Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
299. Kumat lagi


__ADS_3

Happy Reading....


...----------------...


Bosan dengan terus berada di rumah Arini menginginkan pergi ke pasar untuk belanja. Sebenarnya Arya selalu mengatakan kalau belanja lebih baik ke Mall, di samping lebih terjamin kebersihannya juga tidak panas seperti di pasar. Tapi tidak untuk Arini.


Arya yang baru saja sampai di kantor karena dan baru saja duduk di kursi kebesaran langsung terkejut saat istri tercintanya itu menghubunginya dan mengatakan ingin ke pasar. Jelas Arya langsung bergegas pulang lagi karena Arini juga tidak mau menunggu lebih lama.


Arini sudah mengatakan kalau dia bisa sendiri ke pasar. Yang jelas tidak sendiri karena ada Susi yang akan mengantarkannya.


"Begitu tak sabar Arini menunggu kepulangan Arya, dia sudah berdiri di depan pintu dengan mata sesekali melirik ke arah gerbang.


" Duduk dulu lah, Nyonya cantik. Tuan tampan pasti akan segera pulang loh," saran Susi yang merasa kasihan karena melihat Arini yang terlihat mulai lelah saat terus mondar-mandir.


"Tidak mbak Suka-suka. Aku akan tetap berdiri. Kalau Mas Arya pulang aku bisa langsung menghampirinya dan kita bisa berangkat secepatnya."


Arini semakin gusar, dia semakin tak karuan pikiran juga kelakuannya.


"Huff, yo wes lah. Tak aku aja yang duduk," kursi yang di tadi dia minta untuk duduk Arini kini buat duduk sendiri oleh Susi. Dia yang lelah sendiri karena melihat majikannya seperti itu.


"Sebenarnya Nyonya mau beli opo toh di pasar?" bingung Susi. Pasalnya kalau hanya ke pasar saja biasanya dia yang berangkat. Tapi sekarang? Arini bahkan ingin ikut dengannya.


"Belum tau, hanya pengen aja," kata Arini dengan polosnya.


"Lah, kok nggak ngerti ki gimana toh!" heran juga d


si Susi. Majikannya ini sangat susah untuk di tebak. Tau lah keunikan Arini. Bukan hanya orang-orang terdahulunya saja yang kadang di bikin pusing, tapi Susi pun juga sering mendapatkan gilirannya.


Namun, karena Susi juga sama uniknya jadi kadang-kadang Arya yang di bikin pusing dengan tingkah mereka berdua. Kalau keduanya lagi kumat Arya hanya bisa geleng-geleng kepala atau hanya ngelus-ngelus dada.


"Nah, itu Mas Arya dah pulang," begitu sumringah Arini sekarang. Dia sampai berlari untuk menghampiri Arya. Eh, lebih tepatnya mobilnya yang belum berhenti.


"Nya, ati-ati!" Susi jadi panik sendiri melihat Arini yang berlari karena Arya juga memerintahkan padanya untuk terus mengawasi dan ikut menjaga Arini yang kadang bertingkah sembrono seperti anak kecil.


Seperti anak kecil yang melihat orang tuanya pulang kerja Arini sudah berhenti di depan mobil Arya dengan senyum polosnya. Tangannya tak ada henti memilin-milin hijabnya sementara tubuhnya tak bisa diam dan terus bergerak.

__ADS_1


"Sayang, kenapa tidak ke Mall saja sih belanjanya. Dia sana kan lebih komplit juga lebih nyaman. Kita nggak perlu panas-panasan juga kegerahan," ucap Arya seraya melangkah dan mendekati Arini.


Arini hanya cengengesan, dia juga langsung meraih tangan suaminya meski Arya terlihat kesal.


"Di pasar lebih enak, Mas. Berangkat sekarang yuk!" Arini mendahului berjalan setelah menjawab Arya. Sepertinya dia sangat gift sabar.


"Huff, iya-iya," Arya hanya bisa pasrah. Dia harus terus bersabar meladeni istri polosnya itu.


Arya cepat masuk kembali ke mobil, begitu juga dengan Susi yang ikut masuk namun di kursi penumpang belakang.


Mobil berjalan, meninggalkan rumah mewah Arya hanya untuk pergi ke pasar.


...----------------...


Begitu bahagia Arini setelah sampai pasar. Dia begitu antusias saat terus melangkah masuk semakin dalam. Sementara Arya? dia sudah melepaskan jasnya meninggalkannya di mobil dan kini hanya memaki kemeja putih yang bagian lengan dia tarik ke atas hampir sampai sikut.


"Sayang, mau beli apa?" tanya Arya. Arya sudah mulai kegerahan sekarang. Tak biasanya dia pergi ke pasar dan sekarang demi membuat istrinya bahagia dia rela dan sabar.


"Bentar, Mas. Lagi lihat-lihat," jawab Arini. Matanya terus menelisik ke semua penjuru, siapa tau akan ada yang membuatnya tertarik. Sementara Susi, dia berjalan sendiri entah kemana tadi. Dia di minta Arya untuk belanja apapun seperti biasa tanpa mempedulikan Arini, Arini sudah menjadi urusannya sekarang.


"Mana?" Arya masih tak mengerti. Dia tak tau mana sebenarnya yang Arini tunjuk, kios mainan, kios sayuran atau kios baju yang saling berjejer.


"Ayuk lah, Mas. Jangan kelamaan!" Arini langsung menarik Arya begitu saja. Sampai-sampai Arya hampir terjatuh karena sepatunya menginjak sayuran busuk.


"Astaghfirullah!" Arya mengelus dada, lega rasanya karena tak jadi terjatuh. Tapi sepatu mahalnya, tentu sudah kotor karena kejadian itu.


Arya melihatnya sedikit jijik, ya! mungkin sangat jijik karena dia tak pernah terjun ke tempat seperti ini.


"Awas-awas! jangan melamun di jalan!" seru seorang kuli yang tengah menggendong karung yang kemungkinan berisi terigu.


Cepat Arya menyingkir begitu juga dengan Arini.


"Kenapa malah berhenti sih, Mas. Ini sudah mau sampai. Ayo cepat!" Arini kembali menarik Arya, tidak tau aja suaminya hampir jantungan tadi karena hampir terjatuh.


"Jangan cepat-cepat, Yang!" tegur Arya.

__ADS_1


Sampailah Arini di depan kios baju. Arini langsung melepaskan tangan Arya dan menyentuh kaus couple berwarna pink bertuliskan Papa juga Mama.


"Ini bagus deh, Mas. Nanti Mas pakai ini sementara Arini pakai ini," Arini langsung mengambil baju itu dan menunjukkan kepada Arya.


Arya menelan salivanya susah payah. Bagus apanya? bagus untuk Arini tapi tidak untuk dirinya. Dia CEO loh, orang terkenal akan wibawanya. Bagaimana kata para koleganya kalau tau Arya pakai baju pink cerah begitu?


"Coba, nih bagus kan. Ini sangat pas untuk, Mas. Besok minggu kita pakai ini pas mau senam hamil."


Mata Arya semakin membulat. Astaghfirullah, memakai di rumah saja Arya pasti akan malu bagaimana di tempat umum yang banyak ibu-ibu hamil dan tengah senang. Bukan itu saja, Arini pasti tidak akan mau pulang setelah dari sana sebelum jalan-jalan seperti biasanya.


"Ya_yang lain saja bagaimana, Yang? hijau atau biru atau putih ini juga bagus?" Arya ikut memilih, memperlihatkan pilihan yang di rasa cocok untuknya.


"Tidak mau, Arini maunya yang ini. Ini sangat bagus juga sangat keren," rengeknya seperti biasa.


Hadeuh, udah nggak bisa apa-apa si Arya kalau sudah seperti ini. Dia terlalu bucin dengan istrinya jadi apapun akan dia lakukan. Terlalu takut jika istrinya akan nangis atau pergi karena marah.


"I_iya deh," jawab Arya.


"Nah, gitu dong. Mbak tolong bungkus yang ini ya," pinta Arini.


"Eh, harganya berapa mbak?" tanya Arini dan menarik lagi baju itu.


"Itu seratus lima puluh, Mbak," jawabnya.


"Hah! mahal amat. Kaus begini biasanya seratus aja sudah mahal. Seratus aja ya, Mbak."


"Tidak bisa, Mbak. Ini memang harganya segitu." kekeuh penjual.


"Pokoknya aku maunya seratus. Mas, ini harga harus seratus," rengeknya.


Kumat lagi kan sekarang. Jangankan seratus lima puluh seberapapun mahalnya kalau Arini yang minta pasti akan di kasih. Mungkin jiwa Arini saat tinggal di desa masih terbawa sampai sekarang atau entah ada alasan lainnya.


^^^"Astaghfirullah, seorang istri CEO yang terkenal paling kaya hanya untuk membeli kaus saja nawar? Luar biasa," batin Arya. ^^^


...----------------...

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2