Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
109. Apakah Bermasalah


__ADS_3

...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...


...________...


Tak sabar Arya menunggu kedatangan Arini dan kini dia hanya terus mondar-mandir tak jelas di depan pintu ruangannya sendiri. Entah sampai kapan penantiannya akan berujung sudah waktunya Arini datang namun gadis itu masih saja belum nongol.


Berdiri ke tempat satu ke tempat yang lain, pekerjaan yang begitu menjenuhkan sebenarnya tapi Arya belum bisa bekerja dengan fokus jika dia belum melihat Arini.


"Mana sih tuh anak! Apa dia benar-benar tak menghiraukan ancaman ku lagi? " ucapnya dengan ngotot.


Baru saja kemarin pergi satu hari satu malam berdua saja tapi Arya masih saja tidak merasa puas. Padahal yang dia lakukan hanya bersifat keisengan saja pada Arini tapi dia sangat puas melakukan itu.


"Pagi Tuan," sapa Toni dengan formal.


"Hem.. " hanya deheman saja yang menjadi jawaban dari Arya sepertinya dia memang berniat untuk lebih irit dalam bicaranya. Mungkin memang dia siapkan untuk Arini saja.


Toni masih berdiri di sana, ada informasi penting yang ingin dia katakan pada Arya dan itu harus sekarang dan tidak boleh di tunda-tunda lagi.


"Kenapa kamu masih di sini, apa kamu tidak berniat untuk bekerja!? " belum juga Toni mengatakan informasi yang dia dapat tapi kata-kata Arya sudah berhasil membuatnya bungkam lagi setelah hampir mulutnya mulai terbuka.


"I- ini, Tuan. Saya mendapatkan informasi mengenai Arini. Sebenarnya Arini... "


"Nah, itu dia," Arya berlalu pergi tanpa mendengarkan Toni sama sekali. Itu semua karena kedatangan Arini yang kini baru saja keluar dari lift.


Tentunya Toni kembali diam, nggak mungkin kan dia akan bicara sendiri tanpa siapapun yang mendengarkannya. Padahal Toni memiliki Informasi yang sangat penting dan juga sudah di jamin keakuratannya. Alias asli.


"Tuan," panggil Toni tapi Arya sama sekali tidak menoleh.


Segitu menariknya kah kedatangan Arini itu sampai-sampai Arya tak mempedulikan apapun lagi.


"Aku akan katakan nanti saja, kalau aku katakan sekarang itu tidak mungkin karena ada Arini di sini, kalau dia dengar entah apa yang akan dia rasakan yang pasti dia akan sangat sedih."


Toni putuskan untuk pergi ke ruangannya saja daripada dia di sana juga pasti akan menjadi nyamuk atau penonton atau sejenisnya.

__ADS_1


Sementara Arya kini tengah mengeluarkan senyum devil ke arah Arini yang sudah berjalan dengan waspada setelah melihat Arya yang semakin dekat dengannya.


Ada niat terselubuk sepertinya sampai-sampai wajah Arya tak seperti biasanya.


Tapi hanya beberapa saat saja Arini merasa gugup, dia mengingat sesuatu yang ada di ponselnya. Foto yang luar biasa tak pantas menurutnya. Foto yang tak perlu di abadikan.


"Pak Tuan, hapus fotonya yang kemarin itu dong," Arini sibuk mengeluarkan ponsel dari tasnya. Setelah itu baru dia memberikannya pada Arya.


"Foto apa? " tanya Arya dengan begitu datar juga sangat santai.


"Ya.., ya foto yang kemarin itu. Arini tidak mau sampai ada orang yang melihatnya. Bisa-bisa Arini di omelin sama fans berat, Pak Tuan. Kan banyak tuh, cewek-cewek yang naksir setengah mati pada pak Tuan," cerocosnya yang mulai tak terkendali.


"Kalau mau, hapus saja sendiri. Aku tidak keberatan foto itu selalu ada di sana. Kalau kamu memang mau hapus hapus saja. Lagian sebesar apapun kamu berusaha menghapus itu foto pasti akan ada lagi dan lagi. Karena apa? "


Arya juga mengeluarkan ponselnya, menyalakan dan memperlihatkan pada Arini.


"Karena fotonya juga ada di ponselku. Kamu bisa saja menghapusnya tapi aku tidak akan membiarkan kamu melupakannya."


"Hapus dong, Pak Tuan! Arini takut kalau sampai ada orang yang tau! " suara Arini semakin tinggi sepertinya dia mulai kesal dengan apa yang Arya lakukan seenak hati.


"Tidak.., kalau saya bilang tidak juga tidak akan pernah," Arya kembali mengantongi ponselnya dia mulai melangkah setelah dia berbalik. "Ikuti aku," pintanya.


"Kemana? " tanya Arini kepo. Ada yang kurang rasanya kalau tidak bertanya dulu kemana dan mungkin mau apa.


"Tidak usah banyak bertanya. Cepat ikut dan lakukan apa yang aku katakan," jawab Arya tanpa menoleh.


Berawal dari saya dan sekarang sudah menjadi aku dan kamu, sepertinya akan ada peningkatan lagi dalam hati mereka berdua. Semoga saja suatu saat nanti bisa berganti yang lebih baik lagi. Amin.


Arini mengikuti Arya dengan sangat gelisah dia tau pasti pak Tuannya itu sudah merencanakan sesuatu dan mungkin sekarang Arini akan mendapatkannya.


"𝘚𝘦𝘮𝘰𝘨𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘭 𝘣𝘶𝘳𝘶𝘬, " batin Arini yang hanya bisa berharap.


Ruangan Arya yang menjadi tempat dimana Arya mengajak Arini. Arini di buat terbelalak dengan keadaan yang ada. Ruangan begitu kotor bahkan banyak sekali bungkus-bungkus makanan ringan juga kulit kacang berserakan di sana.

__ADS_1


"Astaga, ini kantor atau kapal pecah? " ucapnya yang masih melongo.


"Saya minta, kamu bersihin semua ini dengan benar. Semua sampah harus hilang semua sudut juga harus bersih. Pokoknya aku mau kamu bersihkan semua ini. Waktumu hanya satu jam dari sekarang," ucapnya panjang lebar.


Astaga, benar-benar melebihi emak-emak yang lagi memberikan mandatnya. Bahkan para emak-emak juga tidak akan sampai segitunya.


"Sa-satu jam! " pekik Arini. Tak dapat di percaya jika waktu sesingkat itu yang dia dapatkan.


"Iya, satu jam. Karena setelah itu masih ada pekerjaan lain yang harus kamu kerjakan lagi. Pekerjaan sudah menunggumu Arini. Semua ini kan karena kamu libur kemarin," ucapnya lagi.


Pengen sekali rasanya Arini getok tuh kepala pak Tuannya supaya ingat dengan apa yang dia lakukan kemarin, kemarin dia tidak berangkat kan juga karena Arya sendiri tapi kenapa sekarang jadi menyalahkan Arini?


"Sabar-sabar," Arini hanya bisa mengelus dada. Tak akan bisa dia melawan perintah dari Tuan besar yang sangat berkuasa.


"Baik, akan Arini kerjakan," Arini sudah siap pergi dari sana tentunya untuk mengambil semua alat-alat yang dia butuhkan.


"Ehh...! Siapa yang memintamu pergi. Semua sudah di siapkan. Ada di sana," tunjuk Arya dengan jari telunjuknya mengarahkan ke kamar mandi.


"Hem..," jawab Arini sembari mengangguk pelan. Arini tak mau banyak bicara dia akan kehabisan tenaga jika dia terus berkomentar.


"Kamu tidak akan bisa jauh-jauh dariku, Arini. Kamu mungkin bisa acuh sekarang tapi tidak untuk selamanya," ucap Arya. Ya, itulah menurut Arya. Bagaimana tidak dia mengatakan itu, sekarang Arini terlihat acuh karena Arini hanya irit bicara sepertinya dia juga sedikit menjaga jarak aman dari Arya.


Sungguh bahagia bisa melihat Arini setiap saat, meskipun dengan alasan pekerjaan yang dia berikan tapi setidaknya Arya tidak akan jauh-jauh dari Arini.


𝘋𝘦𝘨... 𝘋𝘦𝘨... 𝘋𝘦𝘨....


"𝘈𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨 𝘬𝘶? 𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘣𝘦𝘳𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩? " batin Arya.


//////


Bersambung..


________

__ADS_1


__ADS_2