Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
313.Sebuah Kebahagiaan


__ADS_3

Happy Reading...


Bunga-bunga menjadi saksi akan sebuah cinta yang terus bermekaran, semakin indah dan semakin semerbak menyamakan semua bunga yang berdiri kokoh dengan tiangnya sendiri yang begitu kecil.


Cinta memang tak mudah di pahami, terkadang sangat susah sekali datangnya tapi terkadang sangat mudah untuk pergi. Sangat susah juga untuk di bedakan, entah itu benar-benar cinta sejati atau sebuah obsesi. Itulah Cinta.


Di tengah keramaian akan pengunjung, kedua insan tetap bisa terus membuat cinta mereka semakin mekar dan indah ketika di pandang. Tak hanya jualan mereka yang enak di lihat tapi senyum kebahagiaan karena penuh cinta akan memberikan energi tersendiri. Bukan begitu kan?


Sebisa mungkin mereka terus tersenyum ramah, saling melayani dan saling mengisi satu sama lain untuk menjadikan usaha mereka tetap berkembang dengan baik.


"Kak, bunga mawar merahnya sudah habis. Sepertinya hari ini begitu banyak peminatnya," Fara menoleh seraya memperlihatkan wadah yang sudah kosong.


Di sanalah tempat para bunga mawar merah itu berdiri dengan tegak memperlihatkan keindahannya dan sekarang semua sudah di beli oleh peminatnya, heran nggak heran sih.


"Alhamdulillah kalau begitu, sebentar lagi pasokan mawar_nya akan datang. Sudah ada di jalan jadi tunggu saja," Risman mendekat, mengelus pundak Fara dengan penuh kelembutan.


Tak akan seperti ini dan semaju seperti sekarang jika tak ada Fara di samping Risman. Dia memang sangat ahli, tapi dia kekurangan dukungan juga kurang doa tentunya. Dan sekarang keduanya telah dia dapat, dukungan dari istri yang selalu melangkah di samping juga doa yang pastilah selalu di ijabah karena semakin hari toko juga semakin ramai.


"Alhamdulillah ya, Kak. Usahanya semakin lancar," wajah ceria dari Fara membuat tangan Risman menjadi gatal, rasanya ingin sekali mengelus nya atau mungkin mencubitnya dan itu langsung dia lakukan.


"Kak," Fara sedikit menghindar. Bukan apa-apa tapi Fara takut saja dia semakin tembem.


Setelah kelahiran anaknya bukan hanya tubuh Fara saja yang terlihat seperti membengkak tapi pipinya juga. Tetapi itu tidak menjadi masalah bagi Risman dia sangat bahagia. Alhamdulillah katanya semua adalah anugerah.


"Kak, saya masuk dulu ya. Mau lihat adek," dengan lembut Fara berpamitan dengan senyuman juga menjadi hiasannya.

__ADS_1


"Hem, kalau sudah bangun ajak saja dia kesini, aku kangen," pinta Risman.


Memang, anak Fara bukan anak kandung tapi baginya dia adalah anaknya meski ikatan mereka hanya tumbuh dari hati bukan dari ikatan yang tumbuh karena hubungan sedarah.


"Iya," Fara mengangguk cepat lalu mulai melangkah.


"Permisi, mau pesan bunga lily berwarna putih apakah ada?" belum juga Fara masuk dan baru setengah jalan toko kembali kedatangan tamu.


Suara itu?


Yah! suara itu mampu membuat kaki Fara berhenti melangkah. Suara yang sangat tidak asing dan sangat dia kenal.


Tubuhnya mulai gemetar, mata mulai meradang dengan jantung yang seolah berhenti untuk berdetak.


Tak berani Fara menoleh, dia sangat takut apa yang dia pikir adalah benar. Dia sudah sangat bahagia dengan hidup barunya tapi kenapa dia seolah ingin datang, apakah dia akan menghancurkan segalanya?


"Ada, tolong tunggu sebentar," ucapan Risman juga begitu ramah, tak tau kalau istrinya tengah gelisah di belakangnya.


Bunga lily?


Bahkan bunga itu adalah bunga kesukaan Fara dulu apakah itu artinya orang itu benar? apakah dia benar-benar orang yang menjadi masa lalu untuk Fara?


"Loh, kamu belum masuk juga, Yang?" kini Risman melihat kalau Fara masih berdiri di sana tak jauh dari dirinya berada.


"Apakah ada sesuatu yang kamu lupakan? atau mungkin ada yang mau kamu katakan?" Risman kembali bertanya.

__ADS_1


"Ti_tidak, saya masuk dulu, Kak," tanpa menoleh Fara langsung berlari dia tidak mau menerima kenyataan kalau yang datang adalah orang yang ingin dia lupakan. Semoga saja bukan dia.


"Ini, Mas," di serahkan bunga lily yang sudah menjadi rangkaian yang terbungkus sangat cantik di tambah pita berwarna putih juga.


Bukan hanya orang itu yang bahagia karena pesanannya terlihat begitu indah tapi Risman juga sangat bahagia karena pelanggannya merasa puas.


Tak ada yang lebih di inginkan oleh setiap pedagang kecuali pelanggannya merasa puas. Dengan seperti itu bukannya mereka akan kembali lagi kan?


"Terima kasih, Mas." tangannya menerima buket itu dengan tangan menyodorkan beberapa lembar uang juga langsung di berikan pada Risman.


"Terima kasih, Mas," ucap Risman begitu bahagia.


"Saya permisi, Mas." pamitnya.


Risman mengangguk seraya tersenyum untuk mengantarkan kepergian orang itu.


"Semoga saja Fara senang dengan kedatangan ku, semoga dia mau memaafkan ku," ucap orang itu yang samar-samar di dengar oleh Risman.


Risman yang sudah mau masuk menjadi urung dan malah memperhatikan kepergian orang itu yang kini sudah masuk ke dapat mobilnya.


"Fara?" gumam Risman.


...****************...


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2