Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
217.Terlambat Pulang


__ADS_3

Happy Reading...




Sampai malam Arini menunggu Arya yang belum juga pulang. Waktu juga sudah menandakan pukul dua puluh satu. Dia masih setia duduk di ruang tengah. Dia juga belum makan malam bersama yang lainnya karena dia masih ingin menunggu suaminya, dia hanya akan makan malam bersama dengan Arya saja.



"Nak, ini sudah malam. Makanlah dulu sedikit nanti kamu bisa makan lagi setelah suamimu pulang," bujuk Nilam yang masih menemani Arini di ruangan itu.



"Arini belum lapar, Ma. Arini makan nanti saja bersama Mas Arya," jawab Arini.



"Aduh, kangen banget ya dek. Lagian suamimu itu juga gimana sih! masak baru saja menikah udah kerja lagi," oceh Dimas yang masih berjalan menuruni anak tangga.



Nilam juga Arini seketika menoleh, Nilam tetap berwajah biasa saja tapi beda halnya dengan Arini yang langsung melotot karena tak terima kalau Dimas membicarakan hal tak enak tentang suaminya.



"Emang kenapa kalau Mas Arya bekerja, sebelum menikah dia juga sudah bekerja kan? Mas Arya kan seorang pemimpin tak mungkin kan dia akan lepas begitu saja meskipun dia baru menikah," meskipun tersirat rasa kesal tapi Arini tetap mengatakannya dengan sangat pelan dan lembut. Dia memang tidak menyukai kekerasan kan?



"Wah wah, yang sudah cinta mati pasti akan selalu membelanya nih. Terus aku nggak di bela gitu?" Dimas duduk di sofa yang lain, memandangi Arini dengan senyum jailnya.



Bukan niat apa-apa tapi Dimas hanya ingin sedikit meledek Arini saja. Sudah lama dia ingin merasakan hal ini, punya adek lalu di godain atau di ledekin setiap saat. Senang pokoknya hati Dimas sekarang.



"Iyalah, harus cinta kan sama suami sendiri. Kalau sama orang orang lain baru tidak boleh. Iya kan, Ma?" Arini menoleh ke arah Nilam dan sang mama hanya mengangguk dan memberikan sedikit senyuman untuk Arini.



"Sebenarnya pekerjaan apa yang begitu penting sampai-sampai dia lupa waktu begini, hhh..." nafas panjang Dimas keluarkan, dia yang lebih ketar-ketir daripada Arini. Dimas hanya takut saja kalau Arya akan kembali melakukan hal yang tidak benar lagi. Bagaimanapun masa lalu Arya sangat menyimpang jauh dari semestinya.



"Dek, bikinin kopi dong. Kata papa kopi buatan mu enak. Aku penasaran ingin mencicipinya," pinta Dimas.



"Kopi buatan Arini biasa-biasa saja, Kak. Tapi tak apalah aku bikinin," Arini cepat beranjak, melangkah ke dapur untuk segera membuat kopi yang di minta oleh Dimas.



"Dim, jangan suka suruh-suruh dong. Kasian adekmu, dari tadi dia baru istirahat sebentar," ucap Nilam menegur.



"Nggak akan lagi, Ma. Hanya sekali saja. Lagian aku sangat penasaran dengan rasanya kayak gimana."



"Oh, ya sudah, Mama sudah ngantuk. Kamu temenin adikmu nunggu suaminya pulang," Nilam juga langsung beranjak setelah mengatakan itu kepada Dimas.


__ADS_1


"Iya, Ma," Dimas langsung mengeluarkan ponselnya setelah Nilam pergi. Cepat dia menghubungi Arya untuk menanyakan sudah akan pulang atau belum.



Sementara Arya sudah pergi dari kantor sebenarnya. Tapi dia ingin mencari sesuatu yang akan dia berikan kepada Arini. Kemarin dia belum sempat memberikan apapun yang berarti saat pernikahan dan sekarang dia ingin memberikan sedikit kejutan untuk istrinya.



Begitu senang Arya bisa mendapatkan apa yang ingin dia berikan kepada Arini, senyumnya terus mengembang dengan sangat lebar dengan sesekali mengecek ulang.



"Alhamdulillah," ucapnya.



"Sekarang tinggal ke tempat eyang sebentar lalu aku akan pulang," imbuhnya dan cepat bergegas.



Entah apa yang akan eyang Wati berikan tapi dia mengatakan kalau ada hadiah khusus untuk Arini. Karena dia tidak bisa mengantarkan sendiri jadi dia meminta Arya untuk mengambilnya ke rumah utama.



Sepuluh menit di perjalanan, dan sekarang mobil Arya sudah berhenti di depan rumah mewah, rumah utama keluarga Gautama.



Cepat Arya turun dari mobil, dia juga berlari kecil untuk cepat sampai ke tempat eyangnya berada. Arya tidak ingin lebih lama lagi meninggalkan Arini, lagian dia juga sudah sangat terlambat.



"Assalamu'alaikum..." uluk salam sekarang sudah mulai terbiasa Arya ucapkan. Dia benar-benar ingin berubah meski dengan cara perlahan. Dia ingin terus belajar menjadi orang yang taat, dan menciptakan rumah tangga yang islami. Dia tidak ingin kelak anak-anaknya akan memiliki perilakunya yang menyimpang sana seperti dirinya.




"Malam, Eyang," sapa Arya. Arya berhenti tepat di depan eyang Wati, memberikan salam takzim kepadanya dan juga mencium pipi kanan kiri milik eyang Wati.



"Malam, Nak," eyang Wati kembali duduk setelah Arya melepaskan dirinya, dia juga sudah tidak kuat untuk berdiri lebih lama lagi, maklumlah faktor umur.



"Mama dan Papa kemana, Eyang?" Arya mengamati sekitar sebelum dia duduk di sebelah eyang Wati. Dirasa tak ada orang lain dia langsung duduk.



"Mereka sedang makan di luar," jawab Eyang Wati.



Arya hanya mengangguk dan cepat duduk disebelah eyang Wati.



Tangan eyang Wati meraih dua kotak di sebelahnya kotak kecil juga kotak besar. Satu berbungkus silver sementara yang satu berbungkus kuning keemasan.



"Ini hadiah dari Eyang. Tolong berikan kepada Arini ya. Dan mintakan maaf padanya karena eyang terlambat memberi hadiahnya," Diserahkan dua kotak itu kepada Arya, entah apa isinya tapi Arya langsung menerimanya.


__ADS_1


"Baik Eyang, akan Arya katakan pada Arini," jawab Arya setelah berhasil menerima hadiah itu dari eyang Wati.



"Sekarang pulanglah, ini sudah malam jangan sampai Arini menunggumu kelamaan, kasihan dia," pinta Eyang Wati.



"Tapi? Eyang nggak apa-apa di rumah sendiri?



" Tidak apa-apa, kan sudah ada para mbak-mbak yang menemani Eyang. Ada penjaga juga kan? sekarang pulanglah."



"Baik, Eyang. Terimakasih hadiahnya."



Arya benar-benar bergegas untuk pulang, dia sudah sangat tak enak mungkin Arini masih menunggunya di rumah.



Begitu buru-buru Arya untuk segera pulang, sampai-sampai dia terus berlari untuk bisa secepatnya sampai di tempat parkir.



Baru saja Arya ingin membuka pintu mobil ponselnya berdering dan membuatnya harus berhenti sejenak untuk mengetahui siapa yang menghubunginya.



"Assalamu'alaikum," ucapnya.



"*Wa'alaikumsalam, Tuan. Tuan masih di kantor?" tanya seseorang dari seberang yang ternyata adalah Dimas*.



"Tidak, saya sudah ada di jalan untuk pulang," jawabnya.



"*Cepatlah pulang, Tuan. Kasihan istrimu, dari tadi dia menangis karena anda tak pulang-pulang," ucap Dimas dengan berbohong*.



"Saya akan secepatnya sampai!" Arya langsung bergegas setelah mendengar kalau Arini menangis. Arya jadi merasa bersalah kalau saja dia tidak pulang terlalu malam mungkin Arini tidak akan menangis.



Arya langsung berlari setelah mematikan ponselnya dan mengantonginya di saku celana. Dia harus bergegas dan harus cepat sampai rumah kalau tidak pasti Arini akan terus menangis dan bisa jadi dia akan marah padanya.



"Aku akan segera sampai, Arini."



Mobil pun melaju dengan cepat. Tak mau membuang-buang waktu lebih lama lagi.



\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2