
Happy Reading....
~~```~~
"Bagaimana, sudah siap untuk berangkat?" tanya Arya, melangkah menghampiri Arini dan berdiri tepat di belakangnya. Memandangi istrinya yang tengah berias di depan kaca. Membenarkan hijab yang dia pakai supaya tidak terlihat sehelai rambut pun dari orang lain.
Hari bebas bekerja ini Arya gunakan untuk memanjakan istrinya, mengajaknya ke tempat-tempat yang indah, tempat-tempat baru yang mungkin belum pernah Arini datangi sebelumnya.
Sebenarnya juga bukan untuk pergi jalan-jalan saja, tapi Arya juga mengajak Arini untuk datang ke rumah utama. Memperkenalkan Arini dengan rumah juga keluarganya. Juga siapa saja yang ada di dalamnya sebagai penghuni tetap.
"Apakah aku perlu membelikan semua perlengkapan make-up supaya kamu semakin cantik?" tanya Arya lagi. Jangankan sekedar make-up saja, periasnya sekaligus bisa Arya boyong ke rumahnya untuk membuat istrinya semakin cantik apalagi jika berada di hadapannya.
"Tidak perlu berlebihan, Mas. Arini nyaman dengan seperti ini. Tapi kalau Mas mau beli saja, nanti biar Arini yang belajar merias wajah Mas supaya menjadi cantik," jawab Arini dengan santai.
Arini tersenyum sepertinya akan sangat menarik jika itu benar-benar terjadi. Bagaimana wajah Arya jika di dandani seperti wanita dengan berbagai macam alat make-up, lucu kali ya.
Apa yang di rasakan Arini sangat jauh berbeda dengan yang Arya rasakan. Dia bergidik ngeri membayangkan dia yang menjadi seorang wanita, apalagi brewok tipisnya itu di cukur habis, ngeri.
"Hihh.. Amit-amit.." ucap Arya dengan mata yang menatap kosong sejenak ke arah kaca.
Arini berdiri menghadap Arya dan menatap lekat wajah suaminya yang terdiam dan sontak menatapnya juga.
"Kenapa, bukankah Mas akan sangat cantik? Apalagi jika aku habisin ini bulunya," tangan Arini begitu gemulai, menyentuh dagu Arya yang terdapat brewok tipis.
Tak mau kalah dengan keisengan Arini Arya langsung menangkap tangannya menciumnya hingga berkali-kali.
"Benarkah kamu akan mencukur habis? Kalau begitu kamu harus mengalahkan ku dulu. Lagian mana mungkin kamu akan mencukurnya habis bukankah kamu akan selalu mencarinya saat akan tidur? Kalau ini kamu cukur lalu kamu akan mencari bulu yang mana, hem? Oh, apakah ada bulu lain yang menjadi kesenanganmu sekarang?" mata Arya terus berkedip menggoda.
"Bu-bukan seperti itu. Hem..., sebaiknya kita berangkat sekarang," cepat Arini menarik tangannya dan cepat melaju meninggalkan Arya, kalau tidak mereka tidak akan pergi dan akan di dalam kamar saja seharian.
"Hemm..., lucu sekali," gumam Arya cepat dia mengejar Arini yang sudah lebih dulu berjalan keluar.
Arini begitu buru-buru, dia seolah menjauh dan lebih menjaga jarak aman dari Arya. Suaminya itu tidak ada habis-habisnya ingin terus menyentuhnya mungkin dia benar-benar tak ada bosan dan tak ada rasa lelah. Mungkin semua itu terjadi karena dia dulunya juga seperti itu sebelum bertemu Arini.
"Semoga aku bukan sebagai tempat pelampiasan saja," gumam Arini. Takut juga kan kalau sampai apa yang Arini pikir adalah benar. Tapi sepertinya tidak.
Langkah Arini nyatanya tak bisa secepat langkah kaki Arya, nyatanya dia sudah ada di sampingnya dan merangkul pinggangnya hingga mereka berdua berjalan bersisian.
"Jangan buru-buru, Sayang. Nanti jatuh aku yang repot kan?" matanya menoleh sejenak ke arah Arini. Dan istrinya itu terlihat hanya menggeleng saja.
"Eh, kalian benar mau berangkat sekarang?" tanya Nilam yang ada di ruang tengah bersama dengan Hendra. Menemani suaminya yang tengah minum kopi juga membaca koran.
"Iya, Ma. Takut kesiangan," jawab Arya dan Arini hanya tersenyum juga mengangguk kecil.
"Baiklah, kalian hati-hati," ucap Nilam memperingatkan.
"Iya, Ma."
Arya maupun Arini juga menyalami sejenak Nilam juga Hendra sebelum mereka benar-benar pergi.
"Assalamu'alaikum..."
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam.." Jawab Nilam juga Hendra secara bersamaan.
"Semoga, mereka berdua akan selalu bahagia ya, Pa. Semoga tak ada ujian berat untuk rumah tangga mereka," terlihat hanya kecil tapi itu adalah harapan terbesar untuk Nilam. Melihat rumah tangga anaknya selalu adem ayem dalam kebahagiaan tanpa ada duri-duri yang akan menyakiti keduanya.
"Amin, kita hanya bisa mendoakan mereka, Ma." Mata Hendra juga masih mengamati punggung kedua yang semakin jauh. Harapan Nilam tentunya juga menjadi harapan dia juga.
Begitu antusias eyang Wati saat menunggu cucu dan cucu mantunya yang sebentar lagi akan datang. Dia sangat tak sabar ingin bertemu, apalagi eyang sangat merindukan Arini.
Tapi berbeda dengan Luna, wajahnya sama sekali tak mengisyaratkan kebahagiaan yang besar, hanya berwajah datar dan seperti biasa saja. Tak ada yang spesial dengan kedatangan Arini juga Arya yang sebentar lagi.
"Luna, apa kamu sudah memastikan semuanya sudah beres?" tanya Eyang Wati.
Namun Luna hanya menoleh kecil itupun juga dengan acuh, "sudah," Jawabnya dengan begitu angkuh.
Sangat terbaca dari eyang Wati kalau Luna masih belum bisa menerima Arini dengan baik. Entah menantu seperti apa yang Luna inginkan. Dua wanita yang dia ingin tapi keduanya sama-sama memiliki kepribadian yang sangat buruk, tapi sekarang wanita yang menjadi istri Arya memiliki kepribadian yang sangat baik tapi dia tidak menyukainya, sungguh terlalu.
Perlahan pintu terbuka, senyum langsung terpancar jelas dari eyang Wati saat melihat siapa yang datang, Arini juga Arya tentunya.
"Assalamu'alaikum.." uluk salam keduanya ucapkan secara bersamaan.
"Wa'alaikumsalam," eyang Wati yang melihat langsung berdiri dari duduknya, dia sangat bahagia dengan kedatangan Arini.
"Wa'alaikumsalam," jawab Luna dengan acuh.
Arya juga Arini langsung mendekati keduanya. Memberikan salam dengan menyalaminya.
Eyang sangat menyambut baik, bahkan dia juga langsung memeluk Arini setelah dia melepaskan tangan dari tangan eyang Wati.
__ADS_1
"Selamat datang di rumah, Arini. Semoga kamu nyaman dan betah di sini ya," ucap Eyang Wati.
"I-iya, Eyang." Arini masih tergagap membuat eyang Wati malah semakin gemas dan langsung mengelus pipinya.
Bukan hanya Arini saja yang mendapatkan pelukan hangat dari eyang Wati tapi Arya juga sama.
"Terimakasih ya, Nak. Akhirnya kamu bisa mewujudkan keinginan Eyang," ucapnya.
"Sama-sama, Eyang. Meski Eyang tidak memintanya Arya pasti akan membawa istri Arya untuk datang ke rumah ini. Dia juga harus mengetahui dan mengenal semuanya kan, Eyang?" jawab Arya dan kembali merangkul pinggang Arini dan seolah tak mau jauh darinya.
"Mama," Arya mengajak Arini menyalami Luna tentunya Arini langsung mengangguk dengan patuh.
"M-ma," Suara Arini sangat gugup, dia belum terbiasa dengan semua ini. Tangan Arini sudah terulur tapi Luna masih enggan untuk menerima tangan dari Arini.
"Ma," panggil Arya yang tau kalau Luna belum juga menerima uluran tangan dari istrinya.
Wajah tak mengenakkan begitu jelas di wajah Luna, dia terlihat sangat tidak suka. Meski dia akhirnya mau menerima uluran tangan dari Arini tapi tetap saja matanya tak melihat Arini.
Arya ingin sekali marah, dia tidak suka Luna memperlakukan Arini seperti itu. Meski Arini diam saja tapi dia yang sangat tidak nyaman, dia takut kalau Arini akan tersinggung.
"Ma!" ucapan Arya sudah mulai tinggi.
"Mas," panggilan Arini yang begitu lirih juga sangat lembut menghentikan amarah Arya yang mulai menguap. Arini juga langsung merangkul lengan Arya menghentikan suara yang meninggi di depan ibunya sendiri.
Bersambung...
__ADS_1