Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
48.Tak Akan Bisa Mengaturku


__ADS_3

..._______...


...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...


Luna juga Nadia begitu semangat datang ke perusahaan Arya. Mereka memang berniat untuk melabrak Arini yang kata Nadia adalah Istrinya Arya.


Semua sudah keduanya persiapkan mereka sudah menyiapkan semua kata-kata yang akan di lontarkan untuk membuat Arini ketakutan dan pergi dari sana, jika mereka benar-benar sudah menikah Arini juga harus meninggalkan Arya.


Saat di depan gedung keduanya melihat Toni yang ada di depan pintu, seperti dia sedang memberikan arahan untuk karyawan lain terlihat dari dia yang berbicara dengan karyawannya yang membawa berkas di tangannya.


"Tan, Tante yakin?" Nadia sepertinya ragu, dia sangat ingin jika Arini pergi dari kehidupan Arya tapi dia takut melihat Arya yang terlihat sangat tempramental itu. Jika mereka mengurusi urusan Arya pasti mereka akan menghadapi kemarahan Arya.


"Kamu tenang kamu jangan takut kan ada tante yang akan selalu mendukungmu, lagian kali ini kamu tidak melakukan apapun, karena yang akan melakukan ini adalah Tante," Luna tersenyum manis ke arah Nadia dia ingin membuatnya yakin bahwa semua akan baik-baik saja.


"Baiklah, Nadia akan ikut apa kata Tante," jawabnya yang meski masih terlihat tak semangat tapi dia sudah setuju.


Di saat mereka berdua akan masuk ternyata Toni sudah tidak ada di tempat tadi sepertinya dia sudah kembali bekerja lagi. Tapi itu tak masalah tujuan mereka bukanlah Toni tapi Arya juga Arini.


Luna masuk dengan Nadia yang selalu di belakangnya, tak berhenti-henti mereka langsung menuju ke tempat dimana Arini bekerja di lantai 50.


Lift khusus CEO lah yang mengantarkan mereka berdua menuju ke lantai yang paling atas mereka yakin akan mendapatkan apa yang menjadi tujuannya di sana.


Tak butuh waktu lama mereka sampai di lantai yang paling indah itu Nadia saja di buat terperangah melihat lantai itu, angan-angannya langsung berkelana mengenai lantai itu. Nadia terus tersenyum, membayangkan saja dia sudah sangat bahagia apalagi sampai dia bisa benar-benar menjadi istri Arya dan bisa menikmati semua fasilitas di sana.


Luna terus mencari-cari keberadaan Arini, dari informasi yang dia dengar Arini bekerja sebagai OB jadi dia pasti akan ada di lantai itu dan tengah bersih-bersih sekarang.


Sudah sampai paling ujung namun dia belum juga menemukan Arini, kaki juga sudah pegal karena tak biasa dia jalan begitu lama dan kini harus berkeliling tempat yang begitu luas hanya untuk mencari seorang OB.


"Di mana dia?" Luna menghentikan langkahnya, matanya tetap tak mau diam dan terus menelusuri setiap ruang yang bisa saja di jangkau.

__ADS_1


Nadia menggeleng dia juga tidak tau keberadaan Arini.


"Tante, apa mungkin dia ada di ruangan Arya sekarang?" ucap Nadia.


"Kamu benar, seharusnya kita ke sana dulu sebelum berkeliling seperti ini, buang-buang waktu saja," jawab Luna.


Mereka kembali melangkah kali ini tujuannya adalah ruangan Arya. Mereka sangat yakin kalau Arini ada di sana dan tengah berduaan dengan Arya. Kali ini Arya tidak bisa mengelak lagi dia juga harus memilih antara Arini atau mamanya, pikir Luna.


Dengan begitu semangat Luna mendorong pintu ruangan Arya tapi kecewa karena tak melihat anaknya atau siapapun di sana. Luna semakin masuk dia masih tetap yakin ada Arya juga Arini di sana.


Luna kembali melangkah semakin dalam dan menuju tempat Arya istirahat, kamar khusus untuk Arya untung saja kali ini tidak di kunci jadi dia bisa masuk dengan mudah. Setelah di periksa ternyata Arya maupun Arini juga tidak ada di sana.


"Apa mungkin mereka belum datang?" Luna mengernyit, tak biasanya juga Arya akan berangkat siang dia sangat disiplin jika mengenai pekerjaan tak mungkin juga kan dia akan berangkat terlambat hanya karena orang yang tidak penting.


"Mungkin," jawab Nadia satu kata saja.


Dengan nafas kesal Luna keluar dia ingin menanyakan keberadaan Arya pada Toni namun dia tersenyum karena belum keluar dari ruangan kerja Arya itu yang di cari sudah ada di depan mata, "Arya kamu baru datang?" tanya Luna yang di buat lembut.


"Nadia maksudmu?"


"Entah siapa dia, yang penting jangan pernah Mama bawa lagi ke sini Arya tidak menyukainya," jawab Arya begitu angkuh. Arya langsung duduk di sofa.


"Jangan begitu Arya, dia adalah calon istrimu,"


"Siapa juga yang mau menikah dengan perempuan tak punya etika seperti dia," Arya semakin sinis bahkan tatapannya juga semakin bengis ke arah Nadia.


"Arya, kamu jangan seperti itu. Oh! Mama tau, apa semua ini gara-gara perempuan yang buruk rupa itu! Ar, bangun dari tidurmu! perempuan itu tidak pantas untukmu! dia tak selevel dengan kita!" ucapan Luna terdengar begitu ngotot.


Luna memang tak menyukai gadis manapun meskipun bukan Arini siapapun yang dekat dengan Arya dia akan tetap memintanya untuk menjauh dari Arya, semua itu karena dia sudah menentukan siapa yang akan menjadi pasangan Arya yaitu Nadia.

__ADS_1


Nadia lebih segalanya dia cantik, berprestasi, anak orang kaya dan juga keberhasilannya tidak bisa di ragukan lagi.


"Tidak usah mengurusi kehidupan Arya, Ma. Mau Arya menikah dengan siapapun juga bukan urusan Mama. Lagian sejak kapan Mama jadi peduli dengan Arya seperti ini?" heran Arya.


"Di mana gadis itu, Mama ingin dia menjauh dari mu. Lagian dia cuma OB kan? Dia tak pantas dengan mu yang seorang pemimpin, pewaris orang terkaya! dia tak pantas!"


"Apa Mama pikir dia juga pantas? Tidak! " jawab Arya dengan jari menunjuk Nadia, "Arya lebih memilih gadis OB itu daripada dia, Ma. Karena apa? karena gadis OB itu lebih terhormat daripada dia," jawab Arya.


"Sekarang lebih baik Mama bawa dia pergi dari sini, dan jangan pernah menginjakkan kaki lagi di perusahaan ku, pergi! " imbuh Arya mengusir keduanya.


Sepertinya Arya benar-benar tak bisa di toleran sedikitpun dia tetap tak menyukai Nadia meski dia sudah berdandan sangat cantik hari ini demi bertemu dengan Arya.


Nadia begitu kecewa, dia tak terima di hina begitu saja oleh Arya. Dia adalah gadis yang paling sempurna tak akan rela di rendahkan martabatnya oleh Arya begitu saja.


Nadia berlari keluar dengan hati yang dongkol dia tak mau mendengar penghinaan Arya lagi yang membandingkan dirinya dengan perempuan buruk yang baru dua kali dia bertemu.


"𝘈𝘸𝘢𝘴 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢 𝘫𝘢𝘭*𝘯𝘨! 𝘉𝘦𝘳𝘢𝘯𝘪-𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘬𝘶. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘩𝘢𝘬 𝘬𝘶, " batin Nadia.


"Keterlaluan kamu Arya! lihat apa yang kamu lakukan, dia pasti sedih karena kata-katamu!" ucap Luna.


Arya hanya acuh dia mengangkat kedua bahunya dengan angkuh. Semua yang dia katakan memang benar dia tak menyukai wanita itu. Tapi bukan berarti dia juga menyukai Arini karena telah membandingkannya dengan Nadia. Itu hanya cara Arya saja supaya kedua wanita yang berbeda usia itu pergi dan tak lagi mengganggunya.


Arya hanya tersenyum sinis mengantarkan kepergian Luna yang mengejar Nadia. Dia cukup puas dengan perbuatannya.


"Mama pikir bisa mengatur kehidupan Arya? tidak akan Ma! " gumam Arya penuh kemenangan.


/////


Bersambung...

__ADS_1


__________


__ADS_2