Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
127. Tiga Kata Sakral


__ADS_3

Happy Reading...



"Pak Tuan, turunin Arini! Arini bisa jalan sendiri!" ala seorang bridal yang begitu kuat Arya terus membopong Arini. Langkahnya juga sangat pasti.



Sementara Arini terus berteriak minta di turunkan namun tangannya tetap melingkar di leher Arya dan yang jelas mereka kembali bersentuhan. Arini sangat kesal karena kelakuan Arya saat ini, selalu saja seenaknya.



Begitu jauh Arya membawa Arini, bahkan di arah mereka tak ada satupun orang yang melintas. Sepertinya bangunan itu adalah bangunan yang seharusnya keluarga inti saja, tapi kenapa Arini juga di bawa ke sana? Pikir Arini.



Satu orang wanita penunggu rumah datang menghampiri, menyapa Arya yang terus berjalan.



"Selamat datang, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya.



Arya menghentikan langkah, "apa kamar yang saya minta sudah siap?" tanya Arya.



"Sudah, Tuan."



"Dan ya, saya minta kamu tetap di sini. Selain saya tidak ada yang boleh masuk ke tempat ini. Kamu harus selalu menemaninya dan melayaninya. Dia adalah Arini, dia calon istri saya. Apa kamu sudah paham," ucap Arya menjelaskan.



"Baik, Tuan." wanita itu membungkuk hormat, dia sangat patuh kepada Arya karena dia memang bekerja dengannya.



"Tolong siapkan makan untuk kami, setelah istirahat kami akan makan," imbuhnya.



Lagi-lagi wanita itu mengangguk kecil lalu bergegas pergi.



Arini diam berpikir, dia kira tempat itu untuk semua keluarga Arya tapi ternyata? Hanya untuk Arini juga dirinya saja, apa itu berarti Arya akan berada di satu kamar bersama dirinya saat istirahat?



Arya kembali berjalan menuju salah satu kamar dan membukanya dengan pelan.



"Ini kamarmu, dan kamarku ada di sebelah."



Arya menurunkan Arini dengan pelan di kasur dengan sprei berwarna putih juga bedcover berwarna putih.



"Katanya kamu lelah, sekarang istirahatlah. Aku akan istirahat di sebelah. Kalau kamu menginginkan sesuatu panggil saja aku. Kalau kamu tidak berani tidur sendiri di sini panggil saja, aku akan menemanimu dan memelukmu dengan hangat."



Arini terbelalak sementara Arya malah terkekeh senang.



"Jangan melotot seperti itu, kalau kamu seperti itu aku malah tidak mau pergi dari sini. Aku tidur aja di sini."



Arini mengambil bantal dan dia lemparkan ke arah Arya. Dengan sigap Arya menangkapnya dia semakin terkekeh melihat Arini yang terlihat kesal tap terlihat malu-malu bahkan pipinya memerah.



"Pak Tuan nyebelin! Keluar sana!" usir Arini.



"Beneran berani? Di sini ada penunggunya loh," Arya mengedipkan matanya genit bahkan kedua alisnya naik turun secara bergantian.



"Pergi...!" teriak Arini tapi ada senyum yang menghiasi wajahnya.



"Apa tidak mau di kasih bekal dulu apa? Ini calon suami mau pergi loh. Cium tangan atau cium pipi gitu."

__ADS_1



"Tidak ada.." Arini semakin geram.



"Ya sudah, aku pergi. Jangan kangen ya, kalau kangen panggil saja aku akan datang meskipun tengah malam."



"Tidak akan. Cepat pak Tuan pergi! Arini mau istirahat."



"Iya iya.." Arya mulai memutar kakinya dia mulai melangkah pergi. Baru satu langkah Arya kembali berhenti dan menoleh lagi, "Arini... I Love you..." senyum bersinar di bibir Arya baru kali ini dia kembali mengatakan tiga kata itu pada seorang gadis.



Arini termangu menatap Arya yang tersenyum. Jantungnya kembali tidak karuan karena tiga kata ajaib itu yang bisa membuat dirinya grogi dan salah tingkah.



Lama Arini diam Arya kembali melanjutkan langkah, meski sedikit kecewa karena tak mendapatkan jawaban dari Arini tapi tidak masalah. Dengan Arini yang begitu polos juga yang lebih paham akan hal agama daripada dirinya tidak akan mungkin dia mengatakan tiga kata itu sebelum mereka halal.



Tangan Arya mulai menyentuh handle pintu juga mulai membukanya.



"Pak Tuan..." Panggil Arini.



Arya berhenti dia cepat menoleh berpikir kalau tiga kata sakral itu juga akan dia dapat dari Arini.



"Terimakasih," senyum Arini keluarkan mengiringi satu kata yang dia ucapkan.



Kecewa, jelas Arya rasakan tetapi Arya tidak hanya membutuhkan kata cinta itu saja dari Arini. Dia yakin suatu saat dia akan mendengarkannya langsung dari bibir Arini.



Arya tersenyum, dia mengangguk, dia senang meski hanya dengan kata terimakasih saja.




Arini masih terus memandangi pintu yang sudah kembali tertutup. Begitu spesialnya dirinya untuk Arya sekarang.



Arini masih sangat takut jika suatu saat dia akan mengecewakan Arya yang sekarang sudah sangat baik padanya. Arini bukan gadis yang sempurna, dia juga tidak bisa di banggakan dalam hal apapun.



Arini nyaman dengan Arya, meski dia tidak mengatakan tapi dia juga sangat menyukai Arya. Arini juga selalu menjadikan Arya sebagai doa di sepertiga malamnya. Arini berharap apa yang terjadi saat ini, kebahagiaan saat ini akan dia dapatkan untuk selamanya.



"Semoga takdir berpihak kepada kita, Pak Tuan. Tetapi jika takdir mengatakan lain, aku harap pak Tuan tidak akan menyalahkan takdir," gumam Arini.



Di bangunan utama semua keluarga Arya sudah datang, bahkan keluarga Nadia juga sudah tetapi Arya sama sekali belum terlihat.


Luna tampak khawatir dia terus gelisah karena Arya yang belum datang. Luna pikir Arya belum sampai karena dia tau kalau Arya akan bareng dengan Toni juga eyang Wati tapi ternyata tidak.


"Pa, Arya kemana? Kenapa dia belum sampai juga. Tidak mungkin kan dia lupa dengan jalannya," Luna terlihat sangat takut, apalagi saat ini dia akan datang menyapa calon besan yang sudah menunggu di ruang tengah.


"Sebentar lagi pasti Arya akan sampai, Ma. Tadi kan dia bilang kalau ada masalah," jawab Wiguna. Wiguna lebih santai dan biasa-biasa saja ketimbang Luna. Ya karena Wiguna sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Arya yang selalu berwajah datar.


Keduanya terus melangkah, senyum pun terpancar dari keduanya setelah melihat Nadia dan keluarganya.


"Selamat datang Tuan Wilman," sapa Wiguna. Tangannya juga terulur untuk menyalami calon besannya yg sama-sama seorang pengusaha besar.


"Terimakasih, Tuan Wiguna. Terimakasih atas sambutannya," jawab Wilman.


Wiguna meminta keluarga Wilman untuk duduk.


"Bagaimana, apakah kalian suka dengan tempanya?"


Wilman mengangguk mendengar pertanyaan dari Wiguna, bagaimana mungkin dia tidak menyukai tempat yang sangat mewah juga sangat luas itu. Wilman saja yang sama-sama pengusaha tapi dia tidak mempunyai tempat yang sangat indah. Wilman masih sangat jauh di bawah keluarga Wiguna.


"Ini sangat indah, Tuan. Kami sangat menyukainya."


"Oh iya! di mana Arya, apakah dia belum sampai?" imbuhnya dengan pertanyaan.


"Sebentar lagi Arya pasti sampai Tuan Wilman. Tadi sedang ada masalah jadi dia baru bisa berangkat saat masalahnya selesai." Luna yang menjawab.

__ADS_1


Wilman mengangguk percaya. Menjadi pemuda yang sukses dengan berbagai usaha memang tidak akan mudah. Waktunya juga akan lebih banyak untuk pekerjaan.


Sementara Nadia dia terus gelisah, dia sangat takut kalau sampai Arya tidak datang dan pertunangan akan gagal.


"Jangan tegang seperti itu, Nadia sayang. Arya pasti akan secepatnya datang," di sentuhnya tangan Nadia oleh mamanya, Dinda.


Apa yang di lakukan oleh Dinda tetap tidak bisa menenangkan hati Nadia yang terus gelisah. Nadia memiliki perasaan yang tidak enak tapi dia mencoba untuk tenang.


Saat semuanya tengah asyik di sana Toni yang hanya berdiri ponselnya mendapatkan berdering, dia mendapat panggilan. Toni menjauh dan bergegas mengangkat ponselnya.


"Iya, Tuan. Ada yang bisa saya kerjakan?" tanya Toni yang ternyata Arya lah yang menghubunginya.


"Ambil semua paper back di dalam bagasi dan antar ke tempat yang saya katakan kemarin. Lima menit dari sekarang, aku menunggumu."


"Tu-tuan sudah sampai?" Toni mengernyit.


"Jangan banyak bertanya, cepat lakukan apa yang aku minta, cepat! Telat satu menit kamu harus pulang!" ancam Arya dari seberang.


"Iya, Tuan." Baru saja Toni terdiam telfon sudah mati, siapa lagi pelakunya kalau bukan Arya sang penguasa.


"Sebenarnya apa sih isi di dalam paper back itu?" meski bingung Toni tetap melangkah pergi melaksanakan apa yang sudah menjadi perintah dari Arya.



Arya sudah duduk menunggu di bangunan yang juga sangat mewah tapi memang lebih sempit dari tempat utama sih.



Tangannya masih terus sibuk dengan ponsel. Sekarang Arya sudah terlihat segar pakaian yang dia kenakan juga sudah berganti.



Tok... Tok... Tok...



"Masuk!" teriak Arya. Dia langsung memandangi pintu dan ternyata Toni yang datang.



"Baik, Tuan." Toni melangkah masuk setelah mendapatkan perintah dari Arya, tangannya juga membawa beberapa paper back yang dia keluarkan dari bagasi.



"Tuan, ini barang yang anda minta," Toni menaruhnya di meja di hadapan Arya lalu kembali mundur.



"Hem..., sekarang pergilah! Dan jangan sampai ada yang tau kalau saya ada di sini. Termasuk eyang Wati. Saya lelah ingin istirahat."



"Baik, Tuan. Saya permisi," Toni benar-benar pergi meninggalkan Arya dengan barang-barang yang tadi dia bawa, Toni tidak mau mengganggu Arya yang ingin istirahat.



Arya beranjak setelah Toni sudah pergi dan sudah tidak terlihat. Tangannya meraih paper back itu dan berjalan menuju kamar Arini.



Tok... Tok... Tok...



"Arini!" panggil Arya.



Arya berdiri menunggu di depan pintu tumben dia tidak nyelonong masuk begitu saja, biasanya dia langsung melakukan apa yang dia mau meski masuk ke kamar orang lain.



"Ada apa, Pak Tuan," pintu terbuka dan terlihat wajah Arini yang menyembul lebih dulu.



"Nih untukmu. Kamu harus pakai ini di acara nanti malam, harus iya dan tak boleh tidak. Tidak boleh protes apalagi berkomentar," ucapnya yang sama sekali tak memberikan kesempatan untuk Arini berbicara.



"Ta..."



"Jangan membantah!"



"Baiklah," jawab Arini pasrah.



Bersambung...

__ADS_1


__________


__ADS_2