Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
171.Dia Adikmu


__ADS_3

Happy Reading....



''Hahaha...!'' tawa Melisa sangat menggelegar saat dirinya masuk ke dalam rumahnya bersama Ratna.



Keduanya begitu bahagia karena apa yang telah mereka lakukan bersama-sama untuk menjatuhkan Arini lagi telah berhasil. Bukan hanya itu saja melainkan sebentar lagi keinginan Melisa yang akan terwujud.



Keduanya duduk dengan santai di sofa ruang tengah sembari menikmati apa yang tadi dia beli sebelum pulang.



''Mel, tetapi kamu tidak benar-benar hamil kan? kalau kamu bener-bener hamil Ibu sangat kecewa padamu,'' Ratna menoleh melihat Melisa dan menghentikan tawa dan kesenangannya.



Melisa menoleh dan juga langsung diam dari tawa juga kebahagiaannya. Lagian mana mungkin dia akan hamil kan? dia juga Arya kan tidak melakukan apapun.



''Apa sih, Bu? anak Ibu ini masih bisa di percaya. Tidak mungkin Melisa akan hamil. Tenang saja lah, Bu,'' ternyata benar Melisa hanya berbohong akan kehamilannya, tetapi masalahnya dari mana dia bisa mendapatkan hasil pemeriksaan dokter yang menyatakan tentang kehamilannya?



*FLASHBACK*



*Senyum terus terpancar jelas dari Melisa, kakinya terus melangkah masuk ke dalam rumahnya dibarengi dengan senyuman yang tak pernah pudar*.



*Melisa sangat senang sekarang akhirnya usahanya sebentar lagi akan membuahkan hasil. Dengan sedikit memasang wajah sedihnya kepada orang tuanya Arya dia langsung mendapatkan simpati dari mereka bahkan mereka langsung mempercayai semua yang dia katakan*.



"*Bu... Ayah...!" teriaknya memanggil*.



*Melisa meletakkan barang-barang belanjaannya di atas kursi dia juga langsung duduk di sebelahnya sembari melepaskan high heels yang dia pakai*.



*Tak ada yang datang juga menyahuti panggilannya entah semua orang ada di mana karena rumah juga terlihat sangat sepi*.



"*Pada kemana sih?" Melisa mengedarkan matanya memandangi pintu keluar masuk dari ruangan dalam tetapi satupun tak ada yang keluar*.



*Tak ada yang keluar membuat Melisa memilih untuk masuk dengan membawa barang-barangnya ke kamar*.



*Dengan kembali membawa barang-barangnya Melisa melaju langkah, dia sangat lelah ingin secepatnya istirahat*.



*Belum juga sampai di depan kamarnya suara Fara menghentikan langkahnya, "Fara kenapa?" ucapnya*.



*Melisa mengernyit sembari mengintip Fara dari celah-celah pintu yang sedikit terbuka. Melisa sangat penasaran karena Fara terlihat sangat pucat juga terus keluar masuk ke kamar mandi seperti orang mual karena tangannya terus memegangi perutnya yang satu dia gunakan untuk menutupi mulutnya*.



"*Fara, kamu kenapa?" Tak mau mati dengan rasa penasaran Melisa masuk begitu saja, memastikan keadaan adiknya yang sepertinya sedang tak enak badan*.



"*Kamu sakit?" imbuhnya*.

__ADS_1



*Fara terdiam, dia juga sangat terkejut melihat Melisa yang datang dengan tiba-tiba juga tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu saat masuk ke kamarnya*.



*Melisa terlihat bingung, "ti-tidak, Fara baik-baik saja. I-ini hanya masalah asam lambung," jawab Fara tergagap*.



"*Sudah minum obat? Atau, sudah di bawa ke dokter?" Melisa menelisik, bukan hanya karena penasaran tetapi dia juga sangat khawatir. Bagaimanapun juga Fara adalah adiknya*.



"*Su-sudah! Fara sudah minum obat kok, sebentar lagi juga sembuh," senyum kikuk Fara keluarkan*.



*Jawaban Fara yang terlihat menyembunyikan sesuatu membuat Melisa terus penasaran. Kini dia duduk di kasur Fara dan menarik pergelangan tangan adiknya dan memintanya duduk di sebelahnya*.



"*Cerita padaku. Aku ini kakakmu, aku akan membantu semua masalah mu selama aku bisa," ucapnya dengan sangat lembut*.



*Tiba-tiba Fara menangis dia menubruk memeluk Melisa dan membuatnya tercengang. Bingung, sebenarnya apa yang terjadi kepada Fara kenapa dia tiba-tiba menangis*.



"*Kak, Fara Hamil," ucapannya begitu lirih*.



*Cepat Melisa melepaskan Fara, dia mengamati wajah adiknya dengan sangat lekat sementara Fara terus menunduk takut*.



"*Siapa yang menghamili mu?" mata Melisa membulat terang*.




"*Berarti dia harus menikahi mu, Kan? Dia harus bertanggung jawab dengan perbuatannya," ucap Melisa*.



"*Masalahnya Nando sekarang tidak tau di mana, Kak! Dia hilang begitu saja dan Fara tidak tau. Fara terus menghubunginya bahkan datang ke rumahnya tetapi dia tidak ada*."



"*Orang tuanya*?"



"*Orang tuanya pun juga tidak ada, Kak. Kata orang-orang di dekat rumahnya mereka pindah," ucap Fara menjelaskan*.



"*Terus bagaimana kalau Ayah dan Ibu tau, Kak? Mereka pasti akan sangat marah pada Fara. Bahkan bisa jadi mereka akan mengusir Fara. Fara takut, Kak*."



"*Sudah, kamu jangan takut ada kakak yang akan bersamamu. Selama kamu mau menuruti apa yang kakak katakan Ayah juga Ibu tidak akan tau," jawab Melisa dengan berpikir segudang rencana yang akan dia lakukan*.



*Semua seperti menjadi jalan untuknya, memanfaatkan kehamilan Fara untuk tujuannya sendiri. Melindungi Fara yang ternyata dia memiliki niat terselubuk untuk mengambil anaknya dan akan dia gunakan untuk mengendalikan Arya*.



*NORMAL*...



Melisa hanya bisa tersenyum setelah mengingat semua takdir yang seolah mendukungnya. Jalannya seolah di permudahkan.

__ADS_1



"Sebentar lagi kamu akan menjadi nyonya Gautama. Kamu akan kaya raya. Setelah kamu kaya jangan lupakan Ibu ya, kirimi Ibu uang bulanan. Ingat itu baik-baik."



"Iya, Bu. Tenang saja," jawab Melisa.



"Arini..." Sekali lagi Nilam bersuara.


Nisa yang kebetulan sudah ada di sana untuk memeriksa Nilam menyaksikan semua itu. Dia tidak mengerti kenapa dari tadi Nilam terus memanggil nama Arini padahal dia sama sekali tidak tau kalau Arini datang.


Nisa mendekat, memeriksanya dan saat itu Dimas masuk.


Wajah yang tak biasa dari Nisa dapat dengan jelas di lihat oleh Dimas yang kini sontak langsung mendekat juga.


"Ada apa?" tanya Dimas.


"Arini..."


Belum juga Nisa menjawab pertanyaan Dimas Nilam kembali memanggil Arini dengan mata yang masih tertutup.


Dimas yang mendengar langsung ikut memeriksanya ada rasa bahagia juga bingung. Dimas begitu bahagia karena akhirnya dia bisa mendengar suara Nilam lagi setelah sekian lama. Tetapi dia bingung kenapa nama Arini yang pertama kali keluar dari mulutnya.


"Apakah Arini datang?" Sembari bertanya Dimas juga terus memeriksa Nilam yang seperti sudah mulai sadar. Tetapi kenapa dia masih sangat enggan untuk membuka matanya.


Nisa menggeleng tidak tau, karena dia baru beberapa saat saja berada di sana.


"Saya tidak tau, Tuan. Tetapi saat saya masuk Tante Nilam sudah terus memanggil Arini. Apakah mungkin tadi Arini datang? Atau mungkin terjadi sesuatu dengannya?" ucap Nisa menebak.


"Ma, Bangun, Ma," pinta Dimas. Tangannya terus memijat pelan tangan Nilam juga yang satunya mengelus pipinya.


Usaha Dimas sepertinya membuahkan hasil, tangan Nilam bergerak dan mulai menggenggam tangan Dimas juga. Matanya juga pelan-pelan terbuka.


Air mata Dimas seketika langsung luruh begitu saja, dia sangat bahagia karena Nilam kini telah sadar dia bangun setelah sekian lama. Dimas menciumi punggung tangan Nilam juga memeluk Nilam dengan perasaan yang sangat campur aduk.


"Arini..." ucapnya lagi. Perlahan Dimas melepaskan pelukannya. Dimas ada di sana, dialah anaknya tetapi kenapa Nilam malah memanggil Arini dan seperti mencarinya juga.


"Ma, ini Dimas. Bukan Arini," ucap Dimas memberitahu dengan membungkuk di hadapannya dengan derai air mata.


Tangan Nilam terangkat, membelai pipi anaknya yang kini sudah besar.


"Dimas?" Nilam masih memastikan. Bagaimana mungkin Dimas sekarang sudah sebesar itu, sudah menjadi laki-laki tampan berjas putih sesuai keinginannya.


"Dimas.." Nilam ikut menangis ketika melihat Dimas mengangguk, "Dimas sudah besar?"


"Iya Ma. Dimas sudah besar. Dimas sudah menjadi seorang yang Mama mau," Keduanya terbuai dengan tangis yang bersamaan.


Sementara Nisa juga ikut terharu melihat itu semua.


Sekali lagi Dimas memeluk Nilam dia ingin terus memeluknya Dimas sangat merindukan pelukan hangat dari Nilam.


"Dimana Adikmu?" tanya Nilam.


Dimas kembali melepaskan kedua tangannya.


"Ma, Adek sudah pergi, Ma. Allah lebih menyayanginya daripada kita. Mama harus bisa ikhlas," ucap Dimas dengan pelan.


Nilam tersenyum tak percaya.


"Tidak, adikmu masih ada. Tadi dia datang. Dia memberikan bunga ini untuk Mama." Ucap Nilam menunjukkan bunga melati yang masih ada di genggamannya.


"Dia bukan adek, Ma," Dimas terus meyakinkan Nilam kalau semua itu salah.


"Tidak, Dimas. Mama tidak salah, dia adikmu. Jangan biarkan dia pergi lagi dari kita. Kejar dia, Dim. Dia mau pergi meninggalkan kita. Kejar dia.." Nilam menangis sejadi-jadinya seiring kata yang dia ucapkan.


"Arini akan pergi?" Dimas mengernyit.


"Kejar dia, Dim. Jangan biarkan dia pergi lagi. Jemput dia.."


Perbincangan mereka berdua ternyata juga di dengar oleh Hendra yang sedari tadi datang. Hendra terperangah, dia sangat bahagia melihat istrinya sudah bangun tetapi dia takut untuk mendekat karena mengingat apa yang telah dia lakukan.


Tetapi Hendra lebih terperangah tak percaya karena perkataan Nilam yang bilang kalau Arini adalah anak mereka.


Tanpa mengatakan apapun lagi Hendra kembali keluar, dia akan menjemput Arini di juga tidak akan membiarkan Arini pergi jika memang benar dia adalah anaknya.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2