Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
14.Mencari pekerjaan


__ADS_3

...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...


..._______...


𝘉𝘳𝘶𝘬𝘬...


"Astaghfirullah hal 'azim... " Seru Arini yang terkejut dengan langkah yang kembali mundur, bahkan korannya terpental jatuh di trotoar.


Gadis cantik, putih, bergaun marun selutut mengenakan sepatu high heels yang begitu tinggi, tas kecil branded di tangan nya menambah sempurna penampilannya dan juga rambutnya yang ikal dan di biarkan tergerai indah di punggung nya menambah kesempurnaan gadis itu.


Nadia Fira. Gadis berumur 25 tahun, Nadia adalah gadis cantik, berkulit putih, tubuh indah, tinggi, berambut ikal dan juga mata tajam. Nadia adalah seorang model terkenal dan tentunya begitu banyak penggemar nya. Namun Nadia memiliki sifat dingin dan juga angkuh, dia tak mudah tersentuh oleh sembarangan orang, dan dia juga memiliki watak keras kepala.


Nadia adalah anak tunggal dari salah satu pengusaha ternama juga, namun masih sangat jauh di bawah nya Arya.


Nadia melotot tak suka, menatap penuh rasa jijik pada Arini yang tak sengaja menabrak nya atau mungkin Nadia sendiri yang menabrakkan pada Arini, dia tak melihat saat berjalan karena Nadia sedang menerima telfon dan sepertinya sedang dalam masalah.


"Kamu bisa jalan nggak sih...! kalau jalan gunakan matamu untuk melihat. Lihat,, ! lihat, gara-gara kamu baju ku jadi kotor kan, dan aku yakin orang seperti kamu begitu banyak kuman nya, ihhh... " ucap Nadia sadis dengan tangan terus menunjuk wajah Arini lalu menyapu bersih bajunya yang terkena Arini.


Arini menunduk, Arini baru di kota ini jadi dia belum paham betul bagaimana orang-orang di kota ini, mungkin lebih baik dari orang-orang di tempat orang tuanya atau mungkin akan lebih parah.


"Ma-maaf kak. " Arini terus menunduk takut. Meski dia tau dia tidak bersalah tapi dia tidak mau membuat masalah ini akan lebih panjang lagi, "Saya tidak sengaja kak, maaf, " imbuh nya.


"Maaf maaf..!! apakah dengan maaf kamu bisa mengganti bajuku yang mahal ini. aku yakin kamu tidak akan mampu menggantinya. "


"Maaf kak, saya benar-benar tidak sengaja, " Arini terus memohon maaf.


Kring... kring....


Ponsel Nadia kembali berdering dengan cepat Nadia mengangkat nya " Hello, apa lagi sih?! "


"Mbak Nadia, mbak di mana? setengah jam lagi mbak ada pemotretan. Cepat datang mbak, atau kalah tidak kontrak nya akan di batalkan dan manejemen harus membayar denda. cepat datang mbak," terang orang di seberang.


Nadia menggerutu dengan begitu kesal, masalah nya dengan Arini belum usai tapi panggilan datang dan Nadia harus cepat ke sana. "Baik, saya akan datang, " jawab nya dingin.


"Baik Mbak " jawabnya.


Nadia menutup ponselnya lalu kembali menatap Arini yang masih mematung di tempat.


"Orang sepertimu tidak pantas berada di hadapan ku, orang seperti mu hanya akan menjadi kotoran saja di kota ini." Sadis Nadia.


"Dasar buruk rupa.!! "


"Jangan pernah berani menampakkan wajah mu lagi di depan ku, atau kau akan tau akibatnya. "

__ADS_1


Nadia melenggang pergi, mendorong Arini dengan bahunya. Nadia masuk ke dalam mobil nya yang terparkir manis di pinggir jalan, menjalankan dan tak lagi menoleh ke arah Arini yang masih terus mematung.


"Astaghfirullah hal 'azim.., " seru Arini mengelus dada dan langsung berlari mengambil koran yang ada di trotoar. "Alhamdulillah, untung tidak apa-apa. Aku susah payah mencarinya dengan bantuan Kakek, kalau sampai rusak kakek pasti akan sangat kecewa."


Arini berdiri, membersihkan korannya dari kotoran yang menempel tak sengaja.


"ALLAHU AKBAR...


ALLAHU AKBAR....


Suara iqamah begitu jelas, Arini terhenyak dan langsung berlari untuk secepatnya sampai di masjid untung tak jauh lagi jaraknya. "Astaghfirullah hal 'azim,, udah iqamah.. " Serunya dengan panik.


__________


Luna dan Wiguna begitu panik setelah mendengar berita tentang Arya, mereka berdua terus berlari menyusuri lorong rumah sakit untuk segera sampai ke ruang Arya di rawat.


Meskipun mereka selalu memaksakan kehendak mereka pada Arya dan seakan-akan tak menghiraukan Arya tapi mereka sangat sayang dengan Arya. Ya, karena Arya adalah anak tunggal mereka, mana mungkin mereka akan menelantarkan Arya begitu saja.


Keduanya masuk ke ruangan Arya, Luna syok melihat keadaan anak tunggal nya yang terdapat perban di mana-mana, baru kali ini Arya mengalami hal itu pasti Luna akan sangat terkejut.


"Astaga, Sayang.! kenapa bisa seperti ini.? " pekik Luna, tatapan khawatir terlontar dengan jelas kepada anaknya. Jiwa keibuan nya tak bisa di ragukan lagi saat seperti ini, tapi berbeda jika sudah mulai bertitah, bahkan Arya lebih baik pergi dari pada mendengarkan perkataan Luna yang selalu menyudutkan. "Siapa yang melakukan ini, Arya. ?"


Arya terhenyak. Arya yang sebelumnya menutup mata kini membuka matanya karena terkejut dengan kedatangan kedua orang tuanya. "Apa sih, Ma. Arya tidak kenapa-napa, ini hanya masalah kecil untuk Arya, " ucap Arya yang merasa terganggu dengan perlakuan Luna.


"Sebenarnya apa yang terjadi padamu, Arya. apa kamu berantem lagi seperti yang sebelumnya! " tuduh Wiguna tanpa pikir.


Arya seolah-olah seperti di tirikan oleh Wiguna, sikap yang di perlihatkan Wiguna bukan lah kekhawatiran, namun malah sebaliknya, meragukan.


"Arya jadi bingung. Sebenarnya Arya itu anak nya Papa nggak sih!? atau mungkin Arya hanya anak yang papa pungut dari pinggir jalan atau mungkin di tempat pembuangan sampah.!! karena perilaku Papa bukan seperti ayah kepada anaknya, tapi lebih seperti tuan dan babu nya! " seru Arya panjang lebar.


"Arya,,!!!


Teriak Wiguna dengan sangat keras. Sebenarnya kesalahan apa yang Wiguna lakukan dalam mendidik Arya, sampai-sampai Arya begitu berani kepada papanya sendiri, bahkan tak segan mengatakan hal hal yang akan menyakitkan hatinya.


"Terbuat dari apa otak mu itu. Kamu meragukan Papa sebagai orang tuamu! jika kamu bukan anak Papa tentunya akan membuang mu di jalan. Tapi itu tidak terjadi kan! semua itu karena kamu adalah anak Papa. Jelas, sekarang. Jelas..!! " ucap Wiguna marah.


"Papa salah karena selalu menuruti semua kemauan mu, seandainya Papa tak begitu memanjakan mu kamu pasti lebih mempunyai otak untuk berfikir daripada sekarang!"


Kesal Wiguna kemudian melenggang dan mengayunkan kakinya untuk keluar dari ruangan Arya. Emosi nya tidak akan berakhir dengan baik jika terus berada di sana.


"Pah..! " panggil Luna.


Luna bingung bagaimana menyikapi keduanya, dia selalu saja berada di pilihan yang menyudutkan nya.

__ADS_1


Luna beralih menatap Arya, dia kasian namun juga kesal. Kenapa setiap bersama Papa nya tak pernah ada kehangatan dan selalu saja berantem dan selalu beradu argumen menurut apa yang ada di dalam otaknya masing-masing.


"Sampai kapan kamu akan seperti ini terus, Arya.Dia adalah Papa mu, apa kamu tidak memikirkan hatinya sedikit saja? " ucap Luna dengan lembut. Memberi pengertian pada anaknya itu.


Arya memalingkan wajahnya, menghindar dari pertanyaan Mama nya yang seperti nya lebih berpihak pada Wiguna.


"Mama pulang saja, Ma. Arya tidak membutuhkan Mama, Papa, dan semua kata-kata dari kalian. Arya tidak butuh!" ucap Arya begitu angkuh.


Mendengar itu, hati Luna terasa sangat sakit, hatinya seakan-akan tercabik-cabik dengan sembilah pisau yang tumpul. " Arya, kamu mengusir Mama " tanyanya lirih, dengan air mata yang perlahan merembes keluar dari pelupuk matanya.


"Keluar, Ma. Keluar..! " teriak Arya.


"Tapi, Arya...!?"


"Keluar...! Arya tidak butuh simpati dari kalian, keluar..!! " teriak Arya dengan keras.


Arya begitu kesal dengan kedua orang tuanya. Simpati yang penuh kepalsuan, itulah yang terlihat dari mata Arya."Kenapa bukan Eyang yang datang. Arya sangat merindukan Eyang."


Luna mengusap air mata nya dengan kasar, melangkah keluar dari ruangan Arya. "Kenapa jadi begini, apa kesalahan ku, " batin Luna menahan sakit.


Klekkk...


Luna menutup pintu dengan perlahan, melangkah pelan dan bergabung duduk di sebelah Wiguna yang terdiam menahan frustasi.


Wiguna menoleh, matanya langsung menatap dengan jelas mata Luna yang sembab. Bahkan di pipinya masih ada sisa-sisa air mata yang belum hilang sepenuhnya.


"Apa yang di lakukan anak itu? apa dia menyakiti Mama? " tanya Wiguna dingin.


Luna menggeleng dengan cepat, dia harus bisa membuat suaminya percaya kalau anaknya tidak melakukan apapun, kalau tidak keributan pasti akan kembali terjadi.


"Nggak kok, Pa. Mama hanya sedih saja melihat keadaan Arya. Sebenarnya siapa yang telah tega melakukan ini padanya, kenapa orang itu begitu tega dengan anak kita, Pa," jawab Luna mengalihkan.


"Syukurlah, kalau anak itu nggak membuat Mama sedih. kalau tidak Papa sendiri yang akan menghajar nya," jawab Wiguna terang-terangan.


"Tidak kok Pa. Arya tidak mungkin mengatakan itu pada Mama nya kan. "


"Hm.. Papa harap Mama tidak sedang melindungi anak itu," jawab Wiguna dengan suara dingin.


"Ti-tidak kok Pa. Ma-mama benar-benar mengatakan yang sebenarnya " jawab Luna sedikit tersendat-sendat.


"Hm.. " berdehem Wiguna yang semakin dingin.


____

__ADS_1


Bersambung..


____________


__ADS_2