
Happy Reading...
...****************...
Begitu senang Arini sekarang. Melihat suaminya cemberut saat masuk ke dalam rumah. Sungguh puas, tetapi dia masih tak mengerti dia sangat bingung juga penasaran sebenarnya siapa wanita yang telah mengalihkan pandangan Arya darinya.
Arini menghentikan langkah saat hendak masuk ke dalam kamar. Dia berdiri di depan pintu dan seketika membalikkan badan menatap Arya dengan tajam.
"Ke_kenapa?" tanya Arya bingung.
Tentu dia akan mengernyit karena tatapan Arini tak biasa. Tetapi tatapannya biasa seperti saat Arini sedang merajuk atau lagi marah.
"Hem, Mas mau masuk?" tanya Arini.
Jelas Arya mengangguk. Tidak usah di tanya lagi dia sangat ingin masuk dan segera membersihkan tubuhnya yang terasa sangat lengket. Keringat yang terus keluar saat di pasar membuatnya tidak nyaman sama sekali.
"Jelas Mas ingin masuk lah, Sayang. Gerah nih." keluhannya yang sepertinya sudah tidak tahan.
"Kalau Mas memang mau masuk, jawab dulu yang jujur. Siapa wanita tadi?" mata Arini melotot begitu bulat.
Sepertinya jiwa detektifnya sudah mulai kumat. Kekepoannya sudah tak bisa di tahan lagi.
Sudah dari tadi Arini menahan rasa penasaran dan sekarang dia ingin menemukan jawaban dari rasa penasarannya.
"Wanita yang mana sih, Sayang?" sepertinya Arya cukup bingung. Entah dia memang beneran bingung karena tidak tau atau dia bingung karena tengah mencari alasan untuk menutupi kebenaran tentang wanita yang tadi.
"Yang tadi, yang membuat Mas mengabaikan Arini. Apa dia pacar kamu, Mas? atau mantan terindah mungkin?"
Sepertinya semakin pintar sekarang si Arini. Dia sudah bisa terus menindas Arya yang sekarang sudah menjadi Arya yang lembut juga selalu mengalah dalam semua hal.
__ADS_1
Itulah Arya, laki-laki yang tak pernah percaya akan cinta. Selalu menganggap semua wanita itu sama saja dan setelah dia menemukan Wanita yang benar tulus untuk di cintai dia begitu takut kehilangan.
Arya sudah menjelma menjadi laki-laki bucin yang tak akan bisa jauh dari kekasih halalnya itu.
"Mas tidak mengenalnya, Sayang. Beneran!" Arya mencoba meyakinkan. Tetapi sepertinya tidak akan semudah itu.
"Beneran, Mas tidak sedang membohongi Arini kan?" Wajah Arini condong ke depan, mendekati wajah Arya dengan mata semakin bulat.
Apa yang Arini lakukan membuat Arya memundurkan wajahnya. Sedikit bergidik ngeri meski dia sendiri tau kalau Arini tidak akan melakukan apapun yang akan menyakitinya. Mungkin hanya akan membuat Arya geleng-geleng kepala saja.
"Beneran, Sayang. Mana mungkin Mas akan bohong. Sekarang boleh masuk ya ini udah nggak tahan," Seperti seorang anak pada ibunya Arya merengek pada Arini.
"Baiklah, tapi ingat ya. Hukuman Mas belum berakhir. Mas harus memakai kaus itu saat mengantarkan senam hamil besok."
Helaan nafas panjang terdengar dari Arya. Beneran kan apa yang dia pikirkan, dia pasti akan mendapat hal yang seperti itu.
Semoga saja tidak akan ada orang yang iseng mengambil foto atau merekamnya besok. Kalau iya dan mereka mem-postingnya maka habislah Arya.
Akhirnya Arini menggegerkan badannya dan mempersilahkan Arya masuk ke kamar. Arini juga masih terus berdiam diri di depan pintu seraya berpikir.
"Tidak mungkin kan wanita itu bukan siapa-siapa tapI Mas Arya sampai segitunya banget. Perlu di selidiki nih," gumam Arini.
Arini pura-pura biasa sekarang, Pura-pura seolah tak terjadi apapun saat di pasar tadi. Kini Arini masuk kamar dan sudah tak melihat suaminya yang ternyata sudah masuk ke kamar mandi.
Arini duduk di sofa, perlahan melepaskan hijab yang dia pakai. Rasanya juga sangat mengerahkan saat pergi ke pasar tapi tetap sangat menyenangkan.
Sementara Arya di kamar mandi tengah berpikir tentang wanita yang tadi dia lihat. Siapa sebenarnya wanita itu.
"Kenapa dia begitu sama seperti Anggi? apakah dia memang Anggi?" tanya Arya bingung sendiri.
__ADS_1
Anggi? siapa Anggi.
Anggi adalah kekasih Arya dulu. Lebih tepatnya mantan terindahnya.
Mantan yang berhasil membuat seorang Arya berubah total dan tak lagi percaya akan cinta. Mantan yang membuat Arya menjadi laki-laki angkuh dan kasar setelah sebelumnya dia begitu lembut juga penyayang.
"Sudah, Ar. Jangan pikirkan lagi. Mau dia Anggi atau bukan itu bukan urusan mu lagi. Sekarang kamu sudah memiliki penggantinya yang lebih baik dari pada dia yang meninggalkanmu hanya karena harta saja."
"Serius untuk kehidupan mu, Ar. Untuk keluarga kecilmu ini. Jangan sampai kamu membuat kecewa orang yang benar-benar tulus kepadamu." gumam Arya.
Entah seperti apa sebenarnya Anggi itu. Entah dia baik atau buruk hatinya atau bagaimana. Yang jelas dia pergi meninggalkan Arya karena perusahaannya dulu pernah mengalami kebangkrutan. Dia memilih pergi dengan orang lain yang lebih kaya saat itu bahkan kepergiannya juga meninggalkan hinaan pada Arya.
Tok tok tok...
"Mas! udah belum. Arini kebelet nih!" teriak Arini dengan sangat keras.
Arya terkesiap langsung panik karena sudah beberapa saat dia ada di dalam kamar mandi tapi belum melakukan apapun.
"Ya, sebentar lagi selesai! Atau masuk aja nggak papa!" teriak Arya.
"Ihh! Arini mau buang hajat! bukan mau mandiin!"
"Hahaha! mandiin juga nggak apa-apa, Yang!" Arya tertawa terbahak-bahak karena mendengar kata Arini. Tangannya juga cepat melepaskan bajunya dan cepat-cepat membersihkan tubuh sebelum Arini berteriak lagi.
Tak lama Arya keluar dan sudah terlihat segar.
"Mas ngapain aja dih di dalam? karaokean?" protes Arini sembari cepat-cepat masuk setelah Arya sedikit menyingkir.
"Astaghfirullah, kenapa dia sekarang galak amat? Kenapa sifat ku pindah semua ke dia?" Arya bingung sendiri di buatnya.
__ADS_1
...****************...
Bersambung.....