Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
124. Hanya aku yang boleh merindukannya


__ADS_3

Happy Reading...



Bukan hanya perhiasan saja yang Luna beli untuk menyenangkan hati Nadia, tapi semua perlengkapannya juga. Dari gaun yang indah juga high heels yang berwarna putih senada dengan gaunnya yang indah.



Semua begitu sempurna saat dicoba oleh Nadia, gadis yang berprofesi sebagai model ternama itu terlihat sangat cantik bahkan sudah seperti seorang putri dari negeri dongeng, cantik dan sangat sempurna.



Luna begitu mengagumi calon menantunya yang begitu sempurna, senyumnya terus merekah bahkan dia juga mengabadikannya dengan ponselnya.



Sentuhan akhir untuk Nadia, sebuah mahkota berwarna silver yang menambah kesempurnaannya.



“Ya ampun, kamu cantik sekali. Tidak salah aku memilihmu untuk menjadi istri Arya. Yang jelas kamu tidak akan memalukan keluarga, dan bisa di banggakan.” Ucap Luna.



“Tan, tapi Nadia takut. Bagaimana kalau Arya tidak mau menerima pertunangan ini dan malah menggagalkannya. Nadia tidak akan bisa hidup tanpa Arya, Tan,” rengek Nadia dengan begitu manja.



Semburat ketakutan memang sangat terlihat di wajah Nadia, tapi mungkin bukan ketakutan kalau pertunangannya gagal dan dia tidak bisa memiliki Arya. Tapi dia takut kalau pertunangannya gagal berarti dia tidak bisa menjadi nyonya besar di keluarga Gautama.



Pernikahan bukan mayoritas utama untuk Nadia, tapi hartanya Arya yang selalu menjadi incarannya.



“Kamu tenang, untuk masalah itu biar tante yang mengurusnya. Saat ulang tahun Arya besok kalian akan tetap bertunangan entah apa pun yang terjadi.”


__ADS_1


Entah apa yang menjadi rencana dari Luna untuk membuat pertunangan benar-benar terjadi. Tapi Luna pasti memiliki cara itu.



“Baiklah, Nadia akan percaya pada Tante.” Nadia hanya akan pasrah, menyerahkan semua kepada Luna untuk acara pertunangannya.



Jantung Dimas berdetak tak menentu saat dia mengingat Arini yang tengah tersenyum, apalagi lesung pipinya yang dia miliki membuat Dimas tak bisa berlama-lama untuk tidak bertemu dengannya.


Di dalam ruang kerjanya Dimas tengah duduk bersantai, dengan melamun dia memikirkan Arini. Tangannya menjadi tiang untuk dagunya sendiri.


“Ya Allah, kenapa aku begitu merindukannya? Sebenarnya ini rasa yang seperti apa, tidak mungkin kan aku benar-benar menyukainya?” terlihat sangat bingung Dimas sekarang. Dia sama sekali tidak mengerti apa yang ada di dalam hatinya. Entah itu benar-benar cinta atau hanya karena sayang semata.


“Sebentar lagi dia akan datang, aku akan menjemputnya di depan,’’ Dimas begitu antusias, dia berdiri melepaskan jas kebesarannya dan menaruhnya di kursi. Dimas keluar, dia ingin menjemput Arini.


Langkahnya begitu cepat dia sudah tidak sabar ingin secepatnya sampai dan ingin bisa melihat Arini.


Sampailah Dimas di depan rumah sakit, dia menunggu sejenak, dia mondar-mandir dengan tak sabar. Hingga akhirnya ada mobil hitam yang mewah datang.


“Itukan mobil Tuan Arya?” jelas Dimas mengernyit bingung.


“Jangan pergi, jangan tinggalkan aku,” Arya begitu memohon, tapi itu tidak akan di hiraukan oleh Arini.


“Arini, aku ikut,” ucapnya lagi. Dan apa yang dia katakan itu bukan tanpa ada alasan. Arya melihat ada Dimas yang berdiri di depan pintu yang terus mengamati mobilnya.


Arini tak menjawab, dia langsung keluar dari mobil. Arya pun mengikutinya karena dia tidak mau sampai ada Dimas yang dekat-dekat dengan Arini. Tidak akan rela.


Kali ini Arini memang lebih pendiam dari sebelumnya yang selalu cerewet bukan main. Bahkan dia selalu memberikan ceramahnya pada Arya tapi tidak untuk sekarang? Ada rasa malu dalam dirinya yang keluar.


Benar saja, ternyata Dimas ada di sana karena menunggu Arini. Semua itu bisa di lihat dari antusiasnya Dimas saat melihat Arini yang semakin mendekat.


“Assalamu’alaikum, Pak dokter,” Sapa Arini dengan sangat pelan.


“Wa ’alaikumsalam... alhamdulillah kamu sudah datang, dari tadi aku sudah menunggumu.” Ucap Dimas.


Astaga, Dimas mengatakan itu di depan Arya dan pria itu sekarang sudah melotot tak terima.


Tak ada yang boleh menunggunya apalagi sampai merindukannya. Arini hanya miliknya dan akan selalu seperti itu untuk selamanya, pikir Arya yang mulai dengan kebucinan yang sudah besar.

__ADS_1


“Untuk apa kamu menunggunya, apakah tidak ada orang lain yang bisa kamu tunggu selain Arini?” ucapan Arya terdengar sangat ketus dia tidak terima dan kini dia langsung berdiri dengan gagahnya di sebelah Arini.


Begitu tak sabarnya ingin menyapa Arini, Dimas sampai tak melihat kalau ada Arya juga yang datang. Dimas pikir tadi Arya datang sekedar untuk mengantarkannya lalu pergi lagi tapi ternyata tidak, Arya ikut masuk.


“Tuan, maaf. Bukan maksud saya...”


“Halah, sudahlah jangan banyak alasan! Awas saja kalau kamu berani mendekatinya.”


Selalu seperti itu yang Arya katakan, dan itu sama sekali tidak membuat Dimas takut. Dimas juga tidak tau kalau sekarang Arya juga Arini sudah mulai membangun bangunan asmara yang kokoh di dalam hati mereka, Dimas tidak mengetahuinya.


Dimas pikir larangan Arya kali ini seperti biasa, dia masih berpikir kalau Arya masih saja mengganggu Arini dengan kelakuannya yang menyimpang.


“Bukannya kamu datang ke sini untuk menemui tante Nilam, kan? Yuk cepat! Setelah dari sini kamu harus ikut denganku.”


Arya hampir saja merangkul Arini tapi gadis itu tak membiarkan itu terjadi dan sekarang dia sudah nyelonong lebih dulu.


Dimas terdiam, sial sudah. Dia tak bisa berdua dengan Arini dan semua itu karena Arya yang bertingkah sok menguasai Arini yang hanya OB-nya saja.


Dengan menahan rasa kesal Dimas mengikuti berjalan di belakang mereka, membiarkan Arya berjalan berdampingan dengan Arini. Meskipun hatinya saat ini ingin sekali ngamuk.


Tak akan di biarkan Dimas mengambil kesempatan untuk bisa berdua saja dengan Arini hingga Arya ikut masuk ke dalam ruangan Nilam berasa.


“Assalamu’alaikum..., Tante Nilam,” sapa Arini dengan sangat pelan. Kakinya juga melangkah perlahan hingga akhirnya sampai di sebelah Nilam berada.


Diraihnya tangan Nilam, seperti biasa dia akan selalu memberikan salam taklim dengannya.


Pemandangan yang sangat berbeda di lihat oleh Arya, dia sadar sepenuhnya kalau Arini benar-benar mirip dengan Nilam. Arya bahkan tidak berkedip melihat persamaan dari mereka berdua.


“Apakah ada yang terlewat dari mataku? Sepertinya tidak! Arini benar-benar mirip dengan tante Nilam, apa mungkin dia..?”


Arya terus berpikir seperti itu karena mereka berdua memang sangat mirip, hanya warna kulit saja yang berbeda.


‘‘Aku akan mencari tau. Kalau benar mereka adalah ibu dan anak berarti Arini bisa akan bahagia. Dan aku yakin tante Nilam juga akan cepat sembuh setelah anaknya telah kembali. Maafkan Arya, Tan! Arya belum bisa menebus kesalahan yang telah terjadi, maaf.”


Arya hanya bisa menyatakan semua itu di dalam hatinya, karena dia tak mau sampai Arini ataupun Dimas mengetahui apa yang sebenarnya dia lakukan.



Bersambung.....

__ADS_1


\_\_\_\_\_\_\_


__ADS_2