Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
92. Amarah Arya


__ADS_3

◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦


_______


Baru saja Arini sampai di depan lift untuk naik ke lantai lima puluh Arini di kejutkan dengan Toni yang keluar dari dalamnya.


Wajahnya terlihat gusar juga gelisah, entah apa yang pria tampan itu pikirkan sampai-sampai wajahnya sungguh berbeda saat di lihat.


Arini kira Toni akan berlalu, melewati dan pergi meninggalkannya tapi ternyata Toni berhenti tepat di hadapan Arini.


"Arini, kamu dari mana saja sih! Tuan Arya dari tadi marah-marah karena kamu pergi. Sekarang kamu di tunggu di ruangannya. Kamu harus cepat ke sana kalau tidak kamu akan kehilangan pekerjaanmu hari ini juga," ucap Toni bahkan suaranya sekarang sama-sama mengerikan seperti Arya saat marah. Apakah semua laki-laki kalau lagi marah akan seperti mereka?


Jelas Arini terbelalak, jam istirahat juga belum habis tapi dia sudah di tunggu oleh Arya bos nya itu. Sebenarnya apa yang membuatnya marah? Arini tidak melakukan apapun kan?


"Beneran, Tuan?! " pekik Arini tak percaya.


Toni mengangguk cepat dia juga terlihat sangat kesal sekarang. Kenapa anak satu ini selalu saja tidak ngerti-ngerti, kok tuannya betah ya ngadepin nih anak satu. Toni saja sudah mulai kehilangan kesabaran kalau seperti ini.


"Tuan, bukannya jam istirahat juga belum habis ya? Tuan Toni, apa pak Tuan kumat lagi?" ucapan Arini pelan seperti berbisik saja bahkan karyawan yang lain tak mendengarnya.


Kumat apanya?


Toni terbengong karena pertanyaan Arini. Bukannya bos nya itu tidak mempunyai penyakit apapun, juga baik-baik saja terus apanya yang kumat?


"Cepat Arini, kamu bisa dalam masalah besar," ucap Toni mengingatkan lagi. Tak akan ada habisnya kalau terus menjawab apa yang Arini katakan.


"Tuan Toni, beritahu Arini dulu. Pak Tuan marah karena apa? " Astaga nih anak belum paham juga ternyata.


Toni semakin kesal, baru tau kalau ternyata gadis di hadapannya sekarang ini sungguh Telmi (telat mikir).

__ADS_1


Geregetan deh si Toni. Tak pernah dia berhadapan langsung dengan Arini yang sedang kumat bodohnya seperti ini, biasanya dia terlihat seperti gadis cerdas dan berwawasan tinggi. Tapi ternyata, astaga.


"Minta penjelasan pada Tuan Arya kenapa dia marah. Saya tidak tau apa alasannya," jawab Toni.


"Saya banyak pekerjaan, permisi," satu cara untuk menjauh dari semua ini adalah pergi dari hadapannya.


"Baik deh, nanti Arini tanya sama pak Tuan kenapa dia marah. Selamat bekerja Tuan Toni," wajah Arini terlihat sangat berbinar padahal dia sedang di hadapkan dengan masalah besar karena sebentar lagi akan menghadapi kemarahan Arya tapi dia sepertinya tidak paham atau memang benar baik-baik saja.


Arini melenggang pergi menggantikan Toni masuk ke dalam lift. Sama sekali tak ada takut-takutnya tuh anak bahkan dia malah terlihat begitu girang.


"Astaga, kok betah ya tuan Arya ngadepin gadis seperti Arini," Toni menggeleng.


Toni pun pergi dari tempat setelah lift sudah tertutup, pekerjaannya lebih penting daripada memikirkan gadis seperti Arini.


/////


"Assalamu'alaikum, pak Tuan," Arini masuk ke ruangan Arya, dia juga tak lupa mengetuk pintu lebih dulu sebelum dia masuk. Bisa-bisa kena omel kalau lupa mengetuk pintu.


"Wa'alaikumsalam..! " jawabannya begitu dingin matanya juga langsung melotot lebar ke arah Arini.


Arini senang, alhamdulillah sekarang Arya sudah menjawab salamnya tanpa harus di ingatkan. Mungkin apa yang Arini katakan kemarin sudah merasuk ke dalam hatinya.


Arini berjalan masuk dengan wajah ceria, dia senang sekali bukan hanya makan siangnya saja dengan Dimas yang membuat dia bahagia melainkan Dimas yang juga membelikan es krim rasa coklat untuknya bahkan es krim itu masih ada di tangannya sekarang di dalam plastik keresek.


"Pak Tuan, kata tuan Toni pak Tuan marah ya, kenapa? " dengan begitu polosnya Arini bertanya tentang alasan kemarahan Arya. Benar-benar pemberani tuh si Arini.


"Arini bilangin ya pak Tuan, marah-marah itu tidak baik. Di samping menumbuhkan penyakit dalam hati juga akan membuat pak Tuan cepat tua. Apa pak Tuan memang mau cepat tua ya? tapi tak apalah ya, kan sudah takdir nggak bisa di tolak."


"Palingan hanya kening mengkerut, pipi kempes, gigi ompong, terus rambut putih, juga jalannya membungkuk gitu bawa tongkat. Hehehe..., lucu kali ya kalau pak Tuan seperti itu," Arini terkekeh tak takut sama sekali.

__ADS_1


Ubun-ubun Arya mulai mendidih sekarang padahal gara-gara Arini yang membuat dia marah tapi nih anak malah begitu polosnya bertanya langsung kenapa dan malah menceritakan dampak dari kemarahannya.


"Diam! " bentak Arya.


Arini terkesiap karena suara Arya yang begitu melengking memenuhi ruangan itu, Arini juga langsung mundur satu langkah dari tempat.


"Dari mana kamu?! " tanya Arya yang penuh dengan penekanan.


Pria tampan itu selalu saja mudah marah, katanya tidak peduli juga tidak perhatian pada Arini tapi sedikit saja Arini membantah apa yang dia katakan dia pasti akan selalu marah-marah.


Bahkan jika ada pria lain yang mendekati Arini pasti dia selalu tidak terima.


"Arini pergi makan siang, Pak Tuan," jawab Arini yang suaranya sudah mulai berkurang.


"Dengan? " mata Arya semakin melotot sungguh mengintimidasi Arini yang berdiri di hadapannya dengan wajah yang sudah menunduk.


"Dengan kak dokter," jawaban yang sangat jujur, "apa pak Tuan tau? kak dokter membelikan Arini es krim rasa coklat, ini es krim kesukaan Arini. Apa pak Tuan tau? Arini baru dua kali makan es krim selama Arini bernafas di dunia. Dulu Arini hanya terus bermimpi dan begitu penasaran dengan es krim rasa coklat, tapi alhamdulillah kak dokter begitu baik membelikan Arini es krim rasa coklat, jadi Arini tidak penasaran lagi."


Tangan Arini terangkat menunjukkan makanan yang barusan dia ceritakan pada Arya. Wajahnya terlihat berbinar mungkin karena Arini memang sangat bahagia.


Bukannya senang atau terharu mendengar cerita Arini Arya malah melotot Arini bukan hanya itu saja, tangannya juga langsung terangkat, mengambil kresek itu dengan kasar.


Arya melangkah menuju ke satu arah dan memasukkan kresek itu ke tempat sampah.


Arini terbelalak, dia juga berlari mengejar Arya untuk mengambil kembali yang menjadi kesukaannya itu.


"Es krim Arini! " teriak Arini.


////

__ADS_1


Bersambung...


____


__ADS_2