tidur di sofa ruang tengah dengan satu tangan memegangi buku yang tadi dia baca juga satunya lagi berada di atas perutnya.



"Hem.." Arya berjalan menghampiri, perlahan dia duduk di sofa yang sama dengan yang Arini tempati. Meletakkan semua barang-barang di meja dan kembali memandangi wajah istrinya yang sangat lelap dalam tidurnya.



"Maafkan aku, Arini. Maaf karena membuatmu menunggu, dan maaf membuat mu menangis," gumam Arya yang sungguh percaya dengan apa yang tadi Dimas katakan padanya.



Dielusnya pipi Arini dengan sangat pelan, dia merasa sangat menyesal melihat istrinya sekarang tapi dia juga tidak bisa berbuat lebih, dia harus menyelesaikan segala urusannya karena niatnya yang ingin bersama dengan Arini untuk beberapa hari ke depan, dan sekarang dia bisa mewujudkan semua niatnya karena semua pekerjaannya telah rampung.



"Sayang, sayang," Arya mencoba untuk membangunkannya tapi Arini yang lelah tak mau untuk bangun begitu saja. Dia masih setia dalam tidur bahkan juga tidak bergerak sedikit pun.

__ADS_1



"Sayang," Arya kembali mencoba lagi tapi Arini tetap sama dan tidak membuka mata sama sekali.



Tak tega dengan tidur Arini yang terlihat tidak nyaman membuat Arya berinisiatif untuk mengangkat tubuhnya. Dengan sangat mudah untuk Arya menggendong Arini yang masih sangat kecil itu, dan perlahan dia bawa ke lantai dua dengan menaiki anak tangga.



Pelan namun pasti akhirnya Arya sampai di kamar mereka, kamar Arini tepatnya yang kini juga menjadi miliknya juga.



Arya menurunkan Arini perlahan di atas kasur, melepaskan hijab Arini dengan sangat pelan supaya tidak membangunkannya.



Dielusnya rambut Arini dengan sangat pelan, Arya sungguh menyukai rambut hitam milik Arini.



Dikecup nya kening Arini dengan sangat pelan menyelimuti tubuhnya sebelum Arya kembali keluar ke ruang tengah untuk mengambil semua yang dia tinggalkan tadi.



Tak ada satupun barang yang tertinggal semua sudah ada di tangannya dan Arya bergegas untuk kembali ke kamar lagi. Arya melihat Arini sejenak dan posisi Arini masih sama seperti yang tadi.



Setelah meletakkan semua barang-barang di atas meja Arya cepat bergegas untuk pergi ke kamar mandi, dia juga sangat lelah seharian bekerja juga sangat lengket tentunya.



Sementara saat Arya berada di kamar mandi Arini malah terbangun, dia sangat bingung awalnya karena sudah tidur di atas kasurnya sendiri. Tapi itu tak lama setelah dia mendengar suara yang datang dari arah kamar mandi.




Matanya terus melihat pintu kamar mandi, semoga saja yang ada di dalam benar-benar suaminya dan bukan orang lain.



Senyum Arini mengembang tapi dia juga langsung menunduk karena melihat Arya yang sama seperti kemarin lagi. Yaitu keluar dari kamar mandi dengan tidak memakai baju dan hanya melilitkan handuk di perutnya saja.



"Loh, kok bangun," ucap Arya setelah menoleh ke arah Arini yang sudah duduk.



"*Jangan kesini, jangan mendekat jangan mendekat," batin Arini yang tak menginginkan Arya untuk mendekat*.



Tapi apa yang Arini harapkan ternyata berbanding terbalik dengan apa yang Arya lakukan. Arya malah mendekatinya dan langsung duduk di hadapannya.



"Kenapa, apakah kamu marah padaku? apakah kamu masih menangis karena ku?" tanya Arya yang masih mengingat apa yang Dimas katakan tadi padanya.



"Jangan menangis lagi, maafkanlah aku. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi," diraihnya tangan Arini, di kecup berulang kali seraya Arya yang meminta maaf kepada Arini.


__ADS_1


Arya sungguh tidak ingin melihat Arini bersedih apalagi sampai dia menangis karenanya dan karena itu dia terus memohon maaf kepada istrinya itu yang kini malah bingung sendiri, "*siapa yang nangis*?" batin Arini.



"Mas kenapa," Arini memberanikan diri mengangkat wajahnya tapi tak mau melihat bagaimana tubuh Arya yang kotak-kotak dengan keadaan masih basah itu, Arini hanya langsung terfokus kepada wajah Arya yang begitu memelas.



"Berapa lama kamu menangis karena aku nggak kunjung pulang?" tanya Arya.



"Menangis? Arini tidak menangis. Lagian untuk apa juga Arini menangis karena Mas belum pulang, kan Mas sudah mengatakan alasannya kenapa pulang terlambat," jawab Arini dengan sangat jelas.



"Benarkah kamu tidak menangis?" Arya mengernyit, kalau Arini tidak menangis itu berarti.. "*Astaga, apakah Dimas membohongi ku? apakah dia mengatakan itu karena dengan itu akan secepatnya pulang? dasar Dimas, awas saja kamu ya," batin Arya yang akhirnya sadar kalau dia kena tipu oleh kakak iparnya*.



Arini hanya mengangguk menjawab, dia sungguh tidak nangis.



"Mas kenapa melamun, apakah Mas memikirkan sesuatu?" tanya Arini mengernyit bingung, memandangi wajah Arya semakin dekat dan mencondongkan wajahnya.



"Ya, aku memikirkan sesuatu."



"Apa?"



"Memikirkan kata-kata Eyang."



"Apa yang eyang katakan, eyang tidak apa-apa kan? Eyang baik-baik saja kan?" Arini panik.



"Eyang baik-baik saja, tapi...?" Arini semakin serius menunggu jawaban dari Arya.



"Kata eyang, kita harus secepatnya memberikan cicit untuknya. Jadi kita harus bekerja keras bukan?"



"Hem..?" Kening Arini mengkerut.



"Kita bikin sekarang yuk, takut kemalaman nanti dan nggak bisa bikin lagi, mumpung aku hanya tinggal buka," Arya mengedipkan matanya genit, menggoda Arini yang sudah memerah pipinya.



"Hem...?"



"Akkk...!" belum juga memberikan jawabannya Arya sudah langsung menerkam Arini dan keduanya bermain petak umpet di dalam selimut.


__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2