Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
161.Penasarannya Dimas


__ADS_3

Happy Reading...



Di depan perusahaan Gautama kini Dimas sudah menunggu Raisa yang seharusnya sudah pulang. Tetapi entah kenapa gadis itu belum juga menunjukkan batang hidungnya.



Dimas sudah tidak sabar untuk mengetahui rahasia tentang Arini. Dia sangat yakin kalau dia bisa mendapatkan informasi dari Raisa.



"Nah, itu dia!" tangan Dimas terangkat menunjuk gadis berseragam OB berwarna biru, dia adalah Raisa yang kini sudah melangkah keluar dengan membawa tasnya juga.



Dimas masih terus menunggu, dia tidak ada niatan untuk menghampiri karena dia tau Raisa akan melewati tempat itu. Dan benar saja, setelah beberapa saat menunggu Raisa lewat di depannya dan saat itu juga Dimas langsung menarik pergelangan tangan Raisa karena gadis itu seakan angkuh dan tak mau menyapa sama sekali.



"Apa-apaan ini!" Raisa terkejut dia memaksa untuk melepaskan tangannya tetapi Dimas belum mau melepaskannya.



"Lepas, Tuan! Raisa mau pulang ini sudah sore. Raisa bisa terlambat!" Raisa terus berusaha untuk bisa terlepas.



"Saya mau bicara denganmu sebentar. Tetapi tidak di sini." ucap Dimas tangannya juga masih memegangi pergelangan tangannya.



"Mau bicara apa? Oh saya tau, Tuan mulai jatuh cinta sama saya, ya?" Astaga, ternyata bukan hanya cerewet, juga bar-bar saja tetapi gadis ini ternyata mempunyai kepedean yang sangat besar.



Raisa tersenyum penuh arti.



"Akhirnya, berakhir juga penantian ku. Emak..., Raisa tidak jomblo lagi. Hahaha.." Raisa malah tertawa terbahak-bahak setelah mengatakan itu.



Sementara Dimas menggeleng menatap tak percaya dengan gadis yang terlalu percaya diri itu. Dimas cepat melepaskan tangan Raisa dia tidak mau juga di anggap menyukai Raisa.



Padahal Raisa sendiri juga cuma bercanda, dia juga belum bisa menghilangkan rasa sakit di hatinya hanya karena seorang laki-laki yang tidak tulus padanya.



"Ealah..., jangan serius gitu ngapa sih, Tuan! Lagian Raisa hanya becanda. Tidak usah gugup seperti itu juga kali," ucap Raisa.



"Sini, ikut!" Dimas menarik paksa Raisa dan membawanya sampai ke mobil setelah itu Dimas juga memaksa Raisa untuk masuk ke dalam mobilnya.



"Eh.., apa-apaan nih! Raisa mau dibawa kemana? Hey.. dasar pemaksa!" Raisa kesal itu pasti dia tidak pernah mendapatkan pemaksaan seperti sekarang dan ini? Dimas sungguh keterlaluan.



Raisa diam dengan wajah cemberut karena Dimas, tetapi dia juga sangat penasaran sebenarnya apa tujuan Dimas mengajaknya. Juga apa yang akan dia bicarakan.



Setelah Dimas masuk mobil langsung berjalan dan pergi meninggalkan tempat itu.



"Tuan, emangnya mau bicara apa sih! Jangan bilang itu hanya alasan dan sekarang membawa Raisa karena mau menculik saya," seloroh Raisa tak terima.



Dimas masih enggan untuk bicara, dia tetap diam dan fokus menyetir, Dimas akan bicara di tempat yang sudah dia pilih.

__ADS_1



Semakin kesal Raisa karena tak mendapatkan jawaban dari Dimas. Lebih baik juga diam daripada buang-buang tenaga.



Setelah sepuluh menit akhirnya mereka sampai di salah satu restoran besar dan juga sangat ramai. Mereka berdua juga langsung turun.



Meskipun itu sebuah restoran besar tetapi Raisa tetap tidak merasa bahagia. Dia lebih senang makan di pinggir jalan saja di tempat angkringan.



"Kenapa, apa kamu tidak menyukai tempat ini?" Dimas menghentikan langkah, dia menoleh ke arah Raisa yang masih berdiri diam tak bergerak.



Raisa hanya mengangguk, dia memang tidak menyukai tempat itu.



"Lalu? Dimana tempat yang kamu sukai. Kali ini saya akan mengikuti mu tetapi kamu juga harus mengatakan apapun yang akan menjadi pertanyaan ku."



Raisa berjalan pergi, dia tak butuh menjawab apapun hanya untuk bisa makan di tempat kesukaannya. Dia sangat tau bagaimana orang-orang kaya selalu memperlakukan orang yang miskin seperti dirinya pasti mereka akan selalu memandang sebelah mata saja.



"Hey.. Mau kemana!" Dimas berlari mengejar Raisa yang terus melangkah acuh tak lagi peduli dengan Dimas.



Sepertinya akan sangat susah mencari tau dari Raisa. Dia sangat menjaga rahasia dengan sangat baik.



Raisa tak menanggapi Dimas kini dia sudah masuk di tempat angkringan yang sudah buka.




"Teh panas satu ya, Pak!" pinta Raisa. Tangannya juga langsung mengambil nasi bungkus dan membukanya. Bukan hanya itu saja tetapi Raisa juga mengambil sate telur puyuh yang di masak kecap.



Makanan sederhana tetapi menjadi kegemaran Raisa. Bukan cuma itu saja tetapi juga karena harganya juga lebih murah daripada di tempat restoran yang di tunjukkan oleh Dimas.



Dimas tidak mau sia-sia. Dia juga masuk di tempat itu, tempat yang baru pertama kali dia kunjungi. Biasanya dia akan datang di restoran dan yang paling kecil juga rumah makan padang bukan angkringan.



"Kenapa Tuan kesini? Bukannya Tuan mau makan di restoran, maka makan saja di sana. Saya tidak terbiasa makan di tempat kayak begituan ujung-ujungnya malah nek setelah melihat makanannya," ucap Raisa



"Bang, kopi satu!" teriak Dimas memesan.



Raisa melongo dia pikir Dimas tidak akan mau makan atau minum di tempat seperti itu ternyata dia ikut masuk juga dan memesan kopi.



"Apa yang akan Tuan tanyakan? Kalau saya bisa jawab pasti akan saya jawab tapi kalau tidak bisa ya sudah tidak."



Raisa memulai pembicaraan. Dia juga sembari terus mengunyah memasukkan sedikit dengan sedikit dari nasi bungkus yang sudah dia buka beserta sate telur puyuhnya.



"Saya mau bertanya...?" Dimas terdiam sesaat. Benarkah dia akan mendapatkan jawaban? Tetapi tidak salah kan untuk di coba.

__ADS_1



"Silahkan, tanyakan saja." Raisa menjawab.



"Apa maksud kata-kata kamu saat di rumah sakit. Ikatan ibu dan anak antara mama juga Arini, itu apa maksudnya?"



Raisa termangu dia menghentikan diri untuk memakan lagi nasinya. Dia sangat enggan menjawab kalau masalah itu. Apa yang dia katakan juga belum ada bukti yang menguatkan.



Lagian Raisa juga tidak mau di bilang punya mulut ember yang akan selalu mengatakan rahasia orang lain apalagi itu mengenai Arini yang sudah dia anggap adiknya sendiri.



"Kenapa sih, semua orang begitu penasaran dengan dia. Kalau Tuan penasaran kenapa tidak tanya langsung dengan Arini saja. Kalau saya yang katakan bukankah itu tidak baik untuk ku, ya?"



Raisa sangat enggan untuk mengatakan apa yang dia ketahui, dia sangat takut saja kalau apa yang dia tau ternyata salah.



"Kalau saya bisa saya akan bertanya padanya langsung, tetapi saya yakin dia tidak akan mengatakannya padaku."



"Kalau dia saja tidak berani mengatakannya apa lagi saya? Saya lebih tidak berani lagi kan?" ucap Raisa.



Sepertinya memang akan sangat susah untuk Raisa mengatakan semua yang dia ketahui, ternyata dia juga bisa menjaga rahasia juga. Padahal ucapannya selalu saja ceplas-ceplos tak beraturan.



"Begini saja ya, Tuan. Saya mengatakan hal yang seperti kemarin itu karena saya benar-benar terkejut saja dengan Mama Tuan juga Arini, apakah Tuan tidak berpikir kalau mereka begitu mirip? Dari mata, bentuk wajah, hidung, bibir semuanya sama apakah Anda tidak akan pernah berpikir kalau mereka ada ikatan. Ya tapi balik lagi sih, apa Mama Tuan mempunyai anak perempuan yang seumuran dengan Arini?"



Begitu banyak Raisa mengatakan, meskipun tidak pada intinya tetapi benar juga apa yang Dia katakan.



Arini juga Nilam sangat sama, mereka benar-benar mirip hanya saja warna kulit mereka yang membedakan.



"Tapi mana mungkin? Adek sudah meninggal," ucap Dimas begitu lirih.



Raisa yang termangu sekarang, benarkah Dimas mempunyai seorang adik perempuan? Dan benarkah dia sudah meninggal?



"Apa Tuan yakin adik Tuan sudah meninggal? Maksudnya, apakah Tuan benar-benar melihat jasat adik Tuan?" tanya Raisa.



Dimas menggeleng, dia hanya menerka-nerka saja sih. Lagian mana mungkin ada bayi baru lahir dan dihanyutkan ke sungai masih bisa hidup, mustahil kan?



"Nah, berarti bisa jadi Arini...?"



"Adik ku begitu?" Mata Dimas membulat.



Sementara Raisa hanya menjawab dengan anggukan itupun dengan pelan lalu kembali asyik dengan apa yang ada di hadapannya, sate telur puyuh yang hanya tinggal sari saja.


__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2