Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
143.Menggagalkan Pertunangan


__ADS_3

Happy Reading...



Semua orang terperanjat setelah kedatangan Arya yang tiba-tiba menggebrak meja. Emosinya sudah sangat besar, sudah berada di ambang batas yang tak akan mudah untuk di kendalikan lagi.



Semuanya menoleh ke arah Arya dengan sangat tak biasa apalagi Nadia, Nadia sudah ketakutan tubuhnya sudah gemetar namun matanya sama sekali tidak terlepas dari Arya yang juga memandanginya dengan begitu tajam.



"Apa maksudmu, Ar! Kamu tidak bisa memutuskan untuk tidak melanjutkan pertunangan dengan sepihak seperti ini! Bagaimana dengan keluarga kami? Kami akan malu!" Wilman yang memulai pembicaraan.



Seorang ayah mana yang akan diam saja ketika pertunangan anaknya yang sudah ada di depan mata tapi tiba-tiba di batalkan dan diputuskan secara sepihak seperti saat ini. Wilman tidak akan mungkin bisa menerimanya.



Apalagi Wilman sama sekali belum tau kebenaran kenapa Arya membatalkan pertunangannya dan kini terlihat sangat marah.



Plakkk...



Luna juga tidak terima, belum juga mendengarkan alasan kenapa Arya membatalkan pertunangannya Luna sudah menampar Arya dengan membawa begitu besar akan kekesalan.



"Kenapa Arya! Apa semua ini gara-gara gadis miskin itu? Gadis tidak tau diri yang selalu menggoda mu itu?! Ternyata memang benar, dia tidak punya muka sama sekali meski Mama sudah memintanya untuk menjauhi mu!"



Tak sadar Luna ternyata telah membuka kartu As nya sendiri tanpa Arya berniat mencari tau. Pantesan saja Arini berubah dan semua itu ternyata akibat ulah dari Mamanya sendiri.



"Oh, jadi Mama yang membuat Arini berubah. Arya benar-benar kecewa sama Mama." Arya pun langsung paham, dia adalah orang pintar pasti akan sangat cepat mencerna kata-kata dari siapapun.



"Kamu tidak bisa menghentikan pertunangan ini begitu saja, Arya. Apa salah kami, salah Nadia? Apa kamu tidak bisa melihat betapa dia sangat menyukaimu. Dia sangat mencintaimu, Arya!" seru Dinda yang juga ikut tidak terima.



Dinda sudah merangkul Nadia yang masih terduduk tidak seperti yang lainnya yang sudah berdiri dengan wajah kesal juga mata yang melotot.



Mencoba menenangkan Nadia yang mungkin kini sangat hancur. Padahal wajahnya tidak mengisyaratkan sebuah hancur hatinya melainkan ketakutan karena kesalahannya sendiri.



"Ar, Nadia itu gadis baik-baik, dia gadis terhormat yang akan bisa membanggakan keluarga kita! Kamu jangan semena-mena begitu dong padanya. Kasihan Nadia, Ar." Luna masih saja terus membujuk Arya.



"Gadis baik-baik! Gadis terhormat! Hem..." Arya menyeringai sinis.



"Kalau dia gadis baik-baik dan juga terhormat dia akan berpikir dulu sebelum mencelakai orang lain. Kalau dia akan menjadi kebanggaan kita dia akan menjauhi sifat buruknya yang akan membunuh orang lain!"


__ADS_1


"Apa kalian tau? Gadis yang kalian pikir adalah gadis baik-baik juga terhormat ini," Jari telunjuk Arya menunjuk tepat di wajah Nadia yang semakin ketakutan.



"Dia mencelakai Arini, dia hampir saja membunuh Arini dengan mendorongnya supaya masuk ke jurang! Apa itu yang kalian sebut gadis terhormat!"



Semua orang terbelalak meskipun masih belum percaya sepenuhnya, apalagi Wilman? Matanya seketika menubruk anak gadisnya yang kini sudah menangis.



"Kalau kalian masih mau menganggap dia gadis seperti itu maka silakan, tapi tidak dengan saya. Saya akan tetap membatalkan pertunangan ini, dan pertunangan ini juga tidak akan pernah terjadi!"



Arya memutar kakinya untuk pergi dia sudah tidak tahan lagi melihat wajah Nadia yang memiliki muka dua atau bahkan beberapa muka. Arya sudah sangat nek melihatnya.



Tapi belum juga melangkah Arya di hentikan dengan Nadia yang mulai angkat bicara dan menumpahkan semua isi hati di hadapan semuanya.



"Ya! Aku memang bukan gadis baik-baik, aku juga bukan gadis terhormat! Tetapi semua itu aku lakukan karena aku tidak mau dia menjadi penghalang dalam hubungan kita! Aku tidak mau sampai kamu lebih tertarik kepadanya dan tidak tertarik padaku! Aku hanya mau kamu, mau hubungan ini bisa baik-baik saja tanpa pengganggu seperti dia!" seru Nadia yang sudah tidak sabar lagi dengan semua yang dia dengar dari Arya.



"Aku tidak suka kamu selalu saja tertarik kepadanya, aku tidak suka itu! Makanya aku berniat untuk menyingkirkannya, apa yang aku lakukan ini semua karena kesalahannya sendiri juga kesalahan mu! Jika dia sampai mati itu bukan aku yang salah tapi kamu!"



Nadia begitu kehilangan kewarasan, dia menyalahkan Arya karena kesalahan yang dia perbuat.




"Arya! Jaga ucapan mu!" kini Wiguna yang berbicara.



"Kenapa, apa Papa juga sudah terkena kata manisnya, iya? Lagian niatnya dia hanya ingin menjadi menantu di keluarga Gautama, apa Papa tidak memperhitungkan dia untuk menjadi istri kedua Papa? Bukankah dengan itu Mama akan senang?" begitu sinis Arya mengatakan itu, dia sama sekali tak takut apapun meski dia mengatakan itu kepada orang tuanya sendiri.



"Arya!" bentak Luna tak terima. Memang Luna sangat menginginkan Nadia untuk menjadi menantu keluarganya tapi bukan berarti menjadi madunya juga kan? "Kamu bener-bener kelewatan, Ar!"



"Terserah apa yang mau kalian katakan. Tetapi maaf, Arya tidak pernah mau bertunangan apalagi menikah dengan gadis seperti dia. Gadis yang tidak punya hati!" tatapan Arya begitu bengis ke arah Nadia sebelum dia pergi.



Rasanya belum puas untuk menumpahkan semua makian kepada Nadia, tapi dia juga tidak mau membuang-buang tenaga hanya karena orang seperti Nadia.



"Ar! Arya!" teriak Luna setelah Arya benar-benar pergi dari sana setelah mengacaukan semuanya mengacaukan ikatan yang duduk mulai terjalin dengan baik.



Setelah Arya pergi Wilman yang terlihat sangat emosi, matanya begitu tajam dia begitu geram dengan anak gadisnya yang selalu dia bangga-banggakan.



Wilman menghampiri Nadia seketika mencengkram lengannya dan membawanya pergi dari sana. Wilman sangat malu, wajahnya seakan telah tercoreng karena perbuatan Nadia.

__ADS_1



"Pa, lepasin Nadia. Sakit, Pa..." rengek Nadia mencoba melepaskan diri dari Papanya tapi tidak akan semudah itu.



Luna juga Wiguna hanya terduduk melihat kepergian satu keluarga itu. Mereka juga tidak bisa melakukan apapun karena apa yang dilakukan oleh Nadia juga memang salah.



Meskipun dia sangat membenci Arini tapi tidak seharusnya Nadia berbuat nekat seperti itu kan.



Sementara Wilman yang terus menyeret Nadia tetap bergeming dia juga tidak mengatakan apapun dan terus melangkah dengan cepat, menyeret Nadia.



"Pa..! Lepasin Nadia, Pa! Kasian!" Dinda pun ikut serta berlari mengejar suaminya yang sepertinya sangat marah.



Walaupun Nadia juga Dinda terus meminta untuk Wilman melepaskan tapi dia tetap kekeuh, dia terus mencengkram kuat lengan Nadia hingga dia terus menangis.



"Pa, lepasin Nadia. Nadia ngaku salah, Pa. Lepasin!" tangan Nadia terus bergerak tapi tepat tidak bisa melepaskan tangan Wilman.



"Pa, kasihan Nadia. Lepasin, Pa." Dinda juga terus membujuk. Seorang ibu mana yang tega melihat anaknya di sakiti meskipun yang melakukan adalah suaminya sendiri tapi seorang ibu tidak akan diam saja menjadi penonton.



Sesampainya di kamar Nadia Wilman mendorongnya hingga tersungkur di lantai. Matanya sangat merah dengan wajah yang sangat menyeramkan juga hidung yang terus kembang kempis karena nafas yang tidak beraturan.



"Dasar anak tak tau diri! Semua Papa juga Mama berikan kepadamu, apakah ini yang kamu jadikan balasan untuk kami, hah! Kamu mempermalukan kami dengan melakukan mu!"



"Papa selalu ajarkan untuk kamu mempunyai hati, bisa menjadi manusia yang selalu di anggap sebagai manusia! Kalau kelakuanmu seperti itu apakah itu bisa di sebut manusia?! Papa benar-benar kecewa padamu, Nad!" Wilman sangat marah saat ini.



"Pa, maafin Nadia. Nadia khilaf, Pa." Nadia merangkak menghampiri Wilman tapi sama sekali tidak di pedulikan olehnya.



"Pa, maafin Nadia. Nadia janji tidak akan mengulanginya lagi. Maaf, Pa." Nadia terus memohon sepertinya dia sudah sangat menyesal.



"Papa benar-benar kecewa kepada Nad!" Wilman mengacak rambutnya frustasi sembari dia memutar kakinya untuk pergi dari hadapan Nadia. Wilman sangat terbawa akan kemarahan saat ini.



"Pa..., maafin Nadia.. hiks... hiks... hiks..." Nadia hanya bisa menangis karena kesalahannya sendiri.



"Sudah sudah, amarah Papa sedang kurang stabil nanti di juga akan memaafkan mu," Dinda datang, merangkul Nadia dan menuntunnya untuk berpindah di kasurnya.



Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2