Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
289. Kebahagiaan Untuk Keluarga


__ADS_3

Happy Reading....


**************


Kabar yang sangat membahagiakan yang di dapat oleh keluarga Arini juga keluarga Arya tentang kehamilan Arini sekarang. Tapi tetap saja, masih ada yang tak menyukainya. Siapa lagi kalau bukan ibu mertua, Luna.


Luna masih saja nyinyir kalau bicara bahkan dia juga tak segan-segan mengatakan kalau anaknya lahir pasti akan buruk rupa seperti Arini yang berkulit gelap.


Kenapa di mata Luna hanya kulit terang saja yang dia anggap keberadaannya, kenapa jika Arini tak bisa memiliki itu. Itu semua bukan kehendak Arini sendiri. Dia hanya bisa menerima dan kini hanya bisa mensyukuri apa yang sudah di tetapkan.


"Kamu beneran nggak akan nyesal kalau anaknya tidak sama sepertimu, Arya?" Pertanyaannya sangat nyelekit dan menyakitkan. Bukan Arini yang merasa sakit dan terhina tapi malah Arya sendiri yang merasa telah di hina oleh ibu kandungnya sendiri.


Keberadaan Arini benar-benar tak di anggap di rumah mewah itu. Rumah utama keluarga Gautama. Padahal niatnya datang karena Arya ingin menyampaikan kabar gembiranya kepada keluarganya sendiri. Tapi nyatanya?


Kedatangan Arya yang mengajak Arini malah menjadikan luka yang pasti akan membekas di hati Arini


"Arya lebih menyesal karena di lahirkan dari rahim mama yang tak sedikitpun punya hati seperti Mama," Jawab Arya. Dia sudah sangat dongkol. Tentu dia akan marah dan tak terima karena istrinya terus di hina oleh ibunya sendiri seperti itu.


"Arya!" Teriak Luna begitu tinggi.


"Ma, kenapa mama bisa memiliki hati yang begitu keras seperti ini, Ma. Jangan terus menerus seperti ini, Ma. Terima Arini, dia adalah menantu kita." Ucap Wiguna yang tak habis pikir dengan jalan Luna.


"Sudahlah, Aku capek Bapak dan anak sama-sama tak mengerti keinginan, Mama," Luna berlalu meninggalkan ruang tengah.


Astaga, rasanya sangat sedih untuk Arini. Dia pikir setelah dia hamil dia bisa mendapatkan pengakuan dan kasih sayang dari Luna tapi ternyata tidak. Dia sama sekali tak berubah dia tetap sama.


"Sayang, maafkan Mama ya," Meski hatinya sendiri terasa sangat kesal tapi Arya tetap berusaha menghibur Arini. Dia bisa saja menerima apapun yang di katakan oleh mamanya tapi belum tentu Arini.


"Arini paham kok, Mas. Memang tak mudah menerima orang yang di benci. Arini hanya bisa berdoa, semoga saja kebencian mama pada Arini tidak membutakan hatinya," Jawab Arini dengan sangat sabar.


Tak salah Arya memilih Arini, meski kadang dia suka bertingkah seperti anak kecil bahkan seperti orang bodoh tapi dia lebih sering bertingkah dewasa dan memahami segala hal dengan baik.


Arya sangat yakin, sikap Arini yang kadang manja, bodoh seperti anak kecil itu semua karena dampak dari dirinya yang kekurangan kasih sayang di masa kecilnya.

__ADS_1


Eyang Wati mendekat, seraya membawa sesuatu untuk Arini. Eyang duduk di sebelah Arini dan memberikan sebuah kotak untuknya.


"Sayang, ini hadiah dari Eyang." Ucapnya. Tangannya sudah menaruh kotak kecil berwarna merah itu di telapak tangan Arini.


"Ini apa, Eyang." Tanya Arini. Arini melirik sekilas ke arah Arya, dan Arya hanya mengangguk mengizinkan untuk menerima hadiah itu. Arini pun menerimanya.


"Hadiah kecil dari Eyang. Terima kasih sudah menjadi cucu yang baik untuk Eyang. Sudah menjadi istri Arya dengan baik dan bisa menjaga dan mengubah Arya yang memiliki sifat buruk." Eyang Wati menunduk, dia selalu sedih jika mengingat masa lalu Arya.


Dia menyesal karena tak bisa mengajarkan kepada Arya nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan.


"Eyang, itu semua sudah menjadi kewajiban Arini. Arini juga senang melakukannya. Arini senang akhirnya Mas Arya bisa menjadi seperti sekarang. Dia lebih baik dan Bertanggung jawab." Arini menoleh penuh bangga ke arah Arya.


Arya menatap takjub dengan istrinya, dia benar-benar mendapatkan istri berhati malaikat. Rupanya takdir Allah begitu indah.


"Terima kasih, Eyang. Tapi seharusnya tidak perlu seperti ini. Arini ikhlas melakukannya." Arini sangat enggan untuk menerima tapi Eyang tetap mendesak Arini untuk menerimanya.


Eyang Wati malah menggenggam kan kotak itu pada tangan Arini membuatnya harus menerima karena tidak mau membuat Eyang Wati sedih.


"Te_terima kasih, Eyang." Jawab Arini.


Arya hanya ingin membagi kebahagiaan dengan keluarga, jika memang tak bisa di terima itu gak akan menjadi beban untuknya. Bagi Arya sekarang Arini dan calon anaknya lah yang lebih pantas di perhatikan ketimbang orang lain.


Kebahagiaan benar-benar di rasakan oleh semua anggota keluarga Arini. Mereka menyambut kepulangan anaknya dengan senyum bahagia. Akhirnya di tengah-tengah mereka akan hadir malaikat kecil yang memberi warna baru untuk keluarga mereka.


Arini begitu do manjakan oleh Nilam dan semuanya. Semua yang Arini ingin makan semua di turuti. Hanya satu orang saja yang sedari tadi cemberut dengan wajah masam, dia adalah Dimas. Dia ingin sekali memeluk Arini tapi dia di tolak mentah-mentah oleh Arini karena katanya Dimas bau terasi.


"Nasib nasib. Punya adek gitu amat bikin gedek aja." Gumam Dimas.


"Sabar, Ma_mas. Besok-besok juga hilang sendiri. Seharusnya Mas sekalian makan sama sambel terasi daripada hanya di tuduh." Raisa terkekeh geli ketika duduk di sebelah Dimas.


"Besoknya kapan." Dimas tampak frustasi. Dia hanya bisa memandangi adiknya yang terus tersenyum bahagia tanpa berani mendekat.


"Kamu kenapa, Dimas?" Tanya Arya yang sebenarnya menahan tawa.

__ADS_1


"Kenapa!" Mata Dimas nyalang dengan penuh kekesalan.


"Sabar, Dimas. Lebih baik kamu bikin sendiri. Siapa tau langsung jadi," Mata Arya mengedip menggoda Dimas.


Yang di goda Dimas tapi yang ngeri malah Raisa. Dia masih sangat takut kalau ada orang yang membicarakan tentang hubungan intim antara suami istri. Tubuh Raisa juga langsung gemetar.


Tau Raisa yang gemetar Dimas langsung menggenggam erat tangan Raisa. Berharap ketakutan Raisa tidak di perlihatkan pada siapapun. Cukup Dimas saja yang mengetahui masa lalunya bukan orang lain.


"Baik atas sarannya. Yuk, Yang! Kita bikin juga. Sekalian dua atau tiga." Dimas cepat beranjak, dia harus menenangkan Raisa dari ketakutan.


Raisa diam tak menjawab tapi dia mengikuti Dimas begitu saya yang membawanya ke kamar.


"Loh, Mas! Kak Dimas sama kak Raisa mau kemana?" Tanya Arini yang melihat keduanya pergi.


"Mereka mau nyusul bikin dedek bay," Arya duduk di sebelah Arini dan istrinya itu seketika mengangguk.


Sementara di dalam kamar Dimas juga Raisa sudah duduk di ranjang. Raisa sangat takut bahkan saat Dimas duduk di sebelahnya.


"A_aku..."


"Mas mengajak kamu ke sini bukan berarti masih mau meminta hak Mas. Tapi Mas kamu menenangkan hati saja. Mas tidak mau semua orang tau tentang masa lalu kamu. Biarkan Mas saja yang tau." Ucap Dimas begitu lembut.


"Ma_maafkan, Raisa. Raisa belum bisa menjalankan kewajiban sebagai istri. Maaf," Raisa benar-benar sangat sedih, Raisa juga menunduk.


Dimas meraih dagu Raisa, mengangkatnya hingga bisa di lihat sempurna oleh Dimas.


"Mas tidak akan memaksa mu. Mas akan menunggu sampai kamu sendiri yang memberikannya."


Wajah Dimas mendekat membuat Raisa seketika menutup mata. Kecupan di bibir menghadirkan sensasi luar biasa dari keduanya. Terasa ada gelenjar aneh dalam diri Raisa. Dia takut, tapi kenapa dia begitu menikmatinya. Sentuhannya sangat lembut dan begitu tulus.


"Jangan terlalu di paksakan. Mas ingin kamu sembuh." Ucap Dimas setelah melepaskan kecupannya.


********

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2