Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
291. Kesepian Saat Di tinggalkan


__ADS_3

Happy Reading...


◦•●◉✿"""✿◉●•◦


Lengkap sudah kebahagiaan Arini saat ini. Di saat mengandung anak pertamanya dia mendapatkan semua kasih sayang dari semua orang. Terlebih lagi dari Arya.


Tak ada kekurangan apapun dalam diri Arini. Dalam moril maupun batin semua terpenuhi. Di tambah Arini yang kini cuek tak menanggapi apapun soal kata-kata miring tentang dirinya, membuat Arini benar-benar bahagia. Yang pasti dia ingin hanya kesehatan dia juga anak dalam kandungannya yang menjadi prioritasnya.


Meski hanya tinggal bersama Arya dan beberapa asistennya saja di rumah mewahnya, tapi Arini sangat bahagia. Sesekali orang tuanya datang begitu juga dengan kakak dan kakak iparnya.


Semua keinginan Arini selalu di penuhi oleh Arya, dan laki-laki yang dulu begitu tidak bertanggung jawab itu kini menjelma menjadi laki-laki yang sangat bertanggung jawab, memberikan semua keinginan Arini dan memperhatikan setiap kebahagiaannya.


Arya juga menjadi suami yang semakin sabar juga suami siaga empat lima. Setiap Arini kesal karena pengaruh hormon Arya hanya bisa tersenyum sebagai tanggapannya. Di saat Arini menginginkan sesuatu yang tidak wajar sekaligus Arya akan tetap berusaha mencarikannya.


Arya juga jarang pergi ke kantor sekarang, dia hanya akan pergi jika benar-benar ada pekerjaan penting yang tidak bisa dia tinggalkan. Dan itupun dia tidak akan lama perginya.


"Mas, Mas beneran mau ke kantor sekarang?" Begitu lemas Arini bertanya. Tatapan matanya begitu memelas saat melihat suaminya yang sudah rapi dengan setelah jas berwarna biru.


Melihat istrinya yang lagi-lagi merajuk Arya menghampirinya, duduk di sebelahnya dan langsung mengelus puncak kepalanya.


"Mas hanya pergi sebentar, Sayang. Lagian di rumah juga ada mbak-mbak yang menemani kamu kan. Nanti kalau kamu butuh apapun tinggal bilang saja dengan mereka." Ucapan Arya begitu lemah lembut dan penuh dengan kesabaran. Kadang tak dapat di percaya kalau dulunya Arya adalah orang yang begitu keras.


"Meski ada mbak-mbak tapi kalau tidak ada Mas rumah tetap terasa sepi, Mas." Arini menoleh, memandangi Arya dengan tatapan begitu memohon. Jelas Arini gak mau di tinggalkan oleh suaminya, dia tak mau jauh-jauh darinya.


"Mas janji tidak akan lama, Sayang. Mas akan segera kembali setelah semuanya selesai." Arya hanya tersenyum, berharap akan membuat hati Arini iba dan merelakan kepergiannya untuk melaksanakan tugasnya sebagai pemimpin perusahaan.


"Tapi janji ya tidak akan lama. Sebelum makan siang Mas harus sudah ada di rumah. Kalau sampai waktu makan siang Mas belum di rumah, Arini tidak mau makan," Sungguh berbalik sifat keduanya. Sekarang Arini yang lebih ambekan dan mudah kesal, sementara Arya? Dia seolah merebut sifat asli milik Arini yang dulu. Bagaimana mungkin bisa bertukar seperti itu?


"Iya, Mas janji akan cepat pulang," Arya bernafas lega. Meski terlihat tidak rela tapi Arini tetap mengizinkan.

__ADS_1


"Sekarang Mas berangkat dulu. Jaga diri baik-baik. Dan jangan mengerjakan apapun," Peringatan Arya terdengar sangat menekankan.


Arini hanya mengangguk pasrah. Dia juga tidak akan mungkin lupa dengan semua kata-kata yang Arya selalu katakan sebelum dia pergi ini.


Arini mengantarkan Arya sampai depan rumah, menyalami dan mengecup punggung tangannya. Tentu mendapatkan ganti sebuah kecupan mesra di keningnya oleh Arya.


"Hati-hati, Mas." Ucapnya.


"Iya, Sayang. Kamu juga hati-hati di rumah. Kalau ada sesuatu cepat telfon Mas oke." Pinta Arya dan Arini hanya kembali mengangguk.


"Assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikumsalam," Suara Arini benar-benar gak semangat. Tangannya perlahan terangkat dan memberikan tanda dada untuk Arya.


Arini kembali tidak semangat setelah mobil semakin jauh dan perlahan hilang dari jangkauan matanya. Arya benar-benar pergi ke kantor meninggalkan dirinya di rumah.


"Cepatlah besar ya, Sayang. Dan cepatlah lahir ke dunia supaya mama tidak kesepian lagi saat papa pergi bekerja." Arini mengelus perut datarnya, seolah dia sedang berkomunikasi di anaknya.


***********


Seakan tak ada lagi jarak antara Fara juga Risman, mereka benar-benar dekat dan tak ada lagi niat Fara untuk menjauh.


Cinta, dan ketulusan Risman yang menang. Dia telah berhasil memenangkan hati Fara yang awalnya sangat dingin dan susah untuk di taklukkan.


"Fara, sarapan dulu yuk," Lagi-lagi Risman membawakan sarapan untuk Fara. Laki-laki itu begitu perhatian pada Fara, tau saja kalau Fara memang belum sarapan.


"Seharusnya tidak perlu repot-repot, Kak. Fara baru mau ke warung ini untuk beli sarapan." Jawab Fara, namun dia tetap melangkah mendekat.


"Tidak apa-apa. Kan aku sudah katakan. Kamu dan anak mu adalah tanggung jawab ku, eh salah! Anak kita maksudnya." Risman nyengir begitu saja.

__ADS_1


Fara duduk di hadapan Risman tersenyum menanggapi perkataan Risman barusan. Risman benar-benar tulus, bahkan dia menganggap anak Fara juga sebagai anaknya sendiri. Esok setelah anaknya lahir Fara yakin dia tak akan kekurangan kasih sayang dari seorang ayah.


Manis cinta yang berakhir getir yang Nando berikan kini buahnya sudah Fara rasakan. Kebodohan akan dia yang begitu gampangan juga sudah dia dapatkan hukumannya. Dan kini, kesabarannya juga telah Allah ganjar dengan cinta yang baru yang begitu tulus untuknya dan itu dari Risman.


"Terima kasih ya, Kak." Fara menunduk. Semua perhatian dari Risman begitu ngena di hati Fara. Dia sadar sudah ada kekurangan jika menjadi milik Risman suatu hari nanti. Dan itu yang membuat Fara kadang suka kembali ragu.


"Terima kasih untuk apa?" Tanya Risman dengan tangan yang terus bergerak.


"Untuk semua ini."


"Hem, sudahlah. Jangan di pikir lagi. Ini adalah pilihanku. Aku yang memilihmu."


"Tapi, aku masih takut jika suatu saat ayah dari anakku datang dan tau kalau anak ini.."


"Sstts..., sudah. Mau dia datang atau tidak, anak ini adalah anakku. Aku yang akan bertanggung jawab atas semuanya. Jika dia tau, maka biarlah dia tau, emang apa yang bisa dia lakukan, dia tak akan bisa untuk mengambilnya dari kita. Kita orang tuanya, bukan dia."


"Sekarang sarapan saja, tidak usah di bahas lagi. Aku nggak mau kamu jadi sedih seperti ini. Kamu yang seperti ini akan mempengaruhi perkembangan anak kita. Aku janji, aku akan selalu melindungi kalian. Dalam waktu dekat aku akan menikahi-mu."


"Tapi...?"


"Stts.. Sudah. Sarapan."


Fara pasrah, mengikuti apapun yang Risman katakan. Lagian yang Risman katakan juga kebaikan.


Risman begitu senang, Fara menuruti perkataannya. Bukan maksud Risman ingin mengendalikan Fara, tidak! Dia hanya menginginkan kebaikan saja pada Fara.


*****


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2