Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
84. Hanya ikan asin


__ADS_3

..._______...


...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...


"Hola Arini, bagaimana kabarmu hari ini? " Raisa langsung duduk seperti biasa di sebelah Arini saat istirahat, tumben saja dia datang tapi tak mengejutkan Arini, biasanya dia selalu saja membuat jantung Arini seakan mau copot.


Raisa melipat kedua tangannya di atas meja pantry wajahnya menoleh ke arah Arini yang pasti matanya juga langsung fokus ke arah gadis yang terlihat sangat muram dan tak semangat itu.


Tak seperti biasa selalu ngoceh kayak beo saat Raisa datang sekarang Arini diam saja, belum ada kata-kata yang keluar meski Raisa sudah melotot ke arahnya dan kini mencondongkan wajahnya semakin dekat seperti mengaca pada wajah Arini.


"Hey, cungkring! Kenapa? " tanya Raisa. Mata Arini memandangi Raisa dengan malas. Tapi dia sedikit kesal karena di panggil cungkring oleh Raisa. Ya meskipun itu memang benar sih. Tubuh Arini yang kecil sangat cocok di panggil cungkring.


"Kamu lapar? " tanya Raisa lagi. Arini hanya menggeleng, dia telah berkamuflase menjadi gadis pendiam sekarang, atau mungkin dia sedang bertapa selama empat puluh hari untuk mendapatkan wajah yang baru? tidak mungkin kan.


"Astaga, benarkah aku hanya bicara sendiri seperti orang gila? Apakah keberadaan ku memang tidak di anggap sekarang? Ya udah, aku pergi saja lagi," Raisa siap berdiri.


Baru saja Raisa mulai berdiri Arini langsung menubruk Raisa untuk memeluknya. Dia tidak menangis tapi dia sangat terlihat sedih. Apakah mungkin Raisa bisa di percaya untuk mendengarkan semua ceritanya? Arini sungguh membutuhkan teman untuk membagi kesedihannya.


Arini tidak sanggup untuk memendam ceritanya sendiri, hati juga kepalanya seakan mau pecah karena terlalu penuh menampung semua kenyataan yang entah pahit atau manis.


Raisa mematung saat Arini memeluknya dengan sangat erat. Gadis di hadapan ini sepertinya sedang ada masalah besar.


"Hey, kenapa, apa ada masalah? " Raisa urung untuk berdiri, dia langsung membalas pelukan Arini dan mengusap-usap punggungnya dengan perlahan.


"Ceritakan semua padaku, bukankah aku sudah pernah bilang kalau aku adalah kakakmu? bagilah masalahmu pada ku kalau kamu tak sanggup menanggungnya sendiri. Semoga saja aku bisa membantumu," ucap Raisa.


Tak seperti biasanya Arini yang selalu tegar dalam setiap masalah apapun tapi sekarang? Masalah apa dan sebesar apa sampai-sampai dia begitu sedih dan diam seperti ini.


Bukannya Raisa merasa kasihan pada Arini saja, Raisa benar-benar tulus mau menjadi teman dalam kondisi apapun Arini.


"Ceritakan padaku," ucapnya dengan begitu pelan. Raisa melepaskan pelukannya dari Arini, memegangi kedua bahu Arini dan menatapnya. Tapi Arini malah terus menunduk.

__ADS_1


Raisa ikut menunduk untuk memandangi Arini, dia ingin memastikan apakah Arini menangis atau tidak tapi ternyata tidak. Dia hanya diam dengan wajah lesu.


"Kenapa? apakah kamu tidak mau cerita, kalau tidak mau juga tidak apa-apa. Aku hargai keputusanmu," ucap Raisa.


"Mbak Raisa, sebenarnya..., kak Melisa itu adalah kakak Arini," Arini mulai berbicara. Hatinya sudah di tata dengan rapi sekarang, dia pasti akan kuat.


"What...!! " Raisa begitu terkejut. Dia tak percaya itu pasti. Bukan hanya penampilan mereka berdua saja yang membedakan tapi juga kepribadian dari mereka yang bertolak belakang.


Arini begitu suci, dia polos dan tak pernah membenci siapapun termasuk orang yang menyakitinya, tapi Melisa? gadis itu sudah sombong, selalu membuat masalah, dia juga selalu menggoda tuan Arya. Pokoknya beda jauh lah.


"Aku tidak percaya," celetuk Raisa, "nenek lampir itu benar-benar kakak mu?! " imbuhnya.


Raisa setia menunggu jawaban dari Arini dan sepertinya jawaban 'Ya' itu tidak di inginkan oleh Raisa. Jika benar iya, sungguh malang nasib Arini entah seperti apa penderitaan yang dia dapat di rumah.


"Dulu Arini kira kak Melisa itu benar-benar kakak Arini. Karena sejak kecil Arini tinggal di rumah Kak Melisa juga Kak Fara. Ibu juga bapak juga selalu mengatakan kami bersaudara, tapi...? "


Ucapan Arini terhenti, apa dia benar-benar sanggup untuk menceritakan semuanya pada Raisa.


"Tapi..., tapi ternyata Arini hanya anak pungut." Arini semakin menunduk.


Raisa mengeluarkan nafas panjangnya, dia juga langsung berdiri tegak juga berteriak.


"Alhamdulillah...! " seruan yang membuat Arini bingung. Kenapa harus alhamdulillah? apakah itu berarti Raisa memang menginginkan itu?


Arini terbelalak, dia tak mengira akan mendapatkan jawaban yang seperti itu. Alhamdulillah..., astaga, Raisa benar-benar membuat Arini geleng-geleng.


"Kok alhamdulillah sih, Mbak?! " protes Arini. Padahal Arini sendiri masih tak percaya dengan kebenaran itu, dan juga masih punya harapan kalau dia bisa kembali ke dalam keluarga Marta tapi ternyata? sungguh mengecewakan.


"Ya, Alhamdulillah dong. Karena apa? karena aku tak ikhlas kamu menjadi adik dari nenek lampir itu. Kamu tidak akan pantas, mending kamu jadi adikku selamanya daripada menjadi adiknya. Aku akan siap memberikan mu makan seumur hidupmu meskipun hanya dengan ikan asin dan sambel terasi," jawab Raisa panjang lebar.


Arini malah tertawa mendengar penuturan Raisa. Tau saja Raisa kalau Arini suka makan ikan asin sama sambel terasi, ya kan memang itu makanan sehari-hari yang selalu Ratna berikan padanya. Meski Arini masak berbagai makanan enak ujung-ujungnya Arini hanya akan makan dengan dua lauk itu saja.

__ADS_1


"Kok mbak Raisa tau kalau Arini suka makan ikan asin dan sambel terasi?" tanya Arini penasaran. Darimana coba Raisa bisa tau mereka kan bertemu belum lama.


"Udah ketebak dari wajahmu yang bau ikan asin. Dan ya, sama kebodohanmu juga. Pantesan kamu nggak pandai-pandai makannya hanya ikan asin dan sambel terasi," ledek Raisa.


"Yeee..., jangan salah ya,Mbak! ikan asin itu


memiliki nutrisi yang tinggi, seperti protein, vitamin A, vitamin B1, mineral, asam lemak omega 3, kalsium, fosfor, juga karbohidrat, " jawab Arini dengan jari-jari yang menghitung satu persatu kandungan dari ikan asin.


"Ikan asin juga kaya akan manfaatnya. Satu, menguatkan gigi dan tulang. Dua, membantu penyumbatan luka. Tiga, mencegah anemia. Empat, mengatasi sistem imun. Lima membantu pembentukan otot. Enam sebagai sumber energi tubuh. Dan masih banyak lainnya. Jadi jangan sepelekan yang namanya ikan asin. Ya tapi harus tetap dalam kewajaran sih makannya."


"Karena kalau berlebihan bisa bahaya juga. Bisa memiliki resiko tekanan darah berlebihan dan penyakit jantung. Selain penyakit jantung, ada juga yang menyebutkan adanya risiko kanker pada orang yang mengonsumsi ikan asin dan makanan yang diasinkan lainnya secara berlebihan. Diduga karena ada kandungan karsinogen atau pencetus kanker, yaitu N-nitroso di dalam makanan yang diasinkan."


Raisa melongo mendengar penjelasan Arini. Benarkah doa bodoh? apakah ini yang di dapat dari makan ikan asin?


"Kamu itu seorang OB atau ahli gizi? " Raisa masih terperangah tak percaya.


Dia saja yang lulusan S1 tidak tau itu semua tapi Arini? benarkah dia hanya lulusan SMP terbuka?


"Apa lagi keajaiban yang kamu sembunyikan di dalam otakmu, Arini?" tanya Raisa.


𝘒𝘳𝘪𝘯𝘨... 𝘒𝘳𝘪𝘯𝘨... 𝘒𝘳𝘪𝘯𝘨....


Baru saja Arini ingin membuka mulut untuk menjawab Raisa ponselnya berdering dengan sangat keras. Arini cepat-cepat mengangkatnya karena dia tau itu dari Pak Tuannya. Ya, karena hanya nomor Arya saja yang tidur pulas di ponselnya.


"Assalamu'alaikum, Pak Tuan.. "


Baru saja menyapa Arini langsung menjauhkan ponselnya, "dasar pak Tuan! Apa dia tidak bisa bicara dengan pelan! apa harus bicara seperti toa?! " omel Arini.


/////


Bersambung...

__ADS_1


_________


__ADS_2