Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
91. Nama tak lazim


__ADS_3

...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...


Arini juga Dimas sudah sampai di rumah makan sederhana yang tak begitu jauh dengan perusahaan Gautama. Niatnya Dimas ingin mengajak Arini ke tempat yang sedikit mewah tapi gadis itu menolaknya.


Arini juga tak mengharapkan makanan yang mewah-mewah, hanya makanan sederhana saja yang dia ingin makan. Lidahnya sudah terbiasa dengan makanan yang simpel bukan makanan mahal ala-ala restoran ternama.


"Kamu beneran hanya mau makan itu saja, Arini? " tanya Dimas, tatapannya begitu penuh perhatian dengan Arini. Seolah ada rasa di hati yang ingin terus berkembang, harapannya juga semakin dalam, tapi ada rasa satu titik yang menolaknya.


Hati Dimas terus bergetar, tapi kenapa rasanya sungguh aneh. Perasaan apa sebenarnya yang mulai tumbuh itu, rasa sayang ingin melindungi, atau rasa cinta ingin memiliki? Dimas sungguh tak mengerti tentang kebenaran dari hatinya.


Belum lama Dimas mengenal Arini, tapi rasanya sungguh dekat. Dimas seolah-olah sudah mengenal sangat lama.


Arini pun juga demikian, dia sangat nyaman berada di dekat Dimas tapi sama sekali tak ada rasa cinta yang tumbuh melainkan rasa sayang selayaknya saudara.


Arini hanya mengangguk pelan, dia sudah cukup dengan apa yang sudah dia pesan. Perutnya juga perut mini tak akan muat dengan makanan yang berlebihan. Katanya kalau kekenyangan sedikit malah seperti orang yang mau masuk angin, karena dadanya terasa sesak.


"Baiklah," ucap Dimas lagi dengan pasrah. Mungkin memang semua itu sudah cukup maka Dimas akan hargai itu.


Tak lama mereka menunggu pesanan mereka datang, hanya nasi putih dengan beberapa lauk juga ada sayur sesuai keinginan Arini.


"Ngomong-ngomong, makanan kesukaanmu sama persis seperti makanan kesukaan mama, Loh. Bahkan kalau di lihat-lihat bentuk wajahmu, juga beberapa hal lainnya juga agak mirip dengan mama. Seandainya kalian mama dan anak sepertinya akan sangat cocok," ucap Dimas.


Keduanya sudah mulai menyuapkan sedikit demi sedikit makanan yang ada di hadapan mereka.


Memang Arini sungguh mirip dengan Nilam hanya warna kulit saja yang membedakan mereka berdua, bahkan Nilam juga memiliki lesung pipi sama seperti Arini.


Mendengar penuturan Dimas membuat Arini tersedak di suapan yang pertama. Dia sendiri juga menyadari itu tapi tidak mungkin kan kalau Arini adalah anak dari Nilam, pikir Arini.


𝘜𝘩𝘶𝘬... 𝘜𝘩𝘶𝘬... 𝘜𝘩𝘶𝘬...


Dengan cepat Dimas mengambilkan gelas yang berisi air putih untuk Arini, dia begitu sigap saat Arini tersedak.


"Kamu kenapa? kamu tidak apa-apa kan? " tanya Dimas. Tangannya sudah menyodorkan gelas itu kepada Arini.

__ADS_1


Tangan Arini juga dengan cepat mengambil gelas itu dari tangan Dimas dan juga meneguknya. Arini mengangguk, namun tangannya masih setia mengusap bibirnya juga menutupnya.


"Kamu kenapa? " tanya Dimas untuk yang kedua kalinya.


"Hem.., Arini tidak apa-apa kok, Kak dokter," jawab Arini. Tidak mungkin dia mau menceritakan nasibnya yang hanya anak buangan. Jika Dimas tau pasti dia akan lebih kasihan lagi padanya dan Arini tidak mau terus mendapatkan simpati dari siapapun.


"Beneran? " Ya Allah, pria satu ini begitu sangat perhatian dengan Arini. Suaranya begitu lemah lembut, perlakuannya juga begitu halus kepada Arini, siapapun pasti akan mudah menyukai Dimas, menjadikannya dia laki-laki idaman yang sangat sempurna untuk bisa di miliki tapi kenapa sedikitpun tidak ada rasa dari Arini. Sungguh aneh bukan?


"Iya, Arini baik-baik saja kok," Arini hanya tersenyum kecil saja sebagai ungkapan darinya bahwa dia benar-benar baik-baik saja.


Namun senyumnya mulai pudar saat dia mengingat lagi akan semua nasibnya.


"𝘈𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘣𝘶𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯. 𝘒𝘢𝘬 𝘥𝘰𝘬𝘵𝘦𝘳 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘵𝘢𝘶, 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘢𝘶 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘥𝘪𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯𝘪 𝘬𝘶, 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘵𝘶. 𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘶𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘶𝘥𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢𝘱𝘶𝘯, " Batin Arini.


"Pak dokter, Arini pamit ke toilet sebentar ya," pamit Arini.


Dimas mengangguk. Tapi dia merasa bahwa Arini menyembunyikan sesuatu darinya, tapi apa?


"Hemm... " Dimas mengangguk mengizinkan, "jangan lama-lama, kita harus cepat kembali kan? " imbuh Dimas.


Arini buru-buru berdiri, dia pergi mendekati salah satu pelayan rumah makan itu untuk bertanya di mana letak toiletnya.


Terlihat Arini berbicara dengan pelayan, tangan pelayan itu juga menunjukkan tempat yang di tanyakan oleh Arini dan itu tak pernah terlepas dari pandangan Dimas.


"Sungguh sama persis seperti mama. Ishh..., apa yang kamu pikirkan, Dim? semua hanya kebetulan saja," ucap Dimas sembari menggeleng.


Baru saja beberapa saat Arini pergi ponsel Arini yang berada di atas meja berdering.


"Sungguh gadis ceroboh," ucap Dimas. Bagaimana tidak, dengan begitu tenangnya Arini menaruh ponsel itu di atas meja, bagaimana kalau sampai ada orang yang mengambilnya, atau kalau sampai dia lupa pasti akan hilangkan?


Ponsel Arini masih terus berdering membuat Dimas sangat penasaran. Dia begitu kepo ingin mengetahui siapa yang menelponnya.


"Bos tampan? " Dimas mengernyit. Siapa coba yang dengan pedenya memberikan nama pada ponsel Arini dengan nama yang tak lazim itu.

__ADS_1


"Astaga, Bos tampan? ini pasti tuan Arya," tebak Dimas dengan asal tapi sepertinya memang iya.


"Apa aku angkat saja ya, coba deh," tanpa ada rasa keraguan Dimas mengangkat telfon dari Arya. Dia siap mendengarkan apa yang akan tuan muda itu katakan.


"𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪, 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦 𝘳𝘶𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘶, 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨! " 𝘴𝘦𝘳𝘶 𝘈𝘳𝘺𝘢 𝘵𝘢𝘬 𝘴𝘢𝘣𝘢𝘳𝘢𝘯.


Nah kan benar sesuai perkiraan, dia adalah Arya. Tuan muda yang begitu menakutkan.


Tapi Dimas tetap tenang, dia tak ada rasa takut sama sekali dari dalam hatinya.


"Maaf tuan, Arini sedang di toilet, kalau dia kembali akan saya sampaikan," jawab Dimas dengan tenang.


"𝘏𝘢𝘭𝘰, 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶! 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘱𝘰𝘯𝘴𝘦𝘭 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘬𝘢..!"


𝘵𝘶𝘵... 𝘵𝘶𝘵...𝘵𝘶𝘵..


Dengan sengaja Dimas mematikan telfonnya, dia tak mau lagi mendengar ocehan tuan mudanya. Entah apa yang akan dia katakan jika tau yang bicara adalah dirinya.


"Apa yang akan aku katakan? hadeh.., nasibku benar-benar di ujung tanduk," Dimas bingung sendiri. Kesalahannya sendiri karena tak mikir dulu sebelum mengangkat ponsel orang lain.


"Eh.., Kak dokter kenapa?" Dimas terkesiap saat Arini tiba-tiba datang.


"Hem.., tidak apa-apa. Yuk di teruskan makannya, waktunya hampir habis," ucap Dimas mengalihkan.


Arini kembali duduk tapi dia sedikit bingung dengan perubahan wajah dari Dimas yang terlihat berbeda dari sebelumnya.


"𝘈𝘥𝘢 𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘬 𝘥𝘰𝘬𝘵𝘦𝘳 𝘺𝘢? 𝘒𝘰𝘬 𝘢𝘯𝘦𝘩 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘦𝘵. 𝘛𝘢𝘥𝘪 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪, 𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘩𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘤𝘢𝘮𝘯𝘺𝘢? 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘨𝘪𝘭𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘯𝘺𝘢? " Batin Arini.


Keduanya kembali melanjutkan makannya dengan diam, hanya fokus saja dengan makanan mereka masing-masing.


Dimas juga harus secepatnya mengembalikan Arini ke perusahaan Gautama entah masalah apa yang menunggunya sekarang.


/////

__ADS_1


Bersambung....


""""""


__ADS_2