Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
276.Ada apa dengan Raisa


__ADS_3

Happy Reading...


**********


Cahaya masuk melalui celah celah dari jendela yang masih tertutup dengan gorden. Sinar matahari yang mulai tinggi mengenai wajah dari seorang gadis yang tertidur pulas di dalam penginapan.


Dia adalah Raisa gadis yang dibawa oleh Dimas semalam. Terasa ada benda yang berada di dadanya membuat Raisa langsung membuka mata dan seketika matanya membulat saat melihat tangan kekar yang memeluk dan pas berada di atas dadanya. Lebih tepatnya berada di atas dua bukit kembar yang benar-benar identik.


Raisa terperanjat, dia langsung bangun dan mengejutkan Dimas yang masih tertidur begitu pulas-nya. Ya, itu terjadi karena Dimas benar-benar sangat kelelahan.


"Tu_Tuan! Apa yang Tuan lakukan! Tuan mau melecehkan saya!" Suaranya langsung ngegas setelah melihat Dimas.


Sementara Dimas kesadaran belum genap, dia masih terus mengerjapkan mata membuatnya semakin jelas. Dimas belum puas dalam tidurnya.


"Eh, sejak kapan aku tidur di sini?" Dimas bingung sendiri, dia tidak sadar kalau dia dari semalam tidur di sana.


"Kok aku bisa tidur di sini?" Dimas kembali bertanya pada dirinya sendiri.


Mata Raisa membulat, tidak mungkin Dimas tidak sadar kalau dirinya ada di sana. Apalagi posisi mereka benar-benar dekat, hingga hembusan nafas dari Dimas bisa Raisa rasakan.


"Tuan jangan pura-pura bingung gitu deh. Saya tau, tuan pasti ingin melakukan hal yang tidak baik kan pada Raisa!" Raisa tetap ngotot, dia mana mungkin percaya kalau Dimas benar-benar tidak sengaja berada di sana.


"Benar Raisa. Saya tidak menyadari kalau saya juga itu tidur di sini. Saya saja bingung kenapa bisa." Jawab Dimas.


"Bohong, Tuan pasti bohong kan!"


"Tidak Raisa. Tapi kalau kamu anggap seperti itu ya sudah. Lagian kamu tidak percaya kan dengan apa yang aku katakan. Tapi ya, menurutku ini awal yang bagus loh, Raisa. Ini awal yang sangat manis," Dimas cengengesan mengatakan itu.


Bagaimana mungkin bukan awal yang baik, meski tanpa sengaja tapi mereka berada di satu ruangan bahkan berada di atas satu ranjang.


Dimas mengedipkan mata menggoda, dan itu terlihat sangat genit.


"Neng Raisa. Rambutnya wangi banget. Keningnya juga sangat lembut aku sangat suka. Uh, beruntungnya bibir ini. Akhirnya bisa memberikan kecupan di kening Neng Raisa."


Lidah Dimas menjulur keluar, menjilat bibirnya sendiri.

__ADS_1


"Yang lain pasti akan sangat enak ya, Neng," Dimas semakin menggoda.


Dimas mengangkat kedua tangannya, berniat iseng menggoda Raisa. Kedua tangannya hampir menyentuh pipi Raisa tapi gadis itu langsung ambruk lagi di ranjang.


Dimas benar-benar iseng, dia masih melancarkan aksinya. Mendekati Raisa dengan senyum menggoda. Raisa di kurung Dimas di bawahnya.


"Jangan, jangan lakukan ini. Lepaskan aku, lepaskan aku!" Raisa menjerit ketakutan. Wajahnya seketika pucat dengan terus berteriak histeris.


Matanya tertutup dengan tangan yang memukuli tubuh Dimas.


Dimas langsung terkejut dia beranjak dengan kebingungan. Sebenarnya apa yang terjadi kepada Raisa. Apakah dia pernah mengalami hal yang buruk sampai-sampai dia teriak seperti sekarang ini saat Dimas mendekatinya.


Di tangkap tangan Raisa yang terus bergerak memukulinya. Dimas benar-benar tak mengerti apa yang telah terjadi kepada Raisa.


"Raisa, ada apa. Apa yang terjadi." Dimas sangat panik.


"Lepasin aku, jangan sentuh aku. Jangan sentuh aku! Dasar laki-laki br*ngsek. Lepasin aku, lepas!" Raisa semakin histeris.


"Raisa, kamu kenapa?"


Tak lama setelah berteriak histeris Raisa menangis sejadi-jadinya. Dia juga meracau meminta di lepaskan.


"Jangan sentuh aku, jangan sentuh aku! Tolong, aku takut. Tolong!!" Teriaknya.


"Kamu kenapa Raisa. Apakah kamu pernah mengalami pelecehan?" Gumam Dimas lirih.


"Lepasin aku, lepasin aku!" Raisa semakin keras menangis, dia juga terus memukuli Dimas.


Bukannya melepaskan Dimas malah menarik Raisa dan memeluknya. Mengelus rambutnya dengan sangat lembut, berharap dengan itu Raisa aja tenang.


"Jangan sentuh aku, jangan sentuh aku!" Raisa masih berusaha berontak tapi kekuatannya tak sekuat Dimas. Dimas semakin kuat memeluknya dan akhirnya Raisa tak lagi berontak dan berhenti berteriak.


"Siapa yang telah tega melakukan ini kepadamu, Raisa. Apakah karena ini kamu sangat sulit membuka hatimu untukku?" Gumam Dimas.


************

__ADS_1


"Loh, Nduk. Suamimu di mana, kok di tinggal," Bu Sulasmi yang tak melihat menantunya terpaksa menanyakan kepada Nisa yang sudah keluar lebih dulu.


Raisa menoleh, "Mas Toni sedang bersih-bersih, Bu. Sebentar lagi juga keluar." Nisa tersenyum manis.


Bu Sulasmi mengernyit, kenapa Toni baru bersih-bersih setelah siang. Berarti mereka berdua?


"Ternyata pagi ini masih kekeringan." Celetuk Bu Sulasmi.


Nisa terlihat sangat bingung. Kekeringan? Maksudnya apa coba. Padahal semalam terlihat gerimis jadi mana mungkin kekeringan?


"Maksud ibu? Bagaimana mungkin kekeringan kalau semalam gerimis?" Nisa tak tau plesetan yang Bu Sulasmi katakan. Padahal maksud bu Sulasmi adalah Nisa juga Toni yang belum belum melakukan apapun semalam.


"Bukan apa-apa," Jawab bu Sulasmi.


Bu Sulasmi keluar dari dapur dengan membawa secangkir kopi yang akan dia berikan kepada pak Karna sementara Nisa masih diam dalam kebingungan.


"Astaghfirullah hal 'azim!" Nisa terkejut saat tiba-tiba ada yang menyentuh bahunya.


"Kamu sedang memikirkan apa?" Toni yang datang dan telah mengejutkan Nisa.


"Mas, bu_bukan apa-apa. Mas mau kopi atau teh saja?" Tanya Nisa ramah.


"Teh saja." Jawab Toni.


Toni tersenyum, sebenarnya dia sudah keluar dari tadi, dia mendengar apa yang bu Sulasmi katakan, dia sangat tau apa yang Bu Sulasmi maksud tentang apa kekeringan itu.


"Besok kita buat pagi menjadi basah." Celetuk Toni.


"Maksudnya?" Nisa kembali tidak mengerti.


"Hee.., besok kamu juga akan tau."


▀▄▀▄-▄▀▄▀


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2