
Happy Reading....
Begitu senang Arini setelah berhasil mendapatkan pinjaman uang dari Dimas, setelah sampai di rumah dia terus melangkah dengan girang untuk masuk ke dalam rumah. Tetapi Arini dibuat terkejut dengan kegaduhan yang kembali terdengar dari dalam rumahnya, cepat dia berlari untuk memastikan sebenarnya apa yang telah terjadi.
Prank... prank ...
Baru saja membuka pintu Arini terperanjat karena ada gelas yang berhasil terbang dan jatuh tepat di depan kakinya , ‘’Astaghfirullah hal ‘azim!’’ Arini langsung mengelus dada. Matanya juga langsung terperangah menatap pecahan gelas itu lalu beralih ke arah pelaku yang sebenarnya yang tak lain adalah Melisa yang di temani oleh Ratna.
‘’Kak Melisa! Ibu!’’ Arini melangkah mendekati dengan pelan karena tak mau kakinya sampai terkena pecahan gelas yang pasti akan sangat menyakitinya.
Arini begitu bingung kenapa mereka harus datang lagi dan kenapa juga harus menghancurkan apapun yan ada di dalamnya. Mata Arini mengedar, mengamati semua penjuru yang sudah berantakan dengan barang-barang yang sudah mereka hancurkan. Arini langsung panik, dia khawatir dengan kedua orang tua yang telah merawat dan memberikan kasih sayangnya selama ini.
‘’Kakek, Nenek!!’’ Arini hendak berlari untuk masuk untuk mencari kakek juga neneknya tetapi belum juga masuk dia dihentikan oleh Ratna.
Arini di dorong hingga dia terjengkang jatuh di lantai. Meringis itu pasti, Arini sangat kesakitan saat itu. Air matanya kini harus kembali keluar dan lagi-lagi karena keluarga angkatnya.
‘’Tidak usah kamu hiraukan mereka, kamu bukan siapa pun! Kamu tidak ada ikatan adapun dengan mereka. Saya rasa mereka juga tidak akan membutuhkan kamu begitu juga sebaliknya.’’
Begitu keras Ratna berucap, lidahnya memang sungguh tajam jika untuk menyakiti orang lain, apalagi orang itu adalah Arini.
Meskipun di larang tetapi Arini tetap saja mengkhawatirkan mereka, dia kembali berdiri untuk mengetahui apa yang terjadi kepada kakek neneknya tetapi Ratna tidak membiarkan itu terjadi.
"Sudah saya bilang, jangan pernah dekati mereka lagi. Kamu itu hanya membawa sial untuk mereka!" ucap Ratna lagi.
"Bu, biarkan Arini bertemu dengan mereka. Arini sangat khawatir pada mereka, Bu!" Arini merengek, dia terus memohon tetapi tetap tidak mendapat ijin dari Ratna.
Kebencian Ratna memang sudah mendarah daging untuk Arini. Padahal sudah banyak yang Arini lakukan untuknya juga untuk keluarganya tetapi tetap saja dia seolah menutup mata.
"Sudah lah, Bu. Jangan sakiti Arini lagi," Melisa melangkah maju untuk mendekat Arini.
Tiba-tiba Melisa berlutut di depan Arini dengan memasang wajah sedih dengan air mata yang juga langsung dia keluarkan.
"Arini, aku minta maaf. Aku selalu saja menyakitimu, aku selalu membuatmu sedih. Tetapi kali ini aku mohon padamu, relakan Tuan Arya untukku. Tuan Arya menolak ku hanya karena adanya kamu, tolong kasihanilah aku juga anakku yang akan lahir ini. Apakah kamu tidak kasihan kalau dia tidak mendapatkan pengakuan dari ayahnya?"
"Lihatlah ini, ini adalah hasil pemeriksaan dokter. Anakku sudah tumbuh, dia benar-benar sudah hadir. Apakah kamu akan tega dengannya yang tidak berdosa ini?"
Melisa sengaja mengeluarkan hasil ronsen yang memang membenarkan apa yang Melisa katakan barusan.
__ADS_1
Arini tidak paham dengan hal-hal yang begitu, tetapi dia pernah melihat di acara televisi tentang orang hamil dan juga pemeriksaannya dan itu sama persis.
Hati Arini semakin sakit melihat itu, dia yang masih mencoba untuk tidak percaya dengan apa yang terjadi tetapi lagi-lagi bukti menunjukkan semuanya. Arya yang kekeuh tidak bersalah tapi nyatanya itu telah terjadi di antara mereka berdua sampai-sampai menumbuhkan janin yang sebentar lagi akan menjadi anak mereka berdua.
"Aku mohon, kasihanilah anakku. Pergilah dari hidup Tuan Arya, dan biarkan kami bahagia dan menjadi keluarga yang lengkap," pinta Melisa.
Arini semakin terisak, hatinya semakin sakit seiring pikiran yang terus mengambang dengan apa yang harus dia lakukan. Benarkah dia harus merelakan Pak Tuannya kepada orang lain? Apakah dia benar-benar harus pergi.
"Kami sudah melakukan apapun untuk mu, Arini. Kami sudah membesarkan mu tanpa minta apapun darimu. Apakah kamu tidak bisa melakukan satu saja untuk kami?" Perkataan Ratna tetap terdengar sangat sinis.
Terlihat Ratna mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, dan itu adalah amplop coklat yang sangat tebal.
"Nih, setelah ini pergilah jauh-jauh dari kota ini. Mau kamu pergi kemanapun terserah kamu yang penting jangan lagi kamu muncul di hadapan kami apalagi di depan Tuan Arya," ucap lagi Ratna.
Tangannya melemparkan amplop cokelat itu dan tepat mengenai dada Arini yang terus terdiam dengan begitu banyak rasa sakit.
Sesekali tangan mengusap air matanya, begitu pilu dan menyedihkan nasib hidupnya. Dia sudah di buang oleh keluarga kandungnya, sekarang dia kembali di buang untuk yang kedua kalinya oleh keluarga angkatnya. Dan sekarang? Dia benar-benar tak mempunyai siapapun termasuk kakek juga neneknya.
Hidup dalam ketidak pastian, hidup dalam ketidak jelasan dari keluarga siapa dan yang mana. Tanpa status anak juga keturunan yang jelas juga tanpa tau entah mempunyai nasab atau tidak.
"Izinkan Arini bertemu dengan kakek juga nenek sebentar, Bu. Arini sangat ingin bertemu dengan mereka," pinta Arini di sela tangis yang sudah tidak bisa dia hentikan lagi.
"Tidak, mereka sudah kembali ke rumah karena dia juga sudah tidak sudi lagi bertemu denganmu," seloroh Ratna yang membuat Arini semakin sakit.
"Lebih baik sekarang kamu bereskan semua barang-barang mu dan pergi secepatnya dari sini, kamu tidak pantas lagi berada di tengah-tengah kami semua. Karena apa? Karena kamu memang bukan bagian dari kami," ucap Ratna.
"Yuk Mel, kita pergi dari sini. Tempat ini tidak akan baik untuk perkembangan anakmu, anak sultan yang akan mewarisi semua kekayaannya Tuan Arya," ajak Ratna.
Tak menunggu selesai kata-kata dari Ratna Melisa juga sudah berdiri, dia tidak akan terus menerus memohon di depan Arini. Karena sebenarnya apa yang dia lakukan tadi juga semata-mata untuk membuat Arini merasa iba dan benar-benar mau pergi dari sana.
Langkah Arini terlihat sangat gontai, masuk ke dalam kamar kecilnya yang ternyata juga sudah berantakan karena semua baju-bajunya sudah keluar dari lemari dan sudah tersebar di lantai.
Matanya mengedar ke segala arah, melihat betapa berantakannya kamar yang selalu dia bersihkan lebih dulu sebelum dia pergi, dan kini saat dia pulang sudah bagaikan kapal pecah yang begitu berserakan.
Tubuhnya ambruk di dinding yang kosong tanpa hiasan apapun, perlahan mulai merosot hingga Arini terduduk tanpa alas apapun di atas lantai.
"Ya Allah, Arini harus pergi ke mana? Benarkah Arini memang tidak memiliki siapapun di dunia ini?" tangisnya kembali pecah.
__ADS_1
Arini semakin tersedu, tak kuasa lagi menahan semua derita yang datang silih berganti tiada henti. Entah kapan semuanya akan berakhir dan dia akan bahagia.
"Aku harus kuat, aku tidak boleh cengeng," ucapnya.
Mulut memang bisa berucap seperti itu tetapi tidak pada kenyataannya, Arini
semakin keras menangis. Tangannya yang berusaha menyapu bersih air matanya tetapi terasa tidak ada habis-habisnya dan terus saja mengalir membanjiri.
"Cukuplah aku hanya menjadi milik-Mu ya Allah. Dan cukuplah hanya aku memiliki-Mu di dunia ini."
Perlahan Arini merangkak, mengambil satu persatu baju-baju yang berserakan. Tangannya meraih tas ransel hitam dan dia masukkan semua barang-barangnya tanpa ada yang terlewat.
"Dunia ini bukan milik mereka, tetapi milik Allah. Dunia ini juga sangat luas, tidak mendapat tempat yang baik di sini Allah pasti sudah menyiapkan tempat yang terbaik untukku."
Arini mulai melangkah keluar dari kamarnya juga dari rumah yang selama dia ada di sana begitu hangat dengan lantunan-lantunan Al-Qur'an. Dan tentunya meninggalkan amplop cokelat yang tadi Ratna lemparkan.
Sesekali Arini menoleh lagi, benarkah dia akan pergi meninggalkan tempat itu untuk selamanya?
"Kakek, Nenek maafkan Arini jika selama ini banyak salah. Maafkan Arini karena harus pergi tanpa bertemu dengan kalian, maafkan Arini..." tangisnya kembali pecah lagi.
Arini benar-benar pergi dari sana, meninggalkan rumah itu dan berniat juga meninggalkan kota yang sesaat memberikan kebahagiaan dan begitu banyak cerita yang mungkin hanya akan menjadi kenangan di masa mendatang.
Kakek Susanto juga nenek Murni baru saja turun dari angkot. Ya, keduanya baru pulang dari rumah sakit setelah tadi memeriksakan kesehatan Nenek Murni.
Bukan itu saja, melainkan ada hal lain yang menjadi tujuan Kakek Susanto. Hasil dari tes DNA Arini juga Nilam.
Kakek Susanto begitu senang, akhirnya sebentar lagi Arini bisa bertemu dengan keluarganya. Ya meskipun mereka semua sudah kenal tetapi kemarin hanya sebatas kenal saja dan ternyata mereka adalah satu keluarga yang berpisah cukup lama.
Keduanya terperangah saat masuk dan melihat kearah rumah yang kembali berantakan.
"Astaghfirullah hal 'azim..., ada apa ini?" pekik Kakek Susanto.
"Hey..., apa yang kalian lakukan di sini!" Satu orang yang terlihat menyeramkan datang. Matanya begitu tajam melihat Kakek Susanto juga Nenek Murni.
"Anda siapa? Kenapa anda bicara seperti itu. Ini rumah kami," jawab Kakek Susanto.
"Iya itu tadi pagi, dan sekarang? Rumah ini sudah menjadi milik saya. Karena apa? Karena cucu kalian sudah menjualnya kepada saya."
"Menjual?!" Mata Kakek Susanto juga Nenek Murni saling tubruk, mereka tidak mungkin percaya begitu saja kan? Tidak mungkin rumah mereka di jual kan?
"Ya, ini surat-suratnya sudah ada dengan saya. Dan hari ini juga kalian harus pergi dari sini karena rumah ini akan di ratakan!"
"Tidak, tidak mungkin cucu kami menjualnya."
"Kalian saja yang terlalu bodoh! Bisa-bisanya percaya dengan orang asing dan menampungnya du rumah kalian. Dan sekarang apa? Dia kabur kan membawa uang hasil menjual rumah kalian! Makanya jangan terlalu baik sama orang!" ucapnya sadis.
"Tidak mungkin, tidak mungkin Arini seperti itu," Kakek Susanto menggeleng tidak percaya.
Arini adalah gadis baik-baik, dia sangat mengenalnya.
Bersambung...
__ADS_1