
Happy Reading...
Begitu kekeh Hendra untuk bisa menemukan Arini. Dia butuh kepastian dengan apa yang tadi dia dengar dari penuturan Nilam. Di dalam perjalanan dia terus berharap semoga semua itu adalah benar dan dia bisa menebus semua kesalahannya.
Tujuannya adalah rumah kakek Susanto, dimana Arini tinggal sekarang. Dengan mobil dan mengendarai sendiri Hendra hampir sampai di rumah kecil itu namun terlihat sangat sangat nyaman itu.
"Arini, benarkah kamu adalah anak ku? Benarkah kamu adalah anak yang selama ini aku cari setelah sekian lama aku membuang mu?" gumam Hendra begitu tak kuasa.
Hingga akhirnya air mata menetes dari mata Hendra, tangisan pilu yang penuh dengan penyesalan yang tak mudah untuk di hilangkan.
Jalanan yang sangat sepi membuat Hendra melajukan mobilnya dengan cepat. Hendra sudah tidak sabar, dia ingin secepatnya memeluk Arini meski dia masih belum yakin. Tetapi nalurinya memang terus mengatakan iya.
Mobil berhenti tepat di depan rumah kediaman Kakek Susanto, seketika Hendra bergegas keluar dari mobil dan berlari untuk secepatnya masuk ke dalam rumah.
"Assalamu'alaikum...!" seru Hendra. Tangannya terus mengetuk pintu dengan cepat.
Berkali-kali Hendra mengetuk juga berteriak memanggil tetapi tetap saja tak ada yang keluar ataupun menjawab panggilannya.
Hendra semakin bingung, dia terus mondar-mandir mencari celah dari jendela untuk melihat keadaan di dalam tetapi di dalam juga terlihat sangat sepi bahkan semua berantakan.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Benarkah mereka semuanya sudah pergi? Berarti Arini juga pergi. Kalau begitu aku akan kembali kehilangan anakku?"
Hendra mengacak rambutnya kasar, dia begitu frustasi.
Hendra bingung, dia harus pergi ke arah mana untuk mencari mereka terutama mencari Arini. Kota ini sangat luas tidak mungkin dia akan mudah untuk menemukannya. Semoga saja Arini tidak pergi keluar kota, bisa-bisa semakin susah untuk menemukannya.
"Cari siapa ya, Pak?" Tanya seseorang yang kebetulan lewat dan sepertinya juga warga dari tempat itu.
Hendra yang tengah pusing langsung menoleh, dia mendapati orang itu yang masih berdiri dengan jarak yang gak begitu jauh dengannya berdiri.
Hendra melangkah mendekati, mungkin dia bisa mendapatkan jawaban dari orang itu.
__ADS_1
"Keluarga yang tinggal di rumah ini semuanya kemana ya, Bu?" tanya Hendra tangan juga matanya sekali mengarah ke rumah yang sudah kosong.
"Oh pak Susanto, beliau baru saja pergi dengan istrinya. Katanya rumah ini di jual oleh cucunya, bahkan uangnya di bawa kabur," jawabnya menjelaskan.
"Di jual?" Hendra mengernyit. Dia mana mungkin akan percaya begitu saja, Arini bukan gadis yang tergila-gila akan harta bagaimana mungkin dia akan menjual rumah orang yang sangat sayang kepadanya.
"Iya, cucunya dan menantunya. Tadi saya lihat mereka datang dan menghancurkan isi rumah ini. Setelah itu dia menjualnya dengan orang asing."
"Cucu dan menantunya? Maksudnya?"
"Iya, cucunya yang cantik tapi sinis nya na'udzubillah itu. Bahkan tadi dia juga mengusir Arini dari sini setelah menyakitinya. Sebenarnya saya pengen membantu terapi saya takut," ucapnya lagi.
Begitu jelas Ibu-ibu itu mengatakan semuanya Hendra bernafas lega ternyata bukan Arini yang menjualnya tetapi cucunya yang lain. Berarti Arini bersih dari perbuatan buruk itu.
"Terus mereka pergi kearah mana, Bu?"
"Terimakasih, Bu."
Hendra bergegas setelah mendapat anggukan dari Ibu tadi. Dia tidak akan membiarkan Kakek Susanto terlunta-lunta di jalan dengan tidak jelas. Bukan itu saja, tetapi Hendra harus mendapatkan jawaban perihal Arini.
Setelah beberapa saat kepergian Hendra mobil Dimas juga menepi di sana. Dimas juga ingin mencari Arini untuk membawanya kepada Nilam yang begitu percaya bahwa dia adalah anaknya, adiknya sendiri.
Sama seperti Hendra, Dimas juga tidak mendapat hasil saat di sana, rumah itu sangat sepi juga sangat kosong. Dimas bergegas kembali melajukan mobilnya untuk dia kembali mencari keberadaan Arini dan kali ini tujuannya adalah perusahaan Gautama. Mungkin Arini masih di sana.
"Semoga saja Arini masih ada di sana," Dimas begitu bergegas. Dia sudah tidak sabar untuk bisa menemukan Arini.
Tak begitu lama Dimas bisa sampai ke depan perusahaan Gautama, kini mobilnya sudah terparkir di depan perusahaan.
Cepat Dimas keluar dan berlari, tujuan utama adalah ruangan Arya namun belum juga sampai dia di hentikan oleh Raisa.
__ADS_1
"Tuan, cari siapa? Nyari Tuan Arya ya?" tanya Raisa tak melihat bagaimana wajah Dimas yang terlihat begitu gelisah itu.
Dimas juga langsung berhenti, dia menoleh dengan cepat ke arah Raisa yang juga masih memegangi kemoceng.
"Ada apa Tuan, apa ada masalah?" tanya Raisa yang akhirnya melihat juga rupa Dimas sekarang yang tidak seperti biasanya.
"Arini datang ke sini nggak?" tanya Dimas juga dengan nada yang tak sabaran.
Raisa menggeleng karena setelah tadi siang dia pergi sekarang tidak kembali lagi.
"Tidak, tadi memang sempat datang tetapi dia pergi. Memangnya kenapa, Tuan? Arini tidak kenapa-napa kan, dia tidak berbuat aneh-aneh kan?" Raisa langsung mengkhawatirkan gadis kecil itu.
"Dia pergi."
"Maksudnya pergi?" Raisa masih tak mengerti.
"Iya, pergi dari sini meninggalkan tempat ini, meninggalkan kita semua."
"Astaga, ini pasti gara-gara Tuan Arya. Dia harus bertanggung jawab," Raisa termangu seraya menjawab Dimas. Ya karena itu yang Raisa tau kalau Arini pasti pergi karena masalah Arya yang menghamili Melisa.
"Maksudnya?" Kini Dimas yang bertanya.
"Tadi Arini memergoki Tuan Arya sedang berbicara dengan Melisa. Dan kata Arini Melisa hamil dan itu adalah anaknya Tuan Arya. Tapi masak iya hanya itu saja? Arini tidak selemah itu?" Raisa kembali termenung.
"Astaghfirullah hal 'azim.. Arya..!"
Setelah mendengar itu Dimas langsung berlari, dia ingin segera menemui Arya. Dimas harus mengatakan padanya kalau Arini pergi dari mereka semua.
"Tuan..." Raisa juga tak mau diam, dia membuntuti Dimas untuk pergi ke keruangan Arya.
Bersambung...
__ADS_1