
Happy Reading...
//////////
Makan siang yang sederhana tapi dirasa sangat cukup bagi seorang Fara yang kini hanya tinggal seorang diri di kontrakan yang begitu kecil. Dia harus pintar-pintar menghemat uang demi bisa bertahan hidup sampai dia mendapatkan pekerjaan yang halal.
Bahkan apa yang Fara makan sangat sederhana karena dia hanya membeli nasi bungkus seharga Rp3.000 saja itupun sudah cukup untuknya dan bisa membuatnya kenyang meskipun dia tidak yakin akan bisa memenuhi kisi-kisi untuknya juga calon anaknya.
Rasa tak enak dari makanan yang dia beli sebenarnya tidak membuatnya bergairah untuk makan tetapi dia tetap paksakan untuk bisa menelan semua makanan yang masuk demi bisa menguatkan tenaganya untuk kembali mencari pekerjaan.
Rasanya sangat susah untuk menelan makannya karena Fara belum terbiasa dengan makanan yang sederhana, biasanya dia akan selalu makan makanan yang enak dan tentunya sangat mahal, dan sekarang?
Tak akan mungkin dia akan selalu berada dalam penyesalannya karena dia tidak akan pernah bisa mengubah semuanya lagi atau memutar kembali semua yang sudah terjadi. Kini Dia hanya bisa menjalani apa yang terjadi sekarang dan berusaha menerimanya dengan lapang dada.
Setelah habis semua makanan yang ada di atas bungkus Fara langsung mengambilnya dan membuangnya ke tempat sampah. Tangannya juga langsung mengelus perutnya yang sudah kenyang.
Tak buruk, makanan dengan harga murah ataupun mahal sama saja bisa membuatnya kenyang. Bisa membuatnya semangat lagi untuk melanjutkan hari di dalam kesendiriannya yang hanya ditemani dengan janin yang masih ada dalam kandungannya.
"Permisi," Fara seketika menoleh saat mendengar seorang telah bertandang ke kontrakannya.
Penasaran dengan siapa yang datang Fara langsung berjalan menuju pintu dan membukanya supaya dia tahu siapa yang datang, dan ternyata pria tampan yang kemarin yang datang ke rumahnya siapa lagi kalau bukan Risman.
Melihat Fara yang sudah membuka pintu Risman tersenyum begitu manis bahkan sangat manis dilihat dari mata Fara. Tapi tetap saja, tidak bisa membuat Fara membalas senyuman yang sama.
"Hem...?" Fara mengernyit karena Risman malah terlihat bingung bahkan seperti orang canggung yang tidak berani mengatakan sesuatu.
Risman malah menggaruk tengkuknya sendiri yang entah benar gatal atau tidak Fara tidak tahu pasti.
"Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Fara.
"Hem..., kata ibu-ibu sebelah katanya kamu sedang mencari pekerjaan ya? kebetulan saya memiliki toko bunga yang tidak ada penjaganya dan saya tidak bisa selalu berada di sana karena ada pekerjaan lain yang harus saya kerjakan. Kalau... kamu berminat maukah kamu bekerja dengan saya?"
"Ya, itu jika kamu mau. Saya tidak mau memaksa karena kamu bebas memilih pekerjaan yang seperti apapun. Itu jika kamu mau sih, " ucap Risman.
Fara berpikir sejenak, benarkah dia harus menerima pekerjaan yang ditawarkan oleh Risman kepadanya? tapi ini adalah kesempatan yang bagus karena dari kemarin para mencari pekerjaan juga tak kunjung dia dapat.
"Kalau kamu tidak berminat tidak apa-apa kok tidak usah dipaksakan saya hanya berniat untuk membantu tidak ada maksud lain," ucap Risman lagi saat melihat Fara yang terlihat bingung.
__ADS_1
"Tapi saya tidak mempunyai keterampilan dalam hal itu. Saya juga tidak bisa merangkai bunga karena itu bukan keahlian saya. Saya takut kalau nanti pekerjaan saya mengecewakan, Anda," jawab Farah yang begitu sangat sungkan untuk menerima pekerjaan itu meskipun dia sangat membutuhkannya.
"Itu tidak masalah aku bisa membantumu, aku juga bisa mengajak kamu beberapa teknik untuk bisa merangkai bunga menjadi indah. Aku yakin kamu akan bisa melakukannya."
Hampir tak percaya Fara saat ini, di saat dirinya sendiri tidak percaya padanya tapi ada orang lain yang percaya kepadanya padahal dia baru mengenalnya kemarin dan ini adalah pertemuan kedua untuk mereka.
"Tapi...?" Fara masih terlihat bingung, dia masih sangat takut jika akan mengecewakan.
"Itu jika kamu mau, kalau tidak saya bisa cari orang lain."
Sepertinya tak ada pilihan lain kecuali menerima pekerjaan itu lagian Fara tidak perlu susah payah mencarinya dan pekerjaan itu telah datang menghampirinya dengan sendiri.
"Baik, saya akan menerimanya," jawab Fara.
Risman tersenyum, Sepertinya dia lebih bahagia dari Fara sendiri yang mendapatkan pekerjaan. Entah ada maksud apa dari kebahagiaan Risman saat ini semoga saja dia benar-benar orang baik dan benar ingin menolong Fara.
"Datanglah besok di toko bunga di ujung jalan. Aku akan menunggumu jam setengah delapan," ucap Risman.
"Hem.., saya akan datang," Fara mengangguk, dia sangat menyetujui dengan waktu yang ditentukan oleh Risman.
"Kalau begitu saya permisi, sampai bertemu besok," Risman pamit dari hadapan Fara, dengan meninggalkan senyum lagi dan lagi.
Entah apa yang akan terjadi jika Risman mengetahui kalau Fara tengah hamil. Mungkin dia akan menjauhinya dan akan mengatakan kalau Fara adalah wanita yang tidak benar sama seperti orang lain yang sudah mendengar berita tentang kehamilannya.
Fara sangat takut tapi dia juga tidak bisa terus menyembunyikan semua dari dunia tentang kehamilannya, lambat laun semua akan mengetahuinya karena kehamilannya juga akan semakin membesar dengan berjalannya waktu.
Menikmati makan siang sendiri memang tidaklah enak tapi mau bagaimana lagi Toni sama sekali tidak memiliki teman untuk diajak makan siang bersama.
Toni hanya bisa melihat dari kejauhan bagaimana kedua orang yang dia kenal tengah makan bersama meski dengan saling berdebat Siapa lagi yang dia lihat kalau bukan Dimas juga Raisa.
Seharusnya Toni juga bisa mencari teman makan siang sama seperti Dimas. Tapi siapa?
__ADS_1
Suapan demi suapan membuat makanan yang ada di hadapan Toni semakin menipis bahkan hampir habis. Toni kembali melihat ke arah Dimas juga Raisa yang terlihat menyenangkan tapi sayang, mereka berdua terlihat saling berselisih paham atau entahlah Toni tidak tahu jelasnya.
Kring kring kring...
Toni terkesiap saat tiba-tiba ponselnya berbunyi dan membuatnya harus cepat mengangkatnya apalagi setelah dia melihat yang menghubungi adalah Bos besarnya.
"Bawa makan siang untuk ku juga istriku ke ruangan ku sekarang juga. Lima menit harus sampai, karena aku tak mau sampai istriku kelaparan," ucap Arya dari tempat yang berbeda.
Toni terkejut dia tidak tahu sejak kapan bosnya datang ke perusahaan dan saat ini dia meminta untuk mengantarkan makan siang untuknya juga istrinya pasti bingung kan?
"Tuan di ma..."
*Tut tut tut*...
Belum juga selesai Toni menjawab tapi telepon sudah diakhiri dengan sepihak oleh Arya sungguh keterlaluan bukan Bos satu-satunya itu selalu saja berperilaku sesuka hatinya sendiri. Mana waktunya hanya lima menit lagi sungguh terlalu.
"Sabar sabar," Toni hanya bisa mengelus dada, dan bergegas meninggalkan makan siang yang belum selesai semua itu demi bosnya kalau tidak dia pasti akan kehilangan pekerjaannya.
__ADS_1
Bersambung...