Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
98.Tersesat


__ADS_3

...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...


..._______...


Mata Arini terbelalak, mulutnya berkecamuk dan sesekali menelan ludahnya dengan kesusahan.


"Pak tuan? " Arini semakin gemetar saat melihat Arya yang sudah keluar dari mobil dan berjalan semakin dekat.


Dengan tubuh yang semakin gemetar Arini tetap di buat bingung dengan kedatangan Arya ke kediamannya. Ini sudah malam, yang jelas bukan lagi jam kerja Arini yang bisa di kendalikan oleh Arya.


Dinginnya malam tak berguna sama sekali untuk Arini, udara berubah menjadi panas sekarang sampai membuat Arini berkeringat. Sebenarnya apa yang Arya lakukan di jam gini? Arini tidak tau sama sekali apa maksud dari kedatangannya tapi di lihat dari wajahnya sama sekali tak mengisyaratkan kalau dia dalam keadaan baik-baik saja. Ada yang aneh dalam diri Arya, apalagi kalau bukan sebuah amarah.


Kaki jenjang Arya semakin cepat mendekat, kenapa rasanya cepat sekali sampai di hadapan Arini. Arini diam, tapi matanya terus fokus pada wajah berbentuk oval juga netra yang berwarna hitam milik Arya. Jika saja aura kemarahan itu tidak ada pastilah terlihat sangat sempurna ketampanannya apalagi di hiasi dengan tautan alis yang sama seperti ulat bulu. Tebal juga hitam.


Pakaian Arya masih sama seperti yang tadi siang pakai sepertinya dia sama sekali belum menggantinya, dan baju itu sudah terlihat sangat kusut tidak halus seperti tadi. Mungkin Arya yang menambahkannya dengan gerakan tangan karena kemarahan.


Arini telan saliva-nya sendiri dengan begitu susah saat tubuh gagah Arya sudah berhasil berhenti dihadapannya. "𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘨𝘪? 𝘚𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘗𝘢𝘬 𝘵𝘶𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘢𝘳𝘢𝘩? " Pertanyaan muncul di dalam benak Arini. Mana mungkin dia tidak akan berpikir seperti itu setelah apa yang dia lihat saat ini.


Astaga tuh mata pak tuan, begitu menyeramkan dan begitu tajam. Seolah ingin menguliti Arini karena berhasil membuatnya merinding bahkan bulu kuduknya langsung berbaris dengan rapi.


"Pak tuan ke... eh...! jangan sembarangan tarik-tarik, Pak Tuan! " belum juga Arini menyelesaikan pertanyaan pergelangan tangannya sudah di tarik dengan paksa oleh Arya. Bagaimana mungkin Arini akan diam saja tanpa protes kan?


Arya tak peduli, dia tetap menarik Arini. Membawanya ke mobil dan memaksa Arini masuk di kursi penumpang di sebelah pengemudi, "masuk! " hanya satu kata itu saja yang baru keluar dari mulut Arya tapi entah nanti.


"Pak tuan, ini sudah malam! Arini tidak boleh pergi lagi!!" Arini masih berusaha untuk berontak dia tak mau di ajak Arya pergi kemanapun saat ini.


Tak peduli lagi dengan teriakan Arini Arya langsung memakaikan 𝘴𝘦𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘭𝘵 pada Arini. Dia hanya diam tapi tangannya yang terus bergerak dan saat Arini mau memaksa keluar Arya mendorongnya dan menutup pintu dengan keras.


"Pak tuan! Arini tidak mau pergi! " teriakan Arini hanya bagia angin lalu untuk Arya dia sama sekali tidak peduli dengan suara Arini yang hanya seperti teriakan semut, tidak masuk sama sekali di telinganya.


Arya berjalan memutar langkahnya juga sedikit cepat. Ari sungguh tak ingin sampai Arini kabur darinya sekarang dia ingin membawa Arini pergi entah kemana Arya juga belum tau arah tujuannya.

__ADS_1


𝘉𝘳𝘢𝘬𝘬...


Arini terkesiap saat Arya tiba-tiba membanting pintu mobil. Hatinya sungguh terselimuti dengan awan kemarahan yang begitu tebal saat ini.


Tanpa menoleh juga berbicara lagi Arya langsung tancap gas. Sungguh hatinya sedang dongkol karena cemburu yang belum dia sadari. Dia hanya menganggap itu hanya sebuah kekesalan karena Arini selalu membangkang akan kata-katanya tapi sejatinya hatinya benar-benar sedang di panaskan dengan api kecemburuan.


"Pak tuan, Arini tidak mau pergi. Ini sudah malam tidak baik kalau wanita pergi saat malam-malam begini," ucapannya terdengar gemetar karena takut. Ketakutan Arini di sebabkan karena Arya yang melajukan mobil dengan cepat juga dengan keadaan marah.


"Pak tuan! Arini mau turun! " teriak Arini. Tangannya terus berusaha untuk membuka pintu tapi tidak bisa karena di kunci secara otomatis oleh Arya. Sungguh rasanya ingin Arini mencongkel pintu itu supaya terbuka dan dia bisa keluar tapi dia tidak bisa. Tangannya bukan besi yang bisa sekuat itu.


Mobil terus melaju Arya benar-benar tak menghiraukan semua ocehan Arini yang semakin ketakutan.


Sampailah mobil mereka di tempat pedalaman yang sepi akan orang-orang. Bahkan tak ada penerangan sama sekali hanya lampu mobil saja yang berhasil menyinari jalan yang hanya tatanan batu.


𝘎𝘭𝘦𝘨... 𝘎𝘭𝘦𝘨... 𝘎𝘭𝘦𝘨...


Mesin mobil mati sepertinya karena kehabisan bahan bakar.


Kemarahan sungguh menutup mata hatinya, bahkan Arya tidak menjadi dia berbelok dimana hingga akhir mereka berhasil berhenti di dekat hutan seperti sekarang.


Arya menoleh, dia semakin kesal karena melihat Arini yang ternyata tidur begitu pulas. Entah karena ketakutan atau karena dia memang sangat lelah sudah bekerja seharian juga karena perjalanan panjang.


"Ihhh..! " Arya menggaruk tengkuknya dengan frustasi, niatnya ingin memberikan hukuman pada Arini dan sekarang apa yang dia dapat. Dia seperti di hukum oleh alam. Bahkan dia seperti sendiri karena Arini yang meninggalkannya tidur.


Tangan terus bergerak berkali-kali dia memutar kunci berharap bisa menyalakan mobilnya tapi naas, mobil sama sekali tidak mau menyala.


"Ini dimana lagi? " wajahnya terus tolah-toleh mencari sebuah ingatan yang mungkin terselip rapi dalam kepalanya. Mungkin dia pernah melewati tempat itu tapi sepertinya tidak atau belum pernah sama sekali. Karena tak kunjung dia temukan akan memori dari tempat gelap itu.


𝘒𝘶𝘬... 𝘒𝘶𝘬... 𝘒𝘶𝘬...


Suara burung malam burung hantu membuat Arya merinding. Biarpun dia tak terkalahkan dalam hal apapun tapi dia belum pernah menghadapi kejadian yang seperti sekarang.

__ADS_1


"Astaga..., suara apa lagi sih! " bukan hanya tengkuknya saja yang tiba-tiba gatal tapi semua kepalanya yang tertutup akan rambutnya. Tak mungkin Arya tiba-tiba punya kutu dan menggigiti seluruh kepalanya.


Arya tak berani membuka jendela mobil, apalagi keluar sekedar mengontrol mesin yang mungkin panas. Arya terus berada di dalam dengan kekesalan.


Arya menoleh, dilihatnya wajah Arini yang terlihat begitu tenang saat tertidur. Bukannya marah kali ini Arya malah di buat terpana dengan wajah polos Arini yang hanya berhiaskan make-up tipis juga lip care yang berwarna natural.


Kulit Arini tidak terlihat hitam tapi seperti sawo matang. Takarannya sungguh pas tak ada kekurangan dan terlihat begitu sempurna. Ternyata kecantikan tidak terletak di kulit yang berwarna putih.


Arya semakin mendekatkan wajahnya, memandangi wajah Arini dan semakin dekat lagi.


𝘋𝘦𝘨... 𝘋𝘦𝘨... 𝘋𝘦𝘨...


Alunan musik yang keluar dari jantungnya terdengar begitu merdu juga penuh irama. Benih-benih cinta mulai tumbuh, apalagi setiap saat selalu di siram dengan perlakuan Arini yang selalu membuatnya tak bisa marah ataupun berpaling.


"𝘈𝘥𝘢 𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨𝘬𝘶? " gumamnya.


Bukan hanya jantungnya saja yang memberikan reaksi, tapi hatinya juga mulai memberikan getaran yang tak menentu. Kadang jelas, kadang hilang, dan kadang samar-samar.


"𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢𝘪 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢. 𝘏𝘢𝘵𝘪𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘮𝘢𝘵𝘪, 𝘵𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪. 𝘐𝘯𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯, " batin Arya.


Dalam ketidakpercayaannya cinta itu mulai tumbuh, dalam ketidaksabarannya cinta itu juga mulai bersemi. Entah kapan Arya akan benar-benar bisa menyadari dan percaya kalau kini hatinya telah hidup kembali.


Jantung akan kembali berdebar saat cinta itu telah datang. Jantung juga hati akan menentukan sendiri siapa orang yang akan menjadi tempat berlabuhnya di masa depan.


Meski takdir akan berpaling tapi cinta tidak akan bisa di pungkiri dan di tolak kedatangannya. Begitu juga dengan cinta Arya untuk Arini yang tidak akan bisa di tolak meskipun takdir akan membawa perubahan untuk dunia mereka.


/////


Bersambung....


________

__ADS_1


__ADS_2