
Happy Reading....
"Sayang, sebenarnya kamu mau apa sih, dari tadi terus diam begini dan tidak mengatakan apapun padaku. Bahkan wajahmu juga terus masam seperti itu. Ayolah katakan pada ku," Dimas begitu bingung dengan perubahan Raisa yang selalu tak menentu.
Kadang dia akan terlihat begitu dewasa, begitu menerima apapun dari Dimas tapi kadang juga merajuk, mengeluh juga kadang suka ngambek dengan alasan yang tidak jelas.
Keberangkatan Dimas ke rumah sakit menjadi terhambat karena Raisa masih terus mendiamkannya bahkan dia terus melengos saat Dimas berada di depannya.
Seperti inikah rasanya mempunyai istri yang sedang hamil muda? semuanya tidak jelas pengaruh hormon begitu berbeda-beda dan terus berubah.
Meski Dimas seorang dokter dan sudah paham akan hal itu tapi tetap saja dia bingung. Berbicara kan lebih mudah daripada menjalani sendiri.
Dulu dia sering mengatakan Arya untuk bersabar dengan semua yang telah terjadi pada Arini dan ternyata semua itu tidak mudah. Terkadang membuat kesabarannya seakan ingin habis.
"Sayang, katakan dong," Dimas kembali beranjak dia terus mengejar Raisa yang kembali memalingkan wajahnya.
Dengan wajah cemberut Raisa kembali menoleh lagi, menghindar dari Dimas yang terus kebingungan.
"Sayang, please. Bicara dengan ku. Jangan buat aku bingung seperti ini," ucap Dimas lagi.
Kini Dimas berjongkok di hadapan Raisa menyentuh dan berganti menggenggam tangan Raisa.
__ADS_1
"Sayang, cerita," suara Dimas sudah mulai pasrah dia lemas dan akan menerima apapun yang akan di katakan oleh istrinya itu.
Dimas duduk di hadapan Raisa menunduk pasrah dalam kebingungan. Entah apa yang sebenarnya di minta oleh Raisa saat ini.
Jika saja Raisa mengatakannya pasti dia akan memberikan atau melakukan apa yang dia minta tapi kenyataannya? tidak seperti itu kan?
Setelahnya langsung hening dengan Dimas yang seolah-olah gak bisa berkata-kata lagi. Dari tadi dia sudah berusaha untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi tapi Raisa sama sekali tak mau membuka mulutnya.
Apakah dia mempunyai kesalahan? tapi apa kesalahannya?
Hanya itulah yang terus di tanyakan dalam benak Dimas. Sepertinya dia tak melakukan apapun yang menumbuhkan rasa marah tapi kenapa semua ini bisa terjadi?
Hiks hiks hiks....
Wajahnya terangkat dan melihat Raisa yang sudah menangis dengan sedikit air mata.
"Raisa sayang, ada apa. Cerita sama Mas. Kami mau apa, Hem?" di tatapnya dengan sangat lekat wajah Raisa, tangan Dimas juga sudah langsung terangkat untuk menghapus air matanya.
"A_aku pengen hiks hiks hiks..." ucapan Raisa berhenti membuat Dimas semakin di buat penasaran.
"Iya, pengen apa?" begitu lembut Dimas bertanya doa tidak mau sampai Raisa aja salah paham lagi kalau dia bicara dengan sedikit keras.
__ADS_1
"Aku pengen bubur ayam, tapi pengennya kamu sendiri yang membuatnya," ucap Raisa.
"Hah! bubur ayam? tapi...?" Dimas begitu bingung, akan membutuhkan waktu yang begitu banyak untuk membuat bubur ayam sementara dia harus ke rumah sakit karena dari tadi juga sudah terus di hubungi oleh para perawat di sana.
"Ya sudah, pergi saja sana. Mas memang tidak mau memberikan apa yang aku minta kan?" nada kesal langsung ada di ucapan Raisa.
"Mas kan memang lebih mementingkan pekerjaan daripada aku," semakin kesal si Raisa.
"Huf, bukan begitu sayang, tapi?"
"Sudah sana pergi saja. Aku udah nggak minat untuk makan apapun," kini Raisa beralih ke kasur merebahkan tubuhnya dan menyelimuti sekujur tubuhnya bahkan kepalanya pun juga tidak terlihat.
Ternyata Raisa yang biasanya bar-bar dan juga cerewet terlihat begitu lucu dan menggemaskan saat ngidam. Ternyata hormon kehamilan itu mampu mengubah wanita menjadi sangat berbeda dengan dirinya sendiri.
"Raisa sayang," panggil Dimas tapi Raisa bergeming.
"Iya, mas akan buatin. Tapi jangan marah begitu dong," ucap Dimas tapi tetap tak mendapatkan jawaban dari Raisa. Sepertinya dia benar-benar marah.
Dimas keluar dari kamar memutuskan untuk membuatkan bubur ayam untuk istri tercinta yang tengah ngidam itu. Dimas juga menghubungi rumah sakit terlebih dahulu meminta dokter lain untuk menggantikannya.
"Memang harus sabar saat istrinya hamil, Dim," gumam Dimas seraya melangkah menuju Dapur.
__ADS_1
...****************...
Bersambung....