
..._______...
...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...
"Kenapa harus aku, aku kan tidak bisa ngapa-ngapain? Hem..., pak dokter sungguh aneh,"
Arini terus bergumam saat dia menjalankan semua pekerjaannya mulai dari beres-beres, lalu nyapu dan sekarang ngepel di ruangan Arya dia tak pernah diam. Dia cukup bingung dengan permintaan Dimas padanya. Jelas-jelas Arini tidak bisa ngapa-ngapain dan Dimas adalah seorang Dokter, kenapa harus minta tolong padanya?
Bukannya serius ngepel kali ini Arini malah asyik melamun dengan kedua tangan memeluk gagang pel. Pikirannya masih terus berada di rumah sakit seolah dia masih berada di ruangan Nilam dan tengah mendengarkan penjelasan Dimas.
"Tapi aneh sih, tante Nilam udah seperti itu semenjak tujuh belas tahun, pasti dia sangat tersiksa. Dan apa yang membuat tante Nilam menjadi seperti itu? Hadeuh..., otakku benar-benar tidak sampai, benar-benar tidak bisa berpikir seperti orang kota,"
Apa yang di lakukan Arini tentunya langsung di lihat oleh Arya yang baru datang. Bosnya yang baru membuka pintu ruangan itu langsung berhenti di belakang pintu dengan mata terus fokus memandangi Arini.
Tak biasanya Arini akan selalu melamun pagi-pagi dan sekarang? bahkan dia sampai tidak menyadari akan kedatangannya.
"Apa pekerjaanmu hanya melamun saja, hehh?!" Arya kembali berjalan. Kata-kata yang tak seberapa namun berhasil mengejutkan Arini.
Arini terperanjat, dia benar-benar kaget dengan kedatangan Arya yang seakan tiba-tiba dan juga suara beratnya yang bagaikan petir yang menyambar Arini.
"Astaghfirullah...!" Arini berbalik dengan cepat dan akhirnya dia lihat Arya yang jalan semakin dekat kepadanya.
"Pak Tuan itu kalau datang ucap salam dong! supaya Arini tidak jantungan! " keluh nya.
"Untung saja jantung Arini sehat wal'afiat kalau tidak emang pak Tuan mau bertanggung jawab apa?" imbuhnya lagi.
Arya terus berjalan melewati Arini dan duduk di kursi kebesarannya.
Mulut Arini menganga sangat lebar, astaghfirullah hal, azim.., Arini benar-benar ingin ngomel panjang seperti kereta api, belum juga selesai ngepelnya lantai yang sudah bersih kini kembali kotor dengan bekas sepatu yang Arya pakai. Benar-benar kesel kan.
"Pak Tuan, abis nanam padi di sawah? kok sepatunya kotor banget gitu banyak lumpur! " ucap Arini dengan nada kesalnya.
Arya tak menghiraukan, Arini mau ngomong apapun tak masalah dia memiliki telinga baja yang akan kuat mendengarkan ocehan Arini meskipun bisa seperti bom meledak sekaligus.
"Gara-gara Pak Tuan Arini harus ngulang lagi kan! Pak Tuan kira-kira dong kalau masuk!" Arini masih saja ngedumel menceramahi Arya yang tetap saja acuh.
Untung kesabaran Arini benar-benar memiliki stok yang sangat besar kalau tidak mungkin Arya sudah dia getok pakai gagang pel yang ada di tangannya, lagian sah kan?
__ADS_1
Tak mendapatkan jawaban dari Arya, mulut Arini langsung monyong-monyong begitu panjang, mungkin bisa lah jika mau di kuncir pakai karet tapi Arya seperti tak mau melakukan itu.
"𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘯𝘨𝘦𝘳𝘫𝘢𝘪𝘯 𝘗𝘢𝘬 𝘛𝘶𝘢𝘯 𝘥𝘰𝘴𝘢 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘺𝘢? " batin Arini.
Arini menyeringai, entah apa yang ingin dia lakukan pada Arya. Sementara Arya masih tak menghiraukannya dan malah memainkan kursi dengan cara menggoyangkannya.
Alih-alih bisa mengerjai Arya, Arini langsung kena batunya sendiri sebelum menjalankan misinya. Sepatu flat nya yang sudah sangat tipis itu membuatnya terpeleset karena lantai yang masih licin karena baru dia pel.
Entah sebuah keberuntungan atau sebuah bencana untuk Arini, saat dia terjatuh dia pas nubruk Arya di kursinya, benar-benar sial sepertinya.
𝘈𝘬𝘬... 𝘉𝘳𝘶𝘬𝘬....
Arya yang terkejut sontak menangkap tubuh kecil Arini dan mendekapnya. Mungkin ini adalah bencana untuk Arini tapi keberuntungan untuk Arya, karena kalau tidak dengan kejadian seperti itu mana mungkin Arya bisa memeluknya, jangankan memeluk memeganginya sangat mustahil.
Mata Arya hanya bisa memandangi puncak kepala Arini tidak dengan wajahnya, entah seperti apa wajahnya sekarang Arya tidak tau karena wajah Arini bersembunyi di dada bidangnya Arya.
Untung juga itu kursinya kuat dan hanya goyang sedikit kalau sampai patah entah posisi seperti apa mereka berdua sekarang.
Arya menutup matanya menghirup aroma melati yang begitu menenangkan dari hijab Arini, rasanya sungguh nyaman. Namun itu tak berlangsung lama karena Arya kembali membuka matanya karena dia tersentak gara-gara Arini yang langsung melepaskan diri darinya.
"Pak- pak Tuan jangan nyari kesempatan dong!" Arini cepat menjauh gelagatnya sungguh membuat Arya merasa gemas.
Arini menunduk satu telapak tangannya langsung menutupi seluruh wajahnya,"𝘱𝘭𝘢𝘬!!" mana mungkin kan dia yang nyari kesempatan? Arini hanya ingin memberikan sedikit pelajaran saja untuk Arya tak dia sangka Tuhan berkehendak lain. Sungguh sial.
"Kenapa? apa kali ini kamu tidak mau mengakuinya?" tanya Arya.
"Ti-tidak! Arini tidak mau menggoda Pak Tuan! Arini tidak sengaja melakukan itu, jadi maaf," tak mungkin Arini akan mengakuinya karena dia memang tidak berniat seperti itu.
"Syukurlah, saya juga ogah di rayu gadis sepertimu. Nggak le-vel! nggak tertarik juga." sinis Arya.
"Gadis cerewet, suka ngeyel, suka membantah, tidak menarik, tidak seksi, tidak putih, tidak pintar, dan yang paling aku yakin tidak akan bisa membuat junior ku bangun dari tidurnya," Jari Arya terangkat menghitung satu persatu kekurangan Arini.
"Apa itu junior? Junior itu sesuatu yang di bawah kita kan? berarti adiknya pak Tuan ya? Jadi pak Tuan punya adik!? semoga saja adiknya pak Tuan tidak seperti pak Tuan,"
Kini Arya yang menepuk jidatnya sendiri. Astaga..., bahkan Arini tidak tau apa yang di maksud Arya. juniornya benar-benar tidak akan bisa bangun di hadapan gadis bodoh yang tak tau apa-apa ini.
"Pak Tuan, adiknya pak Tuan imut tidak? kalau imut besok ajak dong kenalin sama Arini," pinta Arini dengan wajah yang begitu polosnya.
__ADS_1
"Kalau Arini kan tidak punya adik, jadinya ya tidak bisa di ajak untuk di kenalin sama pak Tuan," imbuhnya lagi.
Astaga, mimpi apa Arya semalam, "menyesal aku memperkerjakan orang bodoh seperti dia," ucapnya pelan.
"Pak Tuan, besok ajak adiknya yang namanya junior itu ya! Biar besok bisa bermain dengan Arini,"
Kali ini Arya menyeringai, dia berdiri dan mendekati Arini, "benarkah kamu mau kenalan dengan junior?" tanyanya dan Arini mengangguk, bahkan wajahnya terlihat begitu semangat.
"Mau di sini atau di kamar, hem? " Arya semakin menyeringai, senangnya bisa memanfaatkan kebodohan Arini.
"Emangnya junior ikut juga? tapi tidak ada di sini, di kamar pak Tuan tadi juga tidak ada siapapun? " Arini terlihat kebingungan.
"Dia ada di sini, di hadapanmu," Arya semakin mendekat, membuat Arini berjalan mundur.
"Ihh... Pak Tuan bohong! yang ada di hadapanku kan hanya pak Tuan, bukan si junior! " ucap Arini namun tetap melangkah mundur.
"Saya tidak bohong, sekarang kamu boleh berkenalan padanya, kamu juga boleh bermain dengannya,"
"Benarkah! tapi di mana junior sekarang? " Arini menelisik semua penjuru dia berhenti karena Arya juga berhenti, "tidak ada? "
Arya mencondongkan wajahnya di sebelah telinga Arini, dan berbisik di sana, "junior sedang tidur, di bawah sana. Kalau kamu mau bermain dengannya kamu harus membangunkannya," ucap Arya.
Arini semakin bingung, astaga..., benar-benar tidak sampai otak Arini untuk menjangkau hal yang seperti itu. Arini menunduk dia mencari di bawah jelas tidak ada lah, "tidak ada? "
"Apa ingin aku perlihatkan?" tanya Arya dan Arini mengangguk, "junior tidur di dalam celana," Bisik Arya lagi.
"Dalam celana?" Arini benar-benar belum mengerti, namun beberapa detik kemudahan.
𝘛𝘶𝘬𝘬....
Arini melayangkan gagang pel ke kepala Arya tanpa sengaja, dia begitu terkejut saat dia mulai paham dengan apa yang Arya bicarakan. Dia juga langsung berlari terbirit-birit untuk keluar dari ruangan Arya sepertinya dia sudah tau sekarang.
"Awww.... Arini!!!! " teriak Arya. Tangannya langsung memeriksa kepalanya, "astaga, benjol kepalaku," keluhnya.
///////
Bersambung....
__ADS_1
_________