
Happy Reading...
``
Bukan hanya sekedar mengantar Nisa ke supermarket tapi Toni kini juga mengajaknya untuk makan malam di restoran yang lebih dekat dengan supermarket tersebut.
Sebenarnya Nisa juga sangat enggan untuk menerima tawaran dari Toni tapi dia juga tidak bisa menolak merasa tidak enak karena Toni sudah terlalu baik kepadanya.
Keduanya hanya diam saat berada di restoran untuk makan malam, hanya ada rasa canggung juga rasa gugup. Bahkan Nisa terus menunduk tak berani memandangi Toni.
Berbeda dengan Toni sendiri dia sesekali melirik gadis itu yang menurutnya saat ini terlihat sangat berbeda, sangat cantik atau mungkin itu terjadi karena Toni sudah menaruh hati kepada Nisa.
"Hemm, bagaimana kabar orang tuamu, mereka baik-baik saja kan?" tanya Toni memecah keheningan di antara keduanya yang sedari tadi hanya terdengar suara dentuman dari sendok juga agak piring yang mereka gunakan.
Nisa cepat mengangkat wajahnya menatap Toni sekejap sembari mengangguk kecil, "Alhamdulillah mereka berdua baik-baik saja, mereka sehat kok," jawab Nisa dengan suaranya yang lembut membuat jantung Toni semakin berdetak tak menentu.
Benarkah ini yang dinamakan dengan cinta? hanya sekedar mendengar suaranya saja bisa membuatnya hampir seperti orang gila. Ada rasa yang sangat aneh yang sangat menguasai dirinya.
"Alhamdulillah. Bagaimana dengan kerjaan mu?" tanya Toni lagi yang belum merasa puas mendengar suara dari gadis itu.
Toni ingin selalu mendengarkan suara yang sangat indah menurutnya.
"Alhamdulillah pekerjaan Nisa juga lancar, Nisa juga sangat betah bekerja di sana semua teman-teman sangat baik tidak ada yang membuat masalah," jawab bisa dengan suara yang gemetar namun dia berusaha untuk tidak terlihat begitu jelas.
"Hem...? Apakah tidak ada yang marah jika kamu jalan berdua denganku?" tanya Toni dengan sedikit ragu-ragu. Dia hanya berpikir harus mengetahui identitas Nisa terlebih dahulu sebelum melangkah lebih jauh lagi takut jika dia akan merasa patah hati di saat sudah melangkah namun Nisa sudah ada yang memiliki.
Nisa mengernyit, siapa yang bisa marah jika dia berjalan dengan Toni sepertinya tidak ada karena dia juga belum memiliki hubungan serius pada siapapun termasuk pada Toni sendiri.
"Tidak, tidak akan ada yang marah. Mungkin Bapak atau Ibu yang akan marah jika mengetahui Nisa pulang kemalaman dan diantar seorang laki-laki," jawab Nisa yakin.
"Kenapa bisa seperti itu?" Toni dibuat penasaran dengan itu tapi mungkin memang.
"Karena bapak dan ibu tidak mau sampai Nisa bergaul dengan laki-laki dan takut akan membuat kesalahan," jawabnya.
Toni mengangguk mengerti mungkin itu memang benar tapi Toni mendekati Nisa dengan serius dia juga tidak ingin ada kesalahan yang dia perbuat pada Nisa atau gadis lainnya.
"Misal ada orang pria yang ingin serius kepadamu apa yang harus dia lakukan?"
"Hemm... dia harus minta izin kepada ibu dan bapak kalau memang dia ingin serius kepada Nisa." Toni kembali mengangguk dan kembali menikmati makanan yang ada di hadapannya
Dia Mengerti apa yang harus dilakukan sekarang dia harus meminta izin kepada pak Karna jika ingin hubungannya dengan Nisa dipermudah.
"Kapan kamu akan pulang ke desa?" tanya Toni dengan serius sepertinya pria itu benar-benar ingin mempercepat hubungannya dengan Nisa.
Nisa sangat terkejut dia juga sangat bingung untuk apa Toni menanyakan hal itu?
"Jika kamu pulang nanti bilang padaku biar aku antar sampai ke rumah. Aku juga ada perlu dengan bapak," ucap Toni yang membuat Nisa semakin bingung.
Urusan apa yang akan Toni lakukan di sana sepertinya bapaknya juga tidak memiliki urusan apapun dengan Toni, lalu?
"Saya, saya akan pulang hari sabtu. Itupun tidak lama dan minggu harus kembali lagi," jawab Nisa.
__ADS_1
"Jam berapa?"
"Sore, setelah pulang kerja," jawab Nisa. Mulutnya terus bertanya tapi hatinya menyimpan banyak tanya untuk Toni. Apa yang sebenarnya akan dia lakukan di rumahnya.
"Baiklah, tunggu aku besok hari sabtu. Aku akan mengantarkan mu," Toni sudah sangat yakin ternyata. Meski dia belum tau seberapa besar cintanya pada Nisa tapi dia sudah sangat yakin, dia pasti akan bisa lebih besar lagi mencintai Nisa setelah mereka berdua ada hubungan yang serius, apalagi setelah hubungan pernikahan.
"I_iya," Nusa begitu gugup. Melihat senyum pria di hadapannya itu membuatnya salah tingkah sendiri. Seketika hati Nisa berdesir tak menentu.
..."Ya Allah, ada apa ini. Kenapa perasaanku seperti ini. Semakin lama semakin tak karuan," batin Nisa. ...
Arini berjalan dengan sangat pelan karena dia masih sangat takut jatuh. Alasannya karena matanya masih tertutup oleh kedua tangan Arya. Ingin sekali dapat membuka matanya tetapi Arya sama sekali belum mengizinkan, bahkan dia semakin erat menutup mata istrinya itu.
Hingga sampailah mereka berdua di ruangan yang khusus yang sudah dipesan langsung oleh Arya yang akan menjadi tempat spesial untuk makan malam mereka berdua.
"Mas, sampai kapan Arini harus menutup mata seperti ini? Arini sangat takut. Bagaimana kalau nanti sampai terjatuh," kedua tangan Arini juga memegangi kedua tangan Arya yang masih melekat di matanya berusaha untuk melepaskan tetapi dia tidak bisa.
"Tenang Sayang, ada aku disini aku tidak akan membiarkan kamu sampai terjatuh. Kalau kamu terjatuh maka aku adalah orang pertama yang akan terbentur lantai," jawab Arya dengan suara khasnya yang dingin-dingin berat.
"Nah sekarang kita sudah sampai, buka matamu," pinta Arya yang langsung menjauhkan kedua tangannya dari mata Arini dan menurunkannya.
Arya tersenyum dia sangat puas dengan ruangan yang sudah dia pesan ini sangat indah menurutnya.
"Bagaimana, apa kamu suka?" tanya Arya. Dan cepat memeluk Arini dari belakang.
Sungguh bahagia Arini, dan A selalu saja mendapatkan kejutan-kejutan dari Arya.
Dekorasi ruangan yang sangat indah dengan berbagi bunga-bunga juga lampu-lampu kecil, bukan itu saja tetapi juga terdapat lilin-lilin kecil yang ada di wadah bening menambah kesan romantis di malam itu, tepatnya di acara makan malam mereka berdua.
"Ini sangat indah Mas, aku sangat menyukainya," jawabnya dengan wajah yang sangat sumringah menandakan kalau dia begitu bahagia dengan kejutan yang diberikan oleh Arya saat ini.
__ADS_1
Arya melepaskan tangannya saat melihat ada seorang laki-laki berseragam pelayan memberikan satu buket bunga mawar merah yang sangat indah. Arya beralih berdiri di hadapan Arini, dan langsung berjongkok di hadapannya.
"Terima kasih sudah menjadi bagian dari hidupku, sudah mau menerimaku dan memberiku begitu besar kebahagiaan."
"Terima kasih karena bersedia mendampingiku, mendampingi setiap langkah-langkahku dan terus membimbingku menjadi lebih baik lagi, terima kasih Arini Khumaira."
Disodorkan buket bunga itu kepada Arini, membuat air mata sang istri langsung mengucur begitu deras dia juga sangat bahagia bisa selalu ada dan mendampingi Arya.
Dia bukan orang yang sempurna dan merasa tak pantas untuk mendapatkan semua pujian dari Arya tetapi dia hanya bisa melakukan apa yang menurut hatinya benar.
Diterimanya buket bunga tersebut dari tangan Arya dan seketika Arya juga berdiri di hadapan Arini yang sudah menangis.
"Kok malah nangis, jangan menangis dong Sayang, ini adalah hari kebahagiaan kita, hari ini dan selamanya," ucapan Arya yang membuat Arini semakin terisak.
"Terima kasih Mas," dalam isak tangis Arini langsung berhambur di dalam pelukan Arya, dia memeluk suaminya dengan sangat erat.
Arya juga langsung membalasnya memeluk sangat erat tubuh sang istri dan berkali-kali memberikan kecupan penuh cinta dan kasih sayang ke puncak kepalanya.
"Sudah jangan menangis lagi nanti aku juga menangis loh kalau kamu begini," ucap Arya yang sebenarnya matanya juga mulai memanas.
Arini melepaskan pelukannya dan saat itu juga Arya menghapus air matanya dengan kedua telapak tangan.
"Sekarang kita makan, bukankah tadi kamu bilang kalau sudah lapar?" selesai menghapus air mata sang istri Arya langsung meraih tangannya dan menuntunnya kemeja yang sudah dipersiapkan dan ditata dengan seindah mungkin.
Bersambung...
__ADS_1