
..._____...
...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...
Arya melongo tak mampu mengatakan apapun lagi, ternyata dia sudah sangat keterlaluan memperlakukan gadis kecil itu.
"Arya..!
𝘗𝘭𝘢𝘬𝘬𝘬...
"Apakah ini yang Eyang ajarkan padamu!!"
Amarah eyang Wati langsung memuncak saat dia baru datang dan mendengarkan semua perkataan Arya. Tak habis pikir kalau ternyata cucunya benar-benar tak mempunyai perasaan. Lebih lagi Eyang Wati tak percaya kalau ternyata Arya suka main perempuan.
Eyang Wati kira cucunya hanya tergila-gila dengan minuman haram saja namun ternyata lebih dari itu. Arya datang ke 𝘤𝘭𝘶𝘱 malam juga untuk memuaskan tubuh bagian bawahnya.
"E-eyang," Arya langsung menoleh, tangannya sudah memegangi pipinya yang mendapatkan pukulan keras cap lima jari dari Eyang Wati.
"Kau sungguh memalukan, Ar! kau benar-benar telah mencoreng wajah Eyang, kau lemparkan kotoran yang tak mudah hilang ke wajah Eyang! kau sia-siakan didikan Eyang! kenapa Ar! kenapa!" Eyang Wati begitu marah sekarang.
"Eyang, maafkan Arya. Arya khilaf, Arya janji tidak akan mengulanginya lagi, Arya janji Eyang," terdengar suara yang penuh penyesalan pada Arya tapi entah sebenarnya yang ada di dalam hatinya, entah dia benar-benar menyesal atau hanya permainan nya saja.
Arya terus mencoba memohon ampun pada Eyang Wati, dia juga ingin memegangi tangan Eyang Wati namun terus saja di tolak.
"Eyang, maafkan Arya," ucapnya lagi.
"Lepas, Ar! Eyang malu karena ulah mu! mau Eyang taruh mana wajah Eyang! bagaimana Eyang menghadapi dunia ini! kau membuatku gagal Ar! "
"Eyang, maafkan Arya," Arya menjatuhkan tubuhnya dia berlutut di hadapan Eyang Wati, memegangi satu tangannya dan terus meminta maaf, "Eyang maafkan Arya."
Eyang Wati terduduk di kursi tubuh dia sangat lemah dia terasa kehilangan tenaganya karena mendengar semuanya kebenaran tentang kelakuan Arya.
Eyang Wati menitihkan air matanya dia merasa gagal dia menyesali semuanya, "kau membuat Eyang gagal, Arya," ucap Wati lirih.
"Eyang, maafin Arya. Arya janji tidak akan mengulanginya lagi Arya janji," Arya duduk begitu saja di lantai tanpa beralaskan apapun dia terus berada di hadapan Eyang Wati dia sepertinya benar-benar menyesal tapi entahlah semoga dia benar-benar taubatan nasuha bukan hanya tobat sambel yang bilangnya sudah namun tetap memakannya lagi.
"Eyang, maafin Arya," entah sudah yang keberapa kali Arya terus mengatakan itu pada Eyang Wati tapi kali ini sepertinya dia di diamkan oleh Eyangnya.
__ADS_1
Sementara Dimas hanya dia menyaksikan semuanya yang terjadi, sebenarnya Dimas tidak tega melihat Arya yang seperti sekarang tapi dia juga sangat kesal karena Arya juga menuduhnya yang tidak-tidak.
Eyang Wati masih diam, namun sepertinya dia terus berfikir entah apa yang ada dalam pikirannya sampai-sampai dia terus diam dan juga tak mau menatap Arya mungkin dia benar-benar kecewa saat ini.
"Eyang, maafin Arya," ucapnya lagi.
"Baik, Eyang akan memaafkan mu. Tapi...? tapi setelah Arini juga memaafkan mu, jika kamu tidak mendapat maafnya maka kamu juga tidak akan mendapatkan maaf dari Eyang," jawab Eyang Wati.
Sepertinya akan susah di wujudkan oleh Arya, bagaimana mungkin Arini akan memaafkannya setelah apa yang dia lakukan padanya.
Arya bingung, bagaimana caranya dia minta maaf pada Arini, bagaimana dia bisa. Dengan apa dia bisa merayu Arini. Arini bukanlah gadis seperti yang lain ya akan luluh dengan bunga, barang-barang bermerek juga dengan berlian, Arini tidak akan menerima semua itu meskipun Arya membelikan sebanyak yang dia bisa.
"Kenapa kamu diam! apa kamu tidak ingin mendapatkan maaf dari Eyang! atau kamu memang tidak mau berubah dan tidak mau meminta maaf pada Arini! apakah begitu besar ego mu, hahh! " kecam Eyang Wati dengan suara keras.
"Bukan seperti itu, Eyang. Tapi...?"
Eyang Wati beranjak dia ingin pergi menjauhi Arya, "jangan pernah dekati dan juga bicara dengan Eyang jika Arini belum memaafkan mu," ucapnya.
Lemas sudah si Arya, karena ingin mendapatkan kepuasan dia harus mendapatkan semua ini, kekesalan juga kekecewaan dari Eyang Wati atas dirinya.
Eyang Wati mendekati Dimas dia ingin bertanya tentang keadaan Arini sekarang, "Dim, bagaimana keadaan Arini sekarang, dia baik-baik saja kan?"
"Dia baik-baik saja, Eyang. Dia hanya terlalu lelah dan juga perutnya kosong. Sepertinya dia tidak makan dari kemarin," jawab Dimas.
"Kok bisa sejak kemarin dia tidak makan," pekik Eyang Wati.
"Kemarin Arini puasa, Eyang. Terus sebelum dia makan neneknya pingsan dia membawanya ke rumah sakit, dan sepertinya sampai sekarang dia juga belum makan," terang Dimas.
"Ya Allah, anak itu. Pantesan tubuhnya kecil begitu," ucap Eyang Wati tidak habis pikir.
/////
Hari sudah berganti namun sepasang pemuda yang sedang di mabuk asmara masih saja ada di dalam kamar sebuah clup malam. Mereka belum juga pulang mereka masih terus asyik berada di atas ranjang dalam keadaan berpelukan. Mereka adalah Fara juga Nando.
Sudah yang kesekian kalinya mereka melakukan hubungan intim yang seharusnya tidak pernah mereka lakukan sebelum menikah tapi mereka tetap lakukan bahkan sampai berulang-ulang.
Fara sudah seperti tahanan Nando, sejak semalam dia di kurung di dalam kamar sementara Nando lah yang beberapa kali keluar sekedar untuk mencari makan.
__ADS_1
Bahkan sampai sekarang Fara pun juga masih saja bugil tanpa sehelai benang pun. Karena mereka berdua masih saja terus melakukannya saat lelah sudah hilang.
"Sayang, sekali lagi ya," pinta Nando yang tak pernah ada habis-habisnya terus menginginkannya saat dia kembali melihat tubuh Fara yang menggoda.
Jelas-jelas Fara sudah terlihat sangat lelah karena terus menuruti permintaannya tapi pria itu terus saja menginginkan. Fara sudah menjadi candu untuknya yang selalu ingin dia serang dan serang dengan di iringi kenikmatan yang tiada henti.
Fara belum menjawab karena dia masih sangat enggan untuk membuka matanya, dia masih ingin tidur karena dia sangat lelah.
"Sayang, jangan tidur terus dong,"
Tangan Nando mulai bergerak liar, dia menyentuh pipi Fara yang begitu halus lalu di sambung dengan mengecupnya, "sayang, aku mau lagi," bisiknya.
"Ehmm," Fara hanya menggeliat saat tangan Nando terus nakal dan menjelajahi daerah yang sensitif namun Fara masih sangat enggan untuk membuka mata dia masih terlalu lelah juga mengantuk karena dari semalam Nando tak pernah mengizinkannya untuk tidur.
Di setiap Fara merasa lelah juga mengantuk Nando selalu menggendong Fara ke kamar mandi, menurunkan Fara di bathtub dan memandikannya, dan saat itu juga mereka tak diam tanpa melakukan pergulatan panas di dalam sana.
"Sayang, bangun lah. Bukankah kamu sudah makan? tenaga mu pasti sudah kembali kita lakukan sekali lagi sebelum kita pulang, Oke," bisiknya lagi.
"Hem..," hanya jawaban itulah yang Fara berikan beserta anggukan kecil yang membuat hati Nando seakan jingkrak-jingkrak kegirangan. Ternyata tak susah meluluhkan hati Fara, dengan sedikit saja rayuan dia langsung memberikan apa yang Nando minta.
Perlahan-lahan Nando mulai mengecup pipi Fara berpindah ke bibir hingga keduanya terus beradu pedang lidah. Tangan Nando menarik tubuh Fara membuatnya tidur miring dan berhasil membuat Fara menghadap ke arahnya.
"Sayang, kamu sungguh manis, kau membuat ku ingin lagi dan lagi untuk menyentuhmu," ucap Nando di sela-sela permainan mereka.
"Cepat nikahi aku, Sayang. Maka semuanya akan menjadi milikmu kau akan bebas melakukannya kapanpun saat kamu menginginkannya," jawab Fara.
"Pasti sayang, pasti." ucap Nando.
Nando terus menggempur Fara tiada henti menikmati setiap lekuk tubuhnya dan memberikan tanda kepemilikan di semua tempat, dan itu membuat Fara semakin mengerang penuh kenikmatan.
Di saat keduanya sudah sampai puncak keduanya sudah tak tahan, mereka kembali melakukan hubungan itu di luar halal namun itu seakan tak menjadi masalah untuk Fara, toh Nando akan bertanggung jawab dan akan segera menikahinya, sekarang atau besok Fara juga akan tetap memberikannya bukan? pikir Fara yang begitu naif.
/////
Bersambung...
__________
__ADS_1