Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
192.Secepatnya


__ADS_3

Happy Reading...



Persiapan demi persiapan sudah mulai di lakukan. Tempat yang kemarin hanya biasa-biasa tanpa ada apapun juga los begitu saja tak terisi apapun juga kini mulai indah dengan berbagai hiasan.



Para pekerja juga terus bekerja, memberikan yang terbaiknya untuk Arya yang telah mengadakan acara pesta.



Semua hanya menginginkan yang terbaik, dan tentunya kepuasan untuk pelanggan yang nomor satu yang begitu kaya raya dan sangat di kenal hingga manca negara.



Arya sama sekali tak melihat semua persiapan yang tengah berlangsung, karena Arya lebih memilih menyerahkan semuanya kepada Toni asisten pribadinya.



"Tuan, apakah semua ini sudah sesuai dengan permintaan Tuan Arya?" tanya penanggung jawab yang menangani semua persiapan.



Sejenak Toni diam, dia melihat ke segala penjuru yang bisa dia jangkau oleh matanya. Setelah semuanya dapat dia lihat Toni mengangguk, semua sudah sesuai dengan yang Tuan Arya nya minta. Semuanya juga terlihat sangat sempurna.



"Sepertinya sudah. Saya akan bilang pada Tuan Arya, jika ada kekurangan saya akan menghubungi Anda secepatnya," jawab Toni.



"Baik Tuan," penanggung jawab itu juga mengangguk, terlihat ada senyum puas yang keluar dari bibirnya mungkin memang dia sangat puas karena kerjaannya telah berhasil dan tentunya akan memuaskan pelanggan paling spesial.



"Maaf, saya harus pergi. Tolong hubungi saya kalau ada sesuatu atau mungkin ada yang ingin di tanyakan," pamit Toni.



Masih banyak pekerjaan yang belum Toni kerjakan, dan semuanya juga harus selesai haru ini juga. Tentunya juga karena Arya sudah terus menghubunginya supaya Toni tidak melupakan perintahnya meskipun hanya satu saja.



"Silahkan, Tuan. Saya pasti akan menghubungi anda juga masih ada yang belum saya tau," jawab orang itu dengan sangat ramah tamah.


__ADS_1


Toni benar-benar pergi, kali ini tujuannya adalah ke butik. Mengambil gaun yang sudah Arya pesan untuk Arini.



Arya benar-benar ingin melihat Arini tampil menjadi gadis yang sangat sempurna, karena hari itu juga akan menjadi hari paling bersejarah untuknya.



Arya tidak diam saja di apartemen, dia masih saja di sibukkan dengan semua kerjaannya yang begitu menumpuk. Arya ingin semuanya selesai dengan baik, bukan hanya urusan asmaranya saja tapi juga urusan pekerjaannya.


setumpuk pekerjaan masih antri menunggu tangan Arya mengambilnya, menunggu untuk di tanda tangani juga butuh di koreksi olehnya.


Lelah juga kantuk tak menjadi alasan untuknya, dia tetap melakukan segalanya.


"Assalamu'alaikum, Pak Tuan," uluk salam Arini ucapkan. Gadis kecil dengan hijab berwarna hijau juga gamis berwarna sama itu mulai mendekat dan semakin dekat.


Tangannya membawa segelas kopi hitam yang dia sendiri yang memiliki inisiatif untuk membuatkannya untuk Arya. Arini merasa sangat kasihan, sudah berjam-jam berada di ruang kerja dengan pekerjaan yang begitu banyak pastilah membuat Arya lelah. Dan mungkin dengan segelas kopi buatannya bisa menghilangkan sedikit dari rasa lelahnya.


"Wa'alaikumsalam," senyum Arya begitu lebar, seraya mata menatap kedatangan Arini.


Begitu bahagia Arya sekarang. Mereka berdua belum sah tapi Arya tak pernah kekurangan perhatian dari Arini. Bahkan semua kebutuhannya juga Arini yang selalu menyiapkannya.


"Pak Tuan, ini Arini buatkan kopi pahit," ucapnya.


"Kok kopi pahit?" Arya mengernyit.


"Astaga, kena sendiri dengan omongan sendiri. benarkah aku harus minum kopi pahit?" batin Arya.


"Oh iya, saya lupa," Arya hanya bisa meringis dengan kecut. Tangannya juga langsung meraih gelas yang Arini bawa.


Sementara Arini juga langsung memberikannya.


Arya benar-benar mulai meneguknya, sesuai dengan yang Arini katakan Arya terus menatap wajah Arini sembari meminum kopinya.


"Benar-benar manis," ucapan Arya.


"Iyalah manis, kan gulanya banyak. Kalau hanya melihat wajah Arini saja mana mungkin bisa manis? kopi kalau tanpa gula ya akan tetap pahit lah," seru Arini.


"kamu tidak istirahat?"


"Arini tidak bisa tidur, Pak Tuan. Entah kenapa tapi Arini merasa sangat gelisah, seperti ada sesuatu yang akan terjadi tapi apa Arini sendiri tidak tau," jawab Arini dengan mata memandangi laptop Arya tapi dengan kosong.


"Terus, dimana Raisa? bukankah aku memintanya datang untuk menemani mu?" ya, Raisa memang masih di sana sejak kemarin, dia sama sekali tidak di perbolehkan keluar apalagi pulang. Arya sangat takut kalau Raisa akan keceplosan pada orang lain tentang rencananya juga tentang keberadaan Arini sekarang.


"Mbak Raisa? mbak Raisa tidur. Dia sangat kelelahan karena membantu Arini bersih-bersih," jawab Arini menjelaskan.


"Sekarang kamu masih bisa melakukan apapun yang kamu mau, Arini. Tapi tidak untuk beberapa hari lagi. Setelah kamu menjadi istriku, menjadi nyonya Arya tak akan aku biarkan kamu menyentuh pekerjaan apapun. Kamu harus di perlakukan selayaknya seorang ratu," batin Arya.

__ADS_1


"Doorrr...! Jangan melamun, Pak tuan. Nanti kesambet loh!" ucapnya setelah mengejutkan Arya dari lamunannya.


"Nggak melamun pun aku sudah kesambet," jawabnya dengan enteng.


"Kesambet apaan?" Arini mengernyit.


"Kesambet kamu, hhhh..." begitu senang Arini menggoda Arini, apalagi kalau sampai dia berhasil membuat gadis kecil itu tersipu malu, sungguh sebuah kepuasan tersendiri.


"Gombal!"


"Hhhhh... dah ah! Arini mau kembali. Jangan lama-lama, Pak tuan. Kalau lelah istirahat dulu jangan sampai sakit. Nanti Arini yang repot," ucapnya.


"Sakit tak masalah, kan ada kamu yang akan merawat ku."


"Nggak ah! meski Arini tak masalah merawat Pak tuan, tapi Arini lebih senang kalau Pak tuan selalu sehat. Kalau Pak tuan sakit siapa yang akan menjadi super hero nya Arini?"


"Iya, Aku tidak akan sakit. Aku akan selalu sehat demi kamu, demi kita demi masa depan kita juga demi anak-anak kita."


"Pak tuan waras?" celetuk Arini, matanya membulat dengan wajah yang mendekat.


"Aku selalu waras, Arini. Tapi semenjak ada kamu aku selalu kehilangan kewarasan."


"Ya udah, Arini pergi saja kalau Pak tuan tidak waras. Takut tertular," Arini mulai membalikkan badannya.


"Arini..." mata Arya memandangi Arini berharap gadis itu akan membalikkan badannya lagi ke arahnya.


Dan benar saja, Arini kembali menoleh.


"Ada apa?"


"Apa kamu bahagia bersamaku?" tanya Arya dengan sang serius.


"Hemm... Arini sangat bahagia," Arini mengangguk, dia juga tersenyum begitu manis.


"Kalau begitu tetaplah ada di sampingku untuk selamanya. Jangan pernah berpikir untuk pergi."


"Biarkan Allah yang menjawabnya, Pak tuan. Arini hanya mengikuti alur yang sudah Allah berikan," Arini menunduk sejenak lalu kembali menoleh ke arah Arya, "jadikanlah Arini halal untuk Pak tuan terlebih dulu, maka Arini tidak akan pergi meski Pak tuan yang memintanya, Assalamu'alaikum..." Arini kembali melangkah dia benar-benar keluar dari ruangan Arya.


"Secepatnya!" seru Arya dan berhasil menghentikan langkah Arini.


Arini tak lagi membalik ke arah Arya, dia juga tidak menoleh tapi dia hanya menunduk dengan senyum juga dengan jantung yang terus bekerja dengan sangat kuat.


Tak lama Arini dalam posisi itu lalu dia pergi.


"Saya janji Arini, secepatnya kamu akan aku halalkan."


__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2