
Happy Reading..
"Buat apa aku membawa hadiah, kamu tidak ulang tahun bukan? Saya rasa ini juga bukan pesta untukmu mendapatkan hadiah," Dimas semakin kesal saja.
"Memang bukan aku yang harus kamu beri hadiah, tapi dia..."
Seketika Dimas menoleh setelah tangan Arya terangkat dan menunjuk ke arah tangga.
Gadis dengan gaun berwarna biru, gemerlap penuh dengan glitter. Berhijab biru segi empat dan di ikat manis di lehernya, memperlihatkan dengan jelas bagaimana tubuh kecilnya yang langsing.
Mata Arya begitu berbinar melihat Arini yang benar-benar seperti bidadari yang tengah turun dari langit, terlihat sangat cantik dengan riasan sederhana.
Berbeda dengan Dimas, Dimas sudah langsung berkaca-kaca setelah melihat Arini yang telah datang di gandeng oleh Raisa. Rupanya adiknya itu terus menggandeng Raisa karena takut jatuh gara-gara high heels yang dia pakai.
"Apa kamu tidak akan memberikan hadiah padanya? bukankah ini adalah ulang tahun yang pertama untuknya di tengah-tengah keluarganya?" ucap Arya tapi tetap memusatkan pandangannya pada Arini, yang sungguh mengambil perhatiannya.
"Dek," lirih suara Dimas suaranya seakan tak mampu untuk keluar.
Arini semakin dekat dengan mereka berdua, dua laki-laki itu terus berlomba-lomba memandanginya.
Arini melepaskan diri dari Raisa, berjalan dengan sangat pelan karena takut terjatuh. Bukan itu saja, tapi Arini juga berjalan sembari menjinjing gaunnya karena takut keserimpet.
Arini berhenti di depan Dimas, dia menyapanya juga memberikan senyum yang begitu manis. Arini sebenarnya sangat bingung karena melihat Dimas yang hampir mengeluarkan air mata, tapi rasa penasarannya tidak sebesar rasa kekesalannya kepada Arya.
"Kak dokter di sini juga?" tanya Arini setelah sampai di hadapan mereka berdua. Tapi belum juga Dimas menjawab Arini sudah langsung beralih memandangi Arya. Arini bahkan beralih berdiri di hadapan Arya.
"Pak Tuan! pak Tuan keterlaluan. Bagaimana mungkin pak Tuan mau mengenalkan calon istri pak Tuan tapi masih saja memaksa Arini untuk memakai pakaian seperti ini, apalagi ini? Arini tidak suka memakai sendal kayak begini. Mending pak Tuan aja yang pakai biar Arini pakai punya pak Tuan," oceh Arini.
*Plakkk*...
Raisa yang kini berdiri di sebelah Dimas yang masih termangu hanya bisa tepok jidat, bagaimana mungkin Tuan Arya memakai high heels sementara Arini memakai sepatu pantofel.
Arya tersenyum menanggapi, gadisnya itu selalu bisa membuatnya tersenyum karena ucapannya yang selalu lucu.
"Pak Tuan kok malah tersenyum sih!" Arini sangat kesal.
"Apa kamu mau pakai sepatuku? aku akan melepaskannya untukmu. Tapi aku tidak bisa memakai high heels mu. Aku bisa tanpa alas kaki," ucap Arya dan hendak melepaskan sepatunya.
Arini diam sejenak, dia berpikir.
__ADS_1
"*Tidak tidak, kalau aku pakai sepatu pak Tuan terus pak Tuan tidak memakai apapun bagaimana kalau kakinya sakit? aku nggak mau di hukum suruh mijitin dua jam lagi," batin Arini*.
"Nih pakai," Arya benar-benar melepaskan sepatunya, dia juga mendekatkan sepatunya kepada Arini dengan kakinya.
"Lepas high heels mu! jangan sampai kamu jatuh atau kakimu sakit," imbuhnya.
Mata Arini langsung melihat kaki Arya yang benar tak memakai sepatu, tapi masih memakai kaus kaki. "*kasian*."
"Nggak jadi lah, Arini akan pakai ini saja. Arini akan belajar," ucapnya.
Arini mengedarkan pandangannya, ada banyak tamu yang datang dan semua tengah melihat dirinya. Arini merasa sangat malu, dia kurang percaya diri hingga dia menggigit bibir bawahnya.
Satu orang yang benar-benar membuat Arini tersenyum namun mengeluarkan air mata, dia adalah Nilam yang sudah menangis dan berjalan mendekat di buntuti oleh Hendra di belakangnya.
"Tante," panggil Arini.
Bukan hanya Nilam saja yang menangis tapi Hendra juga Dimas sekarang sudah tersedu.
Arini berjalan menghampiri Nilam, setelah sampai dia langsung menyalaminya.
"Tapi kenapa Tante menangis? apa Tante menyesal ya bertemu Arini, kalau begitu Arini akan pergi lagi," Arini hendak membalik, dia mengira kalau Nilam tidak suka dengannya.
Tak mau kehilangan Arini lagi Nilam langsung menarik tangan Arini membuat Arini kembali berdiri menghadapnya. Air mata Nilam semakin deras dan membuat Arini semakin bingung.
Tangan Nilam terangkat, mengelus pipi Arini dengan sangat lembut.
"Kamu sudah besar, Nak," ucap Nilam.
"Kamu sudah kembali, jangan pergi lagi meninggalkan kami. Kami tak bisa kehilangan kamu lagi," imbuhnya.
Nilam langsung merengkuh Arini memeluknya dengan sangat erat.
"Jangan tinggalkan Mama lagi, Nak. Jangan pergi lagi," ucap Nilam di saat memeluk Arini.
"*Mama?" pekik Arini dalam hati*.
Mata Arini terus membulat, kebingungan masih menguasainya. Arini melepaskan Nilam, dia masih tak mengerti.
__ADS_1
Arini mundur, dia mendekati Arya yang juga diam dalam perasaan haru.
"Pak Tuan, ini ada apa? Kenapa tante Nilam bicara seperti itu?"
Belum juga Arya menjawab, Dimas yang sudah tidak tahan lagi langsung menarik Arini juga memeluknya.
"Dek."
Arini semakin melongo, "*Dek? mereka semua kenapa sih! dan ini, kenapa kak Dokter memelukku." batin Arini*.
Arini berontak, dia tak mau Dimas memeluknya karena dia masih belum tau kalau mereka berdua adalah saudara.
"Kak Dokter lepasin Arini, Arini nggak mau berdosa karena Kak Dokter memeluk Arini!" Arini cepat melepaskan diri dari Dimas.
Dimas langsung menggenggam kedua tangan Arini.
"Tidak, Dek! tidak akan berdosa. Aku adalah kakakmu, kakak kandung mu!" ujar Dimas mengatakan kebenarannya pada Arini.
Arini terpaku, dia seakan tak bisa berkata-kata lagi. Sesaat dalam ketidak percayaan Arini kembali menoleh ke arah Arya dan laki-laki yang sudah menjadi pelindungnya selama ini mengangguk dan tersenyum.
"Ya, Dimas adalah kakakmu, tante Nilam adalah mamamu, juga om Hendra adalah papa mu. Mereka semua keluarga mu," jelas Arya.
Bukan hanya Arini yang terperangah, tapi Wiguna, Luna juga Eyang Wati mereka juga terperangah tak percaya.
"Pak Tuan bohong kan? kalau mereka keluarga Arini kenapa mereka membuang Arini. Mereka tidak menginginkan Arini kan? buat apa sekarang dia ingin mengakui Arini," tangis Arini pecah.
Arini mengibaskan tangan Dimas dari pergelangan tangannya, Arini yang tak tau masalahnya masih saja merasa kalau dia adalah anak yang tak pernah di inginkan. Anak buangan.
Suasana yang seharusnya berbahagia menjadi penuh hati juga padat dengan semua perasaan bersalah. Hendra dan Wiguna mereka berdua yang lebih merasa berdosa.
Sementara Nilam terus menggeleng, dia sangat menginginkan Arini, dia sangat menyayanginya dan tak pernah terlintas dalam benaknya untuk menyakiti Arini apalagi membuangnya.
"Sayang, maafin Papa. Papa yang bersalah. Papa menyesal," Hendra mendekat air matanya sudah berderai dengan sangat deras.
Rupanya malam ini begitu banyak orang yang menjadi cengeng, mereka menangis karena apa yang mereka semua lihat.
"Maafin Papa," rasa bersalah Hendra membuat dia kini menjatuhkan diri dan berlutut di hadapan anak gadisnya, "Papa yang bersalah, maafin Papa," Hendra terus menunduk.
__ADS_1
Bersambung..