
Happy Reading...
"Kenapa pak Tuan malah nangis? Pak Tuan tidak suka ya dengan kejutan Arini. Kalau tidak suka ya sudah nggak apa-apa. Arini maklum kok. Tapi jangan menangis dong! Jelek kalilah."
Ya, Arya berhasil menitihkan air mata karena kejutan dari Arini. Arya menggeleng dia tersenyum simpul, dia sangat bahagia mendapatkan kejutan sederhana ini.
"Aku senang. Terimakasih, Arini."
"Kalau begitu sekarang waktunya pak Tuan tiup lilin. Aku pernah lihat kalau orang ulang tahun selalu tiup lilin, jadi sekarang pak Tuan juga harus tiup lilin."
"Baiklah," jawab Arya, "eh... , tunggu tunggu.. Kenapa lilinnya hanya tiga?"
Arini meringis, dia tidak mendapat lilin yang lain selain hanya tiga itu. Bahkan lilin itu juga dari Mila yang katanya sisa tahun lalu.
"Hehehe..., maaf, Arini tidak mendapatkan lilin yang lain," jawab Arini.
Tak menjadi masalah, lilin hanya tiga yang terpenting bagaimana Arini memberikan kejutan untuknya. Bibir Arya sudah siap untuk meniup tapi Arini menghentikannya lagi.
"Eh, sebentar! Pak Tuan juga harus memanjatkan doa dulu sebelum meniup lilinnya. Mohonlah permintaan kepada Allah," Arini begitu antusias.
Arya mengangguk dia nurut begitu saja apa yang Arini minta. Matanya terpejam memanjatkan doa yang tidak Arini dengar. Setelah beberapa saat Arya kembali membukanya lalu meniup lilinnya.
Arini terlihat bahagia, senyumannya penuh dengan kepuasan karena Arya menerima kejutannya dengan baik.
Arini begitu antusias dia ingin bertepuk tangan tapi dia tidak bisa hingga akhir dia hanya bisa menepuk kecil punggung tangannya.
"Selamat ulang tahun, Pak Tuan!"
"Terima kasih, Arini." Arya begitu senang dengan apa yang terjadi saat ini, tak sia-sia dia bangun malam dan kini dia bisa merasakan bagaimana mendapatkan kejutan dari orang yang sangat berarti untuknya.
"Sekarang waktunya potong kuenya!" Arini sungguh seperti anak kecil yang mendapatkan sebuah undangan ke tempat ulang tahun dia sangat antusias juga sangat senang.
"Ini pisaunya dan sekarang waktunya potong kue."
Pelan-pelan Arya memotong kue pertama mengambil dengan tangannya dan menyuapkan kepada Arini.
"Potongan pertama untukmu."
"Tapi ini kan untuk pak Tuan," Arini sangat sungkan untuk menerima suapan dari Arya.
"Tidak masalah, akk..." Arya tetap kekeuh untuk meminta Arini memakan kue dari tangannya.
Arini membuka mulutnya, menggigit kecil.
__ADS_1
"Arini bisa makan sendiri." Tangannya terangkat ingin mengambil kue dari tangan Arya tapi pria itu malah memakannya sendiri. "Lah,, kok di makan sih!"
"Enak juga, ini kamu sendiri yang buat?" tangan Arya kembali memotong kue, mengambilnya lagi dan menyuapi Arini lagi, "suapan kedua untuk mu lagi."
"Kok Arini lagi! Pak Tuan kapan?" Arini protes tapi karena Arya terus menyodorkannya dia kembali menggigitnya lagi.
Begitu terus yang mereka berdua lakukan, Arya memotongnya menyuapi Arini dan sisanya dia sendiri yang memakannya, hingga akhirnya kue itu hanya tinggal separuh saja.
"Sudah pak Tuan! Arini sudah kenyang. Perut Arini tidak muat lagi." ucapnya.
Arya terkekeh, dia senang berhasil membuat Arini kekenyangan bahkan dia sendiri juga sama. Perayaan ulang tahun yang sangat spesial untuk Arya di temani Arini yang memberikan kejutan kecil namun dapat membuatnya begitu bahagia.
"Pak Tuan, kalau boleh tau apa yang pak Tuan minta?" tanya Arini. Matanya beralih menatap langit melihat pancaran bintang yang begitu indah bersinar.
Arini menatap langit sementara Arya menatap wajah Arini.
"Kalau begitu, doa khusus apa yang kamu peruntukan untukku?" Arya balik bertanya.
"Kebahagiaan pak Tuan." Arini menoleh sebentar lalu kembali lagi, "lalu, doa apa yang pak Tuan minta?"
"Kebahagiaanmu," jawab Arya cepat.
"Aku akan bahagia jika kamu bahagia, jadi kamu harus terus bahagia kalau doamu ingin aku dapatkan. Kebahagiaanmu akan menjadi kebahagiaanku. Jadi, apakah kamu mau berbahagia denganku?" Arya terus memandangi wajah Arini.
"Arini, aku minta maaf dengan apa yang sudah terjadi padamu meski aku tidak tau apa. Mungkin aku salah karena aku tidak mengatakannya padamu tentang pertunangan yang sudah di rencanakan. Tapi kamu harus tau, semua yang terjadi bukan karena kemauanku. Dan aku juga tidak akan melanjutkan pertunangannya untuk besok."
Arini terdiam, kenapa harus membicarakan perihal pertunangan yang sontak membuat hati Arini terasa sangat panas.
"Aku tau," jawab Arini sedikitpun tak menoleh.
"Sudahlah pak Tuan, jangan bicarakan hal itu. Ini adalah hari yang paling membahagiakan untuk pak Tuan, kenapa harus mengungkit masalah yang akan membuat pak Tuan sedih. Lebih baik nikmati malah ini." ucap Arini lagi.
Arya mencolek crem yang ada di atas kue yang kini berada di tengah-tengah mereka berdua, dengan gerakan cepat Arya menoel hidung Arini dan berhasil terkena crem nya .
"Hahaha..., ini baru lucu. Kamu cocok jadi badut." Arya malah tertawa.
Arini menoleh dengan cepat, matanya membulat dan mulutnya menganga. Tangannya langsung membersihkan crem yang menempel di hidungnya.
"Ih, apa sih pak Tuan, lengket dong!" protes Arini, dia sangat kesal karena Arya.
Bukannya minta maaf Arya malah kembali lagi menoel crem dan dia toel juga di pipi Arini. Arya semakin terbahak-bahak dalam tawanya.
"Hahaha..., benar-benar lucu deh, kamu Arini."
__ADS_1
"Ih, dasar pak Tuan!"
Arini siap mukul Arya tapi laki-laki itu kini berdiri dan berlari setelah Arini juga ikut berdiri dan berlari mengejarnya.
Tangan Arini terus terangkat dia sudah siap untuk memukul Arya yang terus berlari sembari tertawa terbahak-bahak.
"Pak Tuan! Berhenti! Awas ya kalau ketangkep!"
Tak mereka sadari kalau di ujung kanan ada Eyang Wati yang memperhatikan kebahagiaan mereka berdua yang seperti anak kecil yang main kejar-kejaran di tengah malam.
Eyang Wati sangat bahagia, sudah sangat lama dia tak pernah melihat tawa Arya yang begitu lepas tapi kali ini? Tawanya kembali menggelegar dengan lepas meski hanya dengan gadis sederhana yaitu Arini.
Tak pernah salah Eyang menerima Arini di perusahaan Arya, dia berpikir kalau kedatangannya bisa mengubah sedikit demi sedikit keburukan Arya menjadi lebih baik dan ternyata sekarang perubahan besar terlihat dari Arya menjadi lebih baik.
"Bahagiakan cucuku untuk selamanya, Ya Allah. Jika mereka berdua memang tulang punggung dan tulang rusuk yang saling terpisah maka satukan lagi dengan jalan yang terbaik. Tetapi jika tidak, jangan sampai ada luka disaat mereka berpisah."
Harapan besar begitu Eyang Wati inginkan untuk cucunya. Kebahagiaannya sangat berharga untuknya.
Bukan hanya Eyang Wati saja yang melihat apa yang mereka berdua lakukan saat ini, tapi di sisi kiri ada Raisa yang terdiam melihat dari balik tiang.
Raisa tersenyum, dia ikut bahagia dengan kebahagiaan Arini. Tadi dia mengatakan ingin jauh-jauh dari Arya tapi nyatanya? Dia tidak akan bisa jauh darinya.
Setiap Arini berniat menjauh tapi sepertinya hati mereka yang terus memaksa untuk mendekat. Setiap ada kemarahan tapi dengan cepat ada kejadian yang akan meredakan amarah itu hingga akhirnya mereka selalu bersama dalam tawa.
"Berbahagialah selamanya, Cungkring. Aku akan selalu mendukungmu. Pak Tuan terlihat tulus padamu, dia terlihat memiliki perasaan yang besar untukmu tapi bukan na\*su melainkan cinta dan kasih sayang, juga sebuah harapan untuk bisa hidup bersama."
"Ekhem..."
Raisa menoleh saat mendengar ada suara dekheman yang menggema masuk ke telinganya.
"Tuan Toni," Raisa menunduk dia takut sekaligus malu karena ketahuan mengintip Arya juga Arini yang tengah merayakan ulang tahun Arya.
Ternyata Toni juga tidak marah, dia berhenti di sebelah Raisa memandangi kebahagiaan Bosnya dengan mengantongi kedua tangannya di saku celana.
Raisa terus terdiam, dia pikir Toni akan menegurnya tapi ternyata tidak.
"Apakah kamu senang dengan kebahagiaan mereka? Atau malah sebaliknya?" tanya Toni.
"Cungkring, maksudku Arini sudah seperti adik bagiku, Tuan. Jadi kebahagiaannya akan selalu menjadi kebahagiaanku." jawab Raisa.
"Syukurlah," Toni juga sependapat dengan Raisa, tapi baginya adalah Arya tuannya. Dia juga akan bahagia walaupun bosnya akan bersanding dengan gadis sederhana seperti Arini.
Bersambung...
__ADS_1