Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
292. Kesiangan


__ADS_3

Happy Reading...


◦•●◉✿"✿◉●•◦


Matahari terbit di ufuk timur, meski bukan di suasana pedesaan tetap terdengar suara burung yang mulai berkicau begitu merdu.


Sinar dari matahari juga mulai menyapa dua insan yang bangun kesiangan. Bukan karena kelelahan karena pekerjaan tapi karena semalam keduanya sama-sama tak bisa tidur.


Mereka adalah Dimas juga Raisa. Semalam mereka tak bisa tidur begitu saja. Namun keduanya saling diam dan menyembunyikan diri yang sebenarnya selalu terjaga sepanjang malam. Bahkan suara pekikan jangkrik-jangkrik juga mereka dengar.


Keduanya berada dalam rasa gugup, juga rasa gak enak. Entah apa yang tidak enak versi mereka. Hanya mereka yang tau.


"Astaghfirullah hal 'azim!" Pekik Dimas ketika mata sudah terbuka sempurna karena ulah dari sinar matahari yang menyapa wajahnya.


"Hah, kita kesiangan, Mas!" Tanya Raisa yang masih terus berusaha untuk mengumpulkan konsentrasinya dengan dunia terang.


"Iya, ini sudah jam enam tiga puluh. Sebelum jam tujuh Mas harus ke rumah sakit untuk persiapan operasi. Haduh," Dimas cepat turun dari kasur dia bergegas lari masuk ke kamar mandi untuk bersih-bersih.


"Tak biasanya Mas Dimas kesiangan seperti ini." Gumam Raisa. Bagaimana mungkin kan, biasanya Dimas akan bangun saat mendengar azan dan paling telat-telatnya juga saat suara iqamah. Tapi sekarang?


"Apa Mas Dimas juga tidak bisa tidur?" Pertanyaan itu muncul dari Raisa. Memang semalam dia melihat Dimas yang terlihat pules dalam tidurnya hanya saja ada beberapa kali Dimas bolak-balik tubuhnya dan terlihat sangat gusar.


Bukan Dimas saja yang terus beranjak, namun Raisa juga sama. Dia juga langsung turun dari ranjang, menuju lemari untuk menyiapkan baju yang akan Dimas pakai.


Begitu buru-buru Dimas bersih-bersihnya, gak sampai sepuluh menit dia sudah kembali keluar dengan tubuh yang basah juga rambutnya. Dimas tak memakai baju sekarang, hanya handuk saja yang dia lilitkan di pinggang.


Akkk!" Teriak Raisa histeris. Seketika Raisa menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


Sementara Dimas yang menyadari kesalahannya bukannya masuk lagi ke kamar mandi atau mengambil baju yang masih menggantung di tangan Raisa dan pergi dia malah menutup mulut Raisa supaya tidak teriak lagi.


Sttsss...

__ADS_1


"Jangan teriak-teriak, nanti kalau sampai dengar Mama di kira aku nyakitin kamu lagi. Diam ya," Bisik Dimas.


Sejenak dalam keheningan, Raisa masih saja takut melihat hal yang seperti ini apalagi keadaan Dimas sekarang? Tubuhnya seketika gemetar.


Melihat Raisa yang gemetar membuat Dimas menjadi kebingungan apa yang akan dia lakukan. Kenapa keadaan ini begitu menyiksanya, kapan dia akan bisa melihat Raisa sembuh dan berhasil menyentuh Raisa.


"Apa yang harus aku lakukan?" Gumamnya hampir tak bersuara.


Grekk...


Dengan sengaja Dimas malah merengkuh Raisa, memeluknya erat dalam keadaannya yang seperti itu. Tentu, tangan Raisa juga wajah yang tertutup telapak tangan akan menyentuh kulit Dimas.


"Tenang lah, jangan takut. Ini aku, suamimu. Tak akan ada hal buruk yang terjadi, meski apa yang kamu takutkan itu akan terjadi tapi itu tidak apa-apa. Itu sah, dan Allah juga tidak akan marah." Begitu lembut Dimas mengatakan. Berusaha membuat hati Raisa tenang.


Detak jantung Dimas bisa di rasakan oleh Raisa, seolah menjadi irama yang membuatnya tenang dalam dekapan. Raisa nyaman, ketakutan juga kian pudar. Benarkah Raisa akan sembuh secepat ini?


Perlahan Dimas merenggangkan pelukan, membuka kedua tangan Raisa yang ada di wajahnya. Terlihat kening Raisa mengkerut hingga terdapat beberapa barisan menandakan ketakutan itu masih ada padanya.


Dengan mata tertutup Raisa mengangguk, bukan hanya di sana saja bahkan semua inci wajahnya sudah di sentuh oleh pakde-nya.


"Biar Mas menghapus semua noda yang dia tinggalkan. Dan menggantikan milik Mas yang menempatinya." Pelan Dimas mengecup bibir Raisa.


Dalam dan semakin dalam semua di sapu bersih oleh kecupan Dimas. Tak ada setitik-pun dari wajah Raisa yang tertinggal, semua di sapu dengan kecupan Dimas.


Raisa hanya diam, matanya masih terus tertutup dan terasa berat untuk berbuka. Hatinya sangat takut, tapi kenapa Raisa tidak menolaknya ataupun berontak. Membiarkan Dimas mengeksekusi semua wajahnya yang pernah di sentuh oleh orang yang membuatnya menjadi trauma.


"Bukalah matamu," Pinta Dimas.


Raisa menggeleng.


"Buka, Sayang." Dimas tetap kekeuh dan akhirnya Dimas tersenyum melihat Raisa yang perlahan membuka matanya.

__ADS_1


Tangan Dimas kembali terangkat, memegangi dagu Raisa dan kembali mendekatkan wajahnya.


"Noda darinya sudah Mas hapus hingga bersih. Sekarang tak ada lagi bekas dari orang itu. Sekarang hanya ada milik Mas yang tertinggal. Jangan takut lagi ya," Pinta Dimas.


Dimas kembali mendekat, namun dia beralih di tempat lain. Lebih tepatnya di belakang telinga Raisa sebelah kanan. Mengecupnya, mencecapnya dengan sangat lembut hingga terdapat tanda kepemilikan di sana.


Ada desir aneh yang Raisa rasakan. Tubuhnya bergetar tapi bukan karena takut. Rasanya sangat aneh pokoknya, tentu Raisa belum pernah merasakan rasa barusan yang timbul karena perlakuan Dimas.


"Sudah ada stempel Mas di sini. Jadi semua yang kamu punya adalah milik Mas. Tak akan ada yang bisa memiliki kamu selain, Mas." Raisa masih terus terpaku diam.


"Pada saatnya, semua noda akan Mas hapus dari tubuhmu. Mas juga tidak ikhlas jika noda itu belum hilang. Semua harus terganti dengan bekas milik Mas, bukan milik orang lain."


Di rengkuh lagi tubuh Raisa. Hatinya sudah lebih tenang dari yang tadi. Perlakuan juga kata-kata Dimas mampu menetralisir semua ketakutan yang ada.


"Sudah, jangan takut lagi. Kamu harus tenangkan hatimu." Kini hanya kecupan di kening yang Dimas berikan. Setelahnya Dimas bergegas untuk menganti bajunya untuk segera ke rumah sakit.


Belum juga melangkah Raisa yang menarik Dimas lagi, dia menubruk Dimas dan memeluknya.


"Raisa menunggu Mas menghapus semuanya. Raisa semakin jijik pada diri sendiri kalau noda ini masih ada. Hapuslah semua nodanya, Mas. Hapuslah semuanya." Ucap Raisa.


Benarkah Raisa akan memberikan hak nya Dimas?


"Mas akan menghapus semuanya. Tapi buka sekarang. Kamu harus benar-benar siap untuk itu." Dimas berbicara lembut.


Raisa diam berpikir. Ternyata masih terselip ketakutan di dalam hati Raisa. Dimas sangat tau itu.


Jika saja tidak dalam keadaan seperti saat ini, Dimas pasti akan langsung melakukan semuanya. Menghapus semua noda yang ada pada Raisa. Tapi keraguan yang masih terlihat membuat Dimas urung, dia tak mau nanti Raisa menolaknya di saat semua sudah di mulai dan akan membuat semua semakin buruk.


********


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2