Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
158. Saling Menyelidiki


__ADS_3

Happy Reading...


Langkah Arya semakin masuk ke dalam apartemennya, tangannya terus memegang kalung Arini yang belum ada niatan untuk dia kembalikan. Arya terus menggantungnya di depan wajah menerka-nerka sebenarnya ada hubungan apa Arini dengan kalung itu.



Dilihat dari matanya kalung itu juga bukan kalung palsu dan juga di desain dengan khusus. Bukan itu saja, kalau Arya tidak salah harga kalung itu juga sangat mahal.



Arya mengambil ponsel dari saku menghubungi Toni sang asisten yang akan selalu siap sedia untuk menjalankan semua perintahnya.



"Datang sekarang juga ke apartemen. Sepuluh menit harus sampai, awas kalau sampai terlambat," titahnya mengharuskan.



Kilat Arya mematikan ponselnya sebelum dia mendapatkan jawaban, entah seperti apa sekarang wajah Toni mungkin dia sangat kesal juga tengah menggerutu karena satu bosnya itu selalu saja bertitah semaunya sendiri.



Arya mengangkat kopernya diletakan di atas sofa, belum ada niat untuk membuka tetapi Arya duduk di sebelahnya. Mengambil semua hadiah dari Arini.



Hadiah yang sangat sederhana tapi mampu membuatnya terkesan dan sangat senang. Arya benar-benar sudah tergila-gila dengan gadis berkulit gelap yang dulunya dia sebut seperti itu, bahkan dia juga sempat menghina pakaiannya yang dia anggap norak.



Tetapi sekarang? Bahkan Arya tak ingin jauh darinya dan ingin selalu menghabiskan waktu dengannya. Tak Ada Arini kini Arya hanya dapat mencium sapu tangan juga tasbih pemberian Arini, bahkan aroma Arini seakan ada di lain kotak putih kecil itu.



"Arini, kapan kamu akan selalu ada di sisiku. Kapan kamu akan menjadi teman hidupku dan selalu ikut kemanapun aku pergi," gumam Arya yang sangat penuh dengan harap.



Arya menyandarkan punggungnya, menutup mata sembari terus menikmati aroma yang ada.



"Pak Tuan," Arya tersenyum dengan mata yang masih tertutup. Panggilan lembut dari Arini seakan tengah memanggilnya kali ini.



"Tetaplah di sini, Arini. Dan jangan pernah jauh apalagi pergi dariku," tangan Arya bergerak merangkul udara. Arya terbawa khayalan dan kini tengah memeluk Arini dengan mesra, mengecup puncak kepala Arini yang dia sandarkan di dada bidangnya.



"Jangan nakal, Arini. Nanti aku gigit ya kalau nakal," Sentuhan Arini seakan masuk mengenai dada Arya membuatnya terasa geli hingga Arya terus bergerak karena kegelian.


__ADS_1


"Arini, aku hukum ya! Ari...ni.."



Mata terbuka, tak ada siapapun di sana apalagi Arini kecuali dia sendiri yang kini melotot mencari keberadaan Arini yang datang di dunia khayalannya.



Arya tertawa sendiri melihat dirinya yang sudah seperti orang yang kehilangan kewarasannya, bahkan lihatlah keadaan tangannya yang seolah memeluk Arini yang ternyata hanya memeluk udara yang tak terlihat.



"Astaga, benar sudah tidak waras aku," Arya menggeleng tak percaya dengan perubahan yang sangat besar itu, tetapi mau bagaimana lagi? apa yang terjadi adalah kehendak Allah bukan keinginannya sendiri.



Ting... Tong...



Arya cepat beranjak setelah mendengar bunyi dari bel rumahnya. Kakinya cepat mengayun melangkah untuk melihat siapa yang datang.



Matanya menatap kesal karena asistennya itu selalu saja terlambat, meskipun lima menit saja terlambat ya tetap terlambat kan?



"Sepertinya aku harus memikirkan kepindahan mu secepatnya," Arya cepat melangkah memunggungi Toni yang juga langsung membuntuti.




Entah kerjaan apalagi yang membuat Arya sangat tidak sabar seperti ini. Tetapi Toni yakin tak akan Arya sampai seperti ini jika tidak ada hubungannya dengan OB yang sekarang sudah menjadi kesayangannya.



"Duduk," pinta Arya. Sebelum dia meminta Toni untuk duduk dia sendiri juga sudah duduk du sofa. Kakinya saling tompang, punggungnya bersandar dan duduk dengan begitu angkuh.



Toni mengangguk menurut, dia sedikit was-was karena jika sudah seperti ini pasti ada tugas yang berat yang harus dia kerjakan.



Arya mengeluarkan kalung Arini yang kini sudah dia letakan di kotak khusus yang dengan begitu rapi. Menaruhnya di depan Toni lalu kembali duduk seperti semula.



"Kerjaan mu sekarang adalah memastikan kalung itu asli atau palsu. Tapi saya yakin itu adalah asli. Kamu juga harus bisa mengetahui kira-kira berapa harganya, atau mungkin kamu cari orang yang membuatnya karena saya yakin itu kalung di buat dengan khusus dari seseorang," ucap Arya.


__ADS_1


"Dan, bagaimana dengan laki-laki yang kemarin, apa dia sudah tertangkap?" Imbuhnya dengan pertanyaan.



"Baik, Tuan. Saya akan mencari tau tentang kalung ini. Dan untuk laki-laki yang kemarin, dia berhasil melarikan diri dari kejaran orang suruhan saya, Tuan."



Toni terdiam sesaat lalu kembali berbicara.



"Tetapi dia hanya mendapatkan ponsel genggamnya," Toni mengeluarkan ponsel genggam yang hanya ponsel biasa, memberikan kepada Arya.



"Apa kamu sudah memeriksanya?" Arya mengernyit, dia kini duduk dengan tegak dan lebih serius dengan tangan mulai mengutak-atik ponsel itu, "sial!" tangan Arya mencengkram dengan kesal setelah dia membuka ponsel tetapi tidak bisa. Ponsel yang duduk kunci dengan kata sandi.



"Sekalian kamu bawa kembali ini. Saya yakin kamu punya orang yang bisa membuka ponsel ini. Saya mau informasi secepatnya, karena ini sangat sangat berpengaruh dengan masa depan saya," imbuh Arya.



Begitu banyak tugas yang Arya berikan kepada Toni. Satu belum di kerjakan dan kini bertambah lagi dan lagi.



"Baik, Tuan. Saya akan kerjakan secepatnya dan anda juga akan mendapatkan informasi dengan cepat."



"Kalau begitu saya permisi dulu, Tuan," Toni pamit, lebih baik secepatnya pergi untuk menjalani tiga daripada tetap berada di sana dan melihat wajah Arya yang terlihat bergonta-ganti seperti moodnya yang berubah-ubah.



"Hem.." jawab Arya singkat.



Dimas terus terdiam, dia masih berpikir tentang apa yang dia dengar dari Raisa kemarin.


"Ikatan ibu dan anak? Apa yang di maksud Raisa, apa dia mengetahui sesuatu?" Dimas bingung, semua seperti teka-teki yang sangat susah untuk dia pecahkan.


Dimas ingin mencari tau tetapi dia sangat bingung harus memulainya dari mana.


"Apakah aku harus menemui Raisa dan bertanya padanya? Ahh.. Tetapi gadis itu kadang menjengkelkan, dia terlalu banyak tingkah juga banyak bicara. Dia sangat cerewet sekali," ucap Dimas yang memberikan penilaian pada Raisa yang memang benar.


"Hemm, tetapi aku harus tetap menemuinya kalau tidak aku tak akan mendapatkan jawaban dari apa yang aku bingungkan ini," Dimas bersikukuh.


Dimas beranjak, dia ingin pergi untuk menemui Raisa yang dia sendiri belum tau keberadaan Raisa sekarang.


Tekat Dimas sudah sangat bulat, dia harus tau apa yang di sembunyikan oleh Raisa. Dia juga sangat penasaran dengan kedekatan Arini juga Mamanya, tidak mungkin tidak ada sesuatu dari mereka berdua.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2