
...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...
...____...
Arini terus berontak saat Arya menggendongnya dan membawa masuk ke dalam ruangannya. Arini ingin sekali mencakar tuh wajah yang terlihat begitu santai meski Arini terlihat sangat marah.
"Pak tuan! turunin Arini, ini tidak pantas. Turunin! " teriak Arini begitu keras.
Suara Arini sama sekali tak berarti bagi Arya dia tetap asyik membawa Arini semakin masuk.
"Pak Tuan! turunin Arini! " pintanya lagi.
Arya berdecak kesal, dia juga ogah melakukan itu, dia hanya terpaksa demi sebuah drama untuk bisa mengusir Nadia, "dasar berisik! mau turun kan? oke saya turunin! " ucapnya kesal.
Tak ingin berlama-lama menggendong Arini apalagi dia yang terus protes membuat Arya kesal dan langsung melepaskan tangannya.
𝘉𝘳𝘶𝘬𝘬....
Dengan sengaja Arya melepaskan tangannya dan menjatuhkan Arini hingga punggungnya terbentur lantai yang pasti itu akan membuat Arini mengadu sakit sembari tangannya memijat punggungnya.
"Awww! punggungku! " pekik Arini, "Pak Tuan! kok menjatuhkan Arini di lantai begitu saja sih! jadi sakit kan punggung ku. Aww.... " keluhnya.
"Udah tulang kecil, rapuh kenapa harus bertanding dengan lantai yang begitu kuat? ya jelas menang lantainya kan. Dasar pak Tuan tak berperikemanusiaan, " omel nya.
Arya tetap tak peduli dengan semua celotehan dari Arini, dia asyik berfikir, entah apa yang dia pikirkan. Satu tangannya berkacak pinggang, satunya lagi sesekali menyisir rambutnya dan sesekali akan mengepal dan akan dia tiup.
Kesal tak di hiraukan Arini beranjak meskipun dengan susah payah, dia berniat untuk keluar dan meneruskan pekerjaannya setelah dia istirahat sebentar supaya rasa sakitnya hilang.
Baru saja dua langkah Arya menyadarinya dan langsung menarik hijab bagian belakang milik Arini. Wajah Arini kembali mendongak karena begitu kuat tarikan dari Arya tangannya langsung menahan hijabnya supaya tidak terlepas.
Arini semakin kesal, seneng banget sih bos nya itu menarik hijab, bahkan dia begitu senang melakukan itu seperti pengembala yang menarik dombanya saja.
"Mau kemana, saya belum izinkan kamu keluar," ucap Arya geram.
"Ihh! Pak Tuan kenapa sih seneng banget narik-narik hijab Arini? lepasin Pak, nih entar copot! " protes Arini.
"Makanya jangan keluar dulu, tunggu wanita itu pergi," jawab Arya.
Arini tertawa terbahak-bahak mendengar itu, tak dapat di percaya kalau Arya takut sama wanita itu. Lagian tadi Arini ccdengar dia adalah calon istrinya, bagaimana bisa masih calon saja sudah takut seperti itu bagaimana kalau sudah nikah.
Tingkah Arini membuat Arya lebih kesal tentunya, berani sekali Arini menertawakan seorang Arya Gautama yang maha Kuasa.
__ADS_1
"Kenapa kamu ketawa!? apa menurutmu semua itu lucu!" sinis Arya.
Arini langsung kicep setelah Arya berbicara. Apalagi saat melihat mata tajam seakan ingin menguliti dari Arya, sungguh membuat Arini bergidik ngeri bahkan bulu kuduknya berdiri dan berjajar rapi.
"Ti-tidak, Arini tidak menertawakan Pak Tuan," wajah Arini melengos dia harus pintar mengendalikan situasi kalau dia ingin selamat dari bos kurang se-on's nya itu.
Arya berjalan menuju meja kerjanya duduk di kursi bergeraknya dan mulai dengan kerjaannya, sementara Arini masih berdiri diam mengamati pergerakan Arya.
"Pak Tuan, Arini keluar ya?"
"Nanti! " jawab Arya begitu acuh.
𝘛𝘰𝘬... 𝘛𝘰𝘬... 𝘛𝘰𝘬....
"Tuan," suara Toni yang mereka berdua dengar.
"Masuk! " teriak Arya.
Toni masuk setelah mendengar teriakan dari Arya. Mata Toni menyipit saat melihat Arini ada di sana, bingung saja pagi-pagi begini Arini sudah santai.
"Tuan, saya... " Toni melirik ke arah Arini dia tak mungkin mengatakan tentang Arini di hadapan dia kan?
"Kamu, keluar! " pinta Arya.
Arya memandangi Toni dengan serius dia tau kalau ini pasti tentang Arini, "bagaimana, apa yang kamu dapatkan. "
"Baik Tuan, saya akan katakan semua," ucapan Toni terhenti , tangannya mengulur memberikan sebuah amplop coklat kepada Arya, "ini Tuan."
Dengan cepat Arya menerimanya juga langsung membukanya, sebuah foto-foto orang asing yang tentunya Arya tidak mengenalnya.
"Mereka adalah keluarga Arini, Tuan. Ayahnya pemilik kebun teh di desa XX sementara Ibunya hanyalah ibu rumah tangga biasa. Dia juga memiliki dua kakak perempuan, satu bernama Fara juga Melisa. Dan Melisa, dia bekerja sebagai staf di sini, Tuan, " penjelasan Toni di jeda.
Satu persatu Arya lihat semua foto, dan benar saja ada salah satu gadis yang dia kenal dia adalah Melisa yang bekerja di sana.
"Tapi sekarang dia tinggal dengan nenek juga kakeknya, Tuan. Dia diusir dari rumah. Dari berita yang saya dengar dia berbuat mesum di kebun teh bersama laki-laki asing, dan dia kepergok oleh warga hingga akhirnya dia di usir," ucap Toni menjelaskan panjang lebar.
"Berbuat mesum?" Arya mengernyit, tak bisa dia percaya kalau Arini melakukan hal itu. Di sentuh sedikit saja Arini sudah protesnya kayak orang demo mana mungkin dia benar-benar melakukan itu?
"Apa masih ada yang lain?" tanyanya dan Toni langsung menggeleng.
"Tidak Tuan," jawab Toni, "semua identitasnya kuga sudah ada di situ, Tuan. "
__ADS_1
Arya mengangguk namun matanya masih terus melihat satu persatu foto juga sebuah biodata dari Arini yang ada di tangannya,"pergilah," pintanya.
"Baik, Tuan." Toni membungkuk sesaat lalu benar-benar pergi dari sana.
"Benarkah Arini melakukan itu? tapi mana mungkin, dia terlalu polos untuk itu. Atau jangan-jangan dia hanya berbuat sok jual mahal karena ini adalah cara untuk mendekatiku? Hemm..., aku harus buktikan sendiri," gumamnya sembari menyeringai penuh maksud dan tujuan yang licik.
//////
Tak akan tinggal diam begitu saja bagi Nadia setelah dia di usir dengan tidak hormat dari perusahaan Arya. Lebih kesalnya lagi karena Arya sendiri yang melakukan itu padanya.
Kini Nadia sudah sampai di depan rumah utama milik keluarga Gautama, dia sudah tak sabar ingin mengadu semuanya kepada orang yang membuatnya datang ke tempat Arya.
𝘛𝘰𝘬... 𝘛𝘰𝘬... 𝘛𝘰𝘬..
"Permisi!! " teriaknya.
Nadia kembali mengetuk pintu, menunggu sesaat sampai akhirnya ada perempuan yang sudah tidak mudah lagi keluar tapi perempuan itu masih terlihat sangat cantik karena sepertinya dia rutin melakukan perawatan.
"Nadia! "
"Tante...," rengek Nadia. Nadia memeluk Luna dengan sangat erat, mengeluarkan air mata palsu untuk membuat Luna simpati padanya, "tante, Nadia di usir. Arya memperlakukan ku dengan sangat buruk," ucapnya.
Yang jelas wajah Luna langsung berubah tidak bersahabat, dia seketika marah mendengar pengaduan dari Nadia.
"Apa yang dia lakukan?"
"Dia, membentak ku, Tan. Dia juga lebih membela istri jeleknya itu ketimbang Nadia."
"Istri? istri apa maksudmu, Nadia!? Arya belum menikah!" Luna begitu terkejut, jelas dia tidak akan percaya jika anaknya itu sudah menikah. Sebobrok-bobroknya Arya dia tidak akan menyembunyikan pernikahannya kepada orang tuanya.
"Siapa gadis itu?" tanyanya dengan nada menekankan.
"Namanya adalah Arini, Tan. dia sangat jelek, dia si buruk rupa dan sepertinya juga bukan orang terpelajar, dia orang rendahan, Tan. Saya takut kalau dia mendekati Arya hanya karena hartanya saja...., gimana dong, Tan.Apa lebih baik Nadia mundur saja?" tanya Nadia basa-basi.
"Tidak tidak! kamu tidak boleh mundur. Biar tante yang mengurus gadis itu. Arya harus menikah dengan mu saja bukan dengan gadis itu ataupun gadis yang lain,"
Nadia menyeringai, dramanya telah berhasil membuat Luna jatuh pada perangkap nya. Dia kaya, dia memiliki segalanya, tapi dia juga sangat antusias untuk memiliki Arya yang dalam sejenak bisa membuatnya jatuh cinta.
"𝘒𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘬𝘶 𝘈𝘳𝘺𝘢, " 𝘣𝘢𝘵𝘪𝘯𝘯𝘺𝘢.
/////
__ADS_1
Bersambung...
_____