
Happy Reading,...
"Hahaha..." Tawa Arya terpingkal saat Arini juga tiba-tiba membuka mata dengan mulut yang sudah menggigit makanan yang terbuat dari Ayam itu.
"Pak Tuan...!"
"Hahaha..."
Begitu geram yang Arini rasakan, Pak Tuannya sungguh keterlaluan karena mengerjainya. Kini Arini merasa sangat malu karena dia telah berhasil menggigit makanan dari Arya.
Seandainya bisa ingin sekali Arini menggigit Arya saja karena saking geramnya tetapi Arini tak bisa melakukan itu.
"Pak Tuan nakal!" Selayaknya anak kecil kini Arini merajuk, dia membuang muka melengos begitu saja dari pandangan Arya yang masih saja terpingkal gak habis-habis.
Meskipun merajuk Arini ya tetap Arini yang sangat menggemaskan juga dapat menarik perhatian dari Arya, Arini tetap menggigit makanan itu dan mengunyah dengan gerakan giginya yang cepat.
"Jangan merajuk begitu, tuh kan jadi belepotan," Arya mengusap saus yang menempel di sudut bibir Arini. Begitu lembut Arya melakukan itu sampai membuka Arini terpaku tatap memandangi Arya yang lagi-lagi memberikan perhatian lebih kepadanya.
"Kalau belepotan begini nanti kamu juga bisa di gigit semut, iya kalau semut nya kecil dan hanya menginginkan sausnya kalau semut nya besar dan menginginkan bibirmu juga, kan nanti semut nya yang di rugikan," Arya tersenyum mendengar ucapannya sendiri, dia ingin dengar apa pendapat Arini tentang semut besar yang sebenarnya dia maksud adalah dirinya sendiri.
"Emang ada ya semut besar yang memangsa bibir manusia?" Tanya Arini yang lagi-lagi tidak paham dengan plesetan yang Arya gunakan.
"Ada," jawab Arya. Tangannya sembari bergerak menyuapi Arini dengan sendok dan Arini juga langsung menerimanya.
"Semut apa, semut hitam?" Arini semakin di buat penasaran.
"Bukan, tetapi semut putih dan tampan," kedua mata Arya berkedip secara bergantian, dengan begitu genit Arya terus saja menggoda Arini yang kini sudah terbiasa dengan cara-cara Arya yang seperti itu.
Tak dapat di percaya bahwa Arya yang dulunya dingin, angkuh, cuek-cuek bebek bisa begitu manis dan juga lembut kepada Arini. Dan kenapa cuma dengan Arini saja Arya terlihat seperti kucing rumahan yang begitu jinak dan takut di tinggalkan oleh majikannya.
"Belum pernah lihat semut tampan itu seperti apa, Pak Tuan pernah lihat? Pak Tuan pernah kenalan juga?" benar-benar tak akan sampai otak Arini untuk menanggapi plesetan dari Arya.
"Dia tinggal dimana? Bolehlah kenalin sama Arini siapa tau Arini bisa kepincut padanya," Imbuh Arini.
Kali ini Arya yang terbelalak, dia tidak mau Arini memuji siapapun atau apapun kecuali dirinya saja. Padahal semut tampan kan dia sendiri yang katakan tetapi Arya malah terlihat kesal sekarang.
"Tidak boleh, kamu tidak boleh kenalan sama siapapun, kamu juga tidak boleh kepincut sama siapapun. Karena apa? Karena kamu hanya boleh kepincut kepadaku saja, tidak ada yang lain. Ngerti," Arya terlihat begitu kesal sekarang dan kini berhasil membuat Arini terkekeh.
Sebenarnya Arini tau apa yang Pak Tuannya itu maksud hanya saja dia ingin saja mengerjai Pak tuannya siapa tau dia melihat reaksi lain, dan ternyata benar Arini melihat Arya yang begitu takut kehilangan Arini.
__ADS_1
"Kenapa tidak boleh, bukannya Pak Tuan saja bisa tuh kepincut dengan wanita lain, kenapa aku tidak boleh?" sengaja Arini membuat kepala Arya memanas, dan sekarang ubun-ubun Arya benar sudah ngebul.
"Tidak, aku tidak lagi kepincut wanita lain. Hanya kamu saja yang ada di hatiku," ucap Arya kikuk.
"Oh, nggak mau jajan lagi? Di luar sana kan banyak yang cantik-cantik. Yang bisa memuaskan mata Pak Tuan juga semua yang Pak Tuan miliki. Kalau Arini? Kan nggak bisa di sentuh, hanya bisa di lihat saja."
"Sekarang memang tidak bisa, tapi besok pasti bisa."
"Kalau Arini tidak mau?"
"Aku akan memaksanya."
"Kalau tetap tidak bisa apakah Pak Tuan akan pergi dan mencari kepuasan diluar?"
"Tidak, aku akan tetap bertahan menunggu apa yang sudah menjadi hak milik...., tunggu tunggu..., kenapa sekarang kamu begitu cerewet, apakah kamu sudah mulai pandai sekarang?"
"Mana ada, Arini kan bodoh, nggak akan bisa jadi pandai."
"Hem..., tak masalah lah. Meski kamu bodoh aku akan tetap mencintaimu."
"Tidak, ini nyata, kalau tidak percaya belah saja dadaku dan kamu akan dapat melihat kalau hanya ada kamu di dalamnya."
"Hahaha..., Pak Tuan ini aneh, Arini hanya satu dan juga tidak ajaib bisa keluar masuk di dada orang."
"Nyatanya kamu bisa masuk di hatiku, mau ngelak apa lagi? Akk..."
Arini tak menjawab karena mulutnya sudah terlalu penuh dengan makanan yang Arya suapin.
"Ti..."
"Akk..., makan dulu baru bicara. Kamu harus tambah lima kilo dalam satu minggu. Dan kamu harus menjadi gemuk saat menjadi mempelai ku."
Mata Arini terbelalak, bagaimana mungkin satu minggu lima kilo. Arini juga tidak mungkin bisa menjadi gemuk karena dia pikir memang tulangnya saja yang terlalu kecil.
"Sudah, jangan melotot lagi kalau tidak mau aku yang memakan mu."
Arya terus menyuapi Arini hingga dia tak bisa bicara sekedar menjawab saja.
__ADS_1
"Setelah makan, bersiaplah. Aku mau mengajakmu ke suatu tempat."
Arini mengernyit, dia bingung sekiranya mau di ajak kemana Arini setelah itu.
"Kita akan lihat rumah masa depan kita. Dan setelah itu kita akan belanja semua perabotan untuk isi di dalamnya dan aku mau kamu yang memilih sesuai keinginan mu."
Arini menggeleng, dia pastilah tidak mau memilih semua perabotan untuk isi rumah Arya. Arini terlalu kampungan untuk masalah seperti itu.
"Kenapa? Apa kamu tidak menyukainya?" tanya Arya.
Sebenarnya juga bukan karena itu saja, melainkan Arini tidak mau melakukan hal yang belum seharusnya dia lakukan. Iya kalau mereka benar berjodoh, kalau tidak? Bukankah itu semua akan menyakiti hati Arya di masa mendatang.
"Yang pilih Pak Tuan saja. Arini hanya akan ikut saja. Kalau Pak Tuan suka pasti Arini juga akan suka," ucapnya.
"Tapi aku maunya kamu yang mengisi rumah masa depan kita. Aku yakin kamu bisa kamu lebih pintar daripada aku karena kamu juga bisa mengisi hatiku."
"Apa sih, Pak Tuan jangan aneh-aneh deh. Pokoknya Arini tidak mau. Kalau Pak Tuan memaksa lebih baik Arini tidak ikut," ancam Arini.
"Baiklah kalau begitu. Aku yang akan memilih semuanya untuk mu. Pokoknya yang paling terbaik untuk gadis baik dan calon istri dan ibu yang baik untuk anak-anakku."
"Hadeh..., udah ah! Arini mau mandi saja."
"Boleh ikut juga nggak?"
"Nggak!"
"Tapi aku pengen ikut, pengen di gosokin juga punggungnya supaya bersih."
"Gosok saja sendiri," Arini melangkah dengan cepat, bisa-bisa dia kenyang dengan gombalan Arya.
Bingung juga darimana Arya bisa pintar sekali gombal seperti sekarang. Belajar darimana coba.
Melihat Arini yang terlihat ketus membuat Arya malah tersenyum puas, dia bisa melihat sisi Arini yang lain, sisi di balik kelemahan juga penyabarnya.
Arya juga harus bisa membuat Arini bisa lebih kuat dalam hal apapun. Karena setelah mereka benar-benar bisa menikah ujian untuk Arini pasti tidak akan mudah. Jalan hidupnya akan berubah pesat dari gadis biasa menjadi nyonya Gautama yang akan menjadi iri dari semua wanita yang selalu mengincar Arya.
"Kamu harus bisa lebih kuat daripada aku, Arini. Karena ujian mu pasti akan lebih berat daripada aku. Tetapi bukan berarti aku akan membiarkanmu begitu saja, aku akan selalu ada untukmu dalam menjalani perubahan dalam kehidupanmu." gumam Arya.
__ADS_1
~~~||~~~~
Bersambung...