Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
168.Meminjam Uang


__ADS_3

Happy Reading...



"Apa yang kemarin di katakan oleh Raisa memang benar, Mama juga Arini mereka sangat mirip. Benarkah mereka adalah ibu dan anak? Tetapi sampai sekarang aku juga tidak tau bagaimana nasib adek, benarkah dia sudah meninggal atau masih hidup."



Dimas hanya berada di luar ruangan Nilam, terus berasumsi dalam kesendiriannya.



"Kalau adek sudah meninggal seharusnya ada beritanya, kan? Tetapi kalau misalnya dia masih hidup dia juga ada dimana, tidak mungkin Arini itu..."



Kring... Kring... Kring...



Belum juga Dimas menyelesaikan kata-kata ponselnya berdering dengan cepat Dimas mengambil lalu mengangkatnya



"Jemput Arini sekarang di depan perusahaan Gautama. Dia mau bunuh diri," ucap Raisa dari seberang.



"Maksudnya..., halo halo...!" seru Dimas tetapi ponselnya sudah mati.



"Ish dasar gadis satu ini. Tetapi benarkah Arini akan melakukan itu? Tidak tidak! Aku harus segera datang."



Dimas secepatnya berlari, dia tidak mau sampai apa yang di katakan oleh Raisa tadi adalah benar.



Dengan mobilnya Dimas pergi meninggalkan rumah sakit. Pikirannya seketika tidak bisa tenang dia juga harus melajukan nya dengan kecepatan tinggi.



"Arini, kamu harus baik-baik saja, kamu tidak boleh melakukan hal yang gila seperti itu," gumam Dimas.



Meski Dimas juga tidak percaya tetapi dia juga mempunyai rasa takut juga kan.



Sepuluh menit Dimas dalam perjalanan kini dia sudah sampai di depan perusahaan Gautama, gedung yang begitu besar yang beberapa saat yang lalu seperti Gedung yang menyimpan mistis karena Pemimpinnya sangat menyeramkan. Tetapi sekarang tidak! Perlahan ada perubahan.



"Itu dia Arini," Dimas cepat keluar dari mobil setelah melihat Arini yang sudah menunggu di depan gedung dengan menenteng tasnya.



"Alhamdulillah, dia baik-baik saja. Ini pasti hanya akal-akalan gadis itu saja," gumam Dimas.



Cepat Dimas berlari menghampiri.



"Arini, kamu mau pulang? Biar aku yang antar kamu sampai rumah," ucap Dimas dan kini berhenti tepat di hadapan Arini.


__ADS_1


Arini menoleh cepat, tidak terfikir kalau ternyata Dimas yang tadi di hubungi oleh Raisa.



"Tetapi Kak Dokter? Kakak kan harus bekerja sekarang. Arini bisa pulang dengan naik angkot kok," Arini hendak menolak rasanya tidak enak juga sih menggangu orang lain yang sedang bekerja.



Mata Arini mengedar ke arah jalan raya, berharap akan ada angkutan yang datang dan siap mengantarkannya pulang, tetapi ternyata tidak ada.



"Sudah, aku yang akan mengantarkan mu," tak meminta persetujuan lebih dulu Dimas menarik pergelangan tangan Arini begitu saja.



Dan entah mengapa Arini nurut begitu saja dan tidak menolak sama sekali.



Cukup aneh memang yang Arini rasakan sekarang, Arini merasa seolah dia di tarik dan di lindungi oleh kakaknya sendiri.



"Kak Dokter," panggil Arini tatapi Dimas tetap bergeming dan terus menariknya hingga sampai mobil.



Cepat Dimas membuka pintu di samping pengemudi dan meminta Arini masuk. Arini tetap tak menolak, dia ikut begitu saja.



Setelah Arini masuk Dimas langsung menutupnya dan dia melangkah memutar untuk masuk serta ke dalam mobil ke tempat pengemudi.



Perlahan mobil mulai berjalan meninggalkan tempat itu, untuk sekarang mereka berdua masih diam dan tak saling berbicara. Bahkan Arini hanya menoleh mengamati gedung tinggi itu.




"Maafkan Arini, Pak Tuan. Arini akan pergi dan pak Tuan harus bertanggung jawab untuk apa yang sudah Pak Tuan lakukan," batin Arini dengan sisa-sisa luka yang masih sangat membekas.



Bukan hanya Arini yang terus melihat Arya, tetapi Arya juga melihat Arini yang sudah berada di dalam mobil Dimas. Bahkan Arya juga melihat kalau Arini diam saja ketika Dimas menarik pergelangan tangannya.



"Arini...!" teriak Arya. Tapi sia-sia Arya berteriak karena Arini sudah tidak peduli dan tidak mau berurusan dengan Arya lagi. Tekat Arini sudah bulat, dia harus pergi dari kehidupan Arya. Mungkin itu adalah hal yang terbaik.



"Maafkan Arini, Pak Tuan. Arini butuh sendiri dulu. Meskipun Arini percaya tetapi bukti mengatakan semuanya. Pak Tuan harus bertanggung jawab, dan pak Tuan harus bisa melupakan Arini jika sekuat memang benar." batin Arini.



"Arini, apa kamu mau pergi ke suatu tempat dulu?" tanya Dimas.



Arini menoleh, mau kemana Arini sekarang bahkan tujuannya seakan tidak ada lagi. Dia seolah kehilangan arah tujuan. Dia bingung akan singgah di tempat mana yang bisa membuatnya tenang dan nyaman. Tempat yang bisa menghilangkan luka dan bisa membuatnya melupakan harapan-harapan tentang Arya juga semua kisah yang sudah dia lalui bersamanya.



"Kak Dokter, bolehkah Arini minta tolong?" Arini memandangi Dimas sejenak. Dan saat itu Dimas langsung menghentikan laju mobilnya.



"Bisa, apa yang bisa aku tolong?" Dimas menoleh ke arah Arini dan juga menatapnya.

__ADS_1



"Pinjamkan Arini sejumlah uang. Arini punya banyak hutang kepada seseorang," jawab Arini.



"Hutang?" Dimas mengernyit, benarkah Arini memiliki hutang? Tapi mungkin sih, hidup yang begitu susah dengan penghasilan yang hanya seberapa pasti membuat Arini berani berhutang demi memenuhi kebutuhannya, "berapa?" tanya Dimas.



"Seratus juta," Arini menunduk takut mengatakan itu.



Setelah mengatakan itu bisa di pastikan Dimas akan berpikir yang aneh-aneh kepada Arini. Bagaimana mungkin kan Arini memiliki hutang yang begitu banyak padahal Arini datang ke kota saja juga belum lama. Lalu? Hutang dengan siapa?



"Segitu banyaknya?" Dimas semakin tak percaya.



Arini mengangguk, dia berani mengatakan itu meski dia tidak yakin dia akan mendapatkannya dari Dimas. Tetapi mau darimana lagi Arini bisa mendapatkan uang segitu banyaknya. Arini hanya ingin membayar hutang-hutangnya kepada Arya yang membuat dirinya terikat di sana. Arini hanya ingin bisa terbebas.



"Kalau Kak Dokter tidak bisa pinjamkan juga tidak apa-apa kok. Arini akan mencari di tempat lain. Lagian Arini juga belum tentu bisa mengembalikannya dengan cepat," ucap Arini dengan wajah yang kembali sedih.



Begitu berat ujian Arini, apakah kedatangannya ke kota itu adalah sebuah kesalahan? Sampai-sampai belum lama tinggal di sana Arini sudah memiliki hutang yang begitu banyak.



"Arini juga tidak mempunyai barang apapun untuk di jadikan jaminan, jadi kalau Kak Dokter takut Arini tidak bisa mengembalikannya tidak usah saja," ucapnya lagi.



Sementara Dimas masih diam, dia masih bingung dengan yang Arini katakan.



"Baik, saya akan pinjamkan kamu uangnya. Kapan kamu membutuhkannya?"



Arini malah melongo saat Dimas menyetujuinya, padahal Arini yakin kalau Dimas tidak akan meminjamkannya.



"Kak dokter beneran mau pinjamin Arini uangnya?" Arini begitu senang. Niatnya untuk terlepas dari Arya akan segera terlaksana.



"Secepatnya," jawab Arini begitu yakin.



"Sekarang juga akan aku pinjamkan untukmu. Kita ke bank dulu untuk mengambil uangnya," Dimas bahkan tidak rafi sama sekali untuk meminjamkannya kepada Arini.



Begitu mudahnya Dimas percaya kepada Arini, bat dia sendiri juga tau kalau Arini belum tentu bisa mengembalikannya. Tapi tak masalah.



"Oh iya, kata Kakek. Kalung Arini yang ada pada Pak Tuan harganya sangat mahal. Bahkan bisa untuk membeli rumah. Jadi kalau suatu saat Arini tidak bisa mengembalikan uang Kak dokter, Kak dokter bisa meminta kalung itu pada Pak Tuan. Arini yakin dengan kalung itu bisa melunasi hutang Arini pada Kak dokter."



"Kalung..?"

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2