Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
300. Pasrah aja lah


__ADS_3

Happy Reading...


********


Setelah melewati beberapa perdebatan kecil akhirnya sampai bisa juga Arini mendapat kaus couple berwarna pink yang dia inginkan. Dia sangat senang, dia terus memeluk kaus itu yang hanya di bungkus dengan kresek tipis berwarna hitam saja.


Bibirnya terus mengulas senyum, ada rasa kepuasan yang dia dapat meskipun hanya dengan membeli sebuah kaus saja.


Tak ada lagi yang ingin dia beli, sudah seperti anak kecil yang sudah mendapatkan apa yang dia mau. Setelah itu dia lupa segalanya dan tak lagi menggubris apapun lagi, bahkan para pedagang yang terus menawari apapun Arini abaikan begitu saja.


Arini melangkah dengan semangat di depan dengan terus memeluk kreseknya. Sementara Arya, dia ada di belakangnya dengan sesekali melemparkan senyum kepada para pedagang yang Arini abaikan.


Sampainya di tempat parkir Arini berhenti di samping mobil, dan ternyata Susi sudah menunggunya di sana karena belanjanya sudah selesai.


Arya berhenti, matanya menerawang jauh karena dia seperti melihat seseorang.


Arini yang penasaran karena Arya tak bergerak mendekati, Arini memanggilnya namun Arya tidak mendengar sama sekali.


"Mas, kita pulang yuk. Arini udah nggak sabar pengen coba kausnya," kata Arini.


Arya tak menanggapi, entah siapa yang dia lihat sampai dia tak mendengar Arini sama sekali.


"Mas!" suara Arini sudah mulai naik tapi Arya masih bergeming.


Mata Arini mengikuti arah mata Arya, terlihat ada seorang wanita berparas cantik, tinggi, rambut lurus juga terlihat anggun. Wanita itu tengah berdiri di sisi jalan sepertinya tengah menunggu taksi atau mungkin angkutan.


"Akk! sakit sakit!" keluh Arya saat Arini tiba-tiba menarik telinganya dengan kuat.


Tangan Arya langsung memegangi tangan Arini dan hendak menghentikannya tapi sangat susah. Ternyata meskipun kecil Arini punya tenaga besar juga.


"Ampun, Yang! lepasin. Telingaku bisa lepas ini," Arya terus memohon.


Mata Arini begitu nyalang penuh amaran, dia tau siapa yang Arya lihat meski Arini tidak mengenalnya. Yang jelas dia adalah wanita yang lebih cantik daripada dirinya. Istri mana yang tidak akan panas jika suaminya mengabaikan dirinya demi wanita lain.

__ADS_1


"Udah berani main mata ya! Mas nggak ingat dengan anak Mas! Mas nggak malu gitu?" ucap Arini begitu nyinyir.


Sepertinya hati Arini memang begitu panas karena cemburu. Entah kenapa Arini begitu sensitif sekarang, tapi kesalahan Arya juga sih.


"Bukan begitu, Yang. Ta_tapi... Aduh duh! sakit sakit," Arya semakin meringis sakit saat Arini semakin kuat menarik bahkan dia juga sedikit memutarnya.


"Tapi apa? dia lebih cantik daripada aku, gitu kan?" udah mulai nguap nih amarah Arini.


"Iya... aww!" Arini semakin memutarnya.


"Tuh kan," Arini seketika cemberut tapi tangan semakin kuat di telinga Arya.


"Iya, dia memang cantik. Aw! dengar dulu, Yang! Memang dia lebih cantik, tapi cintaku hanya sama kamu. Di hatiku hanya kamu seorang, Yang."


"Prett! Nih, pakai sekarang. Ini sebagai hukuman, Mas!" kaus pink lengan pendek Arini berikan pada Arya, dan itulah hukumannya.


"Se_sekarang?" mata Arya membulat tak percaya. Jelas Arini langsung mengangguk saat itu.


Mata Arya melihat sekeliling, begitu banyak orang bahkan mereka juga ada yang berbisik-bisik saling mengatakan kalau mereka mengetahui siapa orang yang ada di hadapan mereka, Arya Gautama.


"Sekarang, kalau tidak mau jangan harap nanti bisa masuk rumah. Mas harus berasa di luar sampai besok, juga nggak boleh pergi. Sekali mas keluar dari gerbang maka gerbang akan tertutup untuk Mas," ancam Arini.


Astaghfirullah, siapa sebenarnya pemilik rumah, Arini atau Arya?


Dengan beraninya Arini melarang Arya masuk rumah bahkan jika Arya keluar gerbang pintu akan tertutup selamanya. Alamat jadi gelandangan nanti.


Arya memandang istrinya dengan memelas, berusaha bernegosiasi tapi belum juga mulutnya mengeluarkan kata Arini sudah menghentikannya.


"Tidak ada tawar menawar lagi. Pakai sekarang atau Arini pulang naik ojek," ucapnya.


Sadisnya. Ternyata begini rasanya punya bini yang sedang bumil. Harus selalu ngalah dan mengalah. Sekali saja tersinggung pasti akan ngomel minta ampun mana tidak ada keringanan lagi.


"Iya deh," pasrah aja lah, mungkin itu yang terbaik untuk Arya. Daripada hukuman akan semakin berat.

__ADS_1


Arya bersiap membuka kancing kemejanya saat itu juga tapi Arini kembali berteriak.


"Eh! Mas memang sengaja mau bikin cewek-cewek yang lewat itu ngiler? Mas mau lihatin tubuh kesemua orang!" serunya.


"Astaghfirullah, aku lupa, Yang!" Arya langsung masuk ke mobil jelas mau menjalankan apa yang menjadi perintah dari sang permaisuri.


Tak lama Arya kembali keluar setelah berganti dengan kaus pink yang tertuliskan nama Papa di belakang. Bahkan ada gambar love_nya lagi.


"Ih, bagus banget," puji Arini begitu heboh.


Kusut, itulah wajah Arya sekarang. malu itu pasti kan? Dalam sekejap saja dia sudah jadi bahan tontonan dari orang-orang yang lihat.


"Bagus kan mbak Suka-suka?" tanya Arini yang menoleh ke arah Susi.


"I_iya, Nya," Susi ingin tertawa tapi dia tahan. Dia sangat kasihan sebenarnya melihat tuannya di kerjain bininya habis-habisan begini. Tapi salah Arya juga sih, karena tidak bisa jaga matanya.


Emang siapa sih yang Arya lihat, kenapa dia begitu serius banget sampai-sampai di panggil Arini saja tidak mendengarnya.


"Sekarang pulang yuk," ajak Arini.


"Udah?" Arya mengernyit. Sepertinya dia sempat memikirkan sesuatu barusan.


"Emang Mas masih mau disini? atau mungkin mau keliling pasar lagi?" tanya Arini.


"Tidak tidak! kita pulang saja," jelas Arya akan langsung menolaknya. Akan semakin malu kan kalau sampai mereka beneran masuk ke pasar lagi.


"Ya ayo kalau mau pulang," Arini langsung menarik Arya bahkan dia yang membukakan pintu tempat pengemudi untuk Arya.


Setelah menutupnya Arini langsung menuju ke tempatnya. Kali ini dia sangat puas telah mengerjai suaminya.


"*Ya Allah, malang nian nasibku. Punya bini gini amat sih! semoga saja semua kelakuan anehnya akan hilang setelah melahirkan nanti kalau tidak bisa-bisa cepat tua aku," batin Arya.


...----------------...

__ADS_1


Bersambung*


__ADS_2