
◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦
_______
Langkah berlomba-lomba dengan waktu yang semakin siang. Kaki jenjang dari Susanto mulai menapaki pelataran rumah sakit Gautama. Dia belum tau pasti tapi dia yakin kalau Arini ada di dalam di ruangan Nilam seperti biasanya.
Memang Arini tak mengatakan kepada Susanto kalau saat ini dia ada di sana tapi semua hanya sesuai nalurinya sama yang biasa Arini akan datang ke rumah sakit saat pagi hari, dan mungkin malam tadi dia juga ada di sana.
Lajunya semakin cepat karena dia sudah tidak sabar ingin bertemu dan memastikan bahwa Arini ada di sana, Susanto sangat khawatir. Dari kemarin Arini tidak pulang bahkan tidak ada kabar sama sekali.
Lorong-lorong rumah sakit dia lalui dengan langkah cepat dan pasti dia sudah tau di mana Nilam di rawat jadi dia langsung menuju kamar itu tanpa bertanya pada siapapun.
Langkahnya terhenti tepat di depan ruangan Nilam. Dia ragu untuk masuk karena dia tau tak sembarangan orang bisa keluar masuk ke sana dengan mudah.
Susanto begitu bingung, dia terdiam sesaat seraya berpikir apa yang akan dia lakukan sekarang. Nafas panjang Dia keluarkan, mengiringi tangan yang mulai menyentuh pintu untuk membukanya.
Belum juga berhasil dia bukan pintu sudah terbuka dari dalam. Seorang laki-laki yang seumuran dengan anaknya keluar dari ruangan itu yang pasti ada pemuda juga yang ada di belakangnya. Mereka adalah Hendra juga Dimas.
Keduanya terkejut dengan kedatangan Susanto, kalau Dimas dia tidak begitu bingung karena dia sudah mengenal Susanto tapi tidak dengan Hendra dia sama sekali belum mengenal bahkan baru kali ini dia bertemu.
"Kakek, kenapa kakek kesini? Apa ada sesuatu yang terjadi? " tanya Dimas. Dimas mendekat dengan wajah bingung dan juga langsung gelisah sebenarnya apa yang terjadi sampai Susanto datang ke rumah sakit sekarang, apa mungkin Murni istrinya kembali sakit?
"Hem..., Nak Dimas, apakah Arini ada di sini?" tampa basa-basi lagi Susanto langsung mengatakan apa yang menjadi tujuannya datang, yaitu mencari Arini.
"Dari kemarin Arini belum pulang. Saya sangat khawatir dengannya. Saya pikir dia ada di sini untuk menemani mamanya nak Dimas," imbuh Susanto.
Mata Dimas seketika menoleh ke arah Hendra. Matanya juga membulat seolah memberikan pertanyaan pada Papanya dengan matanya. Bagaimana tidak, kemarin Arini pulang dengan Hendra kan.
Hendra menjawab dengan menggeleng, dia sungguh tidak mengetahui keberadaan Arini sekarang karena dia kemarin sudah mengantarkannya sampai depan rumah tapi dia sama sekali tidak tau setelah itu Arini pergi kemana dan dengan siapa.
"Pa," panggil Dimas meminta penjelasan kepada Hendra.
"Saya tidak tau dimana Arini sekarang, Dim. Kemarin papa benar-benar mengantarkan sampai depan rumah. Ada pak Jojon juga di sana," jawab Hendra. Itulah kebenarannya, Hendra sudah mengantarkan Arini sampai rumah dan ada sopirnya yang menjadi saksi bahwa dia tidak berbohong.
"Apakah kakek sudah menghubungi orang-orang terdekat Arini? Barang kali dia pergi ke rumah mereka," ucap Dimas.
__ADS_1
Susanto menggeleng, tidak mungkin Arini akan pergi dengan orang lain Arini tidak mempunyai teman sama sekali dan Susanto percaya itu.
"Apa mungkin Arini sudah pergi ke tempat kerjanya? " tanya Dimas lagi.
Mungkin memang benar Arini sudah pergi ke tempat kerjanya tapi semalam dia pergi kemana? "Kalau begitu saya akan pastikan ke sana. Semoga saja Arini benar-benar ada di sana," ucap Susanto.
"Kalau begitu biar saya temani, Tuan," ucap Hendra menawarkan. Sesungguhnya Dimas juga ingin bisa membantu mencari Arini namun terhalang dengan pekerjaannya sebagai dokter. Dimas tidak mungkin pergi begitu saja, ada banyak pasien yang menunggu dirinya.
"Baiklah," jawab Susanto setuju.
////
Dengan mobil hitam Susanto pergi dengan Hendra ke tempat Arini bekerja, di perusahaan Gautama grup. Keduanya masih diam dan belum mengatakan apapun satu sama lain, sampai akhirnya Susanto tidak sengaja melihat sebuah foto seorang laki-laki juga perempuan yang terlihat begitu bahagia. Lebih tepatnya foto keluarga.
Yang laki-laki itu sepertinya adalah Hendra yang sekarang duduk di sampingnya tapi itu dalam versi yang masih muda. Laki-laki itu merangkul bahu anak kecil yang mungkin usianya baru belasan tahun. Sementara yang perempuan? Susanto belum mengenalnya, namun perempuan itu tengah mengandung.
"Apakah dia istri Anda? " tanya Susanto seraya menoleh ke arah Hendra.
Hendra mengangguk dia juga tersenyum kecil. Diraihnya foto itu, Hendra mengeluarkan senyum pilu melihat foto itu. Di sana mereka sangat bahagia, seperti keluarga yang sempurna tanpa ada masalah juga derita, itu adalah foto saat menjalani tujuh bulan kehamilan Nilam, kehamilan yang keduanya.
"Kalian terlihat sangat bahagia," ucap Susanto lagi. Siapapun yang melihat itu pasti akan memberikan kesimpulan yang
Hendra masih diam, dia sangat enggan untuk bicara. Menceritakan semua kejadian beberapa tahun lalu berarti dia telah membeberkan aibnya sendiri yang telah membuang anaknya.
"Apakah anak laki-laki ini adalah nak Dimas?" tanya Susanto lagi, dan Hendra mengangguk.
"Terus, dimana adiknya sekarang. Apakah dia sedang menimba ilmu di suatu tempat?" tanya Susanto. Dia lebih cerewet saat ini semua itu bukan tanpa adanya alasan, tapi wajah perempuan itu yang begitu mirip dengan cucunya Arini membuatnya sangat penasaran.
"Dia sudah tiada. Saya kehilangan dia karena kesalahan saya," jawab Hendra yang menjawabnya dengan jujur. Matanya sudah berkaca-kaca saat mengatakan itu. Dia sangat sedih.
"Maksudnya kehilangan, apakah dia sudah meninggal?" tanya Susanto semakin penasaran.
"Ya, dia sudah meninggal karena kesalahan saya. Dan sejak saat itulah kebahagiaan rumah tangga saya lenyap sampai sekarang, bahkan istri saya juga tak sadarkan diri satu tahun setelah kehilangan putrinya hingga sekarang," jawab Hendra.
"Karena apa putri kalian meninggal?" Susanto semakin mengorek informasi dari Hendra dia ingin tau lebih jelas semua kejadian terperinci dari semaunya.
__ADS_1
"Kita sudah sampai, kita bisa lanjutkan lain waktu," mobil sudah berhenti di depan perusahaan Gautama dan membuat berakhirnya perbincangan mereka yang sangat di tunggu-tunggu akan kelanjutannya oleh Susanto.
Hendra kembali menyimpan foto itu, dia juga langsung keluar mendahului Susanto yang masih terdiam dengan rasa penasaran. "𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘵𝘢𝘥𝘪 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘶𝘵𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭, " batin Susanto.
//////
Toni begitu bingung saat ini, dia berdiri di pintu masuk untuk menunggu kedatangan Arya. Meeting dengan semua kolega bisnis Arya sudah hampir di mulai tapi sang pembuat acara sama sekali belum terlihat bahkan di hubungi juga tidak bisa.
Toni terus mondar-mandir dengan gelisah dengan tangan yang memegangi ponselnya yang setiap beberapa menit dia gunakan untuk menghubungi Arya tapi tetap saja tidak pernah terjangkau.
"Anda dimana sekarang, Tuan? Meeting ini bisa gagal kalau anda tidak ada," ucap Toni.
Dia sudah berusaha untuk menahan semuanya tapi entah sebentar lagi kalau Arya tetap tidak datang juga. Mungkin mereka akan pergi dari sana dan mungkin meeting akan di tunda.
Bukannya mobil Arya yang datang tapi mobil hitam yang sama warnanya tapi beda pemiliknya yang datang. Toni juga sudah sangat mengenal siapa yang datang.
"Tuan Hendra?" Sembari mengerutkan keningnya Toni berjalan untuk menyambut kedatangan Hendra, dia juga sangat hormat kepada Hendra sama seperti dia hormat kepada Wiguna.
"Siang Tuan Hendra. Tumben Anda mampir ke sini, apa ada hal yang penting?" tanya Toni dengan sangat formal.
Toni melirik kearah lain saat Susanto keluar dari mobil yang sama dengan Hendra. Toni tidak bingung lagi karena dia sudah mengenal Susanto meskipun dia belum pernah bertemu orangnya langsung, dia hanya melihatnya dari foto saja saat dia mencari tau identitas Arini.
"Apakah kamu mengenal Arini?" pertanyaan Hendra membuyarkan mata Toni yang masih menatap Susanto. Toni masih bingung bagaimana bisa Susanto bersama dengan Hendra.
"Saya mengenalnya. Emang ada apa, Tuan?" tanya Toni penasaran.
"Apakah dia sudah berangkat kerja hari ini?" tanya Hendra.
Jelas Toni menggeleng, dia sama sekali belum melihat Arini juga Arya hari ini. Aneh, kenapa mereka berdua bisa hilang bersama apakah mungkin mereka memang pergi bersama.
"Arini belum datang, Tuan. Bahkan tuan Arya juga belum," jawab Toni dengan jelas. "𝘈𝘥𝘢 𝘢𝘱𝘢 𝘪𝘯𝘪, 𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘵𝘶𝘢𝘯 𝘈𝘳𝘺𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘶𝘢? " tanya Toni dalam hati.
//////
Bersambung...
__ADS_1
_____
.