Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
241.Bagaimana Makannya?


__ADS_3

Happy Reading...


Makan malam yang sangat romantis, sangat yakin akan selalu membuat Arini ataupun Arya tak akan melupakan momennya.



Makan malam yang sangat istimewa tapi malah membuat Arini bingung, dia sangat tercengang dengan semua hidangan yang ada di hadapannya sekarang.



"Mas, apa tidak ada nasi?" tanyanya dengan sangat polos. Arini yang biasanya makan nasi dan sekarang sama sekali tak ada nasi siapa yang tidak bingung coba.



"Hmmm?" Arya tercengang dengan apa yang Arini tanyakan, dia melupakan kalau dalam otak istrinya itu tidak sama dengan apa yang ada di dalam otaknya.



"Dan ini, daging segini besarnya bagaimana makannya?" Arini kembali di buat bingung saat melihat steak yang begitu besar ada di hadapannya.



Kedua tangannya memang sudah memegangi garpu juga pisau sama seperti Arya, ya! Arini hanya nyontek Arya. Bagaimana suaminya itu memegangnya.



"Kamu mau makan nasi?" Arya mendekatkan kursinya dan berhasil berpindah tepat di sebelahnya. Bukan hanya itu saja, tapi Arya juga menggeser piringnya yang isinya sama seperti milik Arini.



"Bukannya kalau makan itu pakai nasi ya, Mas? kalau hanya gini doang ini namanya ngemil bukan makan," celetuknya.



Tak mau berdebat Arya langsung melambaikan tangan ke arah pelayan yang berdiri tidak jauh dari mereka dan jelas dia langsung datang.



"Tolong minta nasi putih satu saja," ucapnya.



"Satu? satu butir maksud Mas?" celetuk Arini.



Hadeuh, seharusnya Arini tidak usah ikut campur dengan apa yang suaminya katakan kan? mana mungkin Arya akan memberikan satu butir nasi saja, sama saja bohong.



"Satu piring sayang, bukan satu butir," ucapan Arya begitu lembut, dengan tangan membelai lembut puncak kepala Arini.



"Kalau ngomong yang komplit dong, Mas," jawabnya.



"Iya, maaf," haruskah Arya menangis sekarang ini?



Arya harus benar-benar sabar jika bersama Arini, dia yang belum terbiasa dengan hal baru harus dia ajarkan supaya bisa terbiasa.



"Ada lagi?" tanya pelayan itu.



"Cukup."



Tak mau lagi istrinya kesusahan dan kembali bertanya-tanya Arya berinisiatif menarik piringnya lalu memotong kecil-kecil steak itu.



"Lihat baik-baik sayang, begini cara potongnya. Dan setelah itu tusuk pakai garpu dan tinggal makan, akk!" Arya menyodorkan steak yang sudah kecil dengan garpu ke arah mulut Arini.



"mateng nggak?"


__ADS_1


"Mateng sayang, di coba dulu baru beri komentarnya, akk!" ucap Arya lagi.



"*Ya Allah, aku bingung dengan takdir-Mu. Bagaimana bisa aku begitu tergila-gila dengan wanita yang seperti ini. Dan kenapa semakin hari cinta ini semakin besar saja. Padahal dia hanya gadis bodoh yang sama sekali belum tau apa-apa. Entah benar-benar bodoh atau hanya mau membodohiku?" batin Arya*.



Tidak lagi komentar Arini langsung makan steak yang Arya sodorkan. Mengunyahnya perlahan menikmati akan rasa yang sangat berbeda, daging yang sangat besar tetapi sangat empuk dan lembut di dalamnya. Tapi tetap saja Arini tidak begitu menyukai akan rasanya karena dia lebih menyukai seperti biasa yang dia makan.



"Bagaimana sayang?" mata Arya membulat menunggu jawaban Arini setelah menikmati suapan pertama yang dia berikan. Arya tersenyum sepertinya istri kecilnya menyukai dengan makanan yang dia pilihkan saat ini.



"Enak, tapi Arini lebih menyukai jika di masak rendang daripada di masak seperti ini," untung saja perkataan Arini saat ini sangat pelan dan terkesan berbisik di telinga Arya, jika sampai terdengar oleh pemilik restoran itu entah apa yang dia rasakan.



Arya langsung mengedarkan pandangannya memastikan tidak ada yang mendengar ucapan Arini barusan. Arya juga nyengir menanggapi ucapan istrinya mungkin karena lidah Arini lebih dulu mengenal rendang daripada steak jadi dia lebih menyukai rendang.



Gagal deh makanan yang Arya pilih menjadi kesan pertama yang indah untuk makan malam ini, Arya juga salah kalau lidah Arini kan tidak sama seperti yang lain.



"Tapi ini juga sangat enak," imbuh Arini setelah benar-benar merasakan akan rasa dari steak yang dia makan. "*Muach*..!"



Tiba-tiba Arini mencium pipi Arya begitu saja membuat hati Arya berdesir tak menentu.



Astaga, pinter banget Arini memberikan kesan untuk hati Arya. Dia yang berhasil memberikan kecupan lembut di pipi Arya hanya merenges begitu saja sementara Arya mulutnya malah menganga lebar.



"Sudah berani menggodaku ya sekarang, karena kamu membuat ku terkejut kamu harus mendapatkan hukuman dariku," ucap Arya.



"Hem?"




"*Astaghfirullah, dasar mas Arya. Main nyosor saja kayak bebek dan nggak ingat tempat. Bagaimana kalau ada orang yang datang," batin Arini.



Ekhem..



"Tuh kan, bener," imbuh Arini membatin*.



Cepat Arini mendorong Arya juga langsung menunduk malu dengan pipi yang mungkin sekarang sama persis seperti tomat matang.



Lalu Arya?



Arya sama sekali tidak memiliki malu, dia malah acuh meski bibirnya kini masih basah dan terlihat oleh pelayan yang datang membawa nampan hitam yang berisi satu piring yang isinya nasi putih.



"Terima kasih," ucapnya dingin. Tangannya juga sembari bekerja menghapus apa yang tersisa di bibirnya bekas dari ciuman panas yang dia buat.



"Pergilah, kalau kami butuh sesuatu kami akan panggil," pinta Arya. Mengusir pelayan itu lebih baik daripada dia melihat kemesraan mereka berdua.



"Ba-baik Tuan," pelayan itu menjadi salah tingkah sendiri. Padahal bukan dia yang kepergok tapi kenapa dia yang gugup?


__ADS_1


"*Astaga astaga..., dasar pengantin baru, mentang-mentang lagi bulan madu melupakan jomblo akut seperti ku. Enyak..., carikan aku bini!! " teriak pelayan dalam hati*.



"Tidak usah malu, dia sudah pergi. Lagian aku sah-sah saja melakukan yang lebih, iya kan?" kedipan menggoda keluar dari mata Arya, seneng banget dia membuat jantung Arini melakukan senam erobik.



"Arini Khumaira sayang," panggilannya semakin lembut membuat jantung Arini bekerja semakin kuat lagi. Apalagi ditambah dengan mulut Arya yang kembali monyong.



"Mas, jangan lagi! jangan seperti itu nanti aku jantungan. Apa Mas tidak mendengar jantungku sudah senam dari tadi!" ucapannya jujur, Arini cemberut tapi pipinya tak bisa menahan rasa panas yang semakin panas.



"Benarkah, coba aku dengar," sengaja Arya mendekatkan wajahnya ke depan dada Arini, "nggak dengar apapun, kamu bohong ya?" Arya mengangkat wajahnya melihat jelas wajah Arini yang semakin malu di buatnya.



"Ihh, menjauh!" Arini mendorong pundak Arya dan berhasil membuatnya menjauh.



Tanpa rasa berdosa Arya malah terbahak-bahak mendengar cuitan Arini. Sungguh senang sekali membuat istrinya itu merona.



"Ihh, gemes sekali deh."



"Mas!" Arini berontak saat Arya mencubit hidungnya dan kembali terbahak.



Arini yang kesal dan mengerucut bibirnya malah membuat Arya semakin ingin mengganggunya.



"Sayang, jangan seperti itu, kalau kamu terus manyun seperti itu aku malah ingin memakanmu sekarang juga. Lagian kenapa kamu hari ini terlihat sangat cantik sih, aku menyesal membawamu keluar," ucap Arya.



Arini abai, dia terus makan begitu saja. Dia akan mati kelaparan kalau menanggapi Arya yang tidak henti-henti menggodanya. Arini juga tidak mau ada masalah jantung setelah pulang dari sana.



"Hem!" Arini menoleh cepat saat tiba-tiba ada jari yang menghapus saus di sudut bibirnya, siapa lagi pelakunya kalau bukan Arya.



"Hati-hati makannya, aku tidak akan memintanya," senyum kembali keluar dari bibir Arya.



Ahh, parah! jantung Arini semakin menggila di dalam sana. Apalagi melihat sorot mata yang begitu indah dan menenangkan, begitu banyak cinta untuknya.



"Hem, te\_terimakasih," Arini gugup bukan main, dia langsung menunduk lagi dan jelas pipinya akan kembali lagi seperti tomat matang.



"Mau aku suapin?" tawar Arya.



Arini tidak membalas, namun Arya sudah menarik piring Arini, "Akk!" pintanya.



Benar-benar seperti ratu Arini sekarang, Arya memperlakukan sangat baik dan juga terus memanjakannya.



"Kamu tidak boleh capek-capek, kamu harus simpan tenagamu untuk lima ronde malam ini."



Uhuk uhuk uhuk...



Ternyata ada udang di balik bakwan perlakuan Arya yang manis ini.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2