Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
190.Bibit, Bebet, Bobot yang Jelas


__ADS_3

Happy Reading...



Luna, Wiguna juga eyang Wati tengah duduk berkumpul di ruang tengah. Dengan menikmati beberapa cemilan hangat yang di buat oleh para asisten rumah.



Ketiganya masih terus menunggu kedatangan Arya setelah tadi Luna sempat menghubunginya dan menyuruhnya untuk pulang secepatnya. Entah apa yang ingin mereka bicarakan.



"Mom, Luna mohon sekali sama Mom. Nanti bantu bujuk Arya untuk secepatnya bertanggung jawab dengan Melisa. Jelas-jelas dia sudah hamil anaknya, jangan sampai masalah ini berlarut-larut dan keluarga kita akan malu saat mereka menikah tapi perut Melisa sudah besar. Kan nggak enak juga di lihatnya," ucap Luna begitu lembut.



Eyang Wati yang baru saja meneguk teh langsung menjauhkan gelas dari bibirnya. Menahannya sebentar sebelum akhirnya dia kembali menaruhnya di atas meja.



"Kita tunggu saja nanti, Lun. Kita lihat kabar apa yang Arya bawa, kata-kata ku akan sesuai dengan semua berita yang Arya bawa pulang," jawab eyang Wati juga sama lembutnya.



"Kita hanya bisa mendukungnya, Lun. Tapi kita juga harus mengarahkan juga menegur jika dia salah. Tapi jika kita yang salah dia juga wajib menegur kita karena dia adalah anak laki-laki," imbuh eyang Wati.



Luna mengernyit dengan apa yang dia dengar barusan. Bukankah itu artinya eyang Wati masih belum menerima suatu kenyataan yang sudah terdapat bukti yang jelas? lalu bukti yang seperti apa lagi yang eyang Wati tunggu.



"Itu artinya mom..."



"Assalamu'alaikum..."



Semua menoleh saat ucapan salam terdengar dari orang yang tengah mereka tunggu-tunggu. Ya, kali ini Arya yang datang, dengan membawa salam yang pertama dia ucapkan.



"Wa-wa'alaikum salam," semua hampir tak percaya.



Mereka bertiga juga menjawab uluk salam dari Arya tapi mereka juga melongo di buatnya. Sejak kapan Arya menjadi agamis seperti sekarang ini?



Bukan hanya itu saja, tapi Arya juga langsung melangkah mendekati mereka, menyalami satu persatu dengan bergantian.



Semua masih dalam ketidak percayaan mereka.



"Kamu semakin baik saja, Nak. Eyang bangga sama kamu," ucap eyang Wati setelah Arya sudah duduk di sebelahnya. Eyang Wati juga mengelus punggung cucu satu-satunya itu, dia sangat senang dengan perubahan Arya yang semakin membaik.

__ADS_1



"Hem," Arya hanya nyengir saja karena mendapatkan pujian dari eyang Wati, dia juga sangat bahagia dengan perubahannya sekarang. Hatinya juga terasa sangat damai juga tentram dengan berjalannya waktu.



"Ar, kapan kamu akan menikahi Melisa. Dia sudah hamil anakmu, kan? apakah kamu tidak malu jika semakin lama dan perut Melisa semakin besar, apa kata orang nanti, Ar?" Luna langsung nyeplos begitu saja, dia sudah tidak sabar.



"Jangan sampai kamu juga lepas tanggung jawab, Ar. Jadilah pria sejati yang tidak akan lari dari kesalahan," imbuhnya.



"Kalau kamu masih sibuk, serahkan sama Mama, biar Mama yang menyiapkan segalanya," Luna terus saja berbicara, mendesak Arya untuk secepatnya menikahi Melisa tukang drama itu.



Luna berhenti bicara, terlihat dia menghela nafas panjang berkali-kali.



Sementara eyang Wati juga Wiguna masih diam begitu juga dengan Arya. Tapi Arya tidak diam selamanya, dia langsung berbicara setelah Luna tak lagi mengatakan apapun lagi.



"Arya pasti akan bertanggung jawab kalau Arya benar-benar bersalah, Ma. Jika Melisa benar-benar hamil anak Arya hari ini juga Arya bersedia menikahinya. Tapi masalahnya, Melisa tidak hamil, Ma. Tidak anak Arya atau anak siapapun, Melisa tidak hamil."



"Melisa juga telah mengakui kalau dia salah, dia menjebak Arya bahkan dia juga yang menyuruh orang untuk membuat Arini celaka. Lalu, bagaimana mungkin Arya akan bertanggung jawab, apa yang yang harus di pertanggung jawabkan?" terang Arya.




"Arya sangat sadar, Ma. Bahkan sekarang Melisa ada di kantor polisi, kalau Mama tidak percaya datang saja ke sana. Arya tidak keberatan kalau harus mengantar Mama."



"Dan ya, semua sudah terbukti. Arya tidak bersalah. Maka dari itu, Arya ingin mengatakan kalau Arya memang akan menikah secepatnya. Tapi bukan dengan pilihan Mama, tapi pilihan Arya sendiri. Dalam waktu dekat Arya akan melamar Arini," ucapnya.



"Arini? kenapa harus gadis itu, apa tidak ada yang lebih baik dari dia. Kamu tidak buta kan, Ar! kamu bisa lihat dia seperti apa, bagaimana keadaannya, bagaimana rupanya! bahkan dia juga tidak jelas asal-usulnya, bibit bebet bobotnya juga tidak jelas! bagaimana kalau dia hanya anak haram, atau anak kampung saja!" ternyata Luna masih saja mempermasalahkan semua itu.



"Sudah lah, Ma. Jangan permasalahan itu. Entah bagaimanapun Arini sekarang, apapun kekurangannya biarkan Arya yang menutupi juga melengkapinya. Karena dengan kehadirannya lah yang akan menyempurnakan hidup Arya!"



"Tapi, Ar!"



"Sudah lah, Ma. Tunggu saatnya nanti, Ma. Mama akan tau siapa sebenarnya Arini, siapa sebenarnya gadis yang Mama selalu rendahkan. Dan perlu Mama tau, Arini orang yang sangat jelas bibit bebet juga bobotnya. Asal-usulnya sangat jelas." ujar Arya menekankan.



"Oke, Mama akan tunggu seberapa jelas asal-usulnya. Kalau dia tidak jelas kamu harus melupakan untuk menjadikannya sebagai istrimu," tandas Luna.

__ADS_1



Dengan kekesalannya Luna berdiri, dia melangkah pergi dan menaiki anak tangga hingga sampai ke lantai dua. Tak lama di sana, Luna juga langsung hilang di balik pintu kamarnya.



"Tapi, Nak. Dari berita yang eyang dengar, Arini pergi. Bagaimana mungkin kamu bisa melamarnya."



"Eyang jangan khawatir, Arini pasti akan kembali di waktu yang sudah di tentukan Tuhan. Dia akan kembali untuk kita dan untuk keluarganya sendiri," jawab Arya.



"Sebenarnya, siapa keluarga Arini, Nak. Apakah kamu tidak berniat memberitahu Eyang?"



"Arya pasti kasih tau, Eyang. Tapi bukan sekarang," senyum keluar dari bibir Arya.



"Ar, apakah kamu sudah yakin dengan keputusanmu?" kini Wiguna angkat bicara.



Matanya terus menatap tajam anak semata wayangnya itu yang juga sontak membalas tatapan yang sama.



"Arya sangat yakin, Pa. Arya akan melamar Arini dalam waktu dekat," jawabnya.



"Hem..." Wiguna mengangguk teratur, meski dia tak begitu setuju tapi dia merasa kalau Arini lebih baik daripada Nadia atupun Melisa.



"Perjuangkan apa yang menjadi keinginanmu, Papa berharap, pilihanmu tidak akan salah," Wiguna juga berdiri, dia berjalan ke arah Arya lalu menepuk-nepuk pundaknya beberapa kali sebelum dia pergi menyusul istrinya yang sepertinya tengah kesal.



"Pasti, Pa. Arya tidak akan salah. Setelah tau kebenarannya Arya yakin Papa tidak akan pernah mengatakan tidak setuju. Papa pasti akan sangat menyetujuinya."



"Hem.., semoga saja," jawab Wiguna yang sudah berjalan menaiki tangga.



"Eyang, Arya sangat bahagia," ucapnya.



"Eyang lebih bahagia, Nak. Karena kebahagiaan mu adalah kebahagiaan eyang. Cepatlah bawa Arini pulang, bawa dia datang kesini menemui Eyang. Eyang sangat merindukannya."



"Pasti, Eyang. Pasti."


__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2