
Happy Reading....
Sampai di rumah Arya masih saja mengingat akan pertemuannya dengan Anggi barusan. Niatnya hanya membeli gado-gado saja tapi Arya bisa pergi sampai berjam-jam.
Sebenarnya bukan hanya karena susahnya mencari gado-gado yang susah karena sudah malam tetapi karena Arya terus terpikirkan kalau Anggi akan membuat masalah untuk rumah tangganya.
Begitu was-was Arya karena kedatangan perempuan di masa lalunya, dia sangat tau bagaimana Anggi yang begitu keras kepalanya jika dia menginginkan sesuatu yang sudah menjadi obsesinya semua akan dia lakukan untuk dia mendapatkannya.
"Mas," Ternyata Arini masih menunggu Arya di ruang tengah dan duduk di sana seorang diri bahkan biasanya Susi yang selalu ada menemaninya tak ada di sana bersamanya.
Seandainya Arini tidak memanggilnya Arya sama sekali tidak tau kalau Arini ada di sana, terlalu fokus dengan pertemuannya dengan Anggi tadi.
Arya terus saja berjalan tadi dia sama sekali tak menoleh membuat Arini merasa sangat heran karena tak biasanya Arya seperti itu.
"Loh, kok belum tidur?" baru Arya menghampiri Arini yang juga berdiri untuk menghampirinya.
"Ini sudah sangat malam loh, Yang," Berhenti Arya di hadapan Arini mengelus perut Arini setelah di salami oleh Arini.
"Bagaimana Arini mau tidur, Mas. Kan nungguin gado-gado dari mas. Udah lapar banget," terdengar Arini mulai berbicara dengan manja.
"Kamu tunggu disini dulu, mas ambil piring dulu sama sendok," Arya hendak ke dapur untuk mengambil apa yang barusan dia katakan.
"Tidak usah, Mas. Arini sudah siapin piring juga sendoknya," begitu antusias Arini menunjukkannya pada Arya. Piring yang sudah bersih juga terdapat satu sendok saka sudah ada di atas meja di depan Arini duduk tadi.
Belum juga Arya menjawab Arini sudah menarik Arya dan berakhir duduk di sofa. Tak seperti biasanya Arya yang terus semangat dan begitu antusias untuk melakukan apapun tapi kali ini dia hanya diam dengan sedikit lesu.
__ADS_1
Arini mengambil gado-gado yang ada di tangan Arya tak merasa curiga sama sekali dan Arini masih diam tak menanggapi diamnya Arya, bahkan tak ada senyum yang keluar.
Arya hanya melihat semua pergerakan Arini yang membuka bungkus gado-gado dan juga menuangkan di atas piring, senyumnya tampak terus berbinar dan sama sekali tidak pernah pudar.
"Mas, suapin," rengek Arini dengan menyodorkan piring pada Arya tetapi Arya terlihat terdiam dan terus melamun entah apa yang dia pikir Arini sama sekali tak tau.
"Mas," panggil Arini tapi Arya masih saja tak menggubris panggilannya.
Baru kali ini Arini merasakan sangat heran, dia curiga ada sesuatu yang Arya pikirkan.
"Mas, mas!" suara Arini sudah meninggi dia mulai tak sabar karena Arya diam bahkan melamun.
"Mas!" lagi suara Arini semakin melengking hanya untuk menyadarkan Arya dan kini benar bisa membuat Arya tersadar.
"Ada apa, Sayang," ucap Arya yang sudah berusaha untuk tersadar dan menyembunyikan kegelisahannya di depan Arini.
"Tadi bilang apa?" tanya Arya yang benar saja tadi tak mendengar ucapan Arini. Semua kata-kata Arini teralihkan oleh angan-angannya.
"Nggak ada," jawab Arini dengan sangat kesal. Kini dia benar-benar tak mau menanggapi Arya lagi sudah kadung kesal karena Arya yang tak menanggapi.
"Oh, mau di suapin ya?" tanya Arya yang tau karena biasanya Arini meminta di suapin saat makan.
"Nggak!" Arini langsung pergi dari hadapan Arya meninggalkan gado-gado yang tadi Arya belikan. Arini sudah tak mood untuk makan, merasa di abaikan jadi sangat kesal.
"Arini sayang, maaf," Arya mengejar Arini yang bergegas ke kamarnya. Tangannya tidak kosong karena membawa gado-gado tadi.
__ADS_1
Brak!
Hampir saja wajah Arya terkena pintu yang di tutup dengan keras oleh Arini. Tak seperti biasanya bahkan baru kali ini Arini sampai marah seperti ini. Mungkin karena dia merasa ini sangat tak wajar atau mungkin karena Arya begitu mengabaikannya.
"Sayang, mengaku salah. Mas benar-benar minta maaf," meski pintu di tutup dengan keras tapi Arya tetap bisa membukanya.
Arya berjalan mendekati Arini yang sudah duduk di atas ranjang dan memeluk bantal. Memalingkan wajahnya dan tak mau melihat Arya.
"Sayang, Mas minta maaf," Arya duduk di hadapan Arini dia harus bisa merayu Arini untuk bisa mendapatkan maaf.
Arya bisa saja melawan dan menghadapi dunia tapi dia tak akan bisa sanggup untuk menghadapi istrinya yang marah seperti saat ini. Mungkin inilah yang di namakan cinta.
Dan cinta Arya hanya untuk Arini dan tak bisa melihat kesedihan ataupun kemarahan Arini.
"Kenapa, Mas. Mas kenapa mengabaikan Arini. Mas melupakan Arini. Apa yang membuat mas seperti ini? apakah ada sesuatu yang lebih berharga dari Arini hingga mas melupakan Arini?" meski kesal Arini tetap berbicara.
"Apakah mas sudah mulai bosan dengan Arini. Dan mas Arya mendapatkan wanita yang lebih baik dari Arini?" Terasa Arini berkecil hati, bagaimana Arini tidak berkecil hati sekarang kalau Arya tiba-tiba berubah seperti ini, tadi Arya belum seperti ini sebelum keluar.
"Bukan seperti itu, Sayang. Mas, mas hanya lelah." ucap Arya yang masih belum mau mengakuinya. Arya tidak mau kalau Arini sedih jika tau apa yang sebenarnya.
"Maaf," sekali lagi Arya minta maaf.
...****************...
Bersambung...
__ADS_1