
Happy Reading
_____
Senyum terus terpancar dari bibir seorang Arini, dia sungguh gembira karena dia mendapatkan ide mengenai hadiah yang akan dia berikan untuk Arya. Langkahnya semakin dipercepat saat dia sampai di mana dia akan mendapatkan bahan yang akan dia gunakan untuk membuat sendiri hadiahnya.
Arini sudah tak sabar lagi untuk mendapatkan semua bahan yang dia butuhkan. Tak butuh waktu lama untuk dirinya sampai di sebuah toko aksesoris yang menjual semua aksesoris wanita maupun pria.
‘’Alhamdulilah, akhirnya aku bisa sampai sini juga. Aku harus segera membeli apa yang akan aku gunakan untuk membuat hadiah untuk pak tuan,’’ wajah Arini tampak bahagia, rona wajah sangat jelas terlihat, senyumnya terus lebar sungguh dia sangat bahagia ,dia sangat antusias untuk bisa memberikan hadiah untuk bos yang menurutnya kadang suka kurang satu ons.
‘’Assalamu’alaikum,’’ tangan mulai membuka pintu dengan sangat senang, dia lebih senang lagi saat melihat semua barang-barang juga semua aksesoris berjajar rapi.
‘’Wa’alaikum salam, Kak. ‘’ Arini tak menjawab lagi dia sudah terbuai dengan semua yang ada di depan matanya sungguh menakjubkan.
Melihat semua itu malah membuatnya bingung Arini malah tak bisa menentukan hal yang benar semua keluar dari prediksi awal. Arini terus berkeliling tempat itu dia masih harus menentukan lagi apa yang akan dia beli sekarang untuk dia gunakan sebagai hadiah untuk Arya, bos yang kurang waras.
Tangan tak henti-hentinya memilah satu persatu dari semua barang, tapi hingga kini dia belum juga bisa menentukannya. Memang tak akan mudah untuknya bisa menemukan hadiah yang sesuai dengan apa yang menjadi kesukaan bosnya itu. Apalagi ini adalah kali pertama dia memberikan hadiah untuk seseorang , hemm...’ sungguh rumit.
‘’Astaghfirullah hal ‘azim... kenapa aku jadi bingung seperti ini sih. Ini salahmu Arini seharusnya kamu menjadi orang yang sedikit pandai supaya kamu tidak akan bingung hanya untuk memberikan hadiah saja untuk pak tuan.’’ Ucapnya yang malah mengomeli dirinya sendiri. Baru kali ini dia benar-benar sadar kalau ternyata dia memang sangatlah bodoh, bahkan sebenarnya sudah bisa dikatakan kalau dia bodoh akut, tapi dia tak benar-benar menyadari akan hal itu.
‘’Bagaimana kalau tidak cepat maka waktu istirahat akan segera habis, seharusnya kamu tadi mengajak mbak Raisa, dia kan bisa membatu memberikan arahan padamu, sungguh ya kalau orang bodoh itu memang sangat menyebalkan.’’ Gerutunya lagi dan seperti biasa dia akan mengomentari dirinya sendiri. Sungguh terlalu.
__ADS_1
Hampir satu jam berada di sana namun Arini belum mendapatkan apapun, yang jelas dia juga sudah kehabisan waktunya, dan sekarang jika dia tidak kembali dia pasti akan berada dalam masalah besar karena bosnya yang sangat baik dan tidak sombong itu pasti akan memberikan hadiah tambahannya yang akan membuat dia semakin lelah.
‘’Benarkah aku harus kembali sekarang juga, tapi kalau tidak pak tuan pastia akan marah padaku, ihh..., kenapa sih pak tuan itu selalu saja marah-marah. Apa nggak capek apa ya. Sudah lah lebih baik aku sekarang kembali saja kalau tidak pasti aku akan ada dalam masalah besar.’’
Tanpa mendapatkan apapun Arini pergi dari sana, mungkin memang belum saatnya bagi Arini mendapatkan hadiah untuk Arya. Dengan malas kaki tetap melangkah keluar dari toko dia sangat sedih tapi juga mau bagaimana lagi.
Arini yakin dia pasti sudah terlambat sekarang tapi dia tetap yakin kalau bosnya tidak akan memarahinya. Tapi kalau memang akan di marahin juga tak apa dia memang bersalah, dengarkan saja yang akan Arya katakan padanya.
//////
‘’Ke mana lagi tuh anak, jam segini adalah waktunya dia memberikan aku kopi. Biasanya dia tidak pernah terlambat tapi sekarang tidak jelas seperti ini?’’ gumam Arya. Tak biasa selalu terlambat tapi sekarang? Bahkan dia sama sekali tidak tau.
Entak tak sabar karena kopinya atau orangnya tapi Arya semakin uring-uringan saat Arini tak kunjung datang. Tapi sepertinya bukan kopinya yang Arya nantikan tapi orangnya membuat kopi.
‘’Wa’alaikum salam ... dari mana kamu sampai-sampai tak ingat waktu?’’ pertanyaannya terdengar sedikit kesal tapi tidak terlihat dari aura wajahnya yang tampak mengatakan hal yang sangat berbeda.
Arya beranjak dari duduknya dia menghampiri Arini yang juga belum sampai di tempatnya. Sungguh lambat sekali dia melangkah ,rasanya Arya tak sabar dan ingin mengangkatnya , menggendong dan membawanya secara langsung.
Arini sudah berhenti saat Arya sudah sampai di depannya, ternyata langkahnya kalah cepat dengan kaki jenjang dari pria yang kini suda berdiri menghadangnya.
Arini menunduk dia mulai takut karena dia yakin dia dalam masalah besar, entah apa yang akan di lakukan olah Arya kepadanya. Semoga saja buka hal yang buruk,’’Pak tuan, ini kopinya,’’ ucapnya dengan sangat lirih.
__ADS_1
Arini yang menunduk membuat Arya harus membungkuk untuk bisa melihatnya tapi tetap saja tak bisa di lihat. Padahal ingin sekali melihat wajah yang selalu terngiang dalam pikirannya selama semalam dan membuatnya tidak nyenyak dalam tidurnya, tapi sepertinya Arya akan sangat susah untuk bisa melihat wajahnya itu. ’Sabar,’’ hanya itu saja yang bisa Arya katakan di hadapan Arini.
Tangan langsung mengambil kopi yang ada di nampan yang Arini bawa tapi matanya tak pernah berkedip sedikit pun kepada gadis di hadapannya, ada rasa puas saat melihat gadis itu terus menunduk entah karena malu, takut atau grogi.
Kopi yang sebenernya seperti biasa tapi kini menjadi spesial dengan di temani gadis yang membuatnya, ah..., sungguh menyenangkan bukan. Seandainya bisa Arya ingin gadis ini selalu menemaninya dalam hal apapun yang akan dia lakukan di setiap kesehariannya.
‘’𝘈𝘬𝘶 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 sin𝘸i, 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪. 𝘔𝘦𝘯𝘦𝘮𝘢𝘯𝘪𝘬𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢-𝘭𝘢𝘮𝘢𝘯𝘺𝘢.’’ Batin Arya.
Harapan akan kehadiran Arini di setiap saat ternyata sudah menjadi angan untuk seorang Arya, benarkah yang ada sekarang adalah cinta dan bukan sebuah obsesi atau sebuah rasa kasian saja? Semoga saja memang benar karena adanya sebuah cinta, bukan hal yang bersifat keegoisan juga.
‘’Pak Tuan, Arini akan kembali bekerja lagi. Maaf karena kopinya sedikit terlambat, maaf,’’ Arini mulai memutar tubuhnya untuk dia pergi dari sana tapi sepertinya tak akan mudah untuk bisa pergi karena Arya langsung menarik lengannya lagi.
‘’Jangan pernah pergi dan selalu di sini temani aku,’’ ucap Arya dengan penuh harap.
‘’Apa maksud, Pak tuan? Arini kan memang tak akan kemana-mana, Arini hanya ingin kembali bekerja.’’
Arya mengangguk, dia mengiyakan meski sebenarnya dia tak mau sampai Arini pergi dari sana. Perlahan Arya melepaskan lengan Arini, membiarkannya pergi walau dia tidak ingin.
Mata terus memandangi Arini yang semakin jauh, Arya terkesiap karena pandangannya sendiri dia baru sadar setelah pintu telah tertutup lagi. Benarkah kalau Arya mengatakan tadi tanpa kesadaran? Apakah itu hanya karena hatinya saja yang sudah menginginkannya, lalu bagaimana dengan Arya sendiri, apa dia masih saja tak menyadarinya? Bahkah apa yang selalu dia katakan adalah kendali dari hatinya.
‘’Astaga, apalagi yang sudah aku katakan?’’ Arya mengacak rambutnya kasar dia bingung dengan apa yang selalu dia katakan tapi selalu tanpa kesadaran.
__ADS_1
******
Bersambung.....