Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
149.Kesempurnaan Hanya Milik Allah


__ADS_3

Happy Reading....


Suara Adzan bergema, seperti biasanya Arini akan selalu terbangun. Matanya perlahan mulai terbuka bersamaan dengan tangan meraba sesuatu yang ada di sebelahnya. Arini terperanjat, cepat dia bangun. Dia sudah ketakutan kalau sampai dia tidur dengan seorang laki-laki atau orang asing yang akan membuatnya dalam masalah.



"Eyang, syukurlah," Nafas lega terlihat jelas keluar dari hidungnya, ternyata apa yang dia takutkan tidak lah terjadi karena yang tidur bersamanya adalah Eyang Wati dan itu berarti tadi Arini tidur dengan memeluknya.



Sejenak Arini tertegun memandangi wanita tua yang kulitnya sudah keriput itu. Tidurnya terlihat sangat damai, dan terlihat begitu nyenyak.



Tak lama Arini dalam diam, lamunannya harus buyar karena di kejutkan dengan suara adzan yang sebenarnya keluar dari ponselnya sendiri.



"Apa aku keenakan tidur di kasur empuk sampai-sampai tidak bangun untuk tahajud? Mending tidur di kasur lipat saja yang penting bisa bangun untuk shalat tahajud," gerutunya.



Perlahan Arini menyibak selimutnya, menurunkan kakinya juga dengan sangat pelan supaya tidak mengganggu tidur dari eyang Wati. Tak enak kan kalau sampai mengganggu orang lain.



Arini bergegas masuk ke kamar mandi dan mengambil wudhu, melaksanakan shalat subuh dan sedikit memanjatkan doa.



"Ya Allah, terimakasih atas semua nikmat yang telah Engkau berikan kepada hamba. Terimakasih atas nikmat sehat, nikmat kecukupan, nikmat kesabaran, dan... dan nikmat cinta yang telah Engkau percayakan untuk hamba jaga. Terimakasih Ya Allah, terimakasih."



"Alhamdulillah," Rasa syukur tak pernah luput di setiap doanya.



Terbesit ingatan tentang malam yang menjadi sejarah untuk Arini. Malam dimana dia benar-benar menjawab akan perasaan dari Arya. Bukan itu saja, melainkan dia juga samar-samar mengingat bagaimana Arya menyelamatkannya hingga dia juga memberikan nafas buatan untuknya.



Tangan Arini seketika terangkat, mengusap bibirnya di selingi dengan senyum. Tak ada siapapun yang melihatnya saat ini dan Arini merasakan pipinya panas, ya! Arini tersipu hingga wajahnya memerah.



Salah, kali ini apa yang terjadi dengan Arini ada yang melihatnya, Eyang Wati lah yang melihat itu. Eyang Wati yang sudah bangun bahkan dia sudah duduk tanpa sepengetahuan Arini.



Bukan Arini saja yang merasa bahagia lalu dia tersenyum tapi Eyang Wati juga sama dia tersenyum bahagia melihat Arini yang sangat bahagia.



Meski Arya juga Arini sama sekali belum bercerita tetapi Eyang Wati sangat tau kalau mereka ada hubungan yang perlahan menjadi spesial dan menjadi serius.



"Eyang sangat bahagia, Ar. Semoga kalian berdua memang berjodoh dan tak akan pernah ada yang memisahkan kalian berdua. Semoga cinta kalian semakin besar dan kalian berdua secepatnya bisa bersatu," Batin Eyang Wati.

__ADS_1



Eyang Wati masih saja diam, memperhatikan Arini di setiap pergerakannya. Meski sudah besar tapi tingkah anak itu selalu saja membuat tawa, dia sangat lucu dengan semua tingkah polosnya.



Satu persatu Arini melepaskan mukenanya lalu berdiri sembari melipatnya. Arini memutar kakinya berbalik ke arah Eyang Wati, terlihat Arini terkejut langkahnya urung saat melihat Eyang Wati yang tersenyum ke arahnya.



"E-Eyang," Arini tergagap dengan mata terpaku tatap tak berkedip. Arini menjadi canggung, dia sangat malu. Mungkinkah Eyang Wati melihat semua yang dia lakukan tadi? Dan juga dia yang merona sampai sekarang apa Eyang Wati melihatnya?



"Sinilah, Nak. Duduk dekat Eyang," tangan Eyang Wati menepuk kasur di sebelahnya meminta Arini untuk datang dan duduk di tempat yang sudah dia tunjukkan.



Ragu-ragu Arini tetap melangkah, kedua tangannya masih memeluk mukena beserta sajadah yang dia pakai tadi. Arini duduk di sebelahnya namun saling berhadapan.



"Eyang butuh sesuatu?" tanya Arini. Mungkin Eyang Wati membutuhkan sesuatu sebab dia memanggilnya.



Eyang Wati menggeleng, dia tidak membutuhkan apapun tapi mungkin hanya Arini yang dia butuhkan untuk bisa membahagiakan cucunya dan membantunya untuk menjadi lebih baik lagi.



"Tetaplah bahagia, Nak. Eyang akan selalu mendoakan kebaikanmu juga Arya. Semoga kalian berdua juga secepatnya dipersatukan dalam ikatan pernikahan," ucap Eyang Wati yang benar sangat berharap.




"Kebahagiaan Arya adalah kebahagiaan Eyang, jika kebahagiaannya adalah dengan mu maka Eyang akan lebih bahagia. Kamu anak baik, Arya akan sangat beruntung bisa memiliki kamu," imbuh Eyang.



Tangan Eyang Wati terangkat mengelus wajah Arini dengan sangat pelan, yang pasti terdapat kasih sayang yang melimpah yang beliau salurkan. Arini bisa merasakan itu meski Eyang Wati tidak mengatakan kalau dia begitu menyayanginya.



"Arini jelek Eyang, apakah akan pantas bersanding dengan Pak Tuan yang sangat sempurna?" Arini tertunduk.



"Kesempurnaan hanya milik Sang Pencipta, Nak. Kita hanya manusia yang penuh dengan kekurangan dan sangat jauh dari kata sempurna. Setiap orang memiliki kekurangan juga kelebihan masing-masing, itu alasannya Allah menciptakan semua berpasang-pasangan. Karena dengan berpasang-pasangan kedua akan saling melengkapi, saling menutupi kekurangan pasangannya."



Arini terus diam menunduk.



Tangan Eyang menyentuh dagu Arini membuat wajahnya terangkat untuk menatapnya.


__ADS_1


"Arya memang terlihat sempurna, tetapi itu hanya di mata manusia, tidak di mata Tuhan. Tapi kamu, kamu sempurna di mata Tuhan dan kamu yang akan bisa membuat Arya sempurna seutuhnya di mata manusia juga Tuhan. Hanya kamu yang bisa, Nak. Bukan orang lain," ucap Eyang.



"Insya Allah, Eyang. Biarkan Allah yang menentukan semuanya, Arini hanya bisa mengikuti apa yang menjadi takdir-Nya," jawab Arini.



Setelah lama berbincang dengan Eyang Wati kini Arini sudah ada di dapur bersama Mila. Hari ini adalah rencana mereka semua akan kembali ke kota dan sebelum itu Arini berniat untuk membuatkan sarapan untuk Arya.


Semua itu sebagai tanda terimakasihnya karena semalam telah menyelamatkannya, kalau tidak ada Arya entahlah bagaimana Arini sekarang.


"Pagi, Cungkring. Bagaimana, udah enakan?" Raisa datang, seperti biasanya dia akan selalu mendekati Arini yang sudah seperti magnet untuknya.


"Pagi, Mbak," Arini hanya menoleh sebentar lalu kembali lagi dengan kegiatannya.


Bukan Raisa kalau hanya diam saja, tetapi bukan berarti juga dia akan bergerak untuk membantu Arini. Kali ini tangannya bergerak dengan cepat, mengambil buah apel dan langsung menggigitnya.


"Hem..., Kring! Besok kalau kamu jadi orang kaya jangan lupakan aku ya, dan jangan berubah pelit juga. Kalau pelit entar kuburannya sempit kan bahaya," celetuk Raisa.


"Apa sih, Mbak. Emangnya Mbak Raisa yakin kalau Arini akan jadi orang kaya. Apa mungkin Mbak Raisa bisa baca masa depan?" Arini tetap bergerak kesana-kemari, dia sibuk dengan pekerjaannya.


"Ya tidak sih, tapi filing ku sangat kuat. Kamu akan menjadi orang kaya," netra hitam Raisa terus bergerak mengikuti kemana Arini bergerak.


"Amin..." Arini menoleh sebentar.


"Alhamdulillah..." Arini terlihat sangat bahagia setelah semua sarapan yang dia buat sudah berhasil matang semua. Satu persatu juga sudah berada di meja makan di bantu oleh Mila.


"Nyonya, biar saya panggilkan Tuan," Mila hendak bergegas tetapi di cegah oleh Arini.


"Tidak, Mbak Mila. Biar Arini saja yang memanggilnya," ucap Arini.


"Cie cie cie... semangat banget mau bangunin calon suami. Jadi iri aku, kapan ya bisa bangunin calon suami juga," ucap Raisa.


"Apa sih, Mbak!" Arini tersipu karena sedikit godaan dari Raisa.


Arini tetap melangkah pergi menuju kamar Arya. Sementara Raisa juga Mila masih ada di dapur menyiapkan minumannya.


Sampailah Arini di depan pintu kamar Arya, dia ragu untuk mengetuk. Arini sangat gugup, tetapi dia tidak akan bisa memanggilnya kalau dia hanya diam saja.


Pelan Arini mengetuk pintu, hingga beberapa kali tetapi belum juga ada jawaban.


"Apa Pak Tuan tidak tidur di sini?" tanyanya pada diri sendiri.


"Assalamu'alaikum, Pak Tuan!" Panggilnya seraya kembali mengetuk pintu, tetapi tetap tak ada jawaban dan tak ada tanda-tanda pintu akan terbuka.


Karena Arini ingin memastikan ada dan tidaknya Arya di sana, kini tangan Arini berani membuka pintu, "tidak di kunci."


"Pak Tuan, Pak Tuan..." Arini berjalan masuk ke kamar. Meski dia sangat takut tapi dia tetap melakukannya.


Arini termangu, terpaku dalam diam di temani dengan air mata. Hatinya sakit, hancur, seketika pecah menjadi kepingan. Mulutnya seolah terkunci tak mampu berbicara setelah melihat apa yang ada di depan matanya.


Sampai kata berhasil lolos dari mulutnya yang menambah derasnya air mata yang terjun bebas membasahi pipinya.


"P-pak Tuan bohong, Pak Tuan jahat. Arini benci Pak Tuan, Arini benci!" Kaki Arini membawanya dia pergi dari hadapan laki-laki yang semalam mengatakan cinta padanya tetapi sekarang dia malah tidur dengan kakaknya, Melisa.



Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2