Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
288. Hamil


__ADS_3

Happy Reading...


...****************...


Arini terus menggandeng lengan Arya ketika masuk ke rumah sakit. Baru melihat para suster yang lalu lalang berpapasan dengannya saja Arini sudah takut, bagaimana kalau dia ketemu dengan dokter?


"Mas, Arini takut," Arini semakin mengeratkan tangannya, dia juga sesekali menyembunyikan wajahnya di balik lengan Arya.


Arya hanya tersenyum, istrinya terlihat sangat menggemaskan saat ini. Sungguh lucu sekali.


"Tidak usah takut, ada Mas yang ada di sini menemanimu." jawab Arya dengan sangat lembut, sembari tangan mengelus tangan Arini yang berada di lengannya.


Janji yang sudah Arya buat sebelum berangkat membuat dia tak harus antri seperti yang lain, lagian ini juga rumah sakit miliknya, bagaimana mungkin dia akan membiarkan istrinya mendapatkan pelayanan yang ecek-ecek.


"Tuan, Dokter sudah menunggu di ruangannya," ucap suster yang berdiri di depan pintu.


Ya, Arya langsung membawa Arini ke tempat dokter kandungan sesuai yang dia pesan.


"Baik, Sus," jawab Arya.


"Yuk sayang, kita sudah di tunggu dokter," ajak Arya. Tapi Arini seolah enggan untuk masuk. Arini malah menarik Arya keluar lagi, "kenapa?"


"Takut," Arini benar-benar terlihat sangat ketakutan saat ini.


"Apakah perlu Mas gendong?" tanya Arya. Namun Arini menggeleng. Dia sadar akan sangat malu kalau Arya benar-benar melakukan itu.

__ADS_1


"Ya sudah, sekarang kita masuk. Kamu tidak perlu takut, tidak akan terjadi sesuatu kepadamu. Mas pastikan itu. Oke," ucap Arya meyakinkan tentu dengan sangat sabar.


Meski masih dalam perasaan takut Arini mengikuti Arya yang juga terus menarik dan membujuknya. Ini harus cepat selesai kan? kalau tidak mungkin Arini akan semakin ketakutan di sana.


"Selamat pagi, Tuan." sapa seorang dokter cantik dengan tanda pengenal bernama Dokter Laras.


"Pagi," Arya menjawab singkat. Kemudian mengajak Arini duduk di kursi depan dokter Laras.


Dokter Laras begitu memahami apa yang terjadi kepada Arini, mungkin ketakutan ini juga masuk dalam perubahan hormon nya. Mungkin?


Dengan perlahan dokter Laras bertanya kepada Arini, dengan rasa takut dia juga tetap menjawabnya.


Tes urine harus Arini lakukan untuk menyakinkan. Setelah keluar dari dalam kamar mandi Arini juga kembali mendapatkan pemeriksaan. Tak lama Arini kembali di tempat semula.


"Bagaimana, Dok," tanya Arya tak sabaran. Sementara Arini sudah kembali merangkul lengan Arya.


"Hem, selamat ya, Tuan. Istri anda sedang hamil. Usianya masih enam minggu, masih sangat rentan. Jadi Tuan ataupun Nyonya harus menjaganya dengan baik."


"Nyonya tidak boleh kelelahan juga tidak boleh bekerja terlalu keras. Apalagi sampai mengangkat barang-barang berat. Itu akan sangat beresiko." jelas dokter Laras.


Mendengar dirinya hamil Arini langsung membulatkan matanya, tapi dia juga langsung berkaca-kaca.


Hiks hiks hiks...


Arini menangis tiba-tiba membuat Arya bingung. Tentu dengan dokter Laras juga.

__ADS_1


"Hey, sayang. Kamu kenapa, kok malah nangis? ini adalah hari bahagia untuk kita, Sayang. Sebentar lagi kita akan menjadi orang tua, Hem.." Arya menghapus air mata Arini yang sudah lancang meluncur dengan bebas.


Arini masih diam tak menjawab, tapi dia tetap tersedu dalam tangis.


"Sayang, sudah dong jangan nangis. Atau kamu mau apa?" begitu sabar Arya membujuk Arini. Meski susah seperti membujuk anak kecil tapi Arya tetap lakukan dengan sabar.


Hiks hiks hiks...


"Aku hamil," tangis Arini pecah seiring dengan dua kata yang keluar dari bibirnya.


"Iya, kamu hamil sayang. Terus kenapa kamu nangis?" Arya begitu heran, biasanya wanita yang mendapat kabar kehamilannya akan bahagia dengan penuh haru tapi kenapa dengan Arini?


"Arini nangis karena Arini bahagia, Mas." jawab Arini.


Arya tersenyum ternyata itu alasannya. Mungkin karena Arini begitu bahagia jadi dia menangis seperti sekarang ini. Kirain Arini menangis karena dia belum siap untuk hamil.


Bukan hanya Arya saja yang tersenyum, tapi dokter Laras juga sama. Keduanya terlihat gemas dengan bumil satu ini. Lucu dan unik. Entah apa lagi yang akan terjadi nantinya. Apapun yang terjadi Arya akan siap untuk menerimanya. Arya akan terus sabar.


"Ini resep obat untuk di minum Nyonya. Bisa Anda tebus di apotik," ucap dokter Laras.


"Terimakasih, Dok. Kalau begitu kami permisi." pamit Arya.


"Terima kasih, Dok." ucap Arini tapi masih tetap bersembunyi di lengan Arya. Arini merasa ngeri melihat orang berseragam putih. Kayak gimana gitu.


...****************...

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2