
Happy Reading...
Begitu bingung wanita paruh baya itu setelah sampai di kota. Ternyata awal kehidupan di kota tak semudah seperti yang dia bayangkan. apalagi dia yang hanya membawa sedikit bekal saja dan setelah bekal itu menipis dia sangat kebingungan.
Siapa lagi wanita itu kalau bukan Ratna. Ratna yang tega meninggalkan suaminya sendiri di rumah setelah dia menghina akan kemiskinannya yang tengah dia alami sekarang.
"Aku harus kemana?" Ratna begitu bingung. Dia gak tau arah tujuan untuk singgah.
"Apa aku cari saja anak pungut itu ya? dia kan sekarang kaya raya. Dia sudah bertemu dengan keluarga kandungnya yang kaya, juga sudah menikah dengan pria nomor satu di negara ini, pastilah dia tidak akan eman kan memberiku tumpangan," matanya berbinar setelah mengatakan itu.
"Tapi di mana rumahnya?" dia kembali berpikir, dia tidak tau di mana Arini tinggal sekarang, dan dia juga sebenarnya tidak yakin akan di terima tapi tak apalah, semua harus di coba kan?
"Ke sana atau ke sana ya?" jarinya menunjuk arah yang berbeda dengan bergantian, tentunya dengan mata dan tubuh yang mengikuti pergerakan dari tangannya.
"Kalau tidak menemukan anak pungut itu setidaknya aku bisa menemukan orang tuanya. Ya itung-itung minta bayaran selama aku membesarkannya. Di dunia ini kan tidak ada yang gratis? ya aku harus mencarinya," ucapnya lagi.
Ckiitttt....
Akkk... *Brak*..
"Hey! kalau pakai mobil lihat-lihat dong! apa nggak lihat ada orang sebesar ini apa! mentang-mentang orang kaya, heyy! turun!" ucapnya begitu kasar saat dia hampir saja menjadi korban dari mobil Pajero berwarna putih yang kini berhenti di hadapannya.
Sementara di dalam mobil tampak Luna yang sangat panik. Meski dia tidak mengendarai sendiri tapi dia sangat terkejut dengan kejadian ini.
Supirnya hampir saja membunuh orang, bagaimana mungkin dia tidak sangat panik kan?
"Pak, hati-hati dong! tuh lihat, hampir saja kita menabrak orang. Bagaimana kalau dia tidak terima kan bisa berbahaya, Pak!" Luna langsung ngedumel kepada sopirnya yang dia rasa kurang berhati-hati, padahal orang yang hampir di tabrak saja yang tidak lihat-lihat saat menyebrang.
"Hey, turun! apa setelah mau menabrak orang tidak mau bertanggung jawab!" seru Ratna jengkel.
Sopir itu turun dari mobil, dia juga bergegas untuk minta maaf. Ya, meski dia sendiri tidak bersalah sih sebenarnya.
"Maaf, Nyonya. Saya tidak sengaja. Lagian Nyonya sendiri nyebrang tidak lihat-lihat dulu," Ucap Sopir.
Mata Ratna terbelalak, mana mungkin dia mau di salahkan seperti sekarang ini. Dalam kamus hidupnya dia tidak pernah melakukan kesalahan, bagaimana mungkin sekarang dia yang bersalah.
"Hey, kamu berani menyalahkan ku! jelas-jelas kamu yang bersalah, sekarang kamu malah mau nuduh begitu saja!"
"Saya tidak mau tau, sekarang kamu harus bertanggung jawab. Apa kamu tidak tau, saya ini memiliki penyakit jantung! bisa saja saya kenapa-napa setelah ini. Jadi saya minta kamu bertanggung jawab," oceh nya.
"Tapi itu kan bukan salah saya, Nya. Anda sendiri yang jalan tidak lihat-lihat," Sopir Luna tetap kekeh, dia juga tidak mau mengakui apa yang tidak dia lakukan.
"Oh, jadi anda tidak mau bertanggung jawab, iya! atau saya harus teriak sekarang supaya Anda di hajar masa!" ancam Ratna.
"Ada apa sih, Pak! lama sekali!" Luna menyembulkan kepalanya dari jendela tentu itu langsung di lihat oleh Ratna yang masih marah-marah.
__ADS_1
"Ini, Nya! Dia minta tanggung jawab, jelas-jelas dia sendiri yang bersama!"
Luna keluar dari mobil, tangannya juga langsung merogoh tasnya dan mengeluarkan uang lembaran merah beberapa lembar.
"Ini kan yang Anda minta. Sekarang pergilah dan jangan ganggu perjalanan saya," seloroh Luna sadis.
"Ayo, Pak! saya tidak mau terlambat sampai rumah. Kita harus secepatnya sampai sebelum suami saya sampai di rumah," Luna langsung berlalu setelah memberikan uang itu kepada Ratna.
"Baik, Nyonya. Sopir menunduk hormat, dia juga langsung mengikuti Luna masuk ke dalam mobil.
Mobil kembali berjalan meninggalkan Ratna yang masih terpaku melihat Luna. Ratna masih terus berpikir seolah dia mengenal Luna.
"Sepertinya orang itu tidak asing, dia siapa ya? sepertinya aku pernah melihatnya?" Ratna masih sangat bingung, dia berjuang sangat keras untuk mengingat siapa wanita yang barusan bertemu dengannya.
"Masa bodoh dia siapa, yang penting aku bisa mendapat uang. Lumayan lima ratus ribu, bisa untuk bertahan hidup selama beberapa hari," dia begitu senang melihat uang yang ada di tangannya itu.
"Ternyata tidak susah membohongi orang-orang kaya di kota. Hanya mengatakan itu saja dia langsung memberiku uang. Meski terlihat pintar tapi ternyata bodoh juga."
"Ah, aku jadi lapar. Cari makan dulu lah."
••••••••••
Baru saja sebentar Arini berada di dapur Arya sudah datang menjemputnya. Dia langsung memeluknya dari belakang dan membuat Arini susah untuk bergerak.
Baru juga menu pertama dia masukan ke dalam wajan tapi Arya sudah mengganggunya.
Arya benar-benar tak mau membiarkan Arini sendiri, dia juga tidak rela sebenarnya melihat Arini yang bekerja.
"Sudahlah sayang. Tidak usah masak ya. Kita delivery saja. Kamu bebas memilih makanan apapun. Aku tidak mau sampai kamu terus bekerja dan kecapean lagi."
"Tidak, Mas. Ini kan sudah biasa untuk Arini. Kalau Arini tidak melakukan apapun badan Arini rasanya malah pegel semua."
"Ya sudah, kalau pegel semua nanti tinggal aku pijit kan beres," jawab Arya.
Tak akan ada habisnya jika berdebat dengan Arya, tapi biasanya Arini yang akan menang tapi entah kenapa setelah menikah Arini menjadi lebih pendiam dari sebelumnya.
Mungkin karena Arini tidak mau di anggap berani dengan suami sendiri. Masak iya, suami berkata sepatah kata sementara istri berkata berpuluh-puluh kata.
Tapi kebanyakan seperti itu sih ya. 🤭🤭🤭
"Nggak ah, nanti minta imbalan lagi. Biasanya Mas kan kalau mengerjakan sesuatu untuk Arini pasti ada maunya. Jadi ogah," ucap Arini sok judes.
"Ya kan biar impas sayang. Kamu aku pijit nanti gantian aku yang di kasih pijit pakai plus-plus," Arya terkekeh mengatakan itu.
"Tuh kan bener. Kata Mas kemarin tidak boleh sering-sering karena lagi program. Masak iya satu belum di buahi dengan sempurna sudah di masukin lagi, nanti bingung dong."
__ADS_1
"Hah! emang kapan aku bilang seperti itu? perasaan nggak pernah deh?!"
"Hem, sok lupa. Sudah minggir! Arini mau selesai-in masakan dulu."
"Sayang, delivery saja ya?"
"Tidak! ini sudah mau matang Mas. Nanti mubazir. Nanti Makan ini saja, nggak usah aneh-aneh."
"Hem, bagaimana kalau Mas makan kamu saja?"
"Ih! Mas!"
Arini berteriak. Dalam bibirnya tersirat rasa kesal tapi juga ada senyum malu-malu karena Arya menggodanya.
"Hahaha! makan kamu lebih enak, Sayang! juga sangat mengenyangkan!" Arya masih saja menggoda padahal dia juga sudah jauh.
"Mas!" wajah Arini berkedut membuat Arya semakin tergelak melihatnya.
Tak berapa lama masakan Arini matang juga, semua sudah siap untuk di santap. Melihat Arya tidak ada di sana Arini naik untuk mencarinya.
Tak ada di kamar Arini kembali berjalan ke ruang kerja, mungkin suaminya ada di sana dan benar saja, suaminya tengah sibuk dengan laptopnya.
"Mas, makan dulu yuk. Sudah matang." ajak Arini seraya berjalan masuk.
"Sebentar lagi, Sayang. Ini hampir selesai."
"Oh iya, Sayang. Besok Mas sudah mulai berangkat ke kantor. Kamu mau ikut atau?" Arya menghentikan tangannya sebentar dan menoleh ke arah Arini.
"Arini? ikut bagaimana Mas aja deh. Arini akan ikut kalau Mas ajak. Kalau tidak ya Arini di rumah saja."
"Kalau di rumah bagaimana kalau Mas kangen? nanti nggak bisa sayang-sayangan dong?"
"Kalau kangen Mas pulang lah."
"Baiklah.Oh iya, besok ada orang yang akan bantu-bantu di sini datang. Semoga kamu bisa cocok dengannya."
"Pembantu?"
"Iya, Sayang. Mas tidak mau saja kamu ngerjain semuanya sendiri. Mana rumah sebesar ini lagi."
"Baiklah. Sekarang kita makan dulu yuk, Mas. Arini sudah lapar."
"Baiklah sayangku." Arya cepat menutup laptopnya dan berdiri. Merangkul Arini dan mereka turun bersama-sama.
""""""""
__ADS_1
Bersambung....